Tak Kau Anggap Diriku

Tak Kau Anggap Diriku
14. SEDIKIT CURIGA


__ADS_3

“Lagi seru ini sepertinya.” Cetus Mas Anton yang tiba di ruang tamu Nduk, sambil menunjukkan kedua koperku yang sudah di bawanya.


Mas Anton mulai membuka jaket yang ia kenakan, agar gerak tubuhnya lebih leluasa. Ia mulai bersiap untuk membongkar koper milik Lianah. Tetapi, tiba – tiba tangannya dipegang Lianah.


“Biarkan saja Mas, biar Adek yang membereskan semuanya sendiri.” Ucap Lianah dengan suara yang lirih.


Mas Anton mulai mendengus mendengarkan ucapan dari tunangannya tersebut. “Dek, kasihan kamu nanti kecapekan. Mas, tidak apa – apa membantu kamu.”


“Tidak apa – apa Mas. Aku bisa, tidak capek sama sekali, Adek masih kuat membereskan semuanya.” Cetus Lianah sambil menatap wajah Mas Anton penuh dengan kasih sayang.


“Ya sudah, kalau mau Adek seperti ini. Mas izinkan tapi lain kali harus dikerjakan bersama – sama, jangan sendiri - sendiri.” Pinta Mas Anton meskipun dirinya menerima keputusan tunangannya tersebut.


Langkah perlahan Lianah untuk membereskan semua barang – barang di kopernya, tidak memperdulikan kondisi yang ada dalam benaknya yang masih berkecamuk sampai detik ini. Sementara dirinya sedang sibuk dengan semuanya, tunangan dan temannya mulai bercakap kemudian mencairkan suasana.


Lianah mulai disibukkan dengan semua barang – barang miliknya, satu per satu mulai di tata rapi di kamar yang akan dipakainya setelah ini. Semua aktivitas yang membuatnya harus konsentrasi ini sehingga mengabaikan pembicaraan yang terjadi antara kedua orang di ruang tamu.


“Ssssh, Udah ya, Nduk.” Ucap Mas Anton dengan suara lirih, hal ini membuat diriku yang berkonsentrasi menata barang, langsung menghentikan aktivitas karena heran mendengarkan ucapan tersebut.


“Apa yang mereka bicarakan di depan?” Ucapku seorang diri karena aneh mendengarkan ucapan tunanganku, seumur – umur kenal dirinya, tidak ada sekalipun mendengar ucapan seperti itu dari mulutnya.


Kutarik nafas panjang. “Sudah Lianah, dia bukan laki – laki yang mata keranjang, apalagi Nduk adalah sahabatku sendiri. Ini tidak mungkin.” Seruku di dalam hati kemudian kembali menata semua baju ini.


Tok … Tok … Tok. Terdengar suara pintu kamarku diketok oleh seseorang, kemungkinan sahabat atau tunanganku di depan.


“Iya, masuk saja.” Teriakku dari dalam.


Nduk masuk ke dalam kamar, kemudian duduk di tepi kasur. “Li, itu kata tunanganmu barusan, mau pulang.” Kata Nduk padaku.

__ADS_1


Kuangkat alisku mendengar hal tersebut. “Bagaimana bisa? Tumben sekali tidak langsung bicara padaku.” Ucapku yang keheranan dan langsung keluar kamar menghampiri tunanganku.


“Mas ….” Panggilku pelan.


Mas Anton tersenyum padaku, wajahnya yang berkeringat dan tangannya yang diremas – remas membuatku berfikir ada hal kurang benar disini tapi aku tidak tahu apa itu. “Mau pulang? Tumben tidak bicara langsung sama Adek?” Tanyaku padanya dengan menatap wajahnya yang penuh kebingungan.


“Tidak apa – apa Dek.” Jawab Mas Anton padaku.


“Iya tu Li, tunanganmu buru – buru sekali. Ngobrol dulu, kan enak.” Sahut Nduk dari arah belakangku.


Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan apa yang diucapkan sahabatku barusan, ada perasaan tidak enak mendengarnya. “Iya Mas, disini dulu saja.”


Mas Anton menatapku kembali seraya berkata. “Tidak Dek, sekarang Mas mau pulang dulu.”


“Ada urusan penting ya?” Tanyaku kembali padanya.


“Tidak juga Dek.” Jawab Mas Anton dengan singkatnya, tanpa menatapku dan hanya melihat ke arah teh di depannya.


Aku terdiam mendengarkan ucapan sahabatku ini, perasaan baru tadi ngobrol tapi sudah seakrab ini. Bahkan Mas Anton mengiyakan apa yang diminta orang lain jika dibandingkan dengan diriku, tunangannya. Tapi mungkin ini awal yang baik agar aku bisa tinggal disini dengan nyaman.


“Dek, masih belum selesai beres – beresnya?” Tanya Mas Anton kepadaku, yang tidak merespon apapun setelah Nduk bicara tadi.


“Dikerjakan nanti saja.” Jawabku tanpa sedikitpun ada ekspresi di wajahku.


Tampak Mas Anton melihat ke arah kanan dan sesekali ke kiri, terlihat tidak berani menatapku sekarang ini. Biasanya hal tersebut dilakukan Mas Anton saat melakukan kesalahan atau kekeliruhan padaku tapi sekarang apa yang sudah dilakukan Mas Anton.


Diam, kali ini tidak ada pembicaraan di antara kami, terasa begitu canggung antara satu dengan yang lainnya, hampir lima menit waktu berlalu. “Mungkin ini hanya pemikiranku yang terlalu sensitif karena kondisiku sekarang, tapi sikap Mas Anton aneh sekali. Cuman, Nduk adalah sahabat baikku jadi tidak akan ada yang aneh.” Kataku dalam hati untuk memberikan ketenangan diri.

__ADS_1


“Diem – dieman semua.” Cetusku yang berusaha mencairkan suasana sekarang.


Nduk langsung tersenyum kemudian kembali berbicara. “Iya nih, canggung banget. Ayo makan sekarang yuk, aku sudah masak dari tadi pagi.”


“Boleh ni dicoba, biasanya kalau orang cantik, masakannya pasti enak.” Kata Mas Anton yang membuatku langsung menatapnya.


“Pasti bercanda itu, buat kamu cemburu Li. Tunanganmu ini lucu kali.” Sahut Nduk yang membuatku memberikan senyum kecil padanya.


Kutatap wajah Mas Anton yang tersenyum sendiri kemudian berkata padaku. “Memang tunanganku yang satu ini paling cantik kalau dijahilin.”


Tak kuhiraukan ucapan Mas Anton barusan, aku merasa sangat kesal dengan apa yang barusan dirinya bercandakan. Kami akhirnya makan dan menikmati hidangan yang disiapkan Nduk, walaupun rasanya terlalu asin dimulutku tapi aku berusaha memakannya sampai habis sebagai bentuk penghormatanku padanya.


“Makananya enak Nduk.” Kataku setelah memakan semuanya.


“Kamu juga belajar masak Li, biar bisa seperti ini enaknya. Tapi kalau mau konsen kependidikan dulu, ya tidak masalah. Nanti aku beli di luar saja.” Cetus Mas Anton sambil menikmati masakan buatan sahabatku.


Kulihat wajahnya dengan tatapan sinis karena tidak suka dengan pembicarannya barusan, entah kenapa hari ini Mas Anton sangat menyebalkan dan tidak seperti biasanya.


“Kalau aku pasti tiap hari masak buat suamiku, apapun yang dia mau. Biar kenyang di dalam dan tidak keluar rumah makannya, tapi sayang sekali suamiku.” Kata Nduk barusan.


“Sayang kenapa suaminya?” Tanya Mas Anton yang amat peduli dengan curhatan sahabatku barusan.


Nduk tersenyum dan menatap wajah tunanganku ini, tanpa memperdulikan kehadiranku yang bisa saja cemburu melihat semua ini. “Suamiku selingkuh Mas, sepertinya aku masih kurang memuaskan.” Jawab Nduk tanpa malu sama sekali.


“Bukan meninggal tapi cerai hidup.” Kataku yang menegaskan dan tidak suka dengan sikap Nduk, menurutku sikapnya jauh berbeda dengan Nduk yang dulu.


“Cerai sebenarnya, cuma aku malu kalau ditanya orang – orang. Kaliankan sudah seperti saudaraku sendiri, apapun akan kuceritakan dengan jujur.” Sahut Nduk pada kami.

__ADS_1


Mas Anton langsung minum teh hangat, padahal dimulutnya masih penuh dengan makanan. “Betul itu, kalau ada apa – apa. Langsung hubungi kami saja, apapun masalahmu maka akan kami bantu selesaikan. Jangan sungkan sama aku, anggap saja Kakak sendiri Dek Nduk.” Tutur Mas Anton yang membuatku langsung terbakar rasa cemburu mendengarnya.


“Dek.” Kataku menegaskan kembali perkataan Mas Anton barusan.


__ADS_2