
POV :Nana
Melihat punggung pria itu yang mulai hilang dari pandangannya, hingga saat ini dia belum tau nama orang yang telah menyelamatkan nyawanya.
Jika kau bertanya kenapa tidak bertanya jawabannya sangat sederhana takut. Pertama kali dia melihat pria itu, seolah-olah ia adalah sosok yang sangat hebat dan menakutkan.
Sosok yang hanya bisa dikagumi dari jauh dan kau hanya bisa berlutut dihadapan nya. Meski beberapa waktu yang lalu perasaan takut itu entah bagaimana menghilang namun rasa kagum masih melekat di hatinya jadi ia tidak memiliki keberanian walau hanya menanyakan nama pria itu.
Sepanjang jalan Nana hanya menjawab pertanyaan pria itu dan tidak berani berinisiatif untuk bertanya, mungkin orang akan mengatakan ia bodoh tapi itu karena mereka tidak berada diposisi nya sehingga mereka tidak mengerti perasaannya.
Namun saat ini dia bertekad untuk menanyakan nama orang itu, setelah sekian lama bersama (nyatanya hanya beberapa jam) Nana sudah merasakan perasaan yang tidak pernah dia rasakan. Hal yang sering diperbincangkan oleh anak gadis desa yang masih begitu polos.
Cinta.... sesuatu yang misterius bagi banyak orang, bisa menjadi harapan serta bisa menjadi keputusasaan. Bisa menjadi pembawa kebahagian atau juga pembawa penderitaan.
Menyatukan kedua tangan lalu menempelkan ke dadanya, tak terasa air mata menetes membasahi pipinya yang putih bersih.
__ADS_1
Saat ini seorang gadis cantik bak seorang bidadari sedang menangisi nasib cintanya karena dia tahu jarak antara pujaannya dengan dia yang saat ini bukan siapapun.
Namun tekadnya masih kuat dan tak akan menyerah, dia akan menanyakan nama pria itu meski dia tidak berani menyatakan perasaan padanya.
Melihat ke arah tempat hilang nya pria yang dia cintai sambil menyapu air mata nya, dia pun tersenyum sangat manis namun siapapun yang melihat matanya maka akan melihat kesedihan yang begitu dalam.
Jika udin tau bagaimana perasaan nana saat ini dia mungkin akan mengabaikannya terutama dia sedang fokus menyelamatkan neneknya dan juga jangan lihat penampilan tampannya saat ini karena umurnya masih 13 tahun.
Merasa lelah berdiri Nana pun pergi duduk didekat pohon besar didekat nya. Sambil menunggu ia bergumam pelan, melihat langit yang mulai gelap perasaan tidak nyaman tiba-tiba muncul di hatinya.
Sebenarnya itu hanya alasan padahal ia hanya ingin bertemu dengan orang itu. Sebelum pergi ia melihat sekeliling lalu berjalan ke arah desa. Ia berjalan agak cepat dengan senyum di wajahnya.
Apa yang ia tak tau adalah bahwa seseorang sedang mengawasinya dari jauh, dengan senyuman orang itu mendekati Nana.
Begitu tenang dan tak bersuara sehingga perempuan yang ia incar tidak menyadari kehadiran nya.
__ADS_1
Setelah beberapa langkah berjalan tiba-tiba Nana merasakan sakit didadanya dan betapa terkejut nya saat dia melihat bahwa dadanya ditembus oleh sebuah tangan yang berlumur darah.
Berusaha teriak tapi tenggorokan terasa kering dan kesadaran mulak kabur, pada saat terakhir ia berhasil melihat pelaku yang merupakan perempuan cantik bergaun merah di belakangnya dengan senyum ala psikopat.
Lalu terdengar suara sesuatu yang jatuh setelah itu hutan kembali sunyi.
Setelah berhasil membunuh perempuan tadi, Marie dengan senyum puas menjilat tangan kanannya yang berlumur darah. Setelah mencicipi ia pun berniat membawa mayat itu ke rumah 'jagal'. Namun tepat sebelum tangannya menyentuh mayat, petir berwarna merah darah menyambar ke arah nya.
Dengan pengalaman tempur yang banyak ia bisa bereaksi dengan cepat dan berhasil menghindar. Tapi begitu petir hampir menyambar ke arah mayat sebelum nya tiba-tiba menghilang seolah-olah hanya berusaha membuat vampir cantik itu menjauh.
Melihat ke menara pengawas didekat gerbang desa ada seorang pria sedang berdiri sambil melihatnya dari jarak lebih dari 200 meter.
Saat mata mereka bertemu mereka mulai mengukur kekuatan lawan dan detik berikutnya kedua orang itu menghilang dan dihutan beberapa kilometer dari desa terjadi ledakan besar.
Boooommm.....
__ADS_1