
Di tempat lain, Ryan cukup senang dengan keberhasilan Zee untuk mencari tahu dan mengungkap kebenaran tentang kasus pencemaran nama baiknya. Tapi ia heran, kenapa Zee tidak bertindak tegas dan membuat laporan secara hukum pada mereka yang licik untuk menjatuhkannya melalui media sosial.
"Aku, senang melihat Zee berhasil mengungkap kebenaran tentang kasus pencemaran nama baiknya. Tapi agak aneh bagiku mengapa dia tidak mengambil tindakan hukum terhadap orang-orang yang mencoba menjatuhkannya dengan cara licik di media sosial?"
Pernyataan ini datang, karena Ryan tidak tahu apa alasan Zee, karena yang ia tahu bahwa Zee sangat terpukul dengan adanya berita-berita kemarin.
"Mungkin Zee memilih untuk tidak melibatkan proses hukum karena alasan tertentu," gumamnya setelah berpikir.
"Kemungkinan Zee, menghindari konfrontasi atau ingin fokus pada pemulihan nama baiknya tanpa terlalu banyak gangguan."
Begitulah akhirnya, kesimpulan yang diambil oleh Ryan. Setiap orang memang memiliki pendekatan yang berbeda terhadap situasi semacam Zee, apalagi jika itu dengan mudah.
Selain itu, Ryan berpikir bahwa mungkin saja Zee mempertimbangkan dampak jangka panjang dari melibatkan proses hukum.
Proses hukum bisa menjadi proses yang panjang dan mahal, serta dapat menimbulkan stres dan ketidaknyamanan tambahan. Jadi menurut Ryan, Zee lebih memilih untuk memusatkan energinya pada hal-hal yang lebih positif dan produktif daripada terjebak dalam pertempuran hukum yang memakan waktu.
"Jika itu aku, mungkin memiliki pendekatan yang berbeda dalam situasi seperti ini. Tapi tentu saja, Zee memiliki pertimbangannya sendiri."
Terkadang, orang juga memilih untuk tidak melanjutkan dengan proses hukum karena bukti yang cukup sulit dihadirkan di pengadilan atau karena risiko gagal menang dalam kasus tersebut. Jadi, Ryan tidak menyalahkan Zee yang memiliki pandangan berbeda darinya.
Bisa dipastikan bahwa ada pertimbangan yang lebih mendalam yang mendorong Zee untuk tidak mengambil tindakan hukum.
"T-api ... Syah seharusnya menyadari kekeliruannya, bukannya bersikap santai dan mengorbankan cewek-cewek bodoh itu!"
Ya, Ryan berpikir bahwa Ella dan kedua sahabatnya adalah orang-orang yang bodoh, karena tidak sadar telah dimanfaatkan Syah.
Ryan akhirnya memutuskan untuk kembali bersikap seperti sebelumnya, meskipun sebenarnya dia sedang mengamati dengan cermat tingkah laku Syah. Dia menyadari bahwa ada beberapa hal yang mungkin tersembunyi di balik perilaku Syah.
Jika Syah memutuskan untuk kembali melakukan hal-hal yang merugikan, Ryan memiliki niat untuk mengungkap hal-hal tersebut sebagai langkah pencegahan.
"Tapi kamu tidak bisa lepas begitu saja, Syah. Setiap kesalahan pasti ada konsekuensi, meskipun tidak langsung."
***
__ADS_1
Di sebuah kafe yang nyaman untuk nongkrong, Ryan, Syah, dan Karma duduk di sekitar meja kecil. Secangkir kopi dan teh menemani mereka dalam suasana yang santai.
Awalnya, obrolan mereka ringan dan penuh tawa, membicarakan berbagai topik mulai dari pergaulan hingga rencana akhir pekan.
Namun, suasana berubah tiba-tiba ketika Syah dengan bangga beralih ke topik media sosial. Dengan senyuman tipis, dia mengungkapkan sesuatu yang seharusnya tidak dia bicarakan.
"Kalian tahu, aku sebenarnya memiliki keahlian dalam memanipulasi data dan informasi di media sosial. Aku pernah membuat seseorang terlihat sangat buruk dengan citra yang hancur hanya melalui manipulasi yang cerdik."
Ryan dan Karma tentu saja terkejut dengan pengakuan ini. Ryan memandang Syah dengan tatapan serius pura-pura serius karena tidak tahu apa-apa.
"Tapi mengapa kamu memilih untuk melakukan hal seperti itu? Itu tidak tentu saja tidak baik, Syah." Ryan memberikan tanggapan
"Oh, hahaha ... santai saja, Ryan. Ini hanyalah cara untuk menghibur diri dan memberikan pelajaran kepada mereka yang berpura-pura sempurna di dunia maya." Syah hanya menjawab dengan tertawa santai.
