System Of Beauty

System Of Beauty
Bab 24. Rencana Mereka


__ADS_3

Di sudut ruangan yang nyaman di dalam sebuah cafe yang sedang menjadi tempat favorit bagi remaja, Syah dan Ella duduk berhadapan satu sama lain.


Suasana cafe penuh dengan kehidupan dan getaran energi muda. Tampaknya mereka berdua sengaja memilih tempat ini untuk berbincang-bincang dengan tujuan yang jelas dalam pikiran mereka.


Syah, seorang pemuda dengan rambut ikal cokelat dan sorot mata tajam, terlihat agak ragu namun tetap bersikap tegar. Sementara Ella, seorang gadis dengan rambut panjang berwarna hitam yang melengkung di ujungnya, tampak penuh semangat dan bersemangat.


Keduanya telah merencanakan pertemuan ini untuk membicarakan sesuatu tentang Zee, seorang gadis yang mereka anggap cupu dan tidak mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan Syah mulai menjadi samar. Ia merasa ragu dengan keyakinannya sendiri sebab Zee telah mengalami banyak perubahan yang signifikan.


Sementara mereka duduk di sudut ruangan, terdengar riuh rendah dari para pengunjung yang sedang menikmati minuman mereka sambil bercengkerama.


Syah dan Ella terlihat tenggelam dalam percakapan mereka, dengan ekspresi wajah yang penuh dengan pemikiran dan emosi yang saling berbenturan.


Syah tersenyum sinis, di saat Ella mulai membicarakan tentang perubahan Zee.


Ella menatap Syah dengan penuh perhatian. "Aku justru ragu dengan perasaanmu terhadap Zee. Apa yang terjadi? Aku tahu bahwa dia telah berubah belakangan ini. Tapi, kenapa dia membicarakan tentang dirimu yang dianggap sebagai seorang penipu?"


Syah menggeleng, kemudian menghela nafas. "Ya, benar. Sebenarnya, aku memang br3ngs3k. Hahaha... bukankah kamu tahu, Ella?" tanya Syah balik bertanya.


Ella mengangguk mengerti.


"Tentu saja aku sangat tahu dan mengerti bagaimana dirimu, Syah. Bahkan aku pikir kamu sudah berhasil mendapatkannya. Bagaimana mungkin, seorang Syah gagal dalam misinya?" Ella mulai meragukan kemampuan sah yang terkenal playboy.


"Atau, kamu sudah berubah? Apakah kamu yakin bahwa Zee yang sudah membuatmu tidak berdaya?" tanya Ella lagi, dengan menatap tajam ke arah Syah yang tampak berubah raut wajahnya di saat mendengar pertanyaannya barusan.


Syah diam. Dia mulai memikirkan kata-kata Ella.


"Aku benar-benar tidak yakin, Ella. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi aku yakin bahwa orang yang menendangku waktu itu adalah Zee. Tidak ada orang lain di kamar hotel saat itu. Hanya ada aku dan Zee saja," ujar Syah membela diri.


Mendengar pengakuan Syah yang tetap sana sedari kemarin, Ella tampak berpikir.

__ADS_1


"Bagaimana jika untuk sementara waktu, kamu bersikap baik dulu padanya. Jangan menampakkan diri jika kamu memiliki dendam. Aku yakin bahwa Zee sebenarnya masih mengharapkan perhatianmu, Syah. Tapi karena dia tidak bisa menampakan perasaannya maka dia mencari perhatian dengan meracuni pikiran teman-teman yang lainnya."


Syah mengerutkan keningnya, kemudian mengerti.


"Tapi, Ella. Aku tidak mungkin memulainya. Bagaimana caranya agar bisa mendekatinya lagi? Kamu tahu sendiri, selama ini justru cewek-cewek yang datang mendekat dan memintaku."


Mendengar perkataan Syah yang seperti sedang berada dalam keadaan cemas, Ella meletakkan tangannya di atas tangan Syah dengan lembut.


"Syah yang biasanya terlalu pede mana? Aku tidak tahu, apakah yang sedang berada di depanku ini benar-benar Syah Reza atau hanya bayangannya saja!"


Senyuman bibir Ella, memberikan gambaran bahwa dia mengejek Syah. Mereka memang ada kesepakatan bersama untuk membuat rencana yang matang pada Zee. Sayangnya, Syah justru ragu untuk memulai.


