Tak Kau Anggap Diriku

Tak Kau Anggap Diriku
5. DOA UNTUK IBU


__ADS_3

Kecurigaan yang dipercaya oleh Bibik Ninih walaupun sudah kujelaskan panjang lebar, rasanya tidak akan hilang begitu saja dalam benaknya sekarang. Apalagi rasa kehilangan yang tidak bisa diterima dan orang yang dianggap pintar berkata kalau semua ini memang tidak wajar.


Rasanya seluruh keluargaku bakal berfikir sama dengan apa yang dilakukan Bibik Ninih sekarang ini. Percuma kalau aku bicara panjang lebar pada mereka, lebih baik aku menyimpan energiku untuk hal lain dan lebih baik lagi.


“Ya sudah, Bibik balik lagi ke dapur. Mau menyiapkan untuk kebutuhan nanti malam disini.” Ucap Bibik Ninih yang kemudian pergi meninggalkan diriku dan Lisa.


Aku memandang wajah Adikku yang terdiam sejak tadi mendengarkan pembicaraan kami, takutnya dia berfikir yang aneh – aneh terkait perbincangan kami barusan. “Dek, kamu tadi mendengar semua pembicaraan Kakak dan Bibik Ninih. Bagaimana pendapatmu?” Tanyaku yang ingin mengerti bagaimana pola pikir Adikku sekarang.


Lisa tersenyum tipis dan memandang kembali wajahku kemudian menjawab pertanyaanku barusan. “Aku berfikir, apa yang dikatakan Bibik Ninih ada benarnya juga Kak. Sepertinya ada orang – orang yang tidak suka pada keluarga kita, apa lagi Kakak baru saja diterima kerja jadi dosen. Bisa saja ada orang yang syirik atas semua nikmat yang kita dapatkan selama ini.”


Kutatap erat wajah Adikku yang masih sangat lugu. “Apa yang kamu pikirkan memang tidak salah Dek, tapi alangkah lebih baik kalau kita harus berfikir secara jernih karena Lisa adalah siswa yang memahami ilmu dan terutama pendidikan agama Islam. Kita harus yakin kalau semua yang ada di dunia ini sudah ditakdirkan oleh Allah swt, termasuk jodoh, maut, dan rizki. Ibu meninggal itu atas kehendak Allah jadi tidak perlu kita mencari tahu lebih lanjut, kenapa bisa begini dan begitu. Kenapa Kakak bisa berfikir demikian? Karena kalau kita tahupun maka akan ada rasa dendam pada seseorang yang kita sendiri tidak tahu kebenarannya. Dan seandainya benar dia orang yang membuat Ibu celaka, maka seperti apa kata Kakak tadi. Tidak usah kita berbuat yang aneh – aneh pada orang tersebut, cukup kita mendoakan Ibu dan keluarga kita agar terhindar dari segala hal buruk.” Tuturku yang panjang lebar pada Adikku tercinta.


“Tapi Kak, sebenarnya sihir itu ada. Lisa tahu itu.” Ucap Lisa padaku.


Aku menarik nafas sebentar. “Sihir memang benar adanya tapi kita tidak perlu membesar – besarkannya Dek. Kalau kita takut maka akan semakin besar sihir tersebut, ingat ada Allah yang selalu ada untuk kita. Baca Al – Qur’an dan memohon keselamatan padanya, insyallah tidak aka nada sihir atau apa – apa yang lainnya Lis.” Cetusku kembali pada Adikku barusan agar dirinya tidak berfikir yang aneh – aneh.

__ADS_1


Lisa hanya mengangguk mendengarkan penjelasan dariku barusan dan mulai membaringkan badannya ke tempat tidurku serta berusaha menenangkan pikirannya. Begitu juga dengan diriku sekarang ini yang sebenarnya tidak sanggup menghadapi semua ini kalau mau dikata.


Diriku tertidur sebentar dan terbangun saat adzan maghirb berkumandang, suara yang sangat jelas di telingaku sekarang seakan memaksaku untuk mengingat kembali memori – memori di saat Ibuku hendak pergi meninggalkan kami untuk terakhir kalinya dalam keadaan seperti sekarang.


“Ya Allah, berikan hamba kesabaran menghadapi semua ini.” Ucapku sambil menarik nafas begitu panjang dan mengajak Adikku untuk sholat maghrib berjamaah.


Kegitaan rutin mulai malam ini akan aku lakukan bersama keluarga yang lain sampai empat puluh harinya Ibuku, yaitu kirim doa dengan membacakan yasin dan tahlil bersama – sama. Aku sangat bersyukur, semua keluarga datang untuk mendoakan Ibuku dan begitu juga dengan tetangga sekitar rumah.


