
"Aku denger mereka lagi bikin pertandingan antar teman-teman juga. Asik banget!"
Beberapa cewek pun berkerumun di sekitar lapangan basket, menemani teman-teman cowok mereka yang sedang bersiap-siap bermain. Mereka saling berbicara, tertawa, dan mengomentari pertandingan yang akan datang dengan antusias.
Suasana semakin semarak dengan hadirnya penonton, yang turut bersemangat menyaksikan pertandingan seru antara Ryan, Syah, Karma, dan tim lainnya.
"Baguslah, jadi kita bisa main 3 on 3 atau 5 on 5." Syah berseru keras, dengan bersemangat.
"Sambil nunggu sore, kita bisa rencanain strategi tim juga." Karma, ikut bicara sebelum mereka benar-benar bertanding.
"Mantap! Kita bener-bener bikin pertandingan yang seru deh ..." Syah, kembali menyahut.
"Ini kesempatan buat kita refreshing sekaligus merayakan akhir ujian," sahut temannya yang lain.
mereka masih berbincang-bincang ringan, sebelum memulai pertandingan. Tim satunya, belum siap begitu juga dengan wasitnya.
Cewek-cewek yang menjadi suporter sudah berteriak-teriak, mengelu-elukan nama pemain yang mereka idolakan. Padahal permainan belum juga dimulai.
"Bener banget, udah saatnya kita ngasih reward ke diri sendiri setelah seminggu belajar keras."
"Ya, dan main basket adalah salah satu caranya!"
"Ok, ayok, semangat guys! Persiapkan diri kalian buat pertandingan seru ini!"
Mereka pun semangat merencanakan pertandingan basket setelah ujian berakhir, dengan senyum dan antusiasme yang menghiasi wajah mereka.
Tiba-tiba, dari arah pintu lapangan, datang dua cewek yang mendekat ke tempat Syah berada. Mereka datang dengan wajah serius, seakan-akan ada sesuatu hal yang ingin mereka bicarakan.
"Syah! Kita harus bicara!" teriak salah satu dari mereka berdua.
"Iya, Syah! Jangan berpura-pura nggak kenal kami," sahut yang satunya.
"Maaf, apa maksud kalian?" tanya Syah bingung, tapi wajahnya juga terlihat terkejut.
__ADS_1
Kedua cewek tersebut, berkacak pinggang dengan tatapan tajam ke arah Syah. Sedang Syah sendiri, mengerutkan keningnya dengan wajah kebingungan.
Cowok itu tidak mengerti maksud dari perkataan kedua cewek tersebut, sebab mereka tidak menyatakan maksud dan tujuan mereka secara langsung.
"Jangan pura-pura bodoh, Syah. Kamu, sudah mengambil kehormatan kami sebelum ujian!"
Syah, dan kedua temannya, Karma dan Ryan, tentu saja terkejut meskipun sebenarnya mereka berdua sudah mengetahui kebiasaan dari Syah.
Teman-teman yang lain, yang kebetulan berada di dekat tempat mereka berada tentu saja ikut mendengar sehingga sama-sama terkejut juga. Mereka semua, ada yang tidak percaya tapi ada juga yang hanya bersikap biasa saja.
"Kami berdua benar-benar marah sama kamu, tapi kami masih menahannya karena ujian ini." Cewek yang berambut pendek, menyetarakan alasannya.
"Maaf, aku ... aku nggak bermaksud begitu. Tapi, aku nggak ngerti kalian ngomong apa?!" elak Syah, yang tidak mau disalahkan.
"Maaf? Ini serius, Syah. Ini tentang rasa kehormatan kami!"
Dua cewek tersebut, terlihat bertambah marah dengan ucapan Syah yang meminta maaf.
Sepertinya, mereka berdua tidak terima karena perilaku Syah yang seakan-akan tidak merasa bersalah sama sekali.
"Aku sungguh minta maaf kalau ada kesalahpahaman. T-api, bukannya kita melakukan itu karena suka sama suka?" Syah, sepertinya tetap mengelak.
"Kalau begitu, apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki ini?" tanya cewek rambutnya dikuncir.
Tapi, wajah Syah tampak biasa saja. Tidak ada rasa panik, apalagi takut. Syah sepertinya tidak merasakan tekanan apapun dari ancaman mereka.
"Kami bisa melaporkan kamu ke pihak sekolah atau bahkan polisi, Syah!"
"Oh ... Baiklah, kita akan bicara dan menjelaskan semuanya. Kita bisa bicara dengan tenang, ya?"
Setelah mendapatkan ancaman seperti itu, Syah seakan-akan mau menanggapi. Tapi, dasar Syah yang sepertinya terbiasa dengan situasi seperti ini, air mukanya tetap terlihat tenang.
"Ada masalah?" tanya Ryan, pura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Ini urusan kami dengan Syah, sebaiknya tidak usah ikut campur Ryan."
Ryan mengangguk mendengar jawaban salah satu cewek tersebut. Dia melihat ke arah Syah, tapi Syah tampak tidak peduli sama sekali. Bahkan, Syah masih sempat melempar-lempar bola basket dari satu tangannya ke tangannya yang lain, kanan dan kiri.
Brukk!
Ryan, tidak bisa melihat situasi yang diacuhkan oleh Syah. Dua sepertinya sudah tidak bisa mentolelir perbuatan Syah, apalagi sudah ada dua orang yang datang meminta pertanggungjawaban.
"Woi, apa maksudnya?" tanya Syah marah.
Syah, tidak terima karena Ryan mengambil bola dari tangannya, kemudian melemparnya ke sembarang arah.
"Lo, tidak tahu malu!"
Dengan suara pelan tapi penuh tekanan, Ryan menjawab. Jari telunjuk Ryan bahkan menuding dan menekan-nekan dada Syah.
"Gue, sudah lama diam. Gue pikir Lo bisa berubah dengan seiring waktu. T-api ... sepertinya otak Lo emang bebal, Syah!"
Syah, tidak terima atas perkataan dan perlakuan Ryan. Dia menarik tangan Ryan, kemudian mengangkat wajahnya seakan-akan menantang.
"Apa maksud Lo, Ryan?" tanyanya, dengan sombong.
Ryan, merasa benar-benar kecewa, marah dan jengkel dengan semua yang dilakukan oleh temannya itu. Dia, tidak ingin diam lagi seperti biasanya.
"Hemmm ... sepertinya, aku tidak bisa lagi."
Setelah berkata demikian, Ryan segera pergi meninggalkan lapangan basket. Dia tidak peduli dengan teriakan Karma dan yang lain, yang memintanya untuk tenang dan tetap tinggal.
"Ryan, tunggu!"
"Ryan, ini bisa dibicarakan dengan baik-baik!"
Karena Ryan meninggalkan lapangan basket, pertandingan sepertinya juga gagal. Dan Syah, menyalahkan kedua cewek yang baru saja datang dengan marah-marah padanya.
__ADS_1
"Ini semua, gara-gara kalian berdua!"