"Hemmm, tapi Zee itu ada yang membacking, meskipun aku belum tahu siapa dia."


Mata Ella menyipit saat mendengar pernyataan Syah yang tidak dimengerti.


"Maksudnya?" tanya Ella meminta penjelasan.


"Apa? Tidak mungkin! Aku tidak akan pernah membiarkan semua itu terjadi!"


Ella tampak sangat marah, saat Syah selesai memberikan penjelasan. Sedangkan Ella terlihat marah dengan wajahnya yang merah padam.


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Syah kemudian.


***


Di tempat lain, di sebuah ruangan yang mirip dengan ruangan kantor, tepatnya ruangan kerja bunda Amy selaku pengurus panti asuhan Kasih Bunda, Zee duduk bersama Bunda Amy. Seorang wanita paruh baya dengan senyum ramahnya, yang selalu memberikan ketenangan.


Mereka berdua sedang berbincang tentang rencana renovasi rumah panti asuhan tersebut. Benda-benda yang terpajang di rak dan foto-foto anak-anak menambah kehangatan dan keceriaan di ruangan itu.

__ADS_1


Bunda Amy mengamati kertas yang sadari tadi dipegang Zee.


"Zee, Bunda sangat berterima kasih atas niat baikmu untuk membiayai renovasi rumah panti asuhan ini. Ini akan menjadi langkah besar bagi anak-anak di sini. Tapi, aku mau bertanya, berapa dana yang dibutuhkan untuk proyek ini? Dan bagaimana serta dari mana kamu mendapatkan dana ini?"


Pertanyaan bunda Amy ini sangat wajar, sebab Zee masih berstatus sebagai pelajar. Jika Zee memberikan alasan bahwa dia bekerja sebagai waiters di cafe, saat Zee mengajak anak-anak panti pergi ke kebun binatang dan belanja ke mall, bunda Amy memang tidak terlalu menekan dan meminta penjelasan.


Tapi untuk kasus ini tentu saja berbeda karena memerlukan biaya yang sangat banyak.


Zee menatap Bunda Amy dengan tulus. "Bunda Amy, Zee sangat bersemangat untuk membantu dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak di sini. Zee sudah melakukan beberapa perencanaan dan perkiraan-perkiraan sebagai pandangan dan rencana untuk dananya. Kebetulan, Zee mendapatkan beberapa sumbangan dari orang tua teman Zee yang semuanya baik-baik."


Akhirnya Zee terpaksa memberikan penjelasan pada bunda Amy, bahwa ia mendapatkan dana tersebut dari orang tua teman-temannya.


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Zee, tentu saja bunda Amy percaya. Sebab, adakalanya orang-orang kaya yang kebetulan menjadi wali murid di sekolah SMA High School memang memberikan sumbangan tanpa harus diketahui identitas mereka.


Bunda Amy memandang Zee dengan rasa bangga.


"Itu adalah jumlah yang signifikan, Zee. Apakah kamu yakin bisa mengelola dana tersebut? Aku tidak ingin kamu mengorbankan dirimu sendiri," ujar bunda Amy memberikan nasihat.


Zee menggeleng. Dia sudah bertekad untuk membantu Bunda Ani dalam proses renovasi renovasi rumah panti yang sudah menjadi rumahnya sejak bayi.


"Bunda Amy, Zee ingin melihat rumah panti asuhan ini berkembang dan memberikan kesempatan yang lebih baik bagi adik-adik. Zee menyadari bahwa ini adalah tanggung jawab besar, tapi Zee sudah mempersiapkan diri dan berkomitmen untuk ikut memenuhi biaya renovasi ini. Zee ingin memberikan mereka tempat yang layak dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang."


Bunda Amy tersenyum bangga.


"Zee, kamu adalah malaikat bagi kami dan anak-anak di sini. Bunda sangat berterima kasih atas komitmenmu yang luar biasa ini. Tapi ingat, kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini. Kami akan membantu mencari cara untuk mendapatkan dana tambahannya."


Zee tersenyum setelah bunda Amy tidak lagi memberikan pertanyaan padanya, terkait dana yang dikumpulkan Zee.


Ternyata, selama beberapa hari terakhir ini, Zee selalu melakukan kebaikan dan mendapatkan hadiah yang besar dari System.

__ADS_1


[Ting]


__ADS_2