Takdir Cinta Riana

Takdir Cinta Riana
Bab 24. Si Kembar Navia dan Nevia


__ADS_3

Sebuah taksi online berhenti di sebrang jalan. Navia yang sejak tadi menunggu kedatangan saudari kembarnya, segera melangkah menyebrangi jalan yang di penuhi banyak mobil-mobil mewah yang datang menjemput para siswa di sekolah itu.


"Hai.." Sapa nya setelah memasuki taksi online. Di dalam mobil itu, sudah ada gadis serupa dengan dirinya.


"Bagaimana sekolah ku?" Tanya gadis yang sudah menunggu Navia di dalam mobil taksi itu.


"Luar biasa." Jawab Navia. "Laki-laki yang aku bilang penguntit, tadi mengajak aku jadi teman." Sambungnya.


Nevia menoleh, menatap adik kembarnya yang entah mengapa selalu memiliki keberuntungan itu dengan lekat. Dua tahun ia berada di sekolah yang sama bersama Eldar, namun, jangankan mengikutinya, menatap pun laki-laki itu enggan melakukannya.


"Apa kamu menyukainya?" Tanya Nevia.


"Dia sangat tampan, Kak." Jawab Navia sambil tersenyum dengan pipi bersemu.


Nevia tidak ikut tertawa karena rasa bahagia adiknya itu. Justru hal itu, membuat rasa iri di dalam hatinya semakin tumbuh subur di dalam hatinya.

__ADS_1


"Jadi kamu serius mau tukaran tempat dengan ku? Tanya Nevia lagi. Dan adik kembarnya langsung mengangguk antusias.


"Aku rindu panti asuhan kita, Kak. Meskipun kedua orang tua angkat ku sangat baik, tetap saja aku rindu dengan mu dan saudara-saudara kita yang lain." Jawab Navia.


Nevia tersenyum kecil. Paling tidak, kehidupan menyedihkan di Malaysia, akan segera berakhir setelah ia tiba di London nanti. Gadis cantik dengan rambut terurai itu, menatap jalanan yang sedang dilalui oleh mobil taksi yang membawa mereka berdua kembali menuju panti asuhan.


"Jika dia mendekati mu, jangan menolaknya lagi. Kamu menyukainya, kan?" Tanya Nevia.


Navia yang memang masih begitu polos, kembali bersemu karena perkataan sang kakak sungguh benar.


Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya tiba di depan sebuah bangunan yang cukup besar di sudut Ibu Kota Malaysia. Keduanya lalu turun dari mobil taki tersebut, setelah membayar ongkos taksi sesuai ringgit yang tertera di layar yang ada di dalam mobil itu.


Mereka lalu melangkah masuk ke dalam bangunan itu, dan langsung menuju kamar tidur untuk mempersiapkan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk bertukar identitas.


"Ini berkas-berkas ku." Nevia mengeluarkan dompet murah miliknya, lalu menyerahkan benda itu pada Navia. "Mulai hari ini kamu adalah Nevia." Sambungnya lagi.

__ADS_1


Gadis polos itu mengangguk.


Beberapa saat kemudian, ia pun mengeluarkan sebuah dompet branded hadiah dari sang Mama angkat, lalu menyerahkan benda dengan harga fantastis itu pada sang kakak.


Mata Nevia berbinar melihat barang impian semua gadis, sedang terulur ke arahnya. Navia menyadari akan hal itu, ia pun ikut tersenyum melihat sang kakak bahagia hanya karena benda yang tidak begitu ia inginkan itu.


"Apa Eldar lebih berarti dari dompet ini?" Tanya Nevia menggoda adik kembarnya, dan lagi-lagi, kalimat singkat itu mampu membuat pipi Navia bersemu. Entah mengapa wajah tampan laki-laki yang tiba-tiba berada di sampingnya siang tadi, kembali melintas di benaknya.


"Namanya Eldar ya, Kak?" Tanyanya.


"Kamu ngga tahu? Hei ayolah, kamu sudah hampir dua minggu loh menggantikan aku. Dan kamu tidak pernah mendengar nama populer itu di sekolah?" Tanya Nevia tidak percaya, namun, adiknya menggeleng. "Namanya Langit Eldar Fatah. Dia putra pemilik perusahaan terbesar di negara ini. Bahkan sekolah itu, milik keluarganya." Sambungnya lagi.


"Jika kamu bisa menjadi gadis yang dicintai Eldar, kamu pasti akan kembali menikmati hidup yang menyenangkan tanpa kekurangan apapun." Ujar Nevia lagi.


Navia mengangguk mengerti. Ia tidak terlalu peduli dengan status sosial laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2