
Pengambilan keputusan seorang diri untukku, bukanlah hal yang akan aku terimakasihkan padanya. Aku lebih suka untuk berdiskusi dan mencari solusi bersama atas apa yang akan dilakukan, memadukan pemikiran kemudian memperoleh keputusan terbaik. Hal itu lebih berharga bagiku dan jauh lebih baik.
Mas Anton memegang kepalanya kemudian kembali memandangku. “Terus maumu bagaimana Dek? Mas harus bagaimana?” Tanya Mas Anton padaku.
“Mari kita diskusikan bersama – sama Mas, apalagi hal ini menyangkut kehidupanku dan bukan hidupmu.” Jawabku yang sedikit emosi pada tunanganku barusan.
Mas Anton menarik nafas seraya berucap padaku. “Iya Dek, ayo kita diskusikan. Maumu tadi cari kos, ada pandangan mau kos dimana? Kamu perempuan Dek, rawan sekali. Mas hanya mengkhawatirkan kondisimu saja.”
“Adek sudah besar Mas, insyallah bisa menjaga diri. Doakan saja yang terbaik untuk Adek.” Cetusku tanpa memandang tunanganku barusan.
Kubuka buku di mejaku dan kulihat catatan keuangan selama ini, satu per satu kuperhatikan pengeluaran yang sudah kukeluarkan dan uang yang ada di tabungan. Mulai dari uang tabungan, dana darurat dan uang modal yang kumiliki.
“Lumayan untuk mencukupi kebutuhanku selama tiga bulan ke depan, uangnya.” Kataku di dalam hati sambil tangan ini tetap menghitung angka – angka di atas kertas. Satu demi satu angka sudah kuhitung sampai akhirnya ada suara sedikit membentak dari arah depanku.
“Dek ….” Panggil Mas Anton dengan tangannya yang berada tepat di depan mukaku.
Aku tersenyum sebentar karena malu, sedikit melamun di depan Mas Anton. “Iya Mas Anton, maaf sedikit melamun.” Sahutku barusan.
“Banyak pikiran ya Dek. Ayo, Mas bantu Dek. Jangan anggap ini hanya masalahmu karena masalah Adik adalah masalah Mas juga.” Cetus Mas Anton yang membuatku tersenyum sendiri di depannya.
“Kalau mencari tempat kos, harus yang aman dan nyaman ya Dek. Nanti carinya harus sama Mas, di belakang pondok ada beberapa tempat kos yang Mas kenal pemiliknya. Mau coba lihat disana?” Tanya Mas Anton kepadaku.
Aku mengangguk – angguk sebagai tanda setuju atas apa yang barusan diusulkan oleh tunanganku barusan. “Oh, iya Mas. Kisaran disana berapa perbulannya? Aku butuh untuk memperhitungkan pengeluaranku setiap bulannya juga.” Jawabku sambil memain – mainkan bulpen di tanganku.
Mas Anton tampak berfikir sejenak dan tampak mengingat – ingat dari apa yang barusan aku tanyakan, kutatap wajahnya yang sangat rupawan. Mata yang sangat jernih, hidung yang mancung dan kulitnya yang putih. Sangat sempurna di mataku, sosok yang berada di hadapanku sekarang ini dan sungguh beruntungnya diriku bisa menjadi tunanngannya.
“Mungkin tiga ratus ribu sebulan Dek, kisaran di harga itu kalau naik. Nanti kita tanyakan sekalian biar pasti, terus budgetmu perbulan berapa Dek? Nanti kalau kurang, biar Mas yang menambah, jangan khawatir.” Ucap Mas Anton sambil senyum manis dihadapanku.
__ADS_1
Aku tersenyum ketika ditanya budgetku sekarang ini, karena prinsipku saat ini adalah berhemat sehemat – hematnya karena insiden yang tidak kuperhitungkan sama sekali menjadi batu besar bagi hidupku sekarang. Kulihat kembali catatan yang aku buat tadi dan kuamati detailnya.
“Insyallah, tiga ratus ribu masih masuk ke dalam budgetku Mas.” Cetusku sambil menunjukkan catatan kepada Mas Anton yang berada tepat di depanku.
Mas Anton tersenyum sendiri melihat beberapa lembar catatan yang aku buat di bukuku. “Detail sekali ya Dek, kamu memang is the best. Memang bendahara di keluarga kita nantinya, terbaik.” Ucap Mas Anton sambil menggodaku sedari tadi.
“Mas ini, sukanya godain Adik terus.” Sahutku sambil menarik bukuku.
Suara tertawa keras, tiba – tiba terdengar dari arah depanku dan siapa lagi yang bisa sekeras itu tertawa? Kalau bukan Mas Anton yang senang sekali menggodaku sedari dulu kita kuliah.
“Sekali – kali tidak apa – apa Dek, terus untuk kehidupanmu selanjutnya bagaimana? Apa ada agenda baru yang mau kamu lakukan?” Tanya Mas Anton padaku dengan wajahnya yang tiba – tiba menjadi sangat serius.
Aku terdiam sebentar mendengarkan pertanyaan tersebut karena diriku biasanya bersantai atau bercanda gurau dengan keluargaku jika ada waktu kosong tapi sekarang, pasti sangat susah untuk melakukannya. Akan ada ruang kosong dalam kehidupanku selanjutnya, aku tidak pernah memikirkan untuk kehilangan keluarga tercinta.
“Entah Mas, belum terfikir sedikitpun dibenakku. Selanjutnya, hidupku harus bagaimana?” Jawabku singkat kepada Mas Anton.
“Siap Bos.” Sahutku sambil mengacungkan jempol kepadanya.
Kunikmati camilan di depanku dan mulai berfikir pelan – pelan tentang kehidupanku selanjutnya, walaupun masih ada rasa sedih di dalam hati karena baru saja ditinggalkan Ibu, seorang yang sangat berharga dalam kehidupanku. Namun, diri ini harus bisa tegar dan kuat dalam menghadapi segalanya. Apalagi keluargaku yang malah dimanfaatkan orang tidak bertanggung jawab karena kondisi kami yang berduka sekarang.
Waktu sudah berlalu satu jam lebih dan kondisiku sudah jauh membaik jika dibandingkan dengan sebelumnya. “Mas, ayo kita cari tempatnya sekarang.” Ucapku pada Mas Anton.
“Iya, ayo.” Sahut Mas Anton yang menimpali.
Ketika aku beres – beres barangku untuk pergi dari café dan melihat calon tempat tinggl baruku, tiba – tiba dari arah belakang ada seseorang yang memanggilku.
“Lianah.” Panggil seorang wanita yang belum kuketahui siapa dia.
__ADS_1
Segera aku menoleh ke arah belakang dan mengingat – ingat sosok yang sudah berada di depanku dengan senyum lebar di wajahnya.
“Kamu lupa sama aku?” Sahut wanita itu yang tidak langsung kutanggapi panggilannya barusan.
Senyum di wajahku seketika muncul, ketika mengingat di depanku adalah wanita yang merupakan teman kecilku dari MTS sampai MA dan di pondok dulu. “Ya Allah kamu Nduk, gimana kabarmu sekarang?” Sahutku yang langsung berdiri dan memeluknya.
“Baik Lianah, alhamdulillah kamu masih ingat aku. Kalau kamu sendiri bagaimana?” Tanya temanku yang selalu aku panggil Nduk sejak dulu.
“Alhamdulillah kabarku baik – baik saja, kamu sama siapa kesini?” Sahutku pada temanku yang terlihat datang seorang diri.
Nduk tersenyum mendengar pertanyaanku barusan. “Sekarang kalau kemana – mana selalu sendiri Li.” Tutur Nduk dengan nada suara yang pelan.
“Aku dengar kamu sudah menikah, suamimu kerja ya makanya kemana – mana sendiri.” Candaku padanya yang tiba – tiba sangat lesuh.
“Suamiku sudah lama meninggal.” Sahut Nduk yang membuatku langsung terdiam karena merasa bersalah dengan apa yang barusan aku ucapkan padanya.
Kuajak Nduk duduk di sampingku. “Maaf ya, aku tidak tahu kalau suamimu meninggal. Aku turut berduka.” Kataku pada Nduk sambil memegang tangannya.
“Tidak apa – apa Li, kamu sama suamimu ya ini?” Tanya Nduk padaku.
Aku melihat Mas Anton yang berada di depanku.”Laki – laki di depanku ini calon suamiku tepatnya tunanganku Nduk.”
“Waduh, ganggu ya saya.” Cetus Nduk sambil menutup mulutnya.
“Tidak Nduk, santai saja. Kami mau cari kos buat tempat tinggalku nantinya, biar lebih konsen kerjanya.” Kataku pada Nduk biar tidak berfikir kami sedang kencan dan keberadaanya bisa menganggu.
“Kamu mau cari kos Li? Tinggal di kontrakanku saja, aku seorang diri disana. Kalau kamu dari arah café ini, lurus terus belok kanan dan ada rumah warna hijau.. Itu tempat tinggalku, belakang pondok putri disini.” Ucap Nduk yang menawariku tempat tinggal.
__ADS_1
Aku dan Mas Anton saling bertatapan memberikan sinyal agar memberikan tanggapan atas tawaran temanku barusan.