
Masih saling menggenggam erat tangan Riana, Fikri menuntun istrinya itu masuk ke dalam Villa. Pemandangan di sekeliling Villa membuat Riana tidak berhenti berdecak kagum. Tidak hanya dara yang masih begitu segar yang berasal dari pepohonan, suara ombak memecah di karang, terdengar dengan begitu jelas di indra pendengarannya, membuat gadis itu tidak sabar untuk segera mengelilingi pulau itu.
"Ini kamu yang siapkan, Mas? Ataukah Ayah?" Tanya Riana sambil menatap Fikri dengan mata berbinar seperti anak kecil yang baru pertama kali di ajak ke kebun binatang.
"Kita nikmati pemandangannya besok. Kamu masih punya banyak waktu mengelilingi pulau ini sesuka mu. Saat ini, kamu harus beristirahat dulu." Ujar Fikri, tak berniat menjawab pertanyaan Riana, membuat istrinya itu cemberut. Hilang sudah angannya yang ingin segera mengelilingi pulau saat ini juga.
Fikri melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Perjalanan yang cukup panjang. Kini waktu sudah menunjukan pukul lima sore, itu berarti mereka tidak lagi memiliki banyak waktu untuk merebahkan diri, karena harus bersiap menyambut waktu magrib.
"Padahal aku mau ngajakin kamu lihat sunset." Ujar Riana.
"Kita bisa melihat sunset dari dalam kamar sambil menunggu waktu magrib." Jawab Fikri.
"Benarkah?" Tanya Riana dengan wajah yang kembali ceria, dan Fikri langsung mengangguk bersama senyum hangat seperti seorang ayah yang berhasil memberikan sesuatu yang disukai putrinya.
"kamar nya di mana?" Tanya Riana.
Fikri langsung menunjuk ke lantai atas Villa. Dan tanpa ingin membuang waktu lebih lama lagi,, Riana bergegas melangkah cepat mencari anak tangga agar bisa mencapai lantai atas yang baru saja di katakan sang suami padanya.
"Hati-hati.." Teriak Fikri.
"Iyaa..." Balas Riana namun, tubuhnya sudah tidak lagi terlihat. Hanya suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar dengan jelas di ruangan itu.
"Terimakasih ya, Pak. Letakkan saja di sana, biar nanti saya yang akan membawanya ke lantai atas." Ujar Fikri saat seorang laki-laki paruh baya yang bertugas menjaga villa, membawakan barang-barang pribadinya dan Riana ke dalam ruangan.
"Kami akan selalu standby. Kalau ada apa-apa langsung hubungi kami." Ujar lelaki itu setelah meletakkan dua buah koper ke tempat yang di tunjuk Fikri.
__ADS_1
Fikri mengangguk mengiyakan, lalu kembali berterimakasih atas bantuan lelