
Ryan masih berada di dalam kamarnya yang luas. Dia sedang tersenyum-senyum sendiri sambil melihat layar ponselnya, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang membuatnya senang atau gembira.
Padahal biasanya, Ryan jarang sekali tersenyum. Wajahnya tampak selalu datar tanpa ekspresi.
"Aku baru nemu satu ini," gumam Ryan dengan menggeleng beberapa kali, sedangkan matanya fokus menatap layar ponsel.
"Apa karena sekarang dia sudah berubah, jadi berani membuat akun media sosial?"
Pertanyaan ini muncul, sebab selama mengenal sosok yang ada di dalam foto, dirinya tidak pernah sekalipun menemukan akun sosial dari seseorang tersebut. Dan setelah sekian lamanya, akhirnya ia berhasil menemukan akun media sosial milik Zee.
Untungnya, Ryan tidak menggunakan nama dan foto asli di akun media sosial miliknya. Jadi, identitasnya tidak akan diketahui oleh Zee maupun teman-temannya yang lain.
Untungnya, Zee mengkonfirmasi permintaan pertemanan dari Ryan, menandakan bahwa mereka sekarang sudah berteman di platform tersebut.
Selain itu, Ryan juga sudah meng-klik tombol "like" pada foto Zee tanpa memberikan komentar apapun.
"Cantik. Tapi, jika dia sudah cantik seperti ini, akan ada banyak yang mengincarnya. Apakah Zee juga akan berubah seperti gadis kebanyakan? Yang akan sombong karena kecantikan dan kepopuleran."
Ryan masih melihat layar ponselnya, meskipun yang dilihat tidak pernah berubah, sebab masih menampilkan foto Zee yang tampak cantik meskipun dengan pose yang sederhana.
Nyatanya, Ryan menyukai foto tersebut. Dia memang menyukai Zee yang apa adanya, tidak alay seperti teman-temannya yang lain. Baik dulu saat Zee masih gendut, dan sekarang yang sudah langsing serta cantik. Tapi, perubahan tersebut justru membuat Ryan khawatir. Sebab bisa saja, Zee akan dimanfaatkan oleh cowok brengsek seperti Syah saat itu.
"Semoga saja Zee bisa melindungi dirinya sendiri, dari para buaya macam Syah!"
Ingatan Ryan kembali pada malam itu, saat dia harus membuntuti Syah yang sedang bersama Zee. Wajahnya mengeras, pertanda bahwa ia sedang menahan amarahnya.
"Jika saja aku tidak mengingat jasa ayahnya, aku sudah pastikan membuatnya tidak bisa berjalan!"
***
"Zee! Aku kirim pertemanan sama kamu di FB, barusan. Tolong di konfirmasi, ya!"
__ADS_1
Zee menoleh ke arah seseorang yang memanggil namanya. "Ya. Nanti, ya! Aku tidak main sosmed jika di sekolah," jawab Zee memberikan penjelasan.
"Ok, sip!"
Temannya tadi, mengacungkan jadi jempolnya tanda setuju.
Di beberapa tempat, di sudut-sudut area sekolah, banyak dari mereka yang bergerombol sambil membicarakan sesuatu. Sesekali mereka juga menuju ke arah layar ponsel mereka.
"Ya, tumben sekarang main sosmed?" tanya seseorang.
"Iya, cupu banget! Masa baru sekarang, Zee punya sosmed!" Seseorang menimpali.
Ryan yang sedang berjalan di lorong sekolah, menajamkan pendengarannya, sebab ia mendengar mereka menyebut-nyebut nama Zee.
Ternyata teman-temannya sedang membicarakan Zee, yang terus saja memiliki akun sosmed. Hal ini menimbulkan perasaan tidak suka pada Ryan, sebab ia tidak mau jika Zee berubah seandainya sudah terkenal nanti.
Zee memang banyak mengalami perubahan, baik dari segi kecantikan maupun fisiknya. Ini adalah sebuah keberhasilan yang spektakuler bagi Zee, yang dulunya tidak pernah dianggap oleh teman-temannya. Bahkan, keberadaannya tidaklah penting. Hanya dianggap seperti angin lalu.
Sayangnya, perubahan Zee yang sekarang ini terlihat lebih menarik atau berbeda dari sebelumnya, justru membuat Ryan tidak suka.
