Tak Kau Anggap Diriku

Tak Kau Anggap Diriku
6. MASIH BERDUKA


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua setelah kami ditinggalkan oleh Ibu yang selalu menjadi support system di keluarga ini, ada rasa kehilangan yang teramat sangat mendalam pada masing – masing anggota. Jika mengingat hari – hari sebelumnya, kami selalu dibantu Ibu dalam melakukan dan menyelesaikan masalah yang ada tapi khusus untuk hari – hari berikutnya. Tidak ada kata Ibu yang di samping untuk menjalani kehidupan ini.


Rasanya memang sangat berat ditinggalkan Ibu, apalagi kenangan indah yang masih berbekas dan kebiasaan hidup yang selalu bersamanya. Hal ini sebagai sesuatu yang sulit untuk dilupakan dalam kehidupanku, terutama Adikku yang masih belum genap tujuh belas tahun. Diusianya yang masih membutuhkan sosok Ibu tapi dirinya diharuskan untuk bisa melakukan semuanya sendiri walaupun ada kami keluarganya.


Pagi hari yang sangat cerah walaupun hati kami masih terasa mendung, tapi mau tidak mau dalam segala aktivitas harus tetap kami jalani, mulai dari diriku yang harus membantu Adikku untuk kebutuhannya dan segala hal lainnya. Beruntungnya aku, di rumah masih ada Nenek yang mampu menghandel seluruh kebutuhan kami. Jadi diriku hanya membantu hal – hal kecil yang diperlukan.


Pukul tujuh pagi, Nenek menghampiriku yang berada di dalam kamar sedang mempersiapkan kebutuhan hari ini. “Lianah, Nenek masuk sebentar ya nak.” Ucap Nenekku yang masuk ke dalam kamar.


“Masuk saja Nek.” Sahutku dengan tangan yang masih sibuk dengan tumpukan kertas di meja belajar.


“Lianah, habis ini mau tujuh harinya Ibumu. Kemarin Bapakmu sudah bilang sama Nenek kalau nanti seluruh kebutuhan untuh tujuh hari, diambilkan dari uang yang disimpan Ibumu buat keperluan menikahmu dulu.” Tutur Nenek yang meminta izin kepadaku terlebih dahulu dengan suara pelannya.


Aku tersenyum sambil melihat ke arah Nenekku dan menghentikan aktivitas yang sedang aku lakukan sekarang. “Seharusnya tidak perlu izin pada Lianah, itu uang Ibu dan Bapak. Jadi terserah mau dipakai buat apa karena hal yang lebih penting adalah acara tujuh harinya Ibu maka itu didahulukan saja Nek. Lianah tidak masalah” Cetusku dengan nada suara yang pelan agar tidak menyinggung perasaan Nenek.

__ADS_1


“Harus izin sama kamu Li, sebab uang itu hasil jerih payah Ibumu sendiri dari hasil usahanya merajut kerudung selama ini. Itu dikhususkan buat kamu, jadi sewajarnya untuk izin padamu terlebih dahulu tapi untuk pernikahanmu nantinya akan tetap dibiayai Bapakmu. Kamu tenang saja.” Kata Nenek padaku dengan melihat ke sekeliling ruangan dan tidak berani menatapku.


Aku menarik nafas lumayan panjang mendengarkan penuturan dari Nenekku barusan, jadi selama ini Ibuku menyimpan uang sedikit demi sedikit untuk mewujudkan pernikahan yang aku dambakan. Tidak terbayang bagaimana capeknya Ibuku, beliau selalu bangun dari jam dua pagi untuk beres – beres rumah dan masak segala keperluan di rumah. Jam tiga akan ada suara mesin jahit beliau yang semi manual, menarik benang – benang untuk menjadikan kerudung yang sangat indah dan layak dipakai.


Kegiatan menjahit selalu dilakukan Ibuku sampai jam enam pagi karena dirinya harus membantu Adikku bersiap ke sekolah, setelah Adikku berangkat beliau kembali lagi ke mesin jahitnya sampai adzan dhuhur berkumandang. Aku selalu memperhatikan aktivitas Ibuku yang akan dimulai kembali di jam satu karena beliau harus melayani Bapak untuk makan atau kebutuhan lainnya serta Adikku yang baru datang dari sekolah. Serta masih jelas teringat kalau Ibuku akan selesai menjahit sampai di jam empat sore dan di malam hari, setelah Adikku menyelesaikan tugas sekolah dan segala yang lainnya maka Ibuku akan menjahit pernak – pernik di kerudung sampai malam sekali. Pernah diriku terbangun dijam sebelas malam dan Ibuku masih terjaga dengan kerudung di tangannya tersebut.


