
Perkataan yang tidak sengaja kudengarkan barusan, tidak begitu kuhiraukan karena hal tersebut tidaklah berarti dalam hidupku sekarang ini. Hal penting di depan mata adalah fokus pada Adikku dan kurasa hal tersebut yang lebih penting jika dibandingkan lainnya sekarang.
Aku dan Adikku Lisa sekarang hanya bisa beristirahat di rumah serta berusaha menerima kenyataan yang begitu pahit sekarang. Aku sebagai Kakak harus bisa lebih menunjukkan ketabahan dan kekuatan dalam diriku untuk menghadapi semua ini. Karena kalau bukan aku yang tegar, siapa lagi yang bisa menguatkan Adikku nantinya.
Dalam benakku masih ada perasaan sedih dan tidak terima, namun setelah kupikir kembali apa yang sudah terjadi sekarang. Maka mau sampai kapan aku bertindak menyedihkan terus dan kalau begini seterusnya, bagaimana nasib Adikku kedepannya. Dia masih butuh sosok yang bisa menguatkan dirinya, jadi aku adalah sosok Kakak yang harus bisa menjadi orang di sampingnya terus.
“Lianah, tidurkah?” Tanya Bibik Ninih yang berada di depan kamarku sambil mengetok – ngetok pintu.
Mendengar hal tersebut membuatku langsung terbangun dari dudukku dan membukakan pintu, walaupun badan rasanya begitu capek karena belum istirahat sejak kemarin. “Masuk Bik.” Jawabku sambil membuka pintu.
“Ada apa Bik?” Tanyaku pada Bibik Ninih yang datang ke kamar dengan membawah celemek biru di tangannya.
Bibik Ninih menunduk sebentar kemudian menjawab pertanyaanku barusan. “Dengarkan Bibik sebentar, tadi Pamanmu diminta Bapakmu untuk ke rumah orang pintar. Mau tanya terkait kematian Ibumu yang dinilai tidak wajar.”
Hal ini membuatku mengingat beberapa kejadian yang sempat aku alami kemarin waktu menjaga Ibuku di rumah sakit, memang ada beberapa hal ganjal yang ku alami.
Teringat, sebelum Ibu dipindah dari rumah sakit dekat rumah menuju pusat kota, malamnya Ibu marah – marah padaku karena tidak kuberikan teh di meja. Bukannya jadi anak yang durhaka, tapi dokter melarang diriku untuk memberikan makanan atau sesuatu yang manis kepada Ibuku dan dianjurkan puasa untuk Ibuku agar kondisinya semakin membaik.
__ADS_1
Entah kenapa, malam itu. Ketika aku seorang diri menjaga Ibuku di ruang Melati 2 bersama dua orang pasien yang berada di sebelah kiri dan tengah sedangkan Ibu berada di kanan. Masih jelas saat itu menunjukkan waktu sebelas malam, dimana pasien yang berada di pojok sebelah kiri teriak – teriak dan tidak menunggu waktu lama dinyatakan meninggal dunia oleh dokter di rumah sakit tersebut.
Saat itu, aku berusaha memberanikan diri untuk bisa menjaga Ibuku seorang diri karena pasien yang berada di tengah langsung menutup tirai bersama keluarganya sedangkan Bapak harus pulang ke rumah untuk mengecek tambak yang ditinggalkannya malam itu. Maka diriku langsung menutup tirai mengikuti apa yang dilakukan keluarga pasien di tengah ruangan, walaupun suasananya terasa begitu menakutkan dan malam itu aku berusaha untuk tidur walaupun sangat sulit.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari dan Ibu tampak berusaha meraih teh yang berada di sebelahku, saat aku terbangun maka dengan refleknya aku pindahkan posisi teh tersebut seraya berkata pada Ibuku. “Bu, jangan minum ini. Dilarang sama Pak Dokter, Lianah ambilkan air putih saja ya.”
Diriku belum sempat mengambil air yang posisinya tidak jauh dari Ibuku tapi terdengar suara Ibu yang marah padaku dengan suaranya begitu pelan. “Dasar anak kurang ajar, kamu itu tidak tahu bersyukur. Anak durhaka sama orang tua.”
“Bu.” Kataku yang tersentak mendengarkan ucapan Ibu barusan, hal yang tidak pernah kudengarkan selama ini dalam hidupku. Tidak pernah sekalipun Ibu marah atau membentakku dalam hidupnya tapi kali ini berbeda sehingga membuatku sangat kaget dibuatnya.
