Tak Kau Anggap Diriku

Tak Kau Anggap Diriku
7. SOREKU


__ADS_3

Waktu berjalan begitu lama, diriku hanya bisa memejamkan mata walaupun semua pembicaraan terdengar sangat jelas sampai di kamarku. Kupalingkan badanku ke kanan agar bisa tertidur meskipun hanya sebentar, tetapi beberapa menit kemudian kupalingkan kembali badanku ke kiri agar badan ini bisa untuk istirahat karena sudah cukup lama diriku kurang istirahat.


Tapi hasilnya nihil dan tidak ada hasil sama sekali, tubuh ini tidak mau diajak istirahat sebab selalu ada bayangan yang mengingatkanku pada kenangan bersama Ibu selama ini, semuanya muncul satu per satu tanpa bisa kupupus sedikitpun dalam hati ini. Kembali kututup wajahku dengan selimut merahku, aku berusaha mempelankan suaraku yang sedang menangis tanpa diketahui siapapun, mungkin dengan menangis bisa mengurangi sedikit beban yang mengganjal di dalam hati. Namun, suara tangisan ini berusaha kupelankan bahkan tidak mengeluarkan suara dengan menutup mulutku agar Adikku yang tidur di sebelah tidak mengetahuinya, sebab tidak ada niatan dalam diriku untuk menunjukkan rasa sedihku pada siapapun terutama anggota keluarga.


Segera aku bangun dari tidurku dan membuka laptop untuk menyibukkan pikiranku agar jauh dari kata sedih dan terpuruk. Kubuka beberapa artikel di depan mata dengan login memakai akunku, segera kucek satu per satu plagiasi tulisan disana karena tugasku sebagai editor in chef di salah satu jurnal milik kampus sehingga membuatku bisa mengerjakan tugas yang nantinya harus selesai karena harus publish sesuai tanggal yang ditentukan.


Satu demi satu akun yang mengirim artikel untuk bisa publish mulai kubalas untuk melakukan revisi baik minor atau mayor dan ada juga yang langsung diteruskan ke reviewer. Semuanya kukerjakan saat itu juga sampai penugasan buat editor di jurnalku. Entah sudah berapa lama diriku asyik dengan laptop di depanku dan semua tugas yang di depan mata sampai ada suara pelan dari arah belakangku.


“Kak, jadi ke makam Ibu?” Tanya Adikku yang menyadarkan diriku dari kesibukan di depan mata.


Aku langsung melihat ke arah Adikku tersayang sambil memaksakan senyum kecil di wajahku saat ini. “Tentu saja jadi Dek, sekarang kamu siap – siap saja dulu. Setelah itu baru Kakak ya, ini Kakak masih mengerjakan tugas dari kampus.”


Adikku mengangguk dan langsung berdiri kemudian mengambil handuk untuk dirinya bersiap sedangkan diriku kembali disibukkan dengan tugas di laptop yang berada di depanku sekarang ini. Setelah, Adikku dan diriku bersiap maka kami pergi ke makam tanpa mengajak siapapun untuk ikut.


Sesampainya disana kami secara bersamaan memberikan salam kepada para penghuni di kuburan desa kami. “Assalamualaikum ya ahli kubur.” Ucap kami yang tentunya tidak mendapatkan balasan atau mungkin di balas tapi kami tidak bisa mendengarnya.


Segera aku dan Adikku berjalan menuju makam Ibu kami, disana seperti biasanya kami mulai membacakan yasin dan tahlil. Tentunya aku pimpin Adikku untuk mendoakan Ibu yang sudah pergi meninggalkan kami secara jasadnya tetapi diriku yakin kalau Ibu selalu bersama kami kapanpun serta dimanapun.

__ADS_1


Setelah berdoa, kulihat Adikku menundukkan wajahnya dan melihat makam Ibu tanpa berbicara sepata katapun. Mungkin ada rasa penyesalan yang mendalam pada benak Adikku karena tidak bisa berada di sisi Ibuku untuk terakhir kalinya.


Adikku terdiam tanpa kata dan pandangannya terlihat kosong menatap makam Ibuku dengan air mata yang pelan – pelan semakin deras membasahi wajahnya yang begitu mulus. Tanpa ada arahan, kupeluk Adikku dan kuusap pundaknya agar dia bisa lebih sedikit tenang.


“Kita doakan agar Ibu lebih bahagia disana ya Dek.” Ucapku pelan di dekat telinganya.


Adikku hanya terdiam sambil melihatku, kami disana lumayan lama dan tanpa ada pembicaraan tapi hanya sekedar menenangkan diri di samping makam Ibuku agar hati kami bisa sedikit tenang.


Iya, hanya sedikit tenang tapi belum bisa mengurangi kesedihan saat ini apalagi sosok Bapak yang harusnya bisa menguatkan kami sekarang malah lebih terpuruk dan tidak berbicara padaku sama sekali setelah Ibu meninggal. Aku merasa hanya berdua dengan Adikku dalam menghadapi semua kesedihan kami, kurasa tidak ada yang paling tahu dan bisa mengerti bagaimana perasaanku ini.


“Assalamualaikum wr. Wb.” Salamku dan Adikku ketika sampai di depan rumah


Beberapa orang melihat kami dan menjawab salam barusan. “Waalaikum salam wr. Wb.”


“Masuk ke kamar saja Dek, biar Kakak disini yang menemui para tamu.” Ucapku pada Adikku agar langsung menuju kamarnya.


“Bapak dan Ibu dosen, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah.” Cetusku sambil memberikan air mineral kepada para tamu yang datang.

__ADS_1


Mereka semua berusaha menunjukkan senyum tipis di depanku karena melihat kondisiku sekarang ini. “Bu, yang sabar ya. Kami semua ikut berduka atas meninggalnya orang tua Anda, insyallah beliau adalah orang yang baik. Semoga segala amal ibadahnya diterima, segala dosanya diampuni, meninggal dalam keadaan khusnul khotimah, dan yang ditinggalkan juga tabah menghadapi semua cobaan ini.” Tutur salah satu rekan kerjaku di kampus yang mewakili semua orang.


“Aamiin.” Jawab kami secara serempak.


Salah satu teman dosenku datang menghampiriku yang duduk di pojokan. “Bu, sakit apa Ibunya?” Tanyanya dengan nada suara yang pelan.


Kutarik nafas lumayan panjang dan kupandang wajah temanku tersebut. “Beliau komplikasi Bu.” Jawabku singkat sambil menahan rasa sakit yang sudah kurasakan.


“Sabar ya Bu, insyallah Ibu Anda lebih bahagia di sisi Allah dan jika dibandingkan tinggal di dunia ini yang menyebabkan Ibu Bu Lianah sakit maka Allah lebih memilih mengajaknya. Allah lebih sayang pada orang tuamu Bu, sekali lagi Bu. Sabar.” Ucapnya yang berusaha menghiburku yang bersedih ini.


Kutahan tangisanku ini tapi air mata tetap saja mengalir tanpa bisa kubendung sekarang ini, seolah – olah bendungan yang kubangun dengan kokoh sudah jebol dan tidak bisa menahan volume air di dalamnya. “Menangis saja Bu, tidak apa – apa. Itu lebih baik jika dibandingkan Ibu menahan semuanya sendiri.” Tuturnya sambil memelukku saat itu.


Setelah tangisan yang sudah jebol ini berlalu, kutunjukkan senyum tipis yang menghiasi wajahku sehingga teman – teman di kampus tidak bersedih melihat kondisiku yang memang sudah terpuruk. “Silahkan diminum dan dinikmati cemilannya Bapak dan Ibu, maaf seadanya.” Tuturku dengan suara yang parau karena menangis sejak tadi.


Memang dalam kehidupan ini semua akan kembali pada sang pencipta, tidak ada satupun terkecuali di dunia ini. Termasuk kita semua akan tetap menghadap sang kholiq dan hanya menunggu gilirannya saja.


Kali ini, memang ada rasa kesedihan dalam hati Lianah sebagai seorang anak yang ditinggalkan Ibunya walaupun dirinya tahu kalau semua ini sudah takdir Tuhan. Ikhlas tapi belum bisa melupakan sosok Ibu yang sangat berjasa dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2