Semua yang dilakukan hanya demi anaknya, padahal pernah terbesit dibenakku kalau kasih sayang Ibu dan Bapak tertuju pada Adikku saja yang masih kecil. Tapi memang tidak sekalipun Ibu membedakan apa yang dibelikan kepada Adikku dan diriku kecuali ada beberapa hal saja.


Kutahan air mataku agar tidak menangis di depan Nenekku sekarang ini, agar dirinya tidak bersedih. Aku selalu berusaha tidak menunjukkan rasa sedih kepada siapapun, agar anggota keluargaku yang lainnya tidaklah bersedih terlampau parah. Aku yakin sekali kalau Ibuku disana, tidak menginginkan kesedihan di dalam keluarganya sekarang ini.


Nenek langsung pergi meninggalkan diriku yang seorang diri di kamar dan langsung menangis sejadi – jadinya setelah mendengarkan penuturan Nenek barusan. “Bu, Lianah kangen Ibu. Kenapa harus pergi secepat ini Bu? Ibu tidak mau melihat proses pernikahan Lianah. Tapi Bu, seandainya ini memang yang terbaik agar Ibu tidak lagi sakit maka Lianah ikhlas. Asalakan Ibu lebih bahagia disana daripada berada disini, ya Allah tolong ampuni segala dosa Ibuku dan terima amal ibadahnya serta sayangi Ibuku sebagaimana beliau begitu sayang padaku sewaktu kecil dulu.” Ucapku sambil menahan tangisanku agar tidak terdengar sampai keluar ruangan.


Aku berusaha menenangkan diriku dengan menarik nafas berkali – kali dan mengucapkan istighfar agar hatiku jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Segera kubacakan fatihah yang aku khususkan untuk Ibu tercinta.

__ADS_1


“Lianah, keluar nak. Ada banyak tamu, bantu kami.” Teriak Nenek dari arah ruang tamu.


Aku segera ke luar dan menemui beberapa tamu yang datang untuk menunjukkan rasa bela sungkawan pada keluargaku, mulai dari orang yang kukenal sampai tidak kukenal. Rasanya memang sedikit ramai ada tamu yang datang tapi setiap kali menceritakan kondisi Ibuku, ada rasa sakit yang terus dikorek – korek. Ingin rasanya berhenti menceritakan rasa sedihku tapi tidak sopan kalau tidak menjawab pertanyaan para tamu yang datang terkait kenapa Ibuku meninggal.


Aku yakin, semua ini akan segera berlalu cepat atau lambat. Maka aku harus menahan semuanya, sekuat tenaga karena aku adalah anak pertama dan Kakak tertua di keluarga ini. “Nek, aku ke kamar dulu. Mau istirahat sebentar dan mandi.” Ucapku pada Nenek untuk gantian menemui para tamu di rumah.


“Iya Li, kamu istirahat dulu. Nanti sore, kamu yang temui tamu dan gantian sama Nenek.” Cetus Nenek dan kujawab dengan anggukan sebagai tanda mengiyakan apa yang barusan diucapkan.


Aku segera beristirahat di kamar bersama Adikku yang sedari tadi di kamar seorang diri. “Tidur Lis?” Tanyaku melihatnya yang terbaring seorang diri.


“Belum Kak.” Jawabnya singkat.


Aku segera membaringkan badanku di sebelahnya dan menarik nafas panjang karena begitu berat menjalani semua ini seorang diri tanpa sosok Ibu yang selalu menanyakan hari – hariku. “Bagaimana kondisimu hari ini? Ujiannya lancar?” Tanyaku yang kembali memulai pembicaraan dengan Adikku, sebagaimana Ibu yang selalu tanya kepadaku.

__ADS_1


“Biasa saja Kak, aku kangen Ibu. Ayo ke makam Ibu nanti sore.” Jawab Adikku padaku.


Aku mengangguk dan memeluk dirinya agar dia lebih tenang serta lebih tabah menerima semua keadaan ini. Walaupun aku yakin, kalau keberadaan Ibu jauh berbeda dengan keberadaanku disini sekarang.


__ADS_2