Ketika aku dan yang lain hendak menenangkan Ibu, dengan kekuatannya bajuku langsung dirobeknya sedangkan pamanku diraih lehernya sampai terasa begitu sakit karena ditarik begitu kuat. Menurut kami ini kekuatan yang di luar batas, seorang wanita yang sudah empat hari tidak sadarkan diri tetapi mempunyai kekuatan seperti itu.
Mengingat kejadian lain, saat jam dua belas malam lebih. Disana aku dan beberapa Bibik yang sedang menunggu, bergiliran membaca yasin dan bacaan yang lain. Tiba – tiba ada bau yang kurang sedap tercium atau barang yang bergerak sendiri, dan hal ini disaksikan oleh banyak orang sehingga aku sendiri merasa heran atas apa yang terjadi.
Namun, hal ganjil yang kita alami selama ini. Hanya kuanggap sebagai pembelajaran saja bukan suatu hal yang harus dipertanyakan kembali.
“Kamu ngelamun Dek.” Ucap Bibik Ninih yang melihatku sedikit termenung lumayan lama.
__ADS_1
Aku tersadar dari lamunanku barusan. “He … He … He …. Iya Bik, sedikit. Memangnya tidak wajar bagaimana Bik?” Tanyaku pada Bibik Ninih yang melanjutkan pembicaraan kami.
“Kata Bapakmu, sebelumnya pernah ada ular kecil yang tidak tahu datangnya dari mana dan kejadian aneh yang pernah kita alami ketika menjaga Ibumu juga.” Jawab Bibik Ninih.
Pandanganku tertuju pada Bibik Ninih dengan pandangan yang penuh akan tanda tanya terkait hal sebenarnya yang terjadi. “Kamu tahu Dek, jawaban orang pintar itu kalau ada orang yang sengaja membunuh Ibumu dan rumah orangnya berada di sebelah timur.” Ucap Bibik Ninih yang menceritakan kepadaku.
“Janganlah terlalu percaya hal seperti itu Bik, ini semua sudah kehendak Allah swt. Kalau memang benar seperti itu tapi kalau Allah tidak menghendaki maka tidak akan terjadi sama sekali.” Cetusku pada Bibik Ninih sambil melihat ke arah Adikku yang hanya terdiam mendengarkan pembicaraan kami.
Bibik Ninih menarik nafas lumayan panjang. “Iya sih Dek, tapi mau bagaimanapun hal – hal yang kita alami itu tidak bisa kita diamkan saja. Apalagi hal buruk tersebut, sebenarnya ditujukan padamu tapi malah menimpa Ibumu. Kita tidak bisa tinggal diam.” Tutur Bibik Ninih yang masih bersemangat sekali bercerita.
Lianah terdiam sebentar dan memandang wajah Bibik Ninih kemudian mulai kembali bertanya atas penuturan Bibik Ninih barusan. “Maksudnya bagaimana Bik? Aku masih belum faham betul dengan apa yang barusan Bibik omongkan.”
“Maksudnya itu, orang tersebut mengarahkan hal buruk padamu Dek tetapi karena nasib buruk menimpa Ibumu jadi hal yang ditujukkan langsung mengarah pada Ibumu sampai Ibumu meninggal seperti sekarang ini.” Jawab Bibik Ninih yang mulai menjelaskan kepada ponakannya.
Lianah menarik nafas dan mulai berkata kembali. “Aku masih belum bisa berfikir jernih kembali Bik sekarang, karena hal tersebut masih janggal menurutku. Apalagi salah sasaran atau niat buruk yang ditujukan kepadaku atau Ibuku, kami tidak pernah berbuah jahat kepada orang lain. Kenapa ada orang yang setega itu melakukan hal ini pada kami? Rasanya tidak mungkin. Terus hal itu juga tidak aku pahami Bik, seandainya betulpun maka tidak bisa kita buktikan dan seandainya ada orang sejahat itu maka apa yang selanjutnya kita lakukan. Berbuat sama dengan dia, terus apa bedanya aku dan dia? Jadi dalam benakku sekarang kalau Ibu tidak butuh tahu siapa yang membuatnya meninggal seperti ini karena semua yang terjadi sudah takdir Allah dan hal penting yang dibutuhkan adalah doa untuk orang tuaku tersebut. Jadi, rasanya aku belum bisa kalau diajak berfikir sampai hal mistis itu.”
Panjang lebar hal yang aku jelaskan kepada Bibik Ninih barusan tapi rasa kecurigaan itu tidak bisa hilang begitu saja, apalagi ada orang yang dikatakan pintar dan mengatakan hal buruk yang menimpa keluarga. Maka wajar saja kalau Bibik Ninih atau siapapun akan menggali lebih dalam lagi terkait hal yang diucapkan barusan.
__ADS_1