
Setelah menyelesaikan sarapan pagi yang hangat di kediaman calon Ayah dan Ibu nya, kini mobil yang sedang dikemudikan oleh Fikri, mulai melaju meninggalkan pelataran rumah megah itu, dan berbaur dengan kendaraan lain di jalanan Jakarta menuju tempat pemakaman keluarga.
Tidak membutuhkan waktu lama, mobil yang di berikan oleh perusahaan sebagai penunjang untuk mempermudah pekerjaan nya itu, mulai memasuki area yang begitu familiar di ingatan Riana. Gadis cantik dengan wajah berbalut hijab itu, menatap pepohonan yang berjejer di pinggiran jalan yang sedang di lewati oleh mobil yang sedang di kendarai oleh calon suaminya.
"Apa kita mau mengunjungi makam Ibu?" Tanya Riana.
Fikri mengangguk .
"Kenapa ga bilang. Aku akan pengen beli bunga dulu." Rengek nya bercampur kesal.
Namun, Fikri kembali diam dan tak berniat menjawab apalagi menenangkan kekesalan Riana.
"Jangan salahkan aku kalau nanti jadi istri durhaka." Ucap gadis cantik itu, masih dengan wajah yang penuh kekesalan.
Beberapa saat melaju pelan di jalan setapak. kini mobil Fikri sudah berhenti di bawah pohon yang begitu rimbun. Laki-laki dengan kemeja berwarna hitam itu lantas membuka pintu mobilnya, lalu turun dari sana.
Karena tidak melihat pintu di sisi Riana terbuka, Fikri hanya menyunggingkan senyum dan terus melangkah menuju bagasi mobil untuk mengeluarkan buket bunga dan potongan-potongan bunga yang sudah ia siapkan sejak kemarin setelah pulang dari rumah Riyan.
"Benar-benar repot jika sudah menikah nanti." Gumamnya sambil tersenyum geli karena Riana masih belum juga turun dari dalam mobilnya.
Setelah buket bunga dan keranjang yang berisi potongan-potongan kelopak bungan berwarna warni sudah berada di tangannya, Fikri segera melangkah menuju pintu mobil yang ada di sisi Riana.
"Aku tidak bisa membuka pintu mobil. Tangan ku penuh." Ujar nya.
Gadis cantik yang masih merajuk di dalam mobil, segera membuka pintu mobil dan keluar dari roda besi itu dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu kalau aku suka membawakan bungan ini untuk Ibu?" Tanyanya antusias. Ia segera meraih buket bunga yang ada di tangan Fikri, lalu menciumnya berulang kali.
"Kata Om Kean, Ibu kamu secantik kamu." Jawab Fikri.
"Ga usah gombal, ga cocok." Riana berlalu dari sana, dan melangkah penuh semangat menuju pusara ibunya.
Di belakang Riana, Fikri tertawa kecil. Laki-laki itu terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena kalimat singkat namun, menohok dari calon istrinya itu.
Beberapa saat melangkah, tibalah keduanya di samping makam yang begitu bersih dan terawat..
"Hai, Ibu. Maaf, Nana baru bisa datang hari ini. Padahal putrimu ini tidak punya pekerjaan." Riana tertawa kecil. Ia lalu duduk di samping makam dan meletakkan buket bunga yang ada di tangannya ke atas makam itu.
Fikri pun melakukan hal yang sama. Mengusap nisan mendiang ibu dari wanita yaang kini mengisi hatinya, kemudian mulai menaburi atas pusara itu dengan kelopak bunga.
"Bu, ini dia laki-laki mengesalkan. Dia memang tidak mirip Ayah yang begitu romantis dengan Ibu, tapi dia sama baiknya, Bu. Beberapa hari lagi Nana akan menikah, dan hari ini Nana datang untuk meminta restu." Ucap Riana seakan sedang mengadukan Fikri yang selalu saja membuatnya kesal pada Ibunya yang telah tiada.
"Awas aja bohong. Kalau nanti setelah nikah kamu masih saja sibuk dengan pekerjaan mu, tidak akan aku biarkan masuk ke dalam kamar." Ancam Riana.
"Bu, saya kan kerja ingin membahagiakan putri Ibu. Nanti tolong Bu, tolong jelaskan padanya, kesibukan saya juga untuk nya bukan untuk orang lain." Ucap Fikri lagi, membuat Riana mendengus kesal.
"Nih, Ibu lihat sendiri kan? Bahkan di depan makam Ibu saja, ia selalu membuat Nana kesal." Ujar Riana masih tidak mau mengalah.
"Maafkan aku, ya. Aku tidak punya apa-apa yang bisa aku banggakan di depan mu. Hanya kerja keras itu yang aku punya, Na." Ujar Fikri. Sejujurnya ia pun merasa tidak enak karena selalu saja sibuk dengan pekerjaan dan melupakan Riana yang begitu antusias menyiapkan pernikahan meraka.
Mendengar kalimat Fikri juga menatap wajah serius laki-laki itu, membuat Riana seketika terdiam.
__ADS_1
"Aku ingin, memberikan sesuatu yang berharga dengan hasil kerja keras ku sendiri." Ucap Fikri lagi.
"Terimakasih untuk kerja kerasnya. Aku akan menantikan hal berharga itu. Maafkan aku yang terlalu banyak menuntut." Jawab Riana. "Apa Ibu sudah menceritakan banyak hal tentang ku? Sejujurnya aku cukup terkejut karena kamu sudah mengetahui tempat ini." Sambungnya bertanya.
"Tidak. Ibu hanya mengatakan ada seseorang lagi yang begitu menyayangi mu, dan aku harus meminta restu.Kemudian beliau memberikan alamat ini." Jawab Fikri.
"Aku bukan anak kandung dari Ibu ku. Ibu kandung ku telah lebih dulu kembali pada Nya, ketika membawa ku ke dunia ini." Ujar Riana.
"Tapi wajah kalian benar-benar mirip." Ucap Fikri.
Riana mengangguk, lalu tersenyum.
"Mungkin karena dia terlalu menyayangi ku." Jawab Riana singkat, lalu tertawa kecil karena melihat Fikri sepertinya tidak puas dengan jawaban yang ia berikan. "Mereka saudara kembar. Lebih tepatnya, Ayah terjebak cinta dua gadis kembar." Jelas Riana lagi.
"Kok bisa?" Tanya Fikri semakin penasaran.
Rana mendekatkan kepalanya, membuat Fikri refleks menjauh.
"Jangan tanya-tanya terus, nanti ibu dengar kita lagi gibahin mereka di sini." Ujar Riana setengah berbisik, membuat Fikri melotot. "Yuk ah, pimpin do'a buat Ibu." Sambungnya setelah menjauhkan kepalanya dari wajah Fikri.
Fikri mengusap wajahnya, kemudian menekan dada yang semakin berdetak tidak karuan karena kelakuan gadis di hadapannya.
Setelah merasa jauh lebih santai, dan merapikan cara duduknya, ia lalu mengangkat kedua tangannya dan mulai melafazkan do'a keselamatan dunia dan akhirat untuk kedua orang tua.
Di sampingnya, Riana pun melakukan hal yang sama. Menutup mata dengan kedua tangan yang terangkat, sambil terus mengaminkan permohonan yang terucap dari bibir calon suaminya itu
__ADS_1
Yah, sebagai seorang anak yang tidak sempat berbakti pada wanita hebat yang sudah membawanya ke dunia, tidak ada hal lain yang bisa ia berikan, selain do'a tulus dari lubuk hati terdalamnya, juga menjadi anak yang baik dan patuh pada sang pemilik. Ingatkan? Hal yang paling di butuhkan orang tua saat tidak lagi berada di dunia, adalah do'a dari anak-anak yang shaleh dan salehah.