Tak Kau Anggap Diriku

Tak Kau Anggap Diriku
3. SELAMAT TINGGAL IBU


__ADS_3

Tangan kecil yang begitu halus itu membuat hatiku tersayat – sayat untuk kedua kalinya, diriku harus bisa menunjukkan ketegaran di depan malaikat kecil yang lebih menderita kehilangan Ibu jika dibandingkan dengan diriku ini yang jauh lebih dewasa. Kulihat wajah kecilnya yang begitu tidak berdosa sedang bersedih karena kehilangan Ibu satu – satunya dalam kehidupannya.


“Lisa, lihat Kakak sekarang. Kamu yang sabar ya Dek, masih ada Kakak dan Bapak yang selalu ada untukmu.” Ucap diriku dengan nada suara yang pelan dan sedikit berbisik kepada Adikku yang terduduk di sampingku agar tidak terdengar orang sekitar.


Wajahnya begitu sedih dan tampak badannya begitu lemas, Lisa hanya mengangguk – angguk melihatku sambil mengusap tetesan air mata yang dari tadi mengalir sangat deras tanpa henti.


“Kenapa pakai seragam sekolah Lis?” Tanyaku dengan suara yang masih pelan.


Lisa memandang kembali wajahku dan menjawab. “Aku ada ujian Kak, Ujian AKhir Sekolah (UAS). Jadi Lisa tidak bisa tidak masuk, walaupun Ibu meninggal.”


“Kamu tidak masuk juga tidak masalah Lis, nanti Kakak akan menginfokan kepada Ibu wali kelasmu. Insyallah pihak sekolah akan mengerti keadaan kita.” Sahutku dengan menahan rasa sedih.


“Lisa tidak mau ujian sendiri Kak. Lisa tidak mau ujian susulan, seorang diri.” Cetus Lisa.


Diriku tersenyum melihat kepolosan Adikku sekarang ini, yang bisa sedikit menghiburku. “Ya sudah, Kakak tidak akan memberikan kabar kepada wali kelasmu. Kamu bisakan Dek, yang sabar ya sayang. Lakukan sebisanya, jangan terlalu memaksakan dirimu.” Ucapku untuk menguatkan Adikku sekarang.


“Lianah.” Panggil salah satu keluarga padaku yang masih duduk di depan jenazah Ibu tercinta.


Aku segera melihat ke arah tesebut dan berdiri menuju arah suara. “Ada apa?” Tanyaku pelan.

__ADS_1


“Nduk, Bapakmu masih tidak sadarkan diri dan semua proses ini butuh biaya serta macam – macam yang lain. Kami hubungannya dengan kamu langsung saja ya, Nenekmu juga tidak bisa diajak koordinasi.” Jawab salah satu tetangga kepadaku.


Aku mengangguk dan memberikan uang senilai satu juta rupiah untuk semua kebutuhan yang diperlukan sekarang agar berjalan dengan baik.


Tetangga tersebut menjelaskan semua kebutuhan, mulai dari kapas sampai untuk keperluan nanti sore. Diriku hanya mengangguk – angguk sebagai tanda mengerti apa yang beliau sampaikan padaku. Disini masih banyak orang baik yang mau membantu kami tanpa dimintai terlebih dahulu. Aku sangat bersyukur atas semua itu.


Tidak menunggu lama, jenazah Ibuku di bawah ke masjid untuk disholatkan. Aku hanya bisa menangis sambil memeluk Adikku yang tidak berdaya sekarang ini.


Kami menyaksikan jenazah Ibu yang di bawah oleh semua orang menuju masjid, kupandangi keranda berwarna hijau tersebut tanpa ada rasa takut sedikitpun dibenakku. “Ya Allah, jika ini memang kehendakmu maka berikanlah kami sekeluarga kekuatan untuk menghadapi semua ini. Kehilangan orang tercinta bukanlah perkara muda dalam hidup kami, apalagi Ibu adalah orang yang sangat berarti dalam setiap langkah kehidupan yang kami jalani. Ampuni dosa Ibu hamba ya Allah, terimalah segala amal kebaikannya, lapangkan kuburnya, sayangilah seperti beliau begitu menyayangi diriku sewaktu kecil, berilah surga sebagai tempat istirahat terakhirnya.” Ucapku di dalam hati sambil terus melihat keranda yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan.


Suara di masjid terdengar begitu jelas, Imamnya menanyakan kepada seluruh jamaah yang ikut mensholati Ibuku terkait beliau orang yang baik atau tidak. Alhamdulillah, seluruh jamaah di masjid menyatakan dan menyaksikan kalau Ibuku adalah orang yang baik. Semoga ini menjadi doa yang baik untukmu Bu.


Meskipun di dapur masih banyak keluarga dan tetangga yang sibuk masak tapi hati ini rasanya begitu sepi. Aku hanya bisa tertidur di kamar, tepatnya di samping foto Ibuku. Kupandangi foto tersebut sambil menangis dan menangis tanpa henti, akhirnya aku tertidur sambil menangis.


Setelah bangun dari tidurku, aku kembali menangis dan melihat foto Ibuku kemudian tertidur kembali. Begitu seterusnya, yang aku alami. Rasanya tidak ada kekuatan saat itu pada diriku, suara tangisan juga terdengar begitu jelas dari kamar orang tuaku.


Suara tangisan Bapak yang sedari tadi tidak berhenti karena tidak mampu dan sanggup kehilangan istri tercintanya.


Diriku sudah tidak mampu melakukan apapun sekarang ini, meskipun calon mertua sudah datang ke rumah. Badanku sudah sangat lemas dan tidak sanggup menemuinya, aku hanya bisa di kamar menahan semua kesedihan ini. Beruntungnya diriku, calon mertua dan tunanganku mengerti kondisiku serta membantu semua urusan di rumah.

__ADS_1


Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang dan Adikku sudah pulang dari sekolah dengan wajah yang masih lemas, aku yakin kalau Adikku melalui hari ini tidak jauh berbeda dengan diriku. “Lisa, sini Dek.” Teriakku di dalam kamar yang mendengar suara Adikku masuk rumah.


Lisa langsung datang menghampiriku dan membaringkan badannya di sampingku seraya berkata. “Aku kangen Ibu Kak Lianah. Aku mau sama Ibu saja.”


Aku langsung memeluk Adikku saat itu juga dengan menahan tangis yang dari tadi tidak bisa berhenti. “Jangan bicara seperti itu Lis, kasihan Ibu. Nanti sore kita ke makam Ibu, sekarang kamu istirahat di kamar Kakak saja.” Ucapku yang berusaha menghibur Adikku semata wayang.


Lisa hanya terdiam di sampingku sambil menangis pelan dan ikut memeluk foto Ibu.


Waktu berlalu begitu cepat dan sorepun tiba, aku dan Adikku pergi ke makam Ibu kami. Dengan sekuat tenaga kami menahan tangis dan hanya berdoa untuk kebahagiaan Ibu yang sudah meninggalkan kami di alam yang fana’ ini.


Lantunan doa kami bacakan agar sampai kepada Ibu, semoga doa kami sebagai anak – anaknya bisa langsung sampai kepadanya. Memang setelah kepergian Ibu kami, tiada hari tanpa bersedih dan harapan baru. Hanya rasa sedih dan penyesalan yang ada, karena belum bisa menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.


“Bu, maafkan Lianah karena belum bisa membahagiakan Ibu tapi insyallah Lianah akan menjadi dosen yang baik sebagaimana keinginan Ibu untukku dan berusaha sekuat mungkin untuk mengkuliahkan Adik nantinya. Agar keinginan Ibu bisa tercapai melihat kedua anaknya sukses.” Ucapku di depan makam Ibu setelah berdoa kepadanya.


Kulihat Adikku berucap dengan begitu pelan, dimana dirinya minta maaf atas kesalahan yang dilakukan dan tidak menurut kepada Ibu. Segera aku rangkul Adikku, darah dagingku, Adik satu – satunya dalam hidupku agar bisa tenang dan menguatkan dirinya.


Kamipun segera pulang ke rumah, setelah puas di makam Ibu. Namun, setibanya di rumah ada beberapa orang yang tidak aku kenal. Mereka memandangku dengan pandangan yang kurang enak di pandang. Ada perasaan suudzon di dalam hatiku ketika melihat mereka tetapi melihat kondisi Adikku yang sangat lemas, tak kuhiraukan mereka dan segera menuju kamar untuk beristirahat.


Ada selentingan omongan yang kudengar dari arah depan. “Ini semua karena anak tertuamu, coba dia tidak dekat dengan orang itu.” Kata salah seorang laki – laki yang tidak kukenal tapi membuatku semakin gelisah dan mulai berfikir macam – macam mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2