System :Pengembara Dunia Lain

System :Pengembara Dunia Lain
Episode 19


__ADS_3

Malam yang awalnya sepi, berubah kacau dengan jeritan orang dewasa dan tangisan anak-anak, suara bangunan rubuh dan hal hal yang tidak diketahui.


Suara desisan ular terdengar, sebuah siluet ular raksasa hitam di malam hari membuat orang-orang gemetar ketakutan.


Dilangit, sepasang mata kuning bercahaya dengan pupil vertikal. Tubuh hitam mengkilap sehingga sulit terlihat pada malam hari.Panjang lebih dari 20 meter dengan kepala seukuran mobil, cukup besar untuk melahap beberapa orang sekaligus.


Saat ini Adams alias Udin mengawasi dari jauh, ular raksasa yang menghancurkan rumah rumah warga dengan kibasan ekornya.Hampir semua penduduk telah dievakuasi. Selain kerusakan cukup banyak bangunan, tidak ada korban jiwa dan itu lumayan melegakan.


[DING]


[Misi baru terdeteksi]


[Kalahkan ular raksasa Lonogo , hadiah :Black scale gauntlet]


"Bagus, misi baru.... jadi apa tingkat kekuatan ular itu? "


[Hanya magang tingkat lanjut]


"Maka ini akan jadi misi mudah kalau begitu"


Mengulurkan tangan dengan jari telunjuk mengarah ke ular raksasa itu.


'Abyssal chains lighting'


Menyebut nama sebuah jurus masih sedikit memalukan baginya, sehingga saat ini telinga nya memerah karena malu.


Petir merah dengan cepat berkumpul dijarinya, tak lama kemudian petir merah meluncur dari jarinya menuju ular raksasa menghasilkan petir yang panjang dengan cahaya terang yang bisa menarik banyak perhatian, untungnya saat ini penduduk sudah dievakuasi sehingga tidak ada yang melihat.


*mendesis...


Petir merah dengan mudah menusuk kepala ular raksasa dan membunuh nya dengan cepat.


*Bugh...


Mayat ular itu langsung jatuh dan menghancurkan rumah dibawahnya.


'Sepertinya aku harus mempercepat penyelesaian misi utama dulu, ular ini pasti memiliki kaitan dengan ular yang disebut Sakuta itu'

__ADS_1


Adams pun pergi ke tempat Kayla dan anak-anak, melihat mereka berkumpul ditempat aman yang jauh dari tembok kotakota, Adams pun menghampiri mereka.


"Lihat, itu kakak Adams, ia kembali" ucap salah satu anak.


Setelah saling sapa, Adams memberikan kantong kulit berisi beberapa koin emas.


"Sepertinya kita harus berpisah, aku akan melanjutkan perjalanan untuk menyelesaikan tugas"


"Kenapa begitu cepat? kau tidak perlu pergi terburu-buru kan? "


"Sayangnya aku sudah tidak bisa menunda tugas lebih lama lagi, yah... semoga takdir membiarkan kita agar bisa bertemu lagi"


Setelah bertanya tentang ular bernama Sakuta, tapi tentu saja mereka tidak tau, meski pernah dengar legenda tentang ular yang dikenal sebagai dewa kuno namun beberapa dekade sekarang ia hanya menjadi legenda dan cerita sebelum tidur.


Jadi udin alias Adams mengantar Kayla dan anak-anak pergi ke daerah kumuh, beruntung nya tempat tinggal mereka aman karena berasa diluar tembok kota.


Mereka pun berpisah dengan enggan , Adams pun pergi ke tempat acak sambil bertanya pada orang-orang yang ia temui. Namun setelah entah berapa kali bertanya tapi masih belum ada petunjuk yang berguna.


Dan waktu mengalir tak terasa hingga sudah 2 bulan sejak perpisahan dengan Kayla, Adams sampai di sebuah kota didekat gurun. Tidak ada tembok kota yang megah, penjaga gerbang saja tidak terlihat. Memasuki kota dengan mudah tanpa pemeriksaan ia pun mencari tempat makan atau baru dimana biasanya menjadi tempat termudah mencari informasi.


Adams langsung memilih meja yang kosong di tengah bar, posisi pang nyaman mendengarkan obrolan orang-orang yang sudah mabuk.


Hanya bisa menghela nafas tak berdaya, ia memesan makanan dan minuman tanpa alkohol. Meski pemikiran, mental dan tempramen sudah berubah banyak, tapi ia masih anak-anak jadi ia menghindari alkohol, terutama minuman seperti bisa membawa masalah yang tidak perlu.


