
Kami pun mulai mundur perlahan sebelum Guranta menyadari keberadaan kami.
Saat ini beruang itu masih makan dan belum menyadari keberadaan kami.
Meski dengan penciuman yang tajam, tapi dengan bau darah yang begitu kuat masih mempengaruhi hidungnya.
Merasa bahwa situasi nya mungkin berbahaya, kami terpaksa harus mundur sebelum beruang itu menyadari keberadaan kami.
Namun saat ini kami merasa ada pergerakan dibelakang kami.
CIT CIIITTT...
Ternyata dibelakang kami ada seekor tikus tanah besar yang seukuran anjing besar dengan bintik merah di tengah dahinya.
Tikus besar yang sering merusak kebun warga desa saat musim dingin, pada dasarnya tidak berbahaya setidaknya bagi orang dewasa.
Meski lemah tikus ini sangat pemberani bahkan jika melawan musuh yang jauh lebih kuat.
Jika waktu normal kamu tak terlalu peduli, tapi sekarang yang merupakan waktu kritis akan sangat tidak lucu jika kami dalam bahaya hanya karena perusak pohon ini.
Dilihat dari tempat ini dimana banyak pohon kecil dengan buah yang lebat memang sarang yang baik untuk hewan seperti mereka.
Jelas sekali bahwa mereka bertiga sedang berada dekat sarang tikus besar ini, sehingga menyulut amarah dan kewaspadaan nya karena mungkin disekitar sini ada sarangnya dimana ada anak anak nya.
Benar saja tak lama kemudian terdengar jeritan tikus itu seolah memberi tahu bahwa disini adalah wilayahnya.
Tanpa memperdulikan tikus besar itu, sontak kami pun berlari ke arah yang berbeda.
Sebagai pemburu berpengalaman situasi ini memang kadang-kadang akan terjadi, karena itu kami bisa bergerak cepat.
Dan tepat sebelum jeritan tikus selesai tiba-tiba ada raungan keras dari arah beruang besar tadi.
Tanpa melihat kebelakang aku terus lari dengan putus asa demi bertahan hidup.
__ADS_1
Terus lari.... meski napas sudah berat dan dada pun terasa sesak tapi...... lari! aku harus lari tak peduli apa.... larilah secepatnya.
Setelah berlari cukup lama,Nana sampai di depan aliran sungai yang deras. Kedalaman sungai tidak jelas karena cukup keruh.
Nana akhirnya memutuskan untuk berjalan melalui pinggir sungai. Saat ini dia bingung dan kelelahan.
Dia sedang tersesat dan tidak mungkin untuk kembali melalui jalan sebelumnya. Dia hanya berharap bisa menemukan jalan keluar dan semoga saja paman dan ayahnya selamat.
Tiba-tiba dia mendengar suara dari hutan disamping kirinya.
'Dia menyusul dengan begitu cepat? '
Memikirkan beruang ganas itu membuat Nana semakin gugup.
(Nana berjalan di pinggir sungai dimana disebelah kanannya ada aliran sungai dan disamping kirinya ada hutan lebat.)
Nana seketika khawatir, dan melihat kearah sumber suara. Dan saat ini dia sangat waspada sehingga jika yang datang adalah binatang buas dia akan berlari dengan cepat.
Namun apa yang keluar dari semak sungguh mengejutkan yaitu tangan manusia walau ada beberapa noda darah tapi..... itu tangan manusia!!!
Sebelum selesai bicara tiba-tiba senyum diwajah nana membeku.
Itu memang tangan manusia tapi saat ini itu hanya tangan, benar hanya tangan yang berada di mulut beruang raksasa Guranta.
Wajah Guranta saat ini penuh darah, entah darah manusia atau kreus.
Tapi yang jelas tangan di mulut Guranta saat ini menggantung kemungkinan besar bahwa salah satu antara ayah atau pamannya telah meninggal dan tidak menutup kemungkinan bahwa keduanya telah meninggal.
Saat ini hati Nana penuh dengan keputus asaan, mengingat masa lalu bersama kedua orang itu yang begitu membahagiakan.
"Aku akan mati disini? sekarang? " Nana hanya bisa bergumam tak jelas.
Namun seketika dia ingat ibu dan sepupunya yang sedang sakit.
__ADS_1
"Tidak.... aku harus hidup, treford dan mama membutuhkan aku, aku harus bertahan untuk mereka!! "
Saat ini hati dan pikiran Nana penuh tekad dan semangat namun dia masih merasakan putus asa.
"Lari? Tubuhku sudah kelelahan, tapi aku harus berjuang demi mereka"
Nana pun berusaha kabur dari beruang besar itu, tapi dia tidak bisa lari jadi dia jalan perlahan.
Dan anehnya Guranta tidak mengejar hanya mengikuti dengan santai dan diwajahnya terlihat senyuman penuh dengan penghinaan dan ejekan.
Tentu dia bisa membunuh Nana sekarang tapi dia ingin membuat manusia kecil ini lebih putus asa.
Setelah beberapa saat, Nana sudah kelelahan dan hampir pingsan. Terlihat air mata mengalir di pipinya.
Dan sebuah senyuman sedih pun muncul dibibir nya.
"Ouh... apakah ini akhirnya? jika aku mati disini apa yang akan terjadi pada ibu dan Treford? ku harap seseorang akan merawat mereka"
Nana pun menutup matanya dan menunggu kematian dengan tenang.
Guranta yang mulai bosan pun memutuskan untuk membunuh manusia ini setelah lama mempermainkannya.
Namun setelah beberapa langkah, dia berhenti seolah seluruh tubuh membeku.
Bukannya dia membeku, hanya saja tubuh nya tiba-tiba kaku karena ketakutan akan sesuatu.
Karena dia melihat seseorang yang duduk di sebuah batu besar yang ada didepan anak manusia tadi.
Seorang manusia dengan aura penuh dengan teror yang mengingatkan nya akan kengerian saat bertemu dengan 'mereka'.
Tiba-tiba sebuah petir merah muncul disekitar manusia tadi dan sebuah benda asing melayang.
Benda yang diselimuti petir merah itu meluncur cepat ke arah kepalanya, namun Guranta bahkan tak memiliki keberanian untuk bergerak apalagi menghindari serangan ini.
__ADS_1
Dan seketika setengah dari tubuh bagian atasnya hancur, namun sebelum kematiannya dia sempat menggumamkan sesuatu yang mungkin akan membuat seluruh dunia bergetar ketakutan.
Setelah itu hutan menjadi tenang, selain suara air dan angin tak adalagi yang bisa didengar.