System Of Beauty

System Of Beauty
Bab 29. Rencana Bersama


__ADS_3

Hujan sejak pagi, membuat orang-orang malas untuk keluar. Apalagi hari ini adalah hari Minggu, jadi tidak banyak aktivitas seperti biasa untuk anak-anak sekolah.


Sayangnya, hal itu tidak berlaku untuk anak-anak muda, sebab hujan tidak menghalangi aktivitas mereka yang ingin keluar rumah sekedar untuk bertemu dengan teman kemudian berbincang-bincang santai dengan mereka.


Sama seperti yang dilakukan oleh Ella. Sekarang ini, ia bersama dengan dua sahabatnya, yaitu Berta dan Lina, sedang mengadakan pertemuan dengan seorang.


Mereka memiliki janji di sebuah cafe yang sudah mereka tentukan sebelumnya.


"Kita gak telat, kan El?" tanya Kiba khawatir. Dia tidak mau jika Syah menunggu lama kedatangan mereka.


Ya, mereka memang akan bertemu dengan Syah Reza, sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, jika Elka dan Syah akan bekerja sama untuk mencapai tujuan. Mereka bertemu untuk membahas rencana terkait Zee. Gadis cupu yang sekarang sudah berubah drastis.


"Gak. Liat deh! Syah belum ada, kan?" Ella bertanya balik, setelah memberikan jawaban dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kafe.


"Udah, yuk! Kita cari tempat duduk dulu," ajak Ella kemudian, yang diangguki Berta dan Lina.


Tak lama setelah mereka bertiga duduk, Syah Reza datang menghampiri mereka. Dia meminta maaf karena terlambat.


"Sorry, gue telat bangun pagi-pagi."


Ella, mencibir kebiasaan Syah yang memang pemalas. "Bilang aja, lo emang kebo!" ejek Ella mencibir.


"Ck!"


Syah berdecak tidak suka, meskipun memang begitulah kebiasaannya.


Setelah Syah duduk, kemudian membuat pesanan susulan, sebab tadi Ella hanya pesan minuman untuknya dengan kedua sahabatnya.


Pertemuan ini berlangsung di salah satu tempat favorit mereka, sebuah kafe yang tenang di tengah kota. Dan sekarang, meja mereka penuh dengan gelas jus dan piring kecil yang berisi makanan ringan.


Ella, Berta, dan Lina, sangat bersemangat dan antusias dalam mendiskusikan langkah-langkah yang harus diambil untuk membantu rencana mereka, dengan menjadikan Zee menjadi seorang influencer.

__ADS_1


"Kita semua tahu bahwa Zee memiliki potensi besar sebagai seorang influencer. Apakah kalian setuju dengan rencana ini?" tanya Ella, meminta pendapat.


Berta dan Lina mengangguk setuju, dan Syah melanjutkan, memberikan tambahan rencana yang sudah disusunnya bersama Ella kemarin-kemarin.


"Ya, kita semua tahu, Zee memiliki kepribadian yang menarik dan gaya hidup yang keren saat ini. Untuk membantunya menjadi influencer, kita perlu merancang strategi yang efektif. Orang tua Berta memiliki usaha periklanan, jadi mungkin ada peluang di sana."


Syah, memberikan usulan tersebut, sebab ia tahu jika Berta tidak mungkin menolaknya.


Berta tersenyum penuh arti. "Benar, usaha orang tua gue akan memberikan keuntungan besar. Kita bisa memanfaatkan jaringan untuk mempromosikan Zee secara lebih luas. Dan itu, tentunya sesuai rencana!" tegas Berta, masih dengan tersenyum ke arah Syah.


"Selain itu, kita juga perlu membantu Zee di media sosial. Gue pikir, kita harus mempertimbangkan konten yang kreatif dan menarik, seperti vlog dan cerita sehari-hari. Ini akan membantu membangun audiens yang setia." Lina memberikan usulan.


Ella menganggukkan kepalanya setuju, sama seperti yang dilakukan oleh Berta.


"Gue setuju. Kita juga harus memikirkan kolaborasi dengan influencer lain atau merek yang relevan untuk Zee. Hal ini akan memberikan eksposur tambahan dan menarik perhatian lebih banyak orang. Dan..."


Ella memainkan matanya, dengan penuh semangat, meskipun kalimatnya menggantung. Sedangkan yang lainnya, hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju.


