
Waktu terasa begitu cepat berlalu. Resepsi pernikahan yang tidak sempat dihadiri oleh Zahra telah usai. Entah mengapa kehidupannya terus saja diperhadapkan pada situasi sulit seperti ini. Rasa bersalah pada Meisya, seakan tidak ingin pergi bahkan semakin bertambah.
"Maaf tidak bisa menyaksikan perayaan hari bahagia mu, Mbak." Ucap Zahra lemah.
Riyan membantu istrinya itu bangun dan duduk bersandar di atas ranjang. Setelah memastikan Zahra duduk dengan nyaman, barulah ia melangkah menjauh dari ranjang tempat istrinya berada, dan memilih duduk di sofa di mana Gio berada.
Setelah Riyan pergi, Meisya meraih tangan Zahra yang sedang terpasang jarum infus, lalu mengusap lembut tangan yang terlihat begitu pucat itu dengan hati-hati.
"Jangan menyimpan sesuatu yang tidak perlu, Zahra. Pantang bagi ibu hamil memikirkan hal-hal yang bisa membuat sedih. Wanita hamil harus bahagia." Ujar Meisya, seakan mengerti apa yang menjadi beban pikiran Zahra saat ini. "Kita bukan madu, Zahra. Aku bukan madu mu. Kamu tidak pernah merebut Riyan dariku. Jangan terus menyiksa batin mu dengan rasa bersalah yang tidak berguna itu. Kasian bayi kamu jika kamu terus terperangkap dalam masa lalu yang bahkan aku sudah melupakannya."
Zahra memalingkan wajahnya pada jendela ruangan di mana ia sedang di rawat.
"Aku sudah bahagia. Gio tidak kalah baik dari Riyan. Kedua mertua ku pun tidak kalah baik dari mertua mu. Jadi tidak ada yang aku sesali hingga hari ini." Ujar Meisya lagi.
Zahra berbalik, lalu menatap wajah Meisya dengan mata berkaca.
"Aku ga tahu harus bagaimana lagi berterimakasih atas kebaikan hati mu, dan bagaimana juga meminta maaf atas apa yang sudah terjadi di antara kita." Jawab Zahra.
"kamu tidak perlu melakukan hal itu. Aku tahu, kamu sudah melakukan yang terbaik untuk kita. Aku yang memilih melepaskan Riyan karena memang dia tidak ditakdirkan untukku. Kamu tidak pernah merebutnya." Ujar Meisya.
Zahra mengangkat sebelah tangan, lalu mengusap lembut sudut matanya yang nampak basah.
"Ruang operasinya sudah siap, Dok." Seorang perawat yang baru saja memasuki ruangan, membuat Zahra dan Meisya menoleh.
__ADS_1
"Operasi apa, Riyan?" Tanya Meisya.
"Zahra.. Dia harus segera dilakukan operasi Caesar. Tubuhnya semakin hari semakin lemah. Aku tidak ingin mengambil resiko kehilangan keduanya. Paling tidak saat ini, peluang Zahra selamat masih sangat besar." Jawab Riyan.
Meisya menatap prihatin pada wanita berhijab yang kini sudah kembali memalingkan wajah bersama air mata yang mengalir membasahi pipinya. Ia lalu beranak dari tempat duduk yang ada di samping ranjang, untuk memberikan raung pada Riyan agar bisa memindahkan tubuh Zahra ke atas ranjang lain yang sudah di sediakan oleh perawat.
"Dia akan baik-baik saja. Percaya padaku." Riyan mengecup pipi Zahra yang sudah di penuhi air mata. Dan wanita yang semakin memucat itu, mengangguk yakin atas kalimat yang baru saja terucap dari bibir suaminya.
Saat tubuh Zahra sudah berpindah ke atas brangkar yang lain, sepasang suami istri paruh baya pun tiba di dalam ruangan itu.
"Ibu dan Ayah ada di sini. Jangan khawatir." Ujar Eliana. Zahra mengangguk, lalu mengucapkan terimakasih.