Rasa terima kasih yang mendalam tidak bisa aku pungkiri sekarang ini karena masih banyak orang yang peduli pada kami, terutama tunanganku yang datang jauh – jauh dari desa sebrang untuk ikut kirim doa buat Ibuku di rumah.


“Dek, yang sabar. Insyallah, Ibu khusnul khotimah. Mari terus doakan Ibu agar diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya dan meninggalnya dalam keadaan khusnul khotimah.” Ucap tunanganku sekarang ini.


Wajahnya yang tersenyum dan tidak menunjukkan rasa terbebani sama sekali membuatku sedikit merasa lega saat itu. “Tidak apa – apa Dek, apapun hasil rundingan keluarga nantinya. Mas akan selalu terima, apalagi sekarang bukan waktunya kamu memikirkan perasaan Mas. Yang terpenting kamu dulu ya.” Tutur tunanganku yang selalu mengerti kondisiku.


Setelah sedikit berbincang – bincang dengan tunanganku, aku mulai berbaur dengan keluarga di rumah. Mungkin aku terkesan lebih banyak diam dibandingkan berbicara pada mereka, begitu juga Adikku yang lebih murung dan memilih untuk ke kamar buat belajar agar besok bisa mengerjakan Ujian Akhir Nasional (UAN).

__ADS_1


Aku melihat ke arah Adikku yang pergi ke kamarnya. “Mau kemana Dek?” Tanyaku padanya.


“Ke kamar Kak, mau belajar buat besok.” Jawab Adikku yang begitu singkat, padat dan jelas.


Anggukan yang kuberikan pada Adikku sebagai tanda mengiyakan apa yang hendak dilakukannya sekarang ini. Tiba – tiba, ada pembicaraan yang kurang enak kudengar saat berbaur dengan keluarga besar Ibu setelah kepergian Adikku ke kamar.


“Kamu harus banyak berdoa untuk Ibumu, ingat kalau ini semua terjadi karena dirimu.” Ucap salah seorang Bibik kepadaku sambil menunjukkan wajah marahnya.


Ketika diriku hendak menjawab, Bibik Ninih langsung memberikan arahan untuk tidak menanggapi ucapan barusan. “Tentu ponakanku akan selalu mendoakan Ibunya walaupun tanpa diminta sekalipun, sama siapapun, betulkan Lianah?” Ucap Bibik Ninih yang langsung menanggapi ucapan tersebut.


Aku hanya mengangguk sambil melihat Bibik Ninih barusan. “Aku yakin kalau orang – orang disini percaya kalau kematian yang terjadi pada Ibuku disebabkan oleh diriku. Padahal tidak ada niat sedikitpun bahkan pemikiran saja tidak untuk melakukan hal buruk pada Ibuku, apalagi membunuhnya. Seandainya bisa diminta, aku rela menggantikannya tapi ini semua sudah takdir Allah. Aku tidak bisa berkata apapun lagi.” Ucapku di dalam hati melihat semua hal yang sudah terjadi.


“Kalau kamu punya tunangan itu, jangan dekat – dekat dengan laki – laki lain, kalau orang sudah sakit hati itu apa saja bakal dilakukan untuk menghilangkan rasa sakitnya.” Cetus salah satu tetangga padaku.


Suara barusan langsung membuatku sedikit emosi maka dengan muka merah, langsung ku jawab ucapan tersebut. “Maksudnya bagaimana, siapa yang dekat – dekat dengan laki – laki lain. Tolong ucapannya dijaga.” Ucapku yang sudah emosi.

__ADS_1


“Kalau tidak dekat dengan laki – laki lain, ya jangan tebar pesona. Laki – laki itu kalau dikasih ikan ya bakal mau, beda cerita kalau perempuannya diam saja.” Sahutnya yang membuat diriku semakin emosi.


Aku langsung berdiri melihat orang tersebut dan Bibik Ninih langsung menghampiriku untuk meredakan emosiku kali ini. “Sabar Dek, jadi kita semua berkumpul disini untuk mendoakan Ibumu ya Dek. Tidak ada niatan orang – orang untuk menjelek – njelekan siapapun atau menyalahkan siapapun disini. Insyallah tidak ada yang memiliki niat buruk disini.” Tutur Bibik Ninih yang menurutku sedikit menyindir mereka yang membuatku emosi sejak tadi.


__ADS_2