
Kebingungan Lianah setelah mendengarkan ucapan dari Bibik Ninih barusan membuat hatinya semakin tidak karuan, rasa sedih yang bercampur aduk menjadi satu membuatnya semakin terpuruk. Rasanya Lianah ingin mendapatkan kejelasan yang lebih dari Bibiknya agar tidak ada kebingungan lagi dalam dirinya.
“Maaf Li, tadi Bibik Kai bilang kalau kamu memakai BPJS untuk berobat Ibumu sehingga membuat kondisi Ibumu semakin memburuk dan mengakibatkan Ibumu meninggal dunia seperti sekarang karena penanganan yang kurang totalitas. Padahal menurut Bibik Ninih sendiri, mau kita berobat dengan menggunakan BPJS atau bayar tunai sekalipun. Itu bukanlah masalah, karena hidup dan mati sudah diatur oleh Allah. Kamu lihat mertua Bibik Ninih, pakai BPJS dan alhmadulillah sehat, tidak ada masalah padahal kondisinya dulu sangat parah.” Ucap Bibik Ninih yang menjelaskan bagaimana tanggapan sebagian keluarga kepadaku saat ini.
Aku terdiam sejenak dan mulai berbicara pada Bibik Ninih. “Apapun kata mereka, rasanya tidak sepantasnya bicara seperti itu dalam kondisi seperti sekarang. Apa mereka tidak memperdulikan bagaimana perasaan ponakannya, aku sedang berduka. Kenapa harus ditambah dengan beban seperti ini lagi? Seandainya aku sekarang betul memakai BPJS, kira – kira apa yang akan terjadi padaku Bik nantinya. Hinaan sudah pasti.”
“Kamu sudah tahu bagaimana sikap Bibik Kai selama ini padamu dan keluarga. Omongannya yang selalu menyakitkan hati, tidak usah kamu pedulikan terlalu mendalam. Bibik Ninih bicara seperti ini agar kamu menyimpan bukti pembayaran ini, Bibik hanya takut akan ada omongan tidak enak padamu selanjutnya. Bibik Ninih tidak tega kalau itu benar – benar terjadi padamu Dek.” Sahut Bibik Ninih.
Aku hanya bisa menangis setelah mendengarkan penjelasan dari Bibik Ninih barusan dan berusaha berjalan sekuat tenaga untuk menuju bagian administrasi walaupun terasa begitu berat.
“Permisi Pak, saya mau melakukan pembayaran untuk pasien atas nama Ibu Unidah.” Kata Lianah yang masih menangis tanpa henti, walaupun didampingi Bibik Ninih di sampingnya untuk menguatkan dirinya.
Petugas administrasi langsung dengan sigapnya membuka data di komputer kemudian bertanya pada Lianah yang berada di depannya. “Atas nama Ibu Unidah, semuanya habis delapan juta tujuh ratus ribu rupiah. Ini mau dibayar cash atau pakai kartu?”
“Cash Pak.” Jawab Lianah singkat.
Lianah langsung mengambil sejumlah uang dan memberikan pada petugas administrasi, selang beberapa menit petugas itu kembali bertanya pada Lianah. “Maaf, Ibu untuk pengantaran Almh. Ibu Unidah ini butuh ambulance dari rumah sakit atau tidak perlu?”
__ADS_1
“Butuh.” Jawab Lianah.
“Kalau mau ambulance dari rumah sakit, maka dikenakan biaya tiga ratus ribu rupiah.” Cetus petugas administrasi.
Lianah langsung menambahkan uang tadi dan memberikan kepada petugas tersebut. “Silahkan duduk dulu, pembayaran akan saya proses. Nanti akan saya panggil ya Bu.” Ucap Bapak petugas administrasi yang memberikan pelayanan dengan ramahnya.
Bibik Ninih dengan sigapnya langsung menuntun Lianah untuk duduk di kursi tungguh dan berusaha menenangkan ponakannya tersebut. “Sabar Dek, sabar. Insyallah, Allah akan selalu bersama dengan kita. Ini ujian buatmu, kalau kamu bisa menerima semua ini dengan sabar maka kamu akan naik derajat. Insyallah kamu bisa Dek.” Ucap Bibik Ninih yang berusaha menghibur Lianah yang sedang sedih dan kesusahan saat ini.
Lianah tersenyum melihat wajah Bibik Ninih yang membantunya sejak awal sampai akhir perjalanan Ibunya di dunia yang sementara ini. “Keluarga dari pasien Ibu Unidah.” Panggil petugas administrasi dan Lianah segera maju dan mengambil semua bukti kwitansi yang diberikan.
Tanpa menunggu lama, segera Lianah dan Bibik Ninih menuju ruang jenazah. Disana tampak semua saudara masih menunggu di depan dengan wajah yang begitu sedih tanpa ada pembicaraan di antara mereka.
Selama proses perjalanan menuju rumah, tidak ada pembicaraan sama sekali di mobil ambulance. Hanya diam menahan isak tangis dan pandangan lebih ke arah depan dengan tatapan kosong serta tidak ada gambaran untuk kedepannya harus bagaimana tanpa sosok hebat yang harus meninggalkan mereka.
Sesampainya di depan rumah, semua sanak keluarga sudah menunggu dan bangunan dengan warna hijau sudah terpampang nyata di depan rumah. Isak tangis dari semua keluarga dan tetangga terdengar sangat dan sangatlah jelas dalam ingatan Lianah saat itu.
Tubuhnya sudah tidak dapat lagi menopang semua beban yang dialaminya sekarang ini dan brak ….
__ADS_1
Lianah sudah tidak sadarkan diri, tepat di sebelah jenazah Ibunya di ruang tamu. Sebelumnya Lianah sempat melihat Adik tercinta yang selama ini bersamanya menangis tidak karuan, baru kali ini Adiknya bersikap seperti ini. Ada perasaan nyeri di dalam hatinya memandang semua kejadian tersebut sehingga daya tahan tubuh dirinya melemah.
“Dek … Dek …. Bangun, kamu yang sabar Dek.” Cetus Bibik Ninih yang berada di sebelahku dengan bau minyak – minyakan yang terasa begitu menyengat di leherku.
Aku memandang di sekitar dengan wajah yang begitu lemas. “Ibu mana?” Tanyaku pelan dengan nada suara yang nyaris tidak terdengar.
Bibik Ninih terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan dari diriku barusan, tetapi dari arah belakang Bibik Ninih tampak seorang dengan usia lanjut datang menghampiri kami kemudian berkata kepada diriku. “Mbk, mau lihat wajah Ibunya. Ini untuk terakhir kali, sebelum kami tutup dengan kain kafan.” Cetus perempuan tersebut.
Degh …. Aku terdiam cukup lama karena berusaha menerima kenyataan yang sangat pahit ini, walaupun aku berharap setelah sadar kalau apa yang aku alami hari ini hanyalah sebuah mimpi buruk saja.
Aku bangun dan berjalan pelan menuju ruang tamu, yang tampak banyak Ibu – Ibu berkerumun melihat wajah Ibuku. Langkah demi langkah aku berjalan dengan pelannya dan kulihat Ibuku sudah terdiam tidak berdaya, wajah yang sangat syahdu dan penuh kesejukkan terpampang di depanku saat ini.
Aku berharap waktu berhenti dan tidak membuat diriku harus berpisah dengan Ibu tercinta. “Sudah ya Mbk, kami mau tutup dengan kain kafan.” Tutur salah satu Ibu - Ibu yang membantu proses pemakaian untuk pemakaian kain kafan.
Aku hanya terdiam tidak berdaya menjawab pertanyaan tersebut dan mematung di dekat jenazah Ibuku tanpa bisa berbicara apapun. Rasanya ada yang memegangku dengan begitu eratnya sehingga tubuhku sudah tidak bisa bergerak sama sekali.
Alunan bacaan yasin dan tahlil mulai terdengar ditelingaku. Aku mengikuti bacaan tersebut di dalam hati dan berharap sangat agar semua dosa – dosa Ibuku diampuni serta semua amal ibadahnya diterima. Tidak lupa kalau kematian Ibuku ini semoga khusnul khotimah dan sakit yang sudah dialaminya adalah penghapus dosanya.
__ADS_1
Diamku dan tetesan air mata yang terus mengalir begitu derasnya, membuat seorang perempuan di sampingku berkata. “Jangan menangis terus nduk, kasihan Ibumu yang menyaksikan semua ini. Ikhlaskan agar Ibumu tidak sedih melihat anak – anak yang ditinggalkan.”
Tak kujawab sama sekali ucapan itu karena duniaku sudah runtuh sekarang tetapi tangan kecil di sebelah yang mengandengku membuat hatiku tersentak kali ini. Gengamannya begitu erat dan hangat.