Tak Kau Anggap Diriku

Tak Kau Anggap Diriku
8. PERKATAAN ORANG PINTAR


__ADS_3

Setelah bertemu dengan semua tamu yang datang ke rumah untuk berduka dan kegiatan kirim doa juga sudah dilaksanakan malam itu dengan khidmat. Tetapi malam ini jauh berbeda dengan beberapa hari kemarin karena disediakan kopi dan cemilan yang lebih banyak jika dibandingkan sebelumnya, seperti ada yang hendak datang mengunjungi rumah kami sampai disiapkan sebegitu banyaknya.


“Bik, aku mau ke kamar dulu menemani Adikku yang sedang belajar untuk Ujian Akhir Sekolah (UAS). Kasihan dia sendirian di kamar.” Pamitku pada Bibik Ninih yang sedang duduk di ruang tamu bersama yang lainnya.


Bibik Ninih langsung melihat ke arah Nenekku, seolah memberikan kode atau sesuatu terkait apa yang kutanyakan tadi. “Kamu tunggu disini sebentar dulu ya Dek, karena akan ada tamu yang datang ke rumahmu sekarang.” Cetusnya dengan nada suara yang lebih pelan jika dibandingkan biasanya.


“Siapa?” Tanyaku singkat kepada Bibik Ninih.


Bibik Ninih menunduk kemudian tampak tersenyum tipis tanpa melihat kearahku. “Seseorang Dik, entah siapa. Bibik sendiri juga tidak tahu orang ini siapa dan bagaimana. Hanya saja katanya orang yang sangat disegani di derah sekitar kita.” Jawab Bibik Ninih yang menurutku sedikit berbelit – belit dan sepertinya sedang menutupi sesuatu kepadaku, entah apa.


Aku hanya tersenyum sedikit menanggapi jawaban Bibikku barusan dan ikut menunggu di ruang tamu bersama anggota keluargaku yang lainnya.


Waktu berjalan begitu lambat saat disana karena tidak ada pembicaraan sama sekali, hanya gerak – gerik minum kopi dan asap rokok yang terasa begitu tebal di dalam ruangan. Diriku memang sejak dulu tidak pernah mau dekat – dekat dengan asap rokok, baunya membuatku mual seperti orang yang tidak terbiasa naik mobil.


“Assalamualaikum wr. Wb.” Ucap seorang laki – laki yang tampak sudah berumur, mungkin usianya sedikit di atas Bapakku dan beliau ini sepertinya tamu yang sedari tadi ditunggu keluargaku di ruang tamu.


“Waalaikum salam wr. Wb.” Sahut semua orang yang berada di dalam ruang tamu rumahku.


Bapakku langsung berdiri dan mempersilahkan laki – laki yang tidak kuketahui siapa namanya tersebut untuk duduk di sampingnya. “Ini orangnya Bik?” Bisikku di samping Bibik yang duduk tepat disebelahku sambil tetap memperhatikan gerak – gerik laki – laki tersebut.

__ADS_1


Bibik Ninih hanya mengangguk mendengarkan pertanyaanku barusan dan mulai berbaur dengan suaminya dan orang – orang lain disana. Mungkin terkesan sedikit menjauhiku atau mungkin itu hanya perasaanku saja yang lebih sensitif jika dibandingkan dengan sebelumnya.


“Bagaimana Bah perjalanannya kesini? Apa susah dicari rumahnya? Saya tidak enak Bah, tidak mengantar langsung.” Tanya Bapakku yang tampak berbasah – basih dengan laki – laki tersebut dan entah kenapa diriku merasa tidak senang melihatnya.


Sebelum sempat laki – laki yang dipanggil Bapakku dengan sebutan Bah tadi menjawab, hampir semua laki – laki di rumah kami berkerumun untuk bersalaman kepadanya dan menunjukkan rasa hormat.


Laki – laki tersebut kemudian memberikan senyum kepada semua orang dan mulai berbicara kepada semua orang. “Alhamdulillah, jalan menuju rumah Bapak tidaklah susah. Hanya saja aura disini kurang enak dirasakan Bapak, ada aura – aura negatif yang begitu kuat.” Jawab laki – laki itu yang membuatku langsung mengangkat alisku karena aneh mendengarkan jawabannya barusan.


“Berarti ada aura positif dan negatif maksud laki – laki itu. Terus aura netral adakah.” Ucapku di dalam hati sambil tersenyum tipis mendengar cara berbicara laki – laki yang katanya disegani di daerah sini.


“Iya Bah, saya juga merasakan hal yang tidak enak di rumah ini. Rasanya selalu merinding dan ada sesuatu yang memperhatikan saya, padahal tidak ada apa – apa Bah. Apa hanya perasaan saya saja, tapi saya sering mendengar suara yang aneh – aneh dan itu bukan hanya saya saja yang merasakan.” Cetus Bibik Ninih yang menimpali apa yang barusan dikatakan laki – laki tersebut bagai gayung yang bersambut.


