
“Mbk, ini wajah Ibunya apa mau dilihat sekarang. Soalnya setelah ini tidak bisa melihat wajah Ibunya lagi, mau kami tutup dengan kain kafan.” Kata yang sangat jelas itu sudah terngiang – ngiang dalam ingatan Lianah saat hendak melihat wajah Ibu tercintanya untuk terakhir kali di dunia ini.
Wajah yang begitu terlihat capek dengan badan penuh dengan tusukan jarum hampir di sekujur tangan dan kakinya. Pemandangan yang membuat hati Lianah sangat teriris dan begitu menyakitkan dalam kehidupannya, tidak ada hal buruk selama ini yang dia alami selain kematian Ibunya sekarang.
Masih jelas teringat dalam benak Lianah ketika Ibu tercintanya muntah-muntah dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat bersama Bapak kandungnya sendiri. Ibu bersama Bapak bersepeda di pagi buta, sekitar pukul dua dini hari sedangkan Lianah dengan baju tidur yang masih lengkap mengikuti kedua orang tuanya dari belakang dengan rasa kekhawatiran.
Segala urusan administrasi segera Lianah urus karena tidak tega melihat Ibunya muntah – muntah seperti itu dan tanpa menunggu lama segala bentuk pemeriksaan mulai dilakukan, dari cek denut jantung sampai di rontgen untuk melihat organ dalam tubuh, semua ini sudah dilalui untuk melihat kondisi Ibunya lebih jelas lagi.
Namun, hasil yang tidak diduga menjadi pukulan berat bagi Lianah dan keluarga. Bagaimana tidak? Karena hasil menunjukkan semua angka di atas angka normal pada Ibunya, maka perawatan di rumah sakit adalah hal yang tidak bisa mereka hindari lagi.
Lianah dengan sigap membereskan semua kebutuhan Ibunya tanpa menunjukkan wajah sedih pada orang tuanya karena pesan dokter agar tidak membuat pasien terbebani. Semua beban dipendam Lianah seorang diri tanpa membagikan kesusahan dengan orang lain.
Unit Gawat Darurat, disanalah Lianah dan kedua orang tuanya harus menginap sambil menunggu untuk mendapatkan kamar buat Ibunya. Berdoa dan melakukan perintah dari dokter, selalu dilakukan Lianah dan Bapaknya tanpa membantah sama sekali. Semuanya dilakukan demi kesembuhan Ibu tercinta.
Hari pertama di rumah sakit sekitar rumah mereka, membuat hari – hari Lianah tidak seperti biasanya. Karena dalam minggu – minggu terakhir ini dirinya harus mempersiapkan diri untuk pengajuan jabatan fungsional bagi kepangkatan dosennya agar tidak hanya diakui sebagai tenaga pendidik.
Mulai dari pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat serta penunjang yang lain sudah Liana siapkan sebagian tapi masih banyak lagi dokumen – dokumen penting harus segera siap karena batas waktu yang ditentukan sudah di depan mata. Tapi semua ini tidak Lianah hiraukan, baginya lebih penting kesehatan orang tua jika dipandingkan dengan pangkat di dunia yang hanya sementara.
Namun, konsentrasi penuh untuk merawat orang tuanya itu tidak ada artinya sama sekali karena kondisi Ibunya yang semakin hari semakin memburuk bahkan koma atau tidak sadarkan diri selama berhari – hari. Semua pengorbanan yang dilaluinya berakhir pada tanggal 22 Desember ketika adzan maghrib di hari Jumat, dimana Ibunya terakhir kali memberikan respon pada semua alat bantu yang menempel pada badannya.
__ADS_1
Sangat jelas bahkan tidak akan pernah Lianah lupakan dalam hidupnya, saat menjelang maghrib. Rasa kantuk yang tidak biasa sedang terjadi pada Lianah, tetapi mulutnya tidak berhenti menyebut asma Allah di samping Ibunya. “Allah … Allah … Allah.” Tutur Lianah dengan begitu lemas karena menahan rasa kantuknya yang sudah tidak tertahan, tidak seperti biasanya.
Tiba – tiba terdengar suara dari alat medis di sampingnya. “Tut … Tut … Tut.” Hal ini sontak menyadarkan Lianah dari rasa kantuk yang sedari tadi dirinya tahan dan langsung bangun dari tempat duduknya kemudian berlari ke luar kamar untuk memanggil petugas medis yang sedang bertugas tepat di depan kamar Ibunya atau kamar observasi yang memang dua puluh empat jam dijaga oleh petugas medis sana.
