
Zee berjalan dengan tenang saat pulang sekolah. Tapi secara kebetulan, dia bertemu dengan Ryan. Cowok tersebut sedang berjalan bersama kedua sahabatnya, yaitu Karma dan Syah.
Saat berpapasan dengan Zee, Ryan terlihat pura-pura sibuk dengan ponselnya, mengalihkan perhatiannya dari Zee. Tindakan ini dilakukan untuk menunjukkan, bahwa dirinya ingin menghindari interaksi dengan Zee. Mungkin dia memiliki alasan tertentu untuk tidak berinteraksi dengan Zee, saat ini.
Di sisi lain, Karma menyapa Zee dengan ramah. Sikap ramah dari Karma menunjukkan bahwa dia orang yang cukup terbuka untuk berinteraksi, sebab dia memiliki hubungan yang baik dengan Zee sebagai seorang teman.
Sikap Karma menunjukkan bahwa dia adalah orang yang ramah dan mudah bergaul di antara teman-teman mereka, atau setidaknya dia seorang yang memang lebih baik daripada kedua sahabatnya yang lain.
Namun, reaksi Syah berbeda. Dia hanya menaikkan sudut bibirnya dengan tatapan sinis. Dia sangat kentara menunjukkan perasaan tidak senang dengan kehadiran Zee. Ada ketegangan yang tampak antara Zee dan Syah, dan itu akibat kejadian kemarin.
Sudut bibir yang naik dan tatapan sinis mengisyaratkan sikap Syah yang meremehkan Zee.
Reaksi dari tiga orang sebagai sahabat tersebut ternyata berbeda.
Ryan yang pura-pura sibuk dengan ponselnya, Karma yang menyapa Zee dengan ramah, sementara Syah menunjukkan sikap sinis.
Tapi, Zee tidak peduli dan hanya tersenyum pada Karma seorang.
Setelah mereka bertiga tiba di tempat parkir, jauh dari jangkauan Zee, Karma mulai membuka suara. Menceritakan tentang kehidupan Zee di panti asuhan bersama dengan para penghuni lainnya.
"Hei, kalian tahu nggak, Zee sebenarnya berasal dari panti asuhan. Dia tinggal di sana sejak kecil, dan ada bunda Amy yang jadi pengurusnya. Zee itu orangnya kuat dan penuh semangat, meskipun menghadapi tantangan hidup."
Dengan berapi-api, Karma mulai menceritakan sosok Zee kehidupannya di panti asuhan.
Syah tidak peduli. Dia juga merasa tidak tertarik. "Hm, ya udah." gumamnya acuh.
"Kamu harus dengar ceritanya, Ryan! Di panti, Zee punya adik-adik panti yang luar biasa. Mereka semua pintar dan ramah. Setiap hari, Zee dan adik-adiknya belajar bersama dan saling mendukung satu sama lain. Ramai, tidak sepi seperti di rumahku."
Setelah berkata demikian, Karma justru merasa sedih saat ingat keadaan keluarganya. Dia hanya tinggal bersama kakek dan neneknya, sedangkan kedua orang tuanya sudah berpisah dan memiliki kehidupan masing-masing.
__ADS_1
Ryan diam saja, tetapi sebenarnya mendengarkan penjelasan dari Karma. Padahal sebenarnya, Ryan juga sudah mengetahui secara jelas bagaimana keadaan Zee yang sesungguhnya di luar sekolah.
Tapi Karma tidak peduli. Dia tetap berbicara, menceritakan tentang kehidupan panti asuhan yang dikelola oleh bunda Amy.
"Bunda Amy adalah sosok pengasuh yang luar biasa. Dia memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Zee dan adik-adik panti dengan tulus. Bunda Amy selalu mendorong mereka untuk meraih impian dan menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri."
Mendengar Karma yang terus berceloteh, Syah menggelengkan kepala dengan sinis. "Apa gunanya cerita ini?" tanyanya ketus.
Karma tersenyum, kemudian memberikan jawaban sebagai alasannya.
"Gunanya adalah untuk kita memahami latar belakang Zee dan menghargai perjuangannya. Zee adalah cewek yang tangguh dan memiliki jiwa yang mulia. Keberadaan bunda Amy dan adik-adik panti sangat berarti bagi Zee. Mereka memberikan dukungan dan kebahagiaan dalam kehidupannya di panti asuhan. Dia juga bukan sosok yang manja dan cengeng!"
