
Notifikasi media sosial milik Zee, memberikan kabar yang menerangkan bahwa ada permintaan teman di akunnya.
Karena adanya notifikasi permintaan pertemanan, dan kebetulan Zee belum memiliki teman, akhirnya Zee memutuskan untuk menerima permintaan tersebut. Setelah itu, Zee mulai mendapatkan beberapa permintaan pertemanan lainnya, yang mengakibatkan jumlah like yang ada di fotonya juga bertambah.
"Siapa yang mau berteman denganku, ya?" tanya Zee pada dirinya sendiri.
"Tapi, untuk media sosial seperti ini, kebanyakan juga belum tentu kenal di dunia nyata," gumam Zee lagi, mencoba untuk memahami sesuatu tentang media sosial.
Ketika Zee menerima pesan tersebut, dia tidak tahu siapa pemilik akun-akun di media sosial tersebut. Namun, karena ada permintaan pertemanan lagi dan lagi, Zee memutuskan untuk memberikan kepercayaan dan menerima permintaan tersebut.
"Ya sudahlah. Mungkin dengan banyaknya pertemanan, nantinya yang mau "like" fotoku juga banyak."
Zee memang belum ada pengalaman sama sekali perihal media sosial. Itulah sebabnya, ia yang memiliki sikap terbuka terhadap interaksi sosial dan ingin menjalin hubungan dengan orang baru, tidak memiliki kecurigaan apapun. Karena pada dasarnya, Zee memang gadis yang baik.
Ding ding ding
Setelahnya permintaan pertemanan yang pertama dikonfirmasi, datang permintaan yang lebih banyak lagi sehingga akun media sosial baru Zee menarik perhatian banyak orang, atau bisa juga mereka adalah orang-orang yang terhubung dengan teman dari ke teman lain. Jadi mereka tertarik untuk terhubung dengan Zee juga.
"Wah, jumlah "like" bertambah! Ini bisa jadi dengan bertambahnya pertemanan memang mempengaruhi "like" juga?"
Kenaikan jumlah like pada fotonya juga memicu semangat dan kegembiraan Zee, karena menunjukkan bahwa kontennya diterima dan diapresiasi oleh orang lain dengan cara "like" foto yang sudah diunggahnya.
"Kalau seperti ini terus, aku akan menerima semua pertemanan. Jadi misi tantangan "like" foto bisa berhasil!"
Zee terus saja memantau jumlah like pada fotonya pada jam ke jam. Pada pukul 5 sore, "like" fotonya sudah terkumpul sebanyak 35 like. Meskipun Zee terus memantau perkembangan tersebut, dia merasa pesimis juga, sebab masih jauh dari target yang ditetapkan oleh System.
"Bagaimana ini? Kurang banyak."
Zee merasa pesimis, dia cemas karena kenaikan jumlahnya sangat lambat. Padahal ia sudah memiliki harapan yang lebih tinggi, berharap jumlah like yang lebih besar dengan cepat, sehingga misi tantangan segera dapat diselesaikan.
"Bagaimana ini, ya? Baru 35 daja. Huhfff..."
__ADS_1
Zee merasa bahwa 35 like tidak sebanding dengan usaha atau ekspektasinya, yang berharap dapat hadiah besar setelah selesai pada pukul 23.00 WIB nanti.
Jumlah like yang tidak sesuai dengan harapan Zee, menyebabkan rasa kekecewaan atau meragukan akan hadiah yang diharapkan untuk bisa menambah jumlah tabungannya.
"Huhfff... aku harus bagaimana lagi untuk bisa meningkatkan jumlah "like" ini, ya?"
Rasa cemas dan ketakutan semakin bertambah, saat waktu menjelang malam. Zee tidak bisa berkonsentrasi pada apa yang dilakukannya. Baik saat belajar maupun saat membantu adik-adik panti dan Bunda Amy.
"Kak Zee, kakak kenapa? Apakah kakak sakit? Jika kakak sakit, sebaiknya istirahat saja, Mona bisa ngerjain PR sendiri."
Mona, adik panti yang sedang dibantu saat mengerjakan PR, mengamati keadaan Zee. Mona berpikir jika kakaknya itu sedang sakit, itulah sebabnya dia meminta Zee untuk beristirahat.
"Emhhh, kakak sehat kok. Kakak tidak kenapa-kenapa."
Tapi, ternyata bunda Amy melihat dan mendengar perkataan Mona.
