Takdir Cinta Riana

Takdir Cinta Riana
Bab 16. Bagaikan Ditelan Bumi


__ADS_3

Empat hari telah berlalu setelah kejadian penculikan itu. Zahra masih belum membuka matanya, beruntung kondisi kesehatannya mulai membaik. Di dalam ruangan tempat Zahra dirawat, Riyan menatap bayi kecil yang terlihat begitu tenang dalam lelapnya. Sesekali bayi yang terlihat begitu menggemaskan dan cantik itu, menggeliat pelan.


"Apa yang harus aku lakukan, Bu?" Tanya Riyan pada wanita yang kini sedang berdiri di sampingnya.


"Apalagi? Tentu saja kita harus merawat dan membesarkan bayi ini dengan baik. hanya dengan itu, kita tidak akan merasa malu meminta pada Allah untuk selalu menjaga dan melindungi putramu di manapun berada." Jawab Eliana yakin.


"Bukan masalah itu, Bu. Bagaimana aku menceritakan hal ini pada Zahra. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan padanya tentang bayi ini." Ujar Riyan.


"Zahra tumbuh di sekeliling orang-orang yang bukan darah dagingnya. Ayah yakin dia akan menyayangi bayi ini seperti menyayangi anaknya sendiri." Kenan menimpali pembicaraan. Laki-laki itu lalu menoleh menatap ke arah ranjang di mana menantunya sedang terbaring tak sadarkan diri.


"Assalamualaikum."


"Waalikumssalam." Jawab Kenan dan Eliana bersamaan.


Sepasang suami istri itu lalu menoleh ke arah pintu, dan mendapati Kean serta keluarga kecilnya sudah berada di ambang pintu kamar perawatan Zahra.


"Loh kok Nana ada disini. Bukannya sedang berbulan madu?" Tanya Eliana sambil melangkah menuju empat orang yang masih berdiri di ambang pintu.


"Bulan madunya masih bisa direncanakan lain waktu, Aunty." Jawab Riana. Wanita itu melangkah masuk dan mendekat ke arah Eliana, kemudian menyalami punggung tangan adik ayahnya itu.


"Kabar duka ini sudah mengganggu honeymoon kalian ya." Ucap Eliana sendu.


"Ga sama sekali Tante." Jawab Fikri. Laki-laki itu pun melakukan hal yang sama seperti di lakukan istrinya. Menyalami punggung tangan sepasang suami istri paruh baya yang ada di dalam ruang rawat itu, takzim.


"Terimakasih ya, Nak." Ucap Eliana.


Riana dan Fikri mengangguk bersamaan.


Setelah menyalami punggung tangan Eliana dan Kenan , sepasang pengantin baru itu lantas melangkah menuju samping ranjang di mana Zahra sedang terbaring dan belum sadarkan diri.


Riana mengulurkan tangannya, lalu menggenggam tangan Zahra yang masih terpasang selang infus, lalu mengusapnya lembut.

__ADS_1


"Bahkan gadis sebaik dan sepatuh kamu pun, masih diberikan ujian sebesar ini. Bagaimana dengan ku, Ra?" Gumam Riana seakan hendak bertanya pada wanita yang masih menutup mata di hadapannya ini.


Fikri yang juga ada di situ, segera menarik tubuh Riana dan mendekapnya dari samping.


"Sejatinya, Allah tidak akan salah memilih untuk memberikan takaran ujian pada umat-Nya. Jika pun nanti kita diberi ujian yang berat, itu berarti kita mampu melewatinya. Begitupun yang sedang dialami Zahra dan Riyan saat ini. Mereka adalah orang yang terpilih, karena Allah yakin mereka kuat menjalani ini semua. Jika Allah yakin akan kekuatan umat-Nya, mengapa kita harus ragu?" Jelas Fikri.


Riana mengangguk mengerti, walau di dalam hatinya ia tetap merasa sedih atas apa yang tengah menimpa adik sepupunya ini. Ia lalu melangkah menuju box bayi yang juga berada di dalam kamar itu.


