
Pembicaraan malam ini yang menurutku sangat tidak masuk akal membuatku ingin masuk kamar rasanya dan pergi meninggalkan semuanya. Entah kenapa, aku merasa kalau orang – orang ini sudah diperdaya laki – laki yang katanya disegani itu karena kondisi kami yang sedang kesusahan, sepertinya dia hanya memanfaatkan kekalutan hati orang – orang di keluargaku sekarang ini.
Memang tidak ada yang bisa kupercaya dari pembicaraan di ruang tamu ini, tidak ada yang berfaedah sama sekali disini. Hanya membuang – buang waktu dan tenaga saja tapi entah kenapa semua orang disini begitu antusias sehingga aku harus tetap mengikuti pembicaraan ini, hanya sebatas karena kata sopan dan etika.
“Saya mau lihat – lihat dulu ke sekeliling rumah Bapak, apa diperbolehkan?” Tanya laki – laki tersebut kepada orang tuaku yang duduk tepat di sebelahnya.
Bapak langsung menatap wajah laki – laki itu seraya menjawabnya. “Tentu saja sangat diiperbolehkan Bah.”
Aku langsung mengangkat alisku, melihat laki – laki itu yang berjalan sambil membawah sebotol air mineral dari dalam tasnya. Dimana aku sangat yakini, kalau itu hanya air putih biasa.
Senyum kecil di wajah laki – laki itu tampak penuh dengan kemenangan karena berhasil memperdayai keluargaku, dirinya berdiri dan mulai berjalan ke belakang rumah. Hal ini membuatku semakin tidak percaya dengan orang yang katanya pintar ini.
Tapi entah kenapa semua orang di rumahku mengikuti laki – laki itu, kecuali aku dan Bibik Ninih yang masih diam di ruang tamu sambil melihat ke arah belakang rumah dan tetap memperhatikannya. “Bibik percaya dengan laki – laki itu?” Tanyaku pada Bibik Ninih yang sedari tadi begitu antusias dengan pembicaraan disini.
Bibik Ninih tertawa kecil kepadaku kemudian menjawab apa yang barusan kutanyakan. “Tentu saja Bibik percaya dengan omongannya, dia orang pintar Dek dan tidak perlu diragukan lagi kemampuannya. Namun, Bibik yakin seratus persen kalau ponakan Bibik yang satu ini pasti tidak percaya dengan apa yang barusan kita bicarakan. Tidak sesuai logika pastinya.”
“Seratus buat Bibik. Ucapannya sangat – sangat tidak masuk diakal Bik.” Sahutku tanpa basa – basi lagi.
Bibik Ninih tertawa pelan kembali mendengarkan jawabanku tetapi aku hanya bisa menahan emosi agar tidak marah melihat kelakuan laki – laki tersebut yang kulihat semakin lama menjadi semakin aneh, sikapnya yang tiba - tiba melafalkan sesuatu kemudian menyebarkan beberapa percikan air di daerah sekitar rumah. Sungguh tidak masuk diakal manusia.
Ketika laki – laki itu kembali berjalan dan hendak masuk ke dalam kamarku, dan disana ada Adikku sedang serius belajar. Maka tanpa menunggu lama, diriku langsung lari dan memegang pintu agar tidak langsung dibuka laki – laki aneh ini. “Maaf Bah, disini ada Adikku yang sedang belajar. Tolong jangan diganggu.” Kataku sambil memberikan senyum kecil agar orang – orang ini tidak marah dengan apa yang barusan aku lakukan.
“Bapak, tolong ini. Saya harus mengecek semua ruangan agar lebih faham lagi dan bisa menolong keluarga ini.” Ucap laki – laki itu yang seolah mengaduh kepada Bapak atas perbuatan yang barusan aku lakukan.
“Nak, minggir sekarang.” Kata Bapakku untuk pertama kali setelah meninggalnya Ibuku.
__ADS_1
Aku menarik nafas lumayan panjang kemudian berusaha menenangkan hatiku. “Bapak, kalau ruangan ini mau dicek. Tolong tunggu Adikku agar memakai hijabnya terlebih dahulu.” Ucapku yang mendapatkan anggukan dari Bapak.
“Dek, ini ada orang yang mau lihat ke dalam kamar. Kamu pakai hijabmu dulu sekarang.” Teriakku di depan kamar yang langsung mendapatkan balasan dari Adikku.
“Iya Kak, masuk sekarang.”
Tanpa menunggu waktu lama, laki – laki itu langsung menerobos kamarku dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Aku semakin emosi dibuatnya karena buku – buku dan beberapa kertas di meja jadi basah semua terkenah percikkan air, akibat ulahnya.
Diriku yang sedari tadi mengepalkan tangan, hanya berusaha untuk tidak membuat keributan saat itu, langsung dipegang oleh Nenekku tangan yang sedari tadi kukepalkan. “Nak, ayo keluar.” Cetus Nenek yang mendekatiku dan mengelus – ngelus pundakku.