"Zee, kamu istirahat saja, gih! Biar bunda yang menemani mereka belajar. Dari tadi bunda amati, kamu tidak begitu sehat."
"Emhhh... Bunda, Zee istirahat dulu. Dan Mona, jika tidak bisa mengerjakan, bisa minta tolong bunda Amy, ya?"
Bunda Amy dan Mona mengangguk mengiyakan, kemudian Zee pergi menuju ke kamarnya untuk beristirahat.Dia tidak mau jika kedua orang yang telah memperhatikan keadaannya, akan berpikir yang tidak-tidak. Jadi ia menurut saja.
Setelah berada di dalam kamar, Zee mulai berpikir. Dia sadar diri, jika misi tantangan belum tentu semuanya harus berhasil.
Jumlah "like" pada sebuah foto hanyalah angka dan tidak harus menjadi penentu keberhasilan atau nilai seseorang. Hal ini juga disadari oleh Zee, jika pembuatan akun media sosialnya akan menjadi kesempatan bagi Zee untuk lebih maju kedepannya nanti.
Zee mulai mempertimbangkan bagaimana ia menilai dan mengevaluasi dirinya sendiri, terlepas dari pengakuan eksternal di media sosial.
Selain itu, penting juga untuk tidak terlalu bergantung pada respons dan pengakuan di media sosial sebagai penentu nilai diri. Apresiasi yang sejati dan penting berasal dari hubungan personal dan pencapaian dalam kehidupan nyata.
Menggunakan media sosial dengan cara yang sehat dan menghargai diri sendiri adalah kunci untuk menjaga kesejahteraan mental dan emosional dalam situasi seperti ini.
__ADS_1
"Mungkin, misi tantangan ini ada maksud tertentu juga," gumam Zee setelah mulai tenang.
Meskipun Zee yang mulai merasa harap-harap cemas setelah pukul 8 malam, tapi jumlah "like" di fotonya tidak bertambah, Zee tetap berusaha untuk berpikir positif. Kehadiran kecemasan yang ada, justru akan memperburuk dirinya.
"Tapi, mengapa jumlah "like" tidak bertambah-tambah juga, ya? Apakah aku akan gagal dalam misi tantangan kali ini?"
Sayangnya, meskipun sudah berhasil untuk sadar, rasa khawatir, takut dan cemas tetap muncul.
Tok tok tok
Pintu kamar diketuk dari luar. Zee bangkit untuk membukakan pintu.
Clek
Ternyata, bunda Amy yang mengetuk pintu kamar Zee.
"Masuk, Bun."
Zee mempersilahkan bunda Amy masuk ke dalam kamarnya. Setelah bunda Amy masuk, Zee mengekor di belakang bunda Amy yang kini telah duduk di pinggir tempat tidurnya.
"Zee. Bunda tidak bisa melihatmu terus menerus tertekan, hanya karena keinginanmu yang sebenarnya bukan tanggung jawabmu juga."
Mendengar perkataan bunda Amy, Zee menunduk. Dia tidak berani menatap wajah pengurus panti, yang sudah dianggapnya sebagai orang tua kandung. Dia tidak pernah mengenal kedua orang tuanya, dan hanya punya bunda Amy sejak bayi.
Teman-teman Zee, yang seangkatan dirinya di panti asuhan ini, sudah banyak yang diambil oleh orang tua asuh, yang mengangkat anak-anak panti untuk dijadikan sebagai anak angkat atau anak asuh.
Zee memang kurang beruntung. Sejak kecil, dia sakit-sakitan sehingga tubuhnya kurus. Calon orang tua angkat, tidak pernah ada yang tertarik untuk mengambilnya. Itulah sebabnya, Zee tumbuh di panti asuhan ini hingga sekarang.
Dan meskipun Zee sudah tidak lagi sakit-sakitan, dengan badannya yang terus berkembang, justru membuat calon orang tua asuh tidak tertarik untuk mengambilnya. Kemungkinan besar karena penampilan Zee, yang memang tidak pernah menarik.
"Zee. Sebaiknya batalkan saja rencana renovasi. Bunda usahakan bisa secepatnya merenovasi, dengan tabungan Bunda dan sisa-sisa uang bulanan panti, agar semuanya selesai sebelum musim hujan yang akan datang."
__ADS_1
Zee mengangkat wajahnya terkejut, saat mendengar perkataan Bunda Amy. Tapi ia belum memberikan tanggapan apapun.