Tak Kau Anggap Diriku

Tak Kau Anggap Diriku
15. JAWABAN ANEH


__ADS_3

Diriku mulai tidak menyukai apa yang barusan diucapkan oleh Mas Anton, tiba – tiba memanggil Dek pada sahabatku tersebut. Mungkin wajar saja karena usianya masih tua Mas Anton jika dibandingkan sahabatku tersebut, tetapi dalam batinku tidak menyukai panggilan itu, terutama mereka baru pertama kali bertemu dan sudah seakrab ini.


“Ada yang salah?” Tanya Mas Anton tanpa wajah bersalah sedikitpun.


Kutunjukan senyum kecil di wajahku menanggapi pertanyaan Mas Anton barusan tanpa menjawabnya sama sekali.


“Li, wajarlah Mas Anton memanggilku Dek. Kan usiaku jauh sekali, masih muda aku, tidak mungkin dipanggil Mbak.” Sahut Nduk yang berusaha bercanda dengan panggilan Mas Anton barusan.


Aku hanya mengangguk – angguk sebagai tanda setuju untuk panggilan tersebut, walaupun sebenarnya aku tidak suka dengan hal tersebut.


“Ludes ya Mas Anton, makanannya.” Cetus Nduk yang melihat makanan di piring tunanganku habis.


Wajah sumringa ditunjukan Mas Anton setelah memakan habis semuanya. “Enak sih, makanya ludes. Baru kali ini aku memakan, makanan seenak ini.” Ucap Mas Anton sambil menunjuk hidangan di meja makan.


“Lebay Mas.” Sahutku dengan suara sinis.


“Tidak lebay Dek, memang benar adanya.” Kata Mas Anton yang kemudian mulai menghabiskan semua teh miliknya.


Selesai makan maka tunanganku segera berpamitan dan meninggalkan diriku bersama sahabatku di rumah ini.


“Nduk, aku mau istirahat dulu ya. Rasanya badanku capek sekali, terimakasih untuk makan dan semuanya.” Kataku yang langsung meninggalkan Nduk ke kamar.


Batinku bergejolak, melihat tingkah laku Mas Anton yang tampak genit dengan sahabatku. Maka tanpa pikir panjang segera kukeluarkan handphone milikku dan kukirim pesan pada Mas Anton.


“Mas, aku tidak suka dengan sikapmu yang seperti tadi pada sahabtku. Kamu genit sekali padanya, kalau kamu memang tidak suka padaku maka bilang saja.”

__ADS_1


Tidak sampai satu menit, pesanku langsung dibalas Mas Anton.


“Jangan berfikir yang aneh – aneh Dek, aku hanya berusaha akrab dengan sahabatmu karena kamu akan tinggal disana. Hanya itu saja dan tidak lebih.”


Kutatap pesan Mas Anton lekat – lekat, mungkin memang hanya perasaanku saja yang cemburu buta pada tunanganku dan sahabatku sendiri tanpa alasan jelas.


Kuamati seluruh ruangan yang sederhana di rumah ini dan barang – barangku masih belum tertata rapi, tanpa menunggu waktu lama maka segera kubereskan semua barang ini dan kuputuskan untuk istirahat agar pikiran kembali jernih.


Aku terbangun dari tidurku dan seluruh ruangan tampak begitu gelap, dengan sedikit cahaya dari jendela kamar yang ditutup dengan kain berwarna coklat muda. Kubuka jendela kamarku dan kulihat senja di sore hari yang begitu indah, kuamati dengan lekat senja tersebut.


Senja yang sementara waktu, seperti hidup manusia yang hanya sebentar di dunia ini. Bahkan kematian yang selalui mengikuti perjalanan hidup setiap insan di dunia, sebagai suatu hal yang selalu dihindari tetapi sangat dekat padanya.


Tetesan air mataku yang tiba – tiba mengalir, mengingat semua kejadian dalam hidupku. Mungkin Tuhan sedang menguji diriku agar bisa naik tingkat yang lebih tinggi lagi jika dibandingkan sekarang ini.


“Ya Allah, jika memang ini jalan terbaik dalam hidupku maka kuatkan hamba dalam menjalani semua ini dan bila semua ini teguran bagi hamba maka ampunilah segala dosa hambamu ini yang penuh dosa.” Kataku pelan dengan pandangan masih tertuju ke langit sore.


“Buka saja Nduk, aku sudah bangun.” Sahutku sambil menutup jendela dan menyalahkan lampu kamar.


Nduk membuka pintu kamarku dengan membawa beberapa camilan di tangannya. “Aku pikir kamu masih tidur Li.” Kata Nduk sambil duduk di kursi dan membuka camilan.


“Baru bangun Nduk, mungkin aku kecapekan dan lagi dapet juga.” Sahutku yang kemudian duduk menghampiri Nduk.


Camilan di tangan Nduk langsung diberikan kepadaku, jajanan berwarna merah merona dan kuning ngejreng ini tampak begitu lezat. “Buatanmu Nduk, enak ni kayaknya.” Kataku yang basa – basi.


Senyum lebar ditujukan Nduk padaku, kulihat tampak sahabatku yang begitu baik dan tidak mungkin menjadi pelakor merebut tunanganku sendiri. “Jelas dong, kita ngobrol – ngobrol santai yuk. Biar lebih akrab lagi, maklum sudah lama kita tidak berjumpa.” Cetus Nduk dengan suara paraunya.

__ADS_1


“Enaknya ngobrolin apa ini?” Tanyaku dengan senyum yang mulai melepas rasa curiga pada sahabatku sendiri.


“Apa ya, kehidupanmu mungkin Li. Kesibukanmu apa sekarang?” Cetus Nduk yang mulai masuk ke pembahasan kehidupanku.


“Ha … Ha… Ha. Tidak ada kesibukan yang terlalu Nduk, hanya menjadi pendidik saja selama ini. Kalau kamu bagaimana sekarang?” Kataku sambil menyelidik ke arah sahabatku tersebut.


“Aku apa ya? Tidak ada yang terlalu sibuk dalam hidupku sekarang, setelah cerai dari suami. Aku sekarang mulai menghidupi diriku dengan jualan jamu secara online dan bisnis bakso juga.” Cetus Nduk dengan bangganya padaku.


“Wah, sudah sukses sekali sahabatku yang satu ini.” Sahutku kembali padanya.


Nduk langsung memegang rambutnya kemudian kembali bercerita kepadaku. “Mau bagaimana lagi Li, setelah cerai dan aku dapat harta dari mantan suamiku. Maka uangnya aku manfaatkan dengan buka kios untuk jualan bakso karena aku jago banget bikin bakso. Beda dengan kamu yang seorang pendidik.” Tutur sahabatku yang membuatku merasa kasihan padanya, seorang diri tanpa orang tua atau siapapun yang menyayanginya sekarang. Hidup hanya seorang diri di dunia ini.


“Langkahmu sudah betul Nduk, selalu semangat dan bersyukur atas apapun yang sudah kamu alami.” Cetusku yang memberi semangat padanya.


Senyum lebar terlihat dari wajah Nduk yang tampak kembali ceria. “Terimakasih untuk motivasinya ya, kamu memang sahabatku yang terbaik dari dulu sampai sekarang.” Sahut Nduk dengan wajah senangnya.


“Sssh, ada suatu hal yang membuatku penasaran Nduk tapi kalau aku tanyakan takut membuatmu jadi mengingat masa lalu.” Ucap Lianah sembari mengusap punggung Nduk naik dan turun.


Wajah gembira yang baru saja tampak di wajah Nduk, seketika menjadi begitu serius, tatapannya yang sekarang di arahkan ke sekeliling ruangan dan tidak menatap Lianah sama sekali.


Sekilas tampak Nduk yang sesekali melihat wajah Lianah, lalu menarik nafas panjang.


“Percerainku, maksudmukan Li. Itu memang hal yang berat dalam hidupku, tapi mau bagaimana lagi. Ternyata suamiku lebih memilih hidup bersama sepupunya dan bahagia bersama dirinya, walaupun aku yang menemaninya dalam susah tapi dia lebih memilih daun muda. Selama aku menikah dengannya, aku tertipu dengan semua kata manisnya, padahal dia selingkuh dengan sepupunya yang tinggal bersama kita.” Beber Nduk sembari memangku kedua tangannya.


“Tapi, bagaimana kamu tahu kalau suamimu selingkuh Nduk? Siapa tahu kalau itu hanya prasangka burukmu saja.” Tanya Lianah yang membuat Nduk langsung mendelik begitu sinis padanya.

__ADS_1


“Kamu pikir ya Li, insting wanita itu sangat kuat dan jauh berbeda dengan laki – laki.” Kata Nduk yang membuat Lianah terdiam mendengar sahabatnya yang langsung emosi dengan apa yang barusan ditanyakan.


__ADS_2