Karma, yang selama ini terlihat diam saja, akhirnya ikut angkat berbicara. Meskipun ia juga tahu apa yang biasa dilakukan Syah di luar sana.
"Tapi apakah tidak berbahaya merusak reputasi seseorang hanya karena kesenangan atau penilaian pribadi kita? Apakah tidak lebih baik memberikan kritik atau umpan balik secara konstruktif?" tanya Karma memberikan pandangannya.
"Siapa yang peduli? Dunia ini keras, dan semua orang melakukan trik mereka masing-masing. Aku hanya menjalankan permainan yang sama."
Ryan dan Karma masih terlihat ragu, hanya bisa saling pandang. Meskipun selama ini mereka bertiga dekat dan populer dengan badboy, setidaknya itu hanya untuk Syah saja.
Karma, yang selama ini paling dekat dengan Syah, berusaha untuk memberikan nasehat dan pertanyaan.
"Tapi apa konsekuensinya jika tindakan seperti itu terbongkar? Apakah ini benar-benar sesuatu yang membuat kita, puas? Bagaimana jika akhirnya tersandung secara hukum?"
Pertanyaan demi pertanyaan diajukan Karma, berharap temannya itu sadar jika bisa jadi suatu hari nanti ia kena batunya.
"Udah deh, gak usah nyinyir kek nenek-nenek atau emak-emak kompleks. Hahaha ..."
"Ya sudah, terserah kau saja."
"Ck, cuma candaan ah!"
__ADS_1
Setelah beberapa ketegangan dalam perbincangan, Syah akhirnya mengelak dan dengan cepat mengklarifikasi bahwa ia sebenarnya hanya bercanda belaka. Namun, meskipun Syah sudah memberikan klarifikasi tersebut, Ryan tetap merasa ada sesuatu yang lebih dalam terkait situasi ini. Ia memiliki perasaan kuat bahwa Syah adalah dalang di balik peristiwa yang membuat Zee menjadi viral belakangan ini.
'Aku gak yakin, tapi sepertinya dugaan kuat itu memang benar dilakukan Syah '
Sementara Syah bersikeras bahwa semuanya hanya lelucon, Ryan masih merasa ada banyak hal yang tidak masuk akal. Ia berpikir dalam hati tentang bukti-bukti yang mungkin ada dan apakah sebaiknya ia mengungkapkannya suatu saat nanti.
"Syah, aku tahu kamu berusaha melucu, tapi ada sesuatu yang tidak kusangka-sangka dalam semua ini."
Di kafe yang sama, suasana masih terasa tegang meskipun Syah sudah mengklarifikasi bahwa itu hanyalah lelucon. Tapi Ryan memandang Syah dengan tatapan yang serius.
Syah mengangkat alisnya dengan tampang polos, "Apa maksudmu, Ryan? Aku hanya sedang bercanda, dan ini lelucon biasa."
Karma mencoba meredakan situasi, "Mungkin Ryan berpikir begitu karena situasi sekarang. Mengingat apa yang Zee alami akhir-akhir ini."
Ryan mengangguk, "Betul, Karma. Itu sangat aneh bagiku bagaimana Zee bisa begitu cepat menjadi viral. Tiba-tiba muncul begitu banyak informasi dan konten negatif tentangnya. Ini bukan sembarang hal."
"Kalian terlalu berlebihan. Zee pasti punya musuh di luar sana yang berusaha menjatuhkannya. Tapi bukan aku."
Syah menggeleng dengan cepat, berusaha memberikan informasi yang sebisa mungkin ia berikan.
Ryan memandang Syah dengan cara yang berbeda, seperti sedang menimbang sesuatu. Dia memang yang paling diam, tapi jeli dalam melihat keadaan.
"Syah, aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Jika ada sesuatu yang sebenarnya kamu tahu atau lakukan, lebih baik mengatakannya sekarang."
Syah tampak agak gugup, tetapi kemudian kembali tersenyum dengan santai. Berharap ini bisa mengurangi kecurigaan kedua temannya.
"Ryan, kamu selalu terlalu serius. Ini hanya perbincangan santai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Tapi kita perlu ingat bahwa tindakan online kita bisa memiliki dampak besar dalam kehidupan nyata. Mungkin kita harus lebih berhati-hati dengan apa yang kita lemparkan ke dunia maya."
Karma menambahkan, karena remaja satu ini memang tidak terlalu suka membagikan kegiatannya di media sosial.
"Serahlah! Aku tidak peduli, yang penting hidup ini suka-suka!" seru Syah seperti tidak memiliki beban apapun.
__ADS_1