Cukup banyak orang di bar,tidak terlalu berisik sehingga menguping jauh lebih mudah. Tidak seperti di luar yang sangat panas saat siang hari, orang-orang mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah agar tidak menggangu pandangan, didalam ruangan seperti bar ini contohnya, orang-orang mengatakan pakaian yang cukup terbuka.


Tapi ada juga orang yang mengenakan perlengkapan tempur,sepertinya mereka adalah tentara bayaran atau prajurit penjaga kota, ada juga yang memakai baju pakaian biasa atau ada juga yang pakaian nya terlihat mahal.


'Disini banyak orang dengan berbagai kalangan, seharusnya mudah memperoleh informasi dari orang-orang mabuk ini' fikir Adams.


"Banyak pedagang telah diserang belakangan ini, entah bandit atau monster yang menyerang pada akhirnya kebanyakan korban tidak selamat"


"Benar, itu alasan kita datang ke kota ini. Mungkin kita akan dapat pekerjaan yang bagus"


Banyak tentara bayaran yang berdiskusi seputar pekerjaan dan rutinitas harian mereka.


Sementara dipojok bar, dimana ada 4 orang, berisi satu gadis dan tiga pria. Masing-masing dengan senjata berbeda, ada busur dan panah milik satu-satunya gadis di kelompok itu. Ada perisai besar yang keliatan nya adalah pemimpin yang memiliki tubuh kekar. Dua sisanya adalah pedang dan tombak.

__ADS_1


Saat ini mereka sedang membicarakan misi yang baru mereka Terima.


"Besok bersiaplah didepan pintu masuk kota, bawa barang yang diperlukan, ingatlah sebagai tim kerjasama adalah yang terpenting"


"Iya.... iya.... kami sudah tau, kau tidak perlu mengatakan hal yang sama saat akan melakukan misi kan? huuuaahhh!! " Ucap pria dengan tombak sambil menguap.


"Apa kau bilang? Aku hanya mengatakan apa yang harus dikatakan oleh kapten, mengerti? Lagipula kenapa memang nya jika aku mengatakan hal yang sama terus? Aku hanya tidak ingin ada yang lupa dan aku hanya memastikan bahwa tidak ada kesalahan dalam misi ini, paham?! " ucap pria dengan tubuh terbesar.


Ekspresi si kapten langsung murung saat mendengarkan perkataan teman nya.


"Sudahlah, jangan bertengkar lagi, lebih baik kita beli obat penawar racun nanti" kata gadis pengguna busur.


"Benar, disana sekarang mulai banyak ular beracun, anehnya bahkan setelah dilakukan pembakaran secara luas, masih belum terlihat ada pengurangan ular itu. "


"Itulah tugas kita, penyelidikan kasus berbahaya seperti itu hanya bisa diserahkan pada ahli. Lagipula tak banyak orang mau menerima misi seperti ini"


"Benar, reruntuhan Nagora dua tahun lalu tidak seperti itu. Sepertinya sesuatu telah terjadi"


Mereka pun pergi dari bar untuk pergi ke toko obat.


"Reruntuhan Nagora"


Gumam Adams pelan, lalu ia mengeluarkan peta gurun yang dibeli dari pedagang yang kebetulan menuju kota ini juga.


Melihat tanda reruntuhan Nagora dipeta yang dicetak dengan warna merah, lalu memikirkan rute yang ditempuh untuk menuju tempat itu.


"Baiklah aku harus membeli barang barang keperluan untuk perjalanan jauh"


Adams pun pergi kepasar untuk membeli banyak bahan makanan, sedangkan obat penawar racun? Ia tentu aja jalan jadi lupakan saja barang yang tidak perlu.


*********************


Keesokan harinya, didekat pintu masuk kota ada empat orang berkumpul dengan barang bawaan yang cukup banyak, serta sebuah kereta yang ditarik seekor binatang seperti banteng besar.


"Baiklah, misi ini harus berjalan lancar. Jadi, sekali lagi akan ku ingatkan agar berhati-hati. Ingatlah bahwa tempat yang akan kita tuju ini sangat berbahaya"


"Baik kapten" Jawaban serempak terdengar.

__ADS_1


"Ayo pergi"


Setelah itu mereka mulai pergi dengan kereta menuju hamparan gurun yang luas. Sementara itu, seseorang sedang mengawasi mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh. Melihat kelompok itu berangkat, ia pun mengikuti mereka dengan tenang.


__ADS_2