
Aku menangis sejadi – jadinya sambil menarik dua koperku ke depan rumah, sungguh tega anggota keluargaku ini. Bukannya sekarang kita harusnya saling bergandengan tangan dan menguatkan satu sama lain tetapi apa yang kudapatkan sekarang, hanya kekecewaan serta penghianatan.
“Mau kemana Nak?” Tanya Nenekku yang keluar karena mendengar keributan yang terjadi.
Kupandang wajah Nenekku yang sudah tua dan penuh dengan kerutan di sekujur tubuhnya. “Pergi dari sini karena kehadiranku sudah tidak diharapkan. Hanya Ibu saja yang sayang dan peduli padaku.” Cetusku menjawabnya sambil tangan ini sibuk menaikkan koper ke atas sepeda motor.
Sepeda motor kenangan, yang aku masih ingat sekali kalau ini dibelikan Ibuku agar diriku mudah untuk mobilitas kerja selama di luar kota. “Bu, aku kangen Ibu. Kenapa semua jadi begini? Keluarga kita hancur berantakan sekarang.” Ucapku di dalam hati dengan mengendarai sepeda motor keluar dari rumah.
Kuhampiri Nenek yang kebingungan sejak tadi dan terus memandangiku. “Nek, tidak ada kata benci dalam hatiku pada Nenek. Lianah sayang sama Nenek tapi jika kepergianku adalah hal terbaik yang bisa Lianah lakukan, maka akan aku lakukan. Jaga diri Nenek baik – baik, tolong jaga Adik dan Bapak juga. Lianah pamit.” Cetusku sambil bersalaman dengan Nenek yang sedari tadi menangis karena kepergianku.
“Bik, terimakasih sudah ada untukku selama ini dan keluargaku. Titip Adik, Nenek dan Bapak, aku tidak bisa berkata apa – apa lagi. Jika ini memang keputusan keluarga besarku, aku tidak bisa berbuat banyak. Semoga kalian semua selalu sehat dan dalam lindungan Allah.” Tuturku pada Bibik Ninih yang menangis melepas kepergianku.
Bibik Ninih memelukku seraya berkata. “Ini hanya sementara Dek, setelah ini kamu balik lagi kesini. Kami semua sayang kamu.”
Hatiku semakin sakit mendengarnya karena menurutku pribadi hanya Ibu yang sayang aku, kalau mereka betul – betul sayang padaku. Tidak akan ada kata untukku pergi dari rumah walaupun hanya untuk sementara waktu, semua masalah harusnya diselesaikan bersama – sama dan tidak seperti ini.
Kunaiki sepeda motorku sambil menangis sejadi – jadinya di atasnya. Angin sepoi – sepoi mengenai seluruh badanku seolah mengetahui bagaimana kesedihan yang kualami.
Lalu lalang dan keramaian di jalan raya bagaikan kuburan sepi sekarang. Tidak ada sedikitpun yang bisa membuatku tenang sekarang. Mulai kulihat ke kanan dan ke kiri, ada kafe kecil di sebrang jalan. Karena badanku sangat capek mengendarai sepeda motor tanpa jelas arahnya maka aku putuskan untuk istirahat sebentar disana sambil memikirkan hal selanjutnya dalam hidupku.
Dan tanpa menunggu waktu lama, segera aku menyebrang jalan kemudian menuju kafe tersebut untuk beristirahat sebentar. Sambutan hangat dari pegawai toko, bagaikan angina lalu saat ini yang tidak begitu kupedulikan.
“Mbk, Ice break satu.” Kataku kemudian membayar pesananku barusan dan duduk di kursi yang disediakan.
Segera aku duduk dan menundukkan kepala, merasakan beratnya beban yang sekarang sedang aku tanggung seorang diri. Rasanya, bagaikan ada batu besar yang berada dipundakku tanpa ada seseorang yang membantu menopangnya sama sekali.
__ADS_1
Tring … Tring … Tring. Handphoneku berbunyi dan disana ada nama yang harusnya akan menemani diriku nantinya di saat senang ataupun sedih selama sisa hidupku.
“Tumben telfon, ada apa ya?” Tanyaku di dalam hati.
Segera kuangkat telfonku dan kujawab. “Assalamualaikum wr. Wb.” Ucapku memulai pembicaraan saat itu.
“Waalaikumsalam wr. Wb. Dek, kamu dimana sekarang?” Kata Mas Anton dengan suara tergesa - gesa.
Aku menarik nafas lumayan lama, kemudian kembali berbicara dengan tunanganku. “Aku di café Mas, ada apa?” Tanyaku padanya.
“Aku mengkhawatirkanmu Dek, tadi Bibik telfon aku dan bicara kalau kamu keluar rumah.” Jawab Mas Anton secara terburu - buru.