Percakapan mereka berlangsung penuh semangat dan penuh harapan. Mereka percaya bahwa dengan kerja keras dan strategi yang tepat, mereka akan berhasil dengan rencana yang sudah tersusun rapi.


Tiba-tiba, Syah mengusulkan ide yang cukup mengejutkan. Dia ingin menjadikan Zee sebagai model pakaian dalam. Esensi percakapan ini adalah tentang bagaimana rencana mereka dapat dilakukan dengan bantuan dari usaha periklanan orang tua Berta dan bagaimana Syah melihat peluang dalam industri fashion yang dimiliki mamanya Lina.


"Bagaimana ide gue ini, spektakuler, bukan?" tanya Syah setelah memberikan penjelasan usulannya.


Ella, Berta, dan Lina melihat Syah dengan tatapan terkejut dan saling pandang mendengar usulan tersebut.


"Wah, ide itu cukup berani, Syah. Tapi apakah Zee sendiri tertarik untuk menjadi model pakaian dalam? Apa tidak sebaiknya kita bermanis-manis dulu di awal?" tanya Ella, mempertimbangkan berjalannya rencana Syah yang cukup "gila" ini.


"Hmm, gue jadi membayangkan Zee yang sedang menjadi model pakaian dalam. Tapi, gue seneng dengan cara ini, bagaimana pendapat kalian?" tanya Syah berandai-andai.


"Sebagai anak dari orang tua yang memiliki usaha periklanan, ini adalah peluang besar untuk memanfaatkan jaringan mereka. Kita dapat mencari merek-merek fashion terkemuka yang bisa diajak bekerja sama dengan Zee."

__ADS_1


Berta, memberikan tanggapan meskipun sedikit kesal. Sepertinya, ia tidak suka dengan perkataan Syah yang sedang berandai-andai tadi.


"Gue sih setuju. Industri fashion memiliki daya tarik besar di media sosial, dan menjadi model pakaian dalam bisa menjadi peluang besar bagi Zee. Tapi, gue gak yakin juga, jika Zee setuju. Sebaiknya, kita melakukannya seperti usulan Ella. Harus bisa bermanis-manis dulu untuk mengambil hatinya, supaya Zee gak curiga."


Syah terdiam memikirkan kebenaran tentang perkataan Ela dan Lina barusan. Dia terlalu cepat memikirkan sesuatu yang ekstrim.


"Baiklah. Kita memang perlu mempertimbangkan dampak yang mungkin timbul dari pilihan ini. Zee pastinya langsung menolak tawaran kita jika harus menjadi model pakaian dalam."


Lina ikut memberikan tanggapan, sebab ia juga yakin bahwa Zee sudah pasti menolak jika langsung diberikan tawaran sebagai model iklan pakaian dalam.


"Benar, kita harus memastikan bahwa Zee siap dulu. Setelahnya, kita bisa menggiringnya secara diam-diam dan tanpa menyadarinya secara langsung. Gue gak mau gagal!" Ella berkata dengan geram.


Berta mengangguk, begitu juga dengan Lina.


Akhirnya, Syah Reza menyetujui keputusan ketiga cewek yang bersamanya kali ini. Dia tidak bisa memaksakan usulannya, sebab jika dipikir-pikir lagi, Zee memang tidak bisa dikasari. Syah sudah membuktikannya malam itu, jadi lebih baik berhati-hati dan melakukannya secara pelan-pelan.


"Ok, gue setuju. Tapi, kapan kita mulai?" Syah meminta kepastian.


"Nungguin ortu gue. Mereka sedang tidak di rumah, sebab ada pekerjaan di luar kota."


Syah mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban Berta. Dia tidak bisa memaksa, sebab Berta belum membicarakan hal ini pada orang tuanya.


"Gue bakalan langsung kasih kabar, setelah ortu gue pulang dan setuju dengan permintaan gue!" imbuh Berta lagi memberitahu.


"Gak masalah. Yang penting kita melakukan semuanya dengan hati-hati, tidak menyinggung perasaan Zee terlebih dahulu."


Ella menekankan hal ini pada ketiga cowok yang bersamanya saat ini.


"Ok, sipp!"


Mereka berempat kini ber-tos ria, tanda setuju dengan rencana yang sudah mereka susun.

__ADS_1


__ADS_2