“Bu, tolong Ibu saya. Alatnya bunyi – bunyi sejak tadi.” Kata Lianah sambil mengatur nafasnya di depan petugas medis karena berlari.
Maka tanpa menunggu waktu lama, petugas medis dan Lianah segera berlari menuju kamar Ibunya kemudian melakukan pengecekkan pada Ibu tercinta yang sedang berbaring lemas tidak berdaya sama sekali.
Semua tindakan medis dilihat Lianah bersama Bapak serta keluarga yang lain, dimana mereka sedang berkumpul disana untuk menjaga Ibu yang sangat baik dan berjasa bagi Lianah.
Tangisan yang tidak bisa terbendung ke luar dari mata Lianah tanpa henti dengan mulut yang selalu melantunkan asma Allah agar Ibunya sehat dan bisa bersama dirinya kembali. Tindakan medis di depan mata dan tangisan yang didengarnya dari seluruh anggota keluarga membuat jantungnya berdebar semakin tidak karuan, entah kenapa saat itu ada rasa kekhawatiran yang sangat mendalam pada dirinya dan tidak seperti biasanya.
Ucapan ini bagaikan petir di siang bolong bagi Lianah, terutama Bapak kandungnya yang langsung tidak sadarkan diri. Kami selama tujuh hari penuh menjaga Ibu agar dirinya kembali sehat tapi apa yang terjadi, kematian sudah di depan mata dan tidak bisa dipungkiri.
Ibu tercinta sudah tidak bisa tertolong lagi, tidak ada kata – kata yang begitu menyejukkan dalam hatinya, tidak ada lagi pelukan manis dari dirinya, dan tidak ada lagi Ibu yang selalu mendoakannya dalam setiap sholat.
“Ibu, aku belum sempat berbakti padamu. Ibu, tolong jangan tinggalkan Lianah seperti ini.” Teriakan Lianah yang langsung membuat Bibik perempuan memeluknya sambil menangis terseduh – seduh tanpa henti sama sekali.
“Sabar Li, sabar. Ini semua sudah takdir Allah, kasihan Ibumu kalau harus disuntik dan merasakan sakit berkali – kali. Allah lebih sayang Ibumu makanya Allah mengajak Ibumu agar tidak merasakan sakit lagi.” Cetus Bibik Ninih yang merupakan Adik perempuan dari Bapaknya.
__ADS_1
Lianah hanya menangis di dalam pelukan Bibiknya tersebut tanpa henti, ada perasaan menyesal, sedih, kecewa, marah dan banyak lainnya dalam dirinya saat ini. Semuanya bercampur menjadi satu di dalam benaknya.
“Maaf, mau kami lepas alat – alat medisnya.” Ucap salah satu petugas medis yang mulai membereskan alat yang menempel pada sekujur badan Ibu.
Lianah hanya mengangguk tanpa mempunyai kekuatan lebih untuk merespon ucapan petugas medis tersebut.
Tangisan demi tangisan terdengar semakin keras di dalam ruangan tanpa henti, aura kesedihan terasa begitu mendalam saat itu. Tidak ada satupun yang tidak bisa bersedih karena kehilangan Ibu yang sangat baik bagi Lianah dan anggota keluarga yang lainnya.
“Jenazah akan kami bawah terlebih dahulu ke ruang jenazah, sebagian ikut saya dan sebagian silahkan ke bagian administrasi untuk menyelesaikan semuanya.” Tutur petugas medis yang langsung berjalan menuju luar sambil mendorong tempat tidur Ibunya.
Bibik Ninih tanpa melihat kanan dan kiri langsung menarik Lianah menuju luar untuk ke bagian administrasi, mereka berdua berjalan pelan menuju kesana sambil menahan kesedihan dalam diri masing – masing.
“Kamu yang sabar ya Li, kasihan nasibmu Dek. Sudah kehilangan orang tua dan Bibik – Bibik dari Ibumu malah bicara seperti itu.” Ucap Bibik Ninih sambil merangkul Lianah dan tetap berjalan tanpa henti.
“Maksudnya.” Tutur Lianah yang langsung menghentikan jalannya.
“Bibik dari Ibumu tadi sempat bicara dengan Bibik kalau kamu adalah anak yang tidak berbakti kepada Ibumu, padahal kamu sudah di sekolahkan sampai bisa menjadi dosen seperti sekarang ini.” Cetus Bibik Ninih yang membuat dunia Lianah semakin hancur saat itu.
“Maksudnya.” Cetus Lianah yang tidak mau menerima kenyataan pada dirinya sekarang.
__ADS_1