"Mbak, maaf ya ga bisa anterin Mbak Mei dan Mas Gio ke Bandara. Semoga selamat sampai tujuan, dan terimakasih sudah mengunjungi ku." Ucap Zahra pelan.
"Kami tidak jadi berangkat. Aku ingin melihat kamu dan keponakan ku." Jawab Meisya membuat Zahra kembali tersenyum.
Beberapa saat kemudian, brangkar pasien tempat Zahra berbaring, perlahan di dorong keluar dari dalam ruangan itu.
Meisya dan Gio pun ikut melangkah keluar dari dalam ruangan, mengikuti Riyan dan kedua orang tuanya menuju ruang operasi.
***
"Saya mau masuk sebentar." Ujar Riyan pada para team medis yang akan menangani istrinya.
__ADS_1
"Kok aku jadi takut ya, mas. Takut tidak bisa melihat mu lagi." Ucap Zahra sendu, namun, dengan bibir yang tersenyum.
"Tidak akan ada yang terjadi padamu. Aku akan menukar segala kehidupan yang aku punya, agar kamu tetap berada di sini." Jawab Riyan. Rasa khawatir semakin menumpuk di dalam dadanya. Namun, sebisa mungkin ia terus berucap yakin jika Zahra akan baik-baik saja. "Aku tidak ingin apapun lagi di dunia ini, Ra. Aku hanya ingin kamu." Ucapnya lagi. Kali ini wajah yang selalu terlihat baik-baik saja, mulai memerah menahan tangis agar tidak pecah di dalam ruangan itu dan semakin membuat istrinya ketakutan.
Sejak kembali dari Palembang, ia mulai menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres pada istrinya. Berbagai macam pengobatan terus ia lakukan bersama dokter kandungan yang ia pilih langsung untuk menangani kandungan Zahra. Hingga akhirnya, hari ini hari yang tidak ia inginkan harus tiba juga.
Hanya ada satu pilihan sulit yang bisa ia ambil. Jika ingin menyelamatkan Zahra, maka ia harus merelakan harapan untuk bayi yang ada di dalam kandungan istrinya. Toh, nanti jika Zahra sudah baik-baik saja, mereka bisa kapan saja memprogram kehamilan lagi.
"Mas, maafkan kesalahan aku ya." Ucap Zahra lagi.
Riyan menggenggam erat tangan istrinya, lalu mengecupnya berulang kali. Kepalanya terus menggeleng tanda tak setuju dengan apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Lakukan saja prosedur nya. Saya akan tetap di sini." Perintah Riyan.
"Mas, keluar lah. Aku ga apa-apa." Pinta Zahra.
"Nanti kamu keberadaan kamu akan mengganggu konsentrasi mereka, Yan." Meisya yang tadinya berada di luar, sudah berada di dalam ruangan itu.
Riyan mengecup kening Zahra berulang kali. Bahkan kini, air mata yang ia tahan sejak beberapa hari ini, tumpah hingga membasahi wajah Zahra. Laki-laki yang tadinya begitu yakin semua akan baik-baik saja, mulai tersedu sambil memeluk erat kepala istrinya.
"Kamu membuat Zahra takut!" Kesal Meisya. Ia lalu menyeret laki-laki yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya itu, keluar dari ruangan itu.
Setelah itu, ia kembali melangkah masuk ke dalam ruangan operasi. Menatap wanita yang sama malangnya dengan dirinya dengan mata berkaca. Entah takdir apa yang sedang Tuhan sediakan untuk nya dan juga Zahra hingga harus di dihadapkan pada situasi seperti ini.
__ADS_1
"Buang semua beban yang membuat mu risau hari ini. Pikirkan saja, setelah satu jam, tidak tiga puluh menit kemudian kamu akan kembali melihat Riyan. Pastikan kamu tidak akan terlelap walau sedetik pun." Ujar Meisya.
Zahra mengangguk lemah. Beberapa saat kemudian, Meisya pun keluar dari dalam ruangan itu, dan team medis pun mulai melakukan tugas mereka.