"Aku tahu kamu kuat, dan pasti bisa melewatinya. Segeralah pulih, kamu punya tanggung jawab untuk membesarkan seorang bayi yang tak berdosa, agar kelak di manapun putra mu berada, akaan senantiasa dirawat oleh Allah." Ujar Fikri setelah Riana sudah tiba di samping box bayi.


Tidak lama Fikri berdiri di samping ranjang Zahra, ia lalu melangkah menuju sofa yang ada di dalam ruangan itu dan bergabung bersama Riyan dan dua laki-laki paruh aya lainnya.


***


"Sudah sampai mana pencarian wanita itu?" Tanya Kean pada keponakannya.


Riyan menggeleng.


Kenan memijit keningnya. Setelah berpuluh-puluh tahun, ini pertama kalinya ia kesulitan menemukan seseorang.


Di hadapan Kenan, Kean menarik nafas yang terasa begitu berat.


"Apa kita tidak perlu mencari tahu ke Malaysia?" Tanya Fikri memberi saran.


Riyan menggeleng.


Wanita itu sudah lama memutus kekeluargaan dengan suaminya di Malaysia. Hubungan mereka tidak sah di mata hukum, karena lelaki yang menikahinya sudah berkeluarga. Untuk itu, dia memilih kembali ke Indonesia." Jawab Riyan.


"Kita tunggu aja. Daftar pencarian orang sudah di tayangkan di seluruh stasiun televisi. Kalaupun dia akan bersembunyi, mau sampai kapan?" Ujar Kenan sedikit kesal. Bukan kesal pada orang lain, tetapi pada dirinya sendiri yang merasa tidak berguna menangani hal ini.


Di samping Kenan, Eliana mengusap lembut punggung suaminya itu agar tidak terus emosi. Karena jika masalah dihadapi dengan emosi, bukannya mendapat jalan keluar, pasti hanya akan bertambah besar.

__ADS_1


"Yang membuat bingung saat ini, apa Riyan harus menceritakan kenyataan itu pada Zahra, atau menyimpan kisah ini sendiri.


"Jangan melakukan itu. Kamu harus menjelaskan semuanya, tapi memang harus menunggu Zahra benar-benar sembuh dulu." Jawab Kean tegas.


"Benar, Nak. Jangan membuat sesuatu yang nantinya akan menjadikan kepercayaan Zahra padamu berkurang. Sesakit apapun itu, kamu harus menjelaskan kebenarannya. Tapi ya itu, lihat kondisinya terlebih dahulu." Rianti menimpali.


***


"Riyan..."


Masih di ruangan yang sama, Riana yang sudah kembali ke samping ranjang dan tengah duduk di sana, memanggil adik sepupunya. Jemari Zahra yang kini menggenggam tangannya, membuat Riana terkejut.


"Ada apa, Kak?" Tanya Riyan sambil melangkah cepat menuju ranjang istrinya.


"Zahra bergerak.." Ucap Riana sambil menunjukan jemarinya yang sedang di genggam cukup erat.


"Ra..." Riyan membungkuk di depan wajah istrinya.


Sedangkan Kean yang juga ada di sana, ikut mendekati ranjang dan memeriksa layar yang ada di samping ranjang itu.


"Alhamdulillah. Dia sudah baik-baik saja." Ujar Kean. "Jangan di paksakan dulu, sebentar lagi pasti akan sadar." Sambungnya memperingati Riyan yang sedang membungkuk di depan wajah Zahra.


****


*NoteAuthor


Minta maaf lagi sampai kalian bosan 😁


Untuk beberapa nupelku yang sekarang, mohon maaf ngga bisa crazy up. Aku up sebisa ku dulu yaa...


Jika ada yang tidak mengerti dengan alurnya, di baca aja dulu. Konflik penculikan ini untuk nupel ku yang baru. "Langit Jingga Di Ujung Samudera."

__ADS_1


Terimakasih semua yang masih mau mampir.. 🙏


__ADS_2