Ryan sebenarnya menyukai Zee apa adanya, dengan sikapnya yang selalu menunduk malu dan tidak berani tersenyum ramah pada semua orang. Dia sudah terbiasa dengan sifat atau kepribadian Zee yang introvert atau pemalu, dan perubahan tersebut mengganggu citra Zee yang sebelumnya ia sukai.
Perubahan Zee yang banyak disukai oleh orang-orang, justru membuat Ryan kesal.
Dan kekesalan Ryan semakin bertambah lagi, di saat indera pendengarannya mendengar pujian orang-orang untuk Zee.
"Wah, kamu lihat Zee sekarang? Dia benar-benar berubah. Cantik banget!" Cowok bertumbuh gendut memuji Zee.
"Zee dulu pemalu banget, sekarang dia lebih percaya diri dan terlihat lebih extrovert."
Temannya yang lain, menimpali, memuji perubahan Zee yang menurut mereka jauh lebih baik dari yang dulu.
__ADS_1
"Zee udah mulai berdandan dan bergaya sekarang. Keren, ya! Aku suka dia, jauh beda dengan Ella yang sok imut dan cantik!"
"Gila, Zee jadi pusat perhatian sekarang. Banyak yang ngejar dia."
"Zee dulu selalu sendiri, sekarang dia punya banyak teman baru. Sepertinya dia jadi lebih terbuka."
Tangan Ryan udah terkepal kuat, mendengar pujian-pujian yang keluar dari cowok-cowok tersebut. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab ia juga menyadari semua perubahan yang terjadi pada Zee.
'Aku suka Zee yang dulu. Dia misterius dan unik. Sekarang dia terlihat seperti gadis populer lainnya! Selalu dibicarakan oleh orang-orang.'
Ryan Zee, tapi jauh di lubuk hatinya tetap saja tidak bisa.
'Taoi, Zee kelihatan lebih bahagia sekarang. Mungkin perubahan itu memang baik untuknya,' batin Ryan lagi, memahami situasi yang dialami Zee selama ini.
Di salah satu sudut lapangan basket yang sepi, Syah Reza secara diam-diam melihat foto Zee di layar ponselnya.
Tadi, Syah juga mendengar beberapa temannya yang sedang membicarakan Zee, sama seperti yang dialami Ryan.
"Ternyata Zee punya rahasia makeover, ya. Keren banget hasilnya! Tapi, beberapa cewek ada yang bilang, jika Zee operasi plastik, tapi aku gak yakin. Tapi memang terlihat beda banget."
Syah mulai meragukan keaslian dari perubahan gadis cupu tersebut. Bahkan ia permakan gosip cewek-cewek yang mulai iri dengan kepopuleran seorang Zee.
"Sekarang Zee bisa ikut berbaur dan bergaul dengan semua orang. Dia jadi lebih populer."
Zee memang berbeda dengan yang dulu. Syah juga mengamati perubahan yang dialami Zee dan menyadari bahwa sosok Zee yang sekarang memiliki karakteristik yang berbeda dari sebelumnya.
Syah juga masih mempunyai niat untuk menaklukkan Zee, seperti yang biasa ia lakukan terhadap gadis-gadis lain yang sedang diincarnya.
Syah Reza, cowok populer karena terkenal ketampanannya, memiliki kebiasaan atau pola perilaku yang cukup manis saat mengejar gadis yang menjadi targetnya. Dan meskipun setelahnya menjadi hal yang buruk untuk gadis tersebut, nyatanya mereka tetap mengidolakan seorang Syah Reza.
Sayangnya, hanya seorang Zee yang tidak mudah untuk ditaklukkan Syah Reza. Bahkan ia harus berakhir di rumah sakit, tanpa tahu penyebabnya. Sebab ia hanya ingat saat mendapatkan tendangan Zee, kemudian membentur tembok.
__ADS_1
"Gue penasaran, apa yang sebenarnya terjadi waktu itu? Kenapa dadaku rasa sakit sekali? Padahal, tidak mungkin juga si cupu itu punya kekuatan yang luar biasa," gumam Syah mulai menganalisa kejadian yang dialami bersama Zee beberapa waktu kemarin.
Syah ingin mencari tahu tentang Zee, dan bagaimana caranya menaklukkan gadis cupu tersebut sama seperti rencananya bersama dengan Ella.