Ryan memperhatikan dan menanggapi penjelasan Karma.
"Zee benar-benar memiliki perjalanan yang luar biasa. Aku takjub dengan kekuatannya dan dukungan yang dia terima dari bunda Amy dan adik-adik panti."
Tapi karena suara Ryan yang lirih, dan suara-suara motor siswa yang mulai menghidupkan mesin, Syah tidak begitu mendengarkan tanggapan Ryan tentang kehidupan Zee. Syah sama sekali tidak peduli.
Anggukan samar Ryan, tidak diperhatikan oleh Syah. Apalagi Karma, yang masih dengan semangat menceritakan tentang kehidupan Zee di panti asuhan kepada mereka berdua.
Sayangnya, Syah tetap tidak peduli dan menganggap Ryan diam saja tanpa peduli, sama seperti dirinya. Dia bahkan mencibir Karma, yang terus bersemangat dalam memberikan gambaran tentang bunda Amy sebagai pengurus dan adik-adik panti Zee yang pintar dan ramah.
Padahal Karma berusaha menyampaikan pentingnya memahami latar belakang Zee dan menghargai perjuangannya.
Nyatanya, hanya Ryan yang diam-diam mendengarkan dan mengakui perjalanan luar biasa yang telah dilalui Zee.
***
Kepribadian Ryan memang sulit untuk ditebak. Dia terkesan sebagai seseorang yang misterius dan tertutup. Meskipun dia tahu tentang latar belakang Zee yang berasal dari panti asuhan, Ryan memilih untuk diam saja dan tidak mengungkapkan pengetahuannya kepada orang lain.
__ADS_1
Sikapnya yang lebih banyak diam ini, kadang kala membuat orang lain menganggapnya tidak peduli atau tidak tertarik.
Namun, di balik ketertutupan itu, tersembunyi sifat peduli dan penyayang yang mendalam. Ryan secara diam-diam menjadi donatur yang membantu panti asuhan, tanpa pernah mengungkapkan identitasnya kepada siapapun. Dia melakukan ini tanpa pamrih dan tanpa mencari pengakuan atau pujian dari orang lain.
Tindakannya ini menunjukkan sifat altruistiknya dan keinginan untuk membantu tanpa menonjolkan diri.
Kepribadian misterius Ryan mencerminkan sifat pemalu atau kurangnya kepercayaan diri dalam berinteraksi sosial secara terbuka. Dia merasa lebih nyaman beroperasi di balik layar, melakukan kebaikan tanpa menjadi pusat perhatian.
Meskipun tidak banyak yang diketahui tentang Ryan, kebaikannya dan perhatiannya terhadap Zee dan panti asuhan menunjukkan bahwa dia memiliki hati yang baik.
"Tuan Muda. Ada beberapa panti asuhan, yang ada di daerah Bekasi, katanya sedang mencari donatur baru. Ini dikarenakan donatur yang lama sudah tidak aktif, atau ada juga yang sudah meninggal dunia."
Salah satu orang Ryan, memberikan laporan padanya saat dia duduk di tepi kolam renang.
Rumah Ryan memang sangat besar dengan fasilitas yang lengkap. Selain kolam renang, ada juga ruangan khusus untuk olahraga.
"Pastikan saja datanya, lalu serahkan laporannya nanti malam. Aku akan memeriksanya terlebih dahulu."
Orang tersebut mengangguk patuh kemudian segera pergi dari sisi Ryan. Tapi sebelum dia benar-benar pergi, Ryan memanggilnya lagi.
"Tunggu!"
Mendengar Tuan mudanya memanggil orang tersebut berhenti secara mendadak kemudian menoleh, menunggu instruksi dan tugas berikutnya.
"Apa papa akan segera pulang?" tanya Ryan berharap.
"Maaf, Tuan Muda. Sebaiknya Tuan Muda mencari tahu dan bertanya sendiri pada Tuan Besar."
Ryan membuang nafas panjang. Dia bukannya tidak mau menghubungi orang tuanya. Tapi jika Ryan bertanya kapan mereka pulang, orang tuanya selalu memberikan jawaban yang sama.
__ADS_1
'Kami masih sibuk, sayang. Kamu, atur saja segala sesuatu yang ada di Jakarta, ya?'
Tangan Ryan melambai, meminta pada orangnya untuk segera pergi meninggalkan tempat. Dia tidak mau, jika ada orang lain yang melihatnya bersedih.