Aku hanya diam saja mendengarkan pembicaraan yang tidak masuk diakal menurutku. “Benar sekali Bu, disini itu banyak benda – benda tak kasat mata yang ramai mengerumuni rumah ini. Seolah mereka mau menunjukkan kepada saya kalau apa yang terjadi pada meninggalnya almarhumah tidaklah wajar. Ini semacam pertanda Bu.” Kata laki – laki itu yang membuatku semakin dan semakin tidak percaya.


Laki – laki tersebut tertawa begitu keras setelah mendengarkan apa yang barusan aku ucapkan padanya. “Sungguh tidak sopan sekali orang ini.” Batinku melihat tingkah lakunya, yang bisa – bisanya tertawa di saat pembicaraan seserius ini.


Laki – laki itu langsung mengambil sebatang rokok dan menyalahkannya, entah apa yang di baca karena tampak mulutnya sedang melafalkan sesuatu. Tidak lama kemudian, dia menatapku begitu lekat dengan mata yang sangat menakutkan ketika melihatku.


“Ini dia penyebabnya, kamu. Wanita ini harusnya yang diinginkan.” Teriak laki – laki tersebut sambil menunjuk – nunjuk diriku yang terduduk di atas lantai rumahku.

__ADS_1


Aku terdiam melihat tingkah aneh orang di depanku, diriku hanya tidak habis pikir dengan pemikiran keluargaku yang mempercayai ucapan orang nyelenh tersebut. Padahal sudah tahun seperti ini tapi bisa – bisanya masih percaya dengan tahayul yang aneh begitu.


“Maksudnya anakku yang diinginkan tapi malah menuju ke istriku.” Sahut Bapakku sambil menatapku penuh emosi.


Laki – laki itu langsung melihat ke arah Bapakku dan mengangguk sebagai tanda mengiyakan apa yang barusan diucapkan oleh orang tuaku tersebut.


“Bagaimana bisa salah sasaran begitu Bah?” Tanya Bibik Ninih kembali dengan wajah yang sangat serius.


Laki – laki tersebut langsung berdiri dan mengelilingiku dengan mulutnya yang entah mengucapkan apa. “Nasib anakmu ini baik, dia punya semacam amalan yang dirinya praktikkan sehingga tidak bisa sihir itu masuk padanya. Tapi nasib buruk itu menimpa almarahumah sebagai bentuk kekesalan karena tidak bisa mengenai anakmu.” Jawab laki – laki ini tanpa ada beban sama sekali dalam benaknya.


Aku hanya merasa kalau orang – orang di rumahku ini sudah banyak pikiran sehingga ada orang semacam laki – laki ini, yang bisa memanfaatkan mereka dan aku sangat yakin seratus persen kalau orang ini pada ujungnya hanya akan minta uang saja.


“Terus apa yang harus kami lakukan Bah?” Tanya lagi Bibik Ninih padanya.


Laki – laki itu kembali duduk dan menikmati segelas kopi yang sudah disiapkan. “Tenang Bu, semuanya pasti ada solusinya. Sekarang orang itu akan mengarah pada ponakan Anda ini kembali tapi ketakutan saya kalau ponakan Anda masih tidak mampu mereka taklukkan dan bisa mengenai anggota keluarga yang lainnya.” Jawab laki – laki tersebut tanpa memperdulikan bagaimana psikologi orang – orang di rumahku yang masih berduka atas meninggalnya Ibuku.


Nenekku langsung menangis mendengar penuturan laki – laki itu. “Tolong keluarga kami Bah, jangan sampai ada korban lagi. Cukup anak menantuku yang meninggal, sudah cukup itu. Jangan tambah lagi kesedihan dalam keluarga kami.” Ucap Nenekku dengan suaranya yang terputus – putus.


Laki – laki yang dipanggil Bah tersebut tersenyum mendengarkan ucapan dari Nenekku, mungkin dia merasa apa yang dia bicarakan dipercaya sepenuhnya oleh keluargaku. “Maka dari itu saya kesini untuk menolong keluarga ini, tapi kalau bukan karena saya kenal maka akan saya biarkan karena ini sudah terlampau parah. Dan entah bagaimana nantinya keluarga Bapak ini, karena orang itu sangat berani. Namun, hal ini bisa saya maklumi karena kalau seseorang sudah merasakan cinta dan perasaan itu ditolak maka mungkin dalam pemikiran orang itu menyatakan lebih baik melihat batu nisan bertuliskan nama sang pujaan hati jika dibandingkan melihat namanya yang tertulis di surat undangan.” Tutur laki – laki itu dengan penuh percaya dirinya sambil menatapku, sehingga membuat diriku jijik dilihatnya.

__ADS_1


“Siapa laki – laki itu Bah? Berani sekali orang itu merusak kedamaian keluarga besarku, jika dia macam – macam. Aku sebagai anggota keluarga disini akan membalasnya, mata di balas dengan mata, tangan di balas dengan tangan dan nyawa di balas dengan nyawa. Bah, kamu bisa membantukukan.” Teriak suami dari Bibik Ninih yang sudah emosi mendengarkan pembicaraan yang sudah berlangsung sedari tadi.


“Masalah nyawa dibalas dengan nyawa, itu hal yang mudah bagiku.” Sahut laki – laki itu sambil menunjukkan tawa kecilnya yang membuat diriku makin merinding melihatnya.


__ADS_2