Aku hanya diam dan tidak memperdulikan apa yang barusan diucapkan Nenekku. “Sabar nak, ini semua demi kebaikan keluarga ini. Kalau kamu sayang keluarga ini, ikut Nenek keluar sekarang. Hormati Bapakmu karena laki – laki itu adalah tamu di rumah kita.” Tutur Nenekku dengan suaranya yang sangat pelan sehingga membuat hatiku sedikit luluh dibuatnya.
Kuambil air minum di meja belajar dan segera kuteguk dalam jumlah sangat banyak kemudian berjalan pelan mengikuti Nenekku dari belakang. “Sini Dek.” Panggil Bibik Ninih agar aku duduk di sebelahnya.
Asap rokok yang masih mengepul tanpa henti dari laki – laki itu dengan diarahkan kepada Pamanku sehingga membuat suasana rumah jadi semakin tidak nyaman. “Seperti kataku barusan, mau tidak mau. Kita harus segera mengadakan pembersihan di rumah ini secara menyeluruh.” Jawab laki – laki itu dengan suara yang sangat keras.
“Monggo Bah, silahkan. Terus apa yang harus kami siapkan untuk hal tersebut.” Sahut Pamanku yang semakin antusias.
Laki – laki itu tampak memejamkan mata lumayan lama dengan telunjuk tangan yang dibuat naik dan turun. Kemudian dengan tanpa aba – aba, laki – laki itu langsung membuka matanya dan menunjuk Pamanku. “Besok Jumat Wage, siapkan kacang hitam dan garam kasar. Kita lakukan pembersihan.” Tutur laki – laki itu.
“Siap Bah.” Ucap Pamanku.
“Terus yang nyawa dengan nyawa tadi bagaimana? Apa siap dilanjut? Tapi segala konsekuensi harus ditanggung keluarga ini dan bukan diriku.” Kata laki – laki itu dengan melirik ke arah Bapakku.
Bapak hanya menunduk ketika laki – laki itu menyebutkan nyawa dengan nyawa. “Apa yang harus kami siapkan Bah terkait hal itu?” Tanya Pamanku kembali.
__ADS_1
“Siapkan maharnya dan datang kerumahku, sebelum kamu sampai rumah untuk pulang maka akan ada pengumuman tentang kematian orang tersebut.” Jawab laki – laki itu dengan mantap tanpa keraguan sama sekali ataupun rasa takut.
Padahal menurutku nyawa manusia adalah hal yang sangat krusial, bukan suatu hal yang bisa dijual belikan begitu saja. Tapi ketika aku mendengar ini, rasanya badanku langsung merinding dibuatnya. Bagaimana tidak? Hal yang merupakan takdir Tuhan dan rahasianya, dibicarakan dengan santainya.
“Apa maharnya?” Tanya Pamanku lagi dan lagi.
Suara tertawa yang begitu keras, kembali terdengar di rumahku ketika pertanyaan terkait mahar dilontarkan. “Satu unit sepeda motor, bekas tidak masalah bagiku.” Jawabnya dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
Pamanku terdiam mendengarnya, bisa jadi melihat mahar yang lumayan akan membuatnya berfikir ulang terkait apa yang dia mau barusan.
“Kalian pikirkan saja dulu terkait mahar, aku tidak akan buru – buru karena itu sesuatu yang sensitif. Terkait rumah ini sudah saya bantu untuk membersihkan tapi tetap butuh diulang lagi, tidak bisa hanya sekali agar menyeluruh.” Cetus laki – laki itu kemudian memandang wajah Bapakku yang lumayan terdiam.
“Iya Bah, siap kami lakukan.” Ucap Bapakku dengan nada suara yang pelan.
Laki – laki ini tampak melihat arloji di tangannya kemudian kembali berbicara kepada Bapakku. “Bapak, ini saya sudah ada janji lagi ke rumah orang lain. Tampaknya saya sudah harus undur diri sekarang.”
“Begitu ya Bah, tidak mau dinikmati dulu makanan kami yang seadanya ini.” Tutur Bapakku sambil menunjuk beberapa camilan di ruang tamu.
“Sepertinya tidak bisa Bapak, saya harus pergi dulu. Sudah janji.” Sahut laki – laki itu.
“Iya Bah, silahkan. Terimakasih banyak karena sudah membantu keluarga kami Bah.” Tutur Bibik Ninih yang mempersilahkan laki – laki itu untuk pergi.
“Saya pamit dulu, assalamualaikum wr. wb.” Salam laki – laki itu yang kemudian kami di ruang tamu, langsung membalasnya. “Waalaikum salam wr. Wb.”
Selepas kepergian laki – laki itu, tampak Paman langsung mendekati Bapak dan mungkin membicarakan terkait mahar yang barusan disampaikan.
__ADS_1