“Betul itu Mas.” Sahutku kembali padanya.
Kutatap segelas air minum dihadapanku kemudian menjawab pertanyaan dari tunanganku barusan. “Café di sebelah pertigaan yang biasanya Mas.”
“Tunggu disana ya Dek, dan jangan kemana – mana. Tungguin Mas sampai datang, janji.” Tutur Mas Anton.
“Iya Mas, kutunggu sampai datang.” Ucapku dan langsung kutup telfon dari tunanganku barusan, diriku tidak merasakan perasaan lega sama sekali setelah menerima telfon darinya. Hampa, masih terasa sangat hampa saat ini.
Kubuka laptopku kemudian ku arahkan kepada sosial media yang kumiliki, kucari nama beberapa teman yang sekiranya bisa membantuku kedepannya. Satu menit berlalu dan beberapa nama hanya kulihat saja karena diriku masih ragu untuk meminta tolong kepada mereka.
Kembali kutatap beberapa nama itu untuk segera menghubungi mereka, tetapi setelah menyapa. Langsung kuhentikan niatku meminta tolong padanya. “Sudahlah, tidak usah chat seperti itu. Aku tidak bisa.” Kataku seorang diri di depan laptop sambil meminum minuman yang sudah dihidangkan.
Aku memang tidak terbiasa untuk meminta tolong seperti ini, makanya ada rasa keraguan dan takut melakukannya. Diriku takut kalau mereka juga mengalami kesulitan dalam menghadapi semua ini.
__ADS_1
“Dek ….” Panggil seorang dari arah belakangku.
Aku segera menoleh ke arah belakang dan tampak seorang laki – laki yang tinggi dengan pakaian serba hitam, datang menghampiriku. “Mas Anton.” Panggilku kembali padanya.
Mas Anton langsung duduk di depanku dan kurasa dirinya mengendarai sepeda motor begitu kencang sehingga dalam hitungan menit sudah sampai di café ini. “Pesan dulu Mas.” Kataku untuk menenangkan dirinya.
Mas Anton langsung berdiri dan langsung memesan minuman beserta camilan untuknya. “Dek, aku khawatir sama kamu.” Tutur Mas Anton dengan wajahnya yang tampak memerah, mungkin karena kepanasan sejak tadi.
“Tidak perlu terlalu khawatir Mas, bismillah saja. Insyallah semuanya akan baik – baik saja.” Ucapku pada Mas Anton agar dirinya tidak terlalu khawatir pada diriku sekarang.
Mas Anton menatapku begitu lekat, seolah ingin menanyakan kembali kondisiku. “Rencanaku Mas, setelah ini aku akan mencari kos – kosan untuk sementara waktu saja. Terus mengenai kehidupanku setelah semua yang terjadi sekarang, mungkin tidak muda tapi Alhamdulillah masih ada dana darurat untukku bertahan hidup.” Tutur diriku sambil menahan rasa sakit hati agar tidak terlihat oleh Mas Anton.
Tatapan tajam dari tunanganku membuatku sedikit takut, tapi diamnya Mas Anton yang membuatku tersihir dan tidak bisa berkutik apapun. Hampir lima menit dirinya terdiam, kemudian berdiri dan sibuk dengan handphonenya seorang diri di pojokkan café.
Kutatap wajah tunanganku yang sibuk dengan handphonenya, sepertinya dia sedang sibuk menghubungi seseorang yang jauh disana. Tanpa menunggu lama, dia langsung menghampiriku dengan senyum di wajahnya.
“Dek, kata temanku. Kamu bisa tinggal di pondoknya.” Ucap Mas Anton padaku dengan sangat bahagia.
Aku menarik nafas dan memandang wajah tunanganku ini. “Mas Anton, bukan seperti itu solusi yang aku minta padamu. Kamu dengerin Adik dulu Mas, jangan langsung ambil keputusan sendiri.” Cetusku kepadanya dengan nada suara yang sedikit naik.
“Bagaimana maumu Dek? Mas hanya tidak mau kalau kamu menderita begini, Mas sayang sama kamu.” Kata Mas Anton kepadaku.
Senyum tipis dariku, yang kemudian diriku menjelaskan padanya atau lebih tepatnya memprotes atas tindakan yang barusan dilakukannya. “Aku tidak tahu bagaimana kamu mendapatkan cerita dari Bibikku. Tapi kamu harusnya Tanya kepadaku dulu, aku maunya bagaimana? Bukan tiba – tiba nyari tempat tinggal begitu dan yang tadi sempat aku ceritakan, tolong hargai.”
Mas Anton terdiam mendengar ucapanku barusan, aku yakin sekali kalau dia memang khawatir kepadaku, namun hal yang dilakukan dengan gegabah dan mengambil keputusan sendiri bukanlah suatu perbuatan yang tepat.
__ADS_1