Tak Kau Anggap Diriku

Tak Kau Anggap Diriku
13. TAWARAN TEMANKU


__ADS_3

Diriku dan Mas Anton yang saling memberikan tatapan sebagai simbol untuk menanggapi perihal penawaran yang diberikan temanku barusan. Namun, Mas Anton tidak merespon tatapanku barusan dengan baik. Mungkin dirinya ingin aku yang menanggapinya sendiri karena aku adalah temannya.


“Boleh kami lihat – lihat dulu tempatnya, nanti baru kami putuskan Nduk. Bagaimana?” Tanyaku pada Nduk dengan sedikit menata kata – kata agar dirinya tidak tersinggung.


Nduk mengangguk seraya berkata kepadaku. “Tentu saja boleh Li, memang harus dicek dulu untuk memastikan cocok atau tidaknya. Santai saja kalau sama aku ya, tidak usah sungkan.” Jawab Nduk dengan senyum yang kembali muncul di wajahnya.


Aku tersenyum mendengarkan jawaban dari sahabatku barusan, kemudian tanpa menunggu lama. Kami langsung bergegas ke rumah Nduk untuk melihat – lihat dan memutuskan untuk tinggal disana atau tidak.


Hampir lima menit lamanya dan tibalah diriku di suatu rumah dengan nuansa taman yang begitu hijau di halaman rumah. Banyak sayuran yang ditanam di sana dan beberapa buah – buah kecil seperti strawberry, juga ikut menghiasi. Di depan rumah yang begitu asri sudah membuatku tersenyum melihatnya dan di dalam rumah dengan nuansa warna coklat, sesuai sekali. Bersih dan nyaman, ini yang terpenting memang dalam menempati suatu rumah.


“Bagaimana Dek?” Tanya Mas Anton padaku yang terdiam melihat lingkungan rumah temanku.


Aku tersenyum mendengar pertanyaan tunanganku barusan, kemudian berkata pada Nduk. “Nduk, aku mau bicara sebentar dengan tunanganku ini. Nanti setelah ini, aku kabari untuk jadi dan tidaknya tinggal disini.”


Aku dan Mas Anton sedikit menjauh dari tempat Nduk. “Mas, bagaimana menurutmu rumah temanku itu?” Tanyaku yang memulai pembicaraan.


Mas Anton tampak terdiam sebentar dan berfikir. “Kalau Mas suka dengan tempatnya yang bersih dan dekat dengan pondok, jauh lebih aman juga.” Jawab Mas Anton.


“Kalau begitu kita sepemikiran Mas Anton, tapi nanti Mas coba bicara sama temanku terkait harga yang harus aku keluarkan buat tinggal disana. Walaupun dia temanku tapi Adik maunya ada hitungan yang jelas dan tidak mengganjal di kemudian hari.” Tuturku pada Mas Anton.


“Mas setuju dengan pemikiranmu Dek, kita kesana sekarang ya Dek.” Ucap Mas Anton dan kamipun kembali menemui Nduk untuk membicarakan tawarannya.


“Nduk ….” Panggilku ketika kembali ke rumah Nduk.


Nduk menyambutku dengan senyum di wajahnya dan di meja sudah tertata rapi teh hangat yang kemungkinan besar dia siapkan, sewaktu kami sedang berdiskusi di depan rumahnya. “Duduk sini Li, minum dulu tehnya bareng tunanganmu.” Cetus Nduk yang mempersilahkan kami.


Aku duduk di kursi samping Nduk sedangkan tunanganku sedikit menjauh, mulai kuminum teh buatannya. “Hm, enak sekali teh buatanmu Nduk.” Ucapku setelah meneguk teh buatannya.

__ADS_1


“Alhamdulillah kalau begitu, Masnya juga diminum.” Sahut Nduk yang melihat tunanganku tidak meminum tehnya.


“Mas, minum saja.” Kataku sambil menyerahkan satu gelas teh padanya.


Perempuan dengan hijab merah maron ini kembali kulihat, cantik tapi nasibnya kurang beruntung. Namun, ketidak beruntungan ini hanya sekejap karena aku yakin dirinya yang baik akan menghapuskan nasib sial, yang disebutkan banyak orang.


“Bagaimana Li?” Suara dengan nada khas itu terdengar sangat lirih.


Aku segera menoleh, menatap wajah sendu sahabatku. “Sepertinya takdir Tuhan mempertemukan kita ini mempunyai maksud. Tuhan mempunyai cara istimewa dalam semua kehidupan makhluknya.” Kataku yang membuat Nduk kebingungan dengan jawabanku barusan.


“Lianah ….” Panggil Nduk yang membuatku kembali menoleh saat mendengar seruan indah darinya, membuat aku dan Nduk saling menatap sekilas.


“Insyallah aku suka dengan rumahmu Nduk, tapi ….” Kataku yang terputus.


“Tapi kenapa? Apa ada yang kurang nyaman?” Tanya Nduk sehingga membuat Anton yang mendengarnya langsung memutar bola matanya.


“Duh, Lianah gitu saja dipikir. Sama aku tidak usah mikir biaya yang harus kamu keluarkan, aku ditemenin saja sudah senang.” Tutur Nduk sambil memegang tangan sahabatnya tersebut.


Sementara Lianahl tersenyum malu karena tingkahnya yang barusan bertele – tele, sedangkan Anton yang bersikap tegas, tidak suka dengan jawaban Nduk barusan.


“Jangan begitu Mbk Nduk, mending clear di depan berapa. Biar tidak ada beban di belakang.” Kata Anton yang membuat Nduk terdiam memperhatikan wajah tampan dari tunangan temannya tersebut.


“Aku tidak bisa memutuskan berapa, terserah kalian saja berapa?” Sambung Nduk, yang membuat Lianah langsung menatap tunangannya tersebut.


“Ikut harga pasar saja bagaimana? Biasanya kalau disini kisaran dua ratus lima puluh ribu sampai tiga ratusan.” Usul Anton kepada kedua orang wanita di depannya.


“Ya sudah, aku ngikut saja berapa.” Sahut Nduk.

__ADS_1


“Kita deal diharga tiga ratus ribu ya Nduk, itu sudah termasuk listrik dan airnya.” Kataku yang mempertegas nominal untuk tinggal di rumah sahabatku.


“Siap.” Cetus Nduk.


Aku segera membuka tasku dan mengambil tiga lembar uang berwarna merah. “Ini untuk sewa bulan ini Nduk.” Kataku sambil menyerahkan uang kepada sahabatku tersebut.


Nduk langsung mengeryit saat melihat uang yang barusan kukeluarkan, terlihat ekspresi wajahnya langsung berubah.


“Ada yang salah Mbak Nduk?” Tanya Anton yang juga melihat perubahan ekspresi sahabat dari tunangannya tersebut.


“Tidak ada, kaget saja. Secepat ini Li, mau kapan tinggal disini?” Sontak pertanyaan yang muncul dari Nduk, membuat Lianah sedikit tidak enak.


“Sekarang juga, baju dan semuanya sudah aku bawa. Bisakan Nduk?” Tanyaku padanya.


Nduk mengangguk – angguk mendengar pertanyaanku barusan, mungkin tidak terfikir dibenaknya kalau aku akan segera pindah secepat ini di rumahnya.


“Lianah, aku seneng kamu bisa tinggal di rumah ini sekarang, hanya saja. Aku kepikiran keluargamu, apa kamu tidak menginfokan terlebih dahulu kepada mereka?” Tanya Nduk yang membuat aku dan Mas Anton saling bertatapan.


“Tidak perlu Nduk, aku pengen segera ngobrol banyak denganm. Makanya langsung sat – set gini.” Jawabku.


“Emang dasar ya, kau ini, dari dulu sampai sekarang, masih sama saja.” Cetus Nduk sambil tersenyum pada Lianah yang tampak cuek dengan kondisi sekitar.


“Aku ambil barang – barangmu di sepeda ya Dek, kamu ngobrol dulu dengan sahabatmu.” Kata Mas Anton yang kemudian pergi meninggalkan kami berdua.


Langkah Mas Anton yang begitu cepat, hingga tidak kusadari kalau langkahnya sudah jauh dari keberadaanku. Bahkan bayangannya sudah tidak terlihat lagi.


Aku kembali melihat Mas Anton dari balik jendela ruang tamu rumah ini. Punggungnya masih terlihat begitu jelas. “Li, kamu kabur dari rumah bersama tunanganmu ini?” Tanya Nduk yang meracau sembari mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


“Nduk … Nduk …. Pemikiranmu terlampau jauh.” Jawabku begitu nyaring karena mendengar pertanyaan dari sahabatku yang terlampau lucu.


__ADS_2