Tak Kau Anggap Diriku

Tak Kau Anggap Diriku
10. AKU HARUS PERGI


__ADS_3

Kepergian laki – laki itu rasanya membuatku sangat lega seperti orang yang sangat kehausan dan mendapatkan air minum setelah sekian lama. Ya, walaupun semua orang tampak masih ingin berbincang – bincang lebih lanjut tapi hal itu tidak bisa dilakukan karena janji yang sudah dia buat sebelumnya.


Semua orang mengantarkan laki – laki itu sampai di depan rumah sedangkan aku, hanya seorang diri berada di dalam rumah dan tidak menghiraukannya sama sekali kepergiannya yang sangat aku syukuri. Karena bagiku kehadiran dan semua ucapan laki – laki itu bagaikan angin lalu yang tidak mempunyai arti sama sekali dalam hidupku, biarkan saja tidak berguna.


“Kamu itu ya, kalau jadi orang maka perhatikan sopan santun dan tata kramamu. Sedari tadi Budeh perhatikan kamu tampak tidak menyukai kehadiran Abah tadi, kalau tidak suka jangan begitu.” Cetus Budeh Aini dengan suara yang keras dan sudah sangat jelas kalau hal ini terdengar oleh semua orang di rumahku, sehingga membuatku merasa sangat malu.


Pandanganku yang tadinya sibuk dengan jajanan di depan mata, langsung tertuju kepada Budehku yang ucapannya sangat keterlaluan karena dirinya berbicara sambil membentak – bentak diriku. “Bisa tidak Budeh kalau suaranya dipelankan, jangan membentak – bentak begitu. Jadi tidak enak didengarnya.” Sahutku kepadanya dengan berusaha menahan emosi.


Budeh Aini langsung menunjuk – nunjuk diriku yang masih terduduk diam sedari tadi. “Anak bau kencur, sudah berani sekali kamu mengurui orang yang sudah tua. Kamu tidak menganggap diriku, kasihan sekali nasib Adikku itu mempunyai anak macam kamu.” Kata Bibik Aini yang tampak tidak memperdulikan perasaanku sama sekali.


Kutarik nafas lumayan panjang kemudian kembali berbicara kepada Bibikku barusan. “Bukannya aku mengurui Budeh, aku masih kecil dan harus banyak belajar. Tetapi aku hanya meminta tolong agar suaranya jangan terlalu keras. Coba Budeh kalau jadi aku, bagaimana perasaannya di bentak – bentak macam itu, pasti sakit hati. Tentukan Budeh.” Tuturku yang tidak mau kalah dengan Budehku barusan.


“Lihat itu, apa namanya kalau bukan mengurui. Jaga itu mulutmu, apa kamu tidak tahu kalau kamu itu penyebab kematian Adikku. Harusnya kamu disini yang meninggal bukan Adikku. Dasar anak tidak tahu bersyukur.” Kata Budeh Aini dengan suara yang bertambah keras lagi.


Bibik Ninih langsung menghampiri diriku dan menutup telingaku. “Tolong ucapannya, dia adalah ponakan kita dan dia adalah orang yang paling bersedih karena kehilangan Ibunya. Jadi mari kita lebih dewasa menanggapi semua ini dan jangan terbawa emosi.” Sahut Bibik Ninih sambil menangis terseduh – seduh.


Aku ikut menangis saat itu. “Jika memang kematian seseorang bisa ditukar seperti kata Budeh Aini barusan, aku mau ditukar. Aku mau menggantikan Ibuku bila hidup sesedih ini, toh aku juga bukan siapa – siapa yang kehadiranku akan dibutuhkan kedepannya.” Ucapku sambil terbatah – batah karena berbicara sambil menangis.


Bibik Ninih semakin memelukku dengan erat dan berusaha menenangkan diriku sekarang ini. Sepertinya orang yang paling menghargai dan peduli kepadaku sekarang hanya Bibik Ninih seorang, bukan orang lain bahkan Bapakku sendiri sebagai orang tua.


Bapak hanya terdiam memperhatikan semua yang terjadi barusan, dirinya tidak membelahku dan terus memandangku dengan tatapan emosi.

__ADS_1


“Aku balik ke kamar Bik, sepertinya kehadiranku disini hanya bisa mendatangkan pertikaian saja.” Ucapku pada Bibik Ninih dan pergi meninggalkan semua orang yang berada di ruang tamu.


Segera kubuka pintu kamarku, disana ada Adikku yang terduduk di meja belajar tanpa menoleh sedikitpun kepadaku. Diriku tidak berbicara apapun padanya, hanya memilih diam dan membaringkan badan agar bisa lebih menenangkan diriku sekarang ini.


Teng … Teng … Teng. Terdengar alarm di kamarku berbunyi dan aku segera membuka mata kemudian mulai aktivitas lebih awal, walaupun aku tahu jika semua ini tidak akan dihargai sama sekali.


Setelah selesai beraktivitas, segera aku ikut bergabung dengan keluargaku di ruang makan tetapi saat diriku datang. Entah kenapa aku merasa kalau semua orang disana langsung terdiam dan tidak bicara apapun kepadaku.


Aku langsung mengambil sarapan tanpa mengatakan apapun juga. Hanya terdengar suara piring dan lainnya yang sedang digunakan untuk makan.


“Lisa, sudah selesai. Ayo berangkat Bapak.” Ucap Adikku kepada Bapak yang langsung mengakhiri makannya secepat mungkin.


Kulihat mereka berdua pergi dari hadapanku tanpa berbicara apapun, bahkan seucap katapun tidak. Segera kualihkan pandanganku ke arah Nenek kemudian bicara padanya. “Nek, kenapa Bapak dan Adik tidak bicara apapun kepadaku sekarang?” Tanyaku.


Aku menarik nafas panjang dan kuyakini kalau perilaku ini ada hubungannya dengan kedatangan laki – laki semalam, yang berbicata entah apa. Maka segera kuakhiri sarapan hari ini karena aku merasa tidak ada selera makan sama sekali.


Kulanjutkan aktivitas di kamarku dengan mulai memberikan kembali les privat secara online karena aku hanya seorang tenaga pendidik, jadi waktu – waktu kulalui dengan mengajar walaupun uangnya tidak terlalu banyak tapi cukup jika untuk membiayai kebutuhan hidupku.


Waktu mulai berjalan detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam. Dimana semuanya kulalui untuk memintarkan generasi bangsa.


“Dek, kamu di dalam kamar?” Tanya Bibik Ninih yang tampak berkunjung hari ini ke rumahku.

__ADS_1


Segera kubuka pintu dan mengarahkan Bibik Ninih untuk duduk di tempat tidurku sekarang. “Ada apa Bik?” Tanya diriku kembali sambil mempersilahkan Bibikku untuk bicara.


“Apa pekerjaannmu sudah selesai?” Tanya Bibik Ninih kembali padaku.


Aku mengangguk sebagai tanda mengiyakan apa yang barusan Bibik Ninih tanyakan padaku. Walaupun diriku sangat meyakini kalau ini semua, bakal ada hubungan dengan pembicaraan semalam bersama laki – laki yang disebut Abah itu.


“Sudah Bik, ada yang bisa aku bantu?” Jawabku pada Bibik Ninih barusan.


Bibik Ninih menarik nafas lumayan lama kemudian kembali berbicara padaku. “Kamu pasti sudah tahu terkait apa yang terjadi semalam dan arah pembicaraannya. Jadi, sepeninggal dirimu dari ruang tamu dan pergi ke kamar. Ada beberapa hal yang kami diskusikan terkait beberapa yang dibicarakan Abah semalam.”


“Bagaimana keputusan keluarga Bik?” Tanyaku sambil berusaha menahan rasa sedih.


“Menyelesaikan semuanya tetapi tidak membalas nyawa dengan nyawa. Hanya saja, Kakakku atau Bapakmu mulai berfikir negatif terkait perbuatanmu. Dek, seandainya kamu harus keluar dari rumah ini dan membiarkan semuanya tenang terlebih dahulu. Bagaimana? Hanya untuk sementara waktu Dek.” Tanya Bibik Ninih kepadaku. Dimana ucapan Bibik Ninih sekarang ini, bagaikan pengusiran yang terjadi padaku setelah sepeninggalan Ibuku.


“Maksud Bibik, kalau aku harus pergi dari rumah ini.” Cetusku yang menegaskan kepada Bibikku barusan.


Bibik Ninih mengangguk kepadaku. “Jika itu memang yang terbaik, aku harus bagaimana lagi. Toh, rumah ini juga bukan milikku. Jadi mau aku disuruh keluar dari rumah ini, sah – sah saja.” Tuturku dengan suara pelan.


Bibik Ninih hanya terdiam melihatku, kuteteskan air mataku dan segera kubuka lemariku dengan menyiapkan beberapa baju untuk kubawah pergi. “Apakah baju ini masih berhak kubawa?” Tanyaku pelan.


“Bawa saja Dek.” Jawab Bibik Ninih.

__ADS_1


Kusiapkan semua barang - barangku sekarang juga, hampir dua koper besar yang berisi baju dan segala kebutuhanku lainnya. “Dek, bukan sekarang kamu harus pergi. Kamu harus menyiapkan semuanya dulu, baru pergi dari sini.” Ucap Bibik Ninih sambil memegang kedua koperku.


“Mau sekarang atau besok, ujung – ujungnya aku harus pergikan. Kalau memang kehadiranku adalah masalah besar disini, maka alangkah lebih baik jika aku pergi sekarang juga.” Cetusku sambil menarik dua koper ke luar kamarku.


__ADS_2