
Pagi yang indah kembali menyapa. Setelah malam yang membuat jantung Riana terus bergetar dengan keisengan suaminya, kini pagi yang manis tidak kalah mendebarkan dari semalam, kembali menyapanya.
"Ada apa? Kok dari tadi Ibu liat kamu ngelamun terus?" Tanya Rianti menyadarkan Riana dari lamunan. Kean dan Fikri yang sedang asik mengobral di depan meja pun ikut menoleh, menatap wajah cantik berbalut hijab yang kini sudah kembali merona.
"Nggak kok, Bu. Nana baik-baik aja." Jawab Riana terbata. Tatapan Fikri yang terlihat begitu khawatir, membuat jantungnya semakin berdebar tidak karuan.
"Kamu nih, kayak ga tahu aja pengantin baru kayak gimana." Kean menimpali, membuat wajah cantik putrinya semakin memerah.
Sedangkan Fikri sudah tersenyum geli dengan tingkah menggemaskan gadis di sampingnya ini. Padahal semalam tidak ada yang terjadi di antara mereka, namun, Riana terlihat salah tingkah. Entah kemana perginya wajah judes istrinya ini.
"Ayah titip Nana ya, Nak. Jangan bosan-bosan dengan keras kepala nya." Ujar Kean membuat Riana cemberut.
"Semua kepala juga keras, Yah. Kepala Mas Fikri juga keras kok." Riana mengangkat tangannya lalu mengetuk kepala Fikri berulang kali, membuat sepasang suami istri paruh baya di hadapannya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Ini tuh suami kamu. Menghormatinya wajib!" Tegas Kean.
Riana kembali cemberut, sedangkan Fikri tertawa geli dengan kelakuan Riana. Ia mengangkat tangannya lalu mengusap lembut puncak kepala istrinya yang tertutup hijab itu.
"Ayah, Ibu, sepertinya kami harus pergi." Fikri melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kita mau kemana?" Tanya Riana.
"Kejutan." Jawab Fikri.
__ADS_1
Kean dan Rianti yang sudah tahu tempat yang di sediakan oleh menantu mereka ini untuk bulan madu, hanya tersenyum kemudian mengangguk.
'Hati-hati ya, Fik. Selama di sana, ga usah mikirin pekerjaan. Gunakan waktu sebulan ini untuk membuat sesuatu yang kami harapkan. Setelah kembali, kamu harus fokus untuk menambah tanggung jawab dari Ibu." Ujar Rianti.
Fikri mengangguk mengerti.
Setelah memastikan mobil yang akan membawa dirinya dan Riana sudah menunggu di pelataran hotel, keempat orang itu beranjak dari atas tempat duduk dan keluar dari ruangan itu menuju lobi hotel. Fikri menggenggam tangan Riana, dan melangkah menuju pelataran hotel diikuti kedua mertuanya.
****
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Riana mengelilingi salah satu Bandara yang ada di daerah paling Timur di Indonesia dengan netranya.
Beberapa saat kemudian, Fikri kembali menggenggam tangan Riana lalu membawa istrinya itu menuju helikopter yang sudah tersedia di Bandara itu.
"Apa aku akan menjadi seorang tawanan selama satu bulan?" Tanya Riana, membuat Fikri tertawa.
"Sepertinya konsep bulan madu ala psikopat tidak terlalu buruk." Jawab Fikri membuat Riana membulatkan matanya.
"Awas aja kalau berani ngasarin aku!" Ancam Riana.
"Kita lihat nanti seberapa beraninya kamu." Ujar Fikri masih terus menggoda Riana. Sepertinya ia sudah menemukan kesukaan yang baru, yaitu membuat istri cantiknya ini kesal.
"Aku yang akan menjadi psikopatnya." Kesal Riana.
__ADS_1
"Aku jadi pengen cium kamu di sini, tapi takut abang pilotnya baper." Bisik Fikri.
"Maaf ya, Pak, Bu. Mohon gunakan ini agar bisa nyaman saat penerbangan." Seorang laki-laki yang bertugas membawa mereka menuju villa, memberikan dua alat yang wajib dikenakan saat mengudara dengan helikopter.
"Tuh kan, Sayang. Dia cemburu." Bisik Fikri lagi membuat Riana mendelik.
Suaminya benar-benar sudah berubah menjadi aneh. Entah kemana perginya sikap dingin yang mengesalkan selama beberapa hari sebelum pernikahan mereka.
Setelah memastikan Fikri dan Riana sudah duduk dengan nyaman, Helikopter itu pun mulai mengudara.
Selama perjalanan menuju tempat yang sudah disiapkan Fikri sejak lama sebelum pernikahan mereka, Riana tak melepaskan pandangannya dari pemandangan indah yang di suguhkan di bawah sana.
Senyum manis juga binar bahagia, nampak terlihat di wajahnya, membuat Fikri ikut tersenyum. Tangannya terulur, dan kembali membawa jemari Riana ke dalam genggamannya.
"Indah.." Kalimat isyarat itu terlihat di bibir Riana. Dan Fikri mengangguk bersama senyum hangat.
Ini masih belum seberapa dengan keindahan yang sudah ia siapkan untuk Riana. Selama satu bulan ini, ia akan memastikan sendiri hanya akan keindahan di dalam hidup keduanya. Meskipun nanti, ia tidak bisa memastikan hanya akan ada keindahan di dalam rumah tangga mereka, namun, yang pasti ia akan berusaha sekuat mungkin untuk selalu memberikan kehidupan yang baik untuk gadis yang kini terus tersenyum bahagia di sampingnya.
Riana adalah amanah terindah yang di titipkan padanya. Tanggung jawab yang akan ia jaga sepenuh hati hingga di akhir hidupnya nanti.
Tidak membutuhkan waktu lama, kini helikopter yang sedang membawa mereka mulai mendarat di tempat pendaratan khusus. Riana semakin terpana dengan pemandangan indah di pulau itu. Satu buah Villa yang cukup mewah, membuatnya terkesima.
Bagaimana cara pemilik membangun villa semegah ini di tengah-tengah pulau terpencil seperti ini? Ya Tuhan, selama ini dia kemana saja. Ia bahkan tidak percaya ada pulau indah seperti ini di negara yang ia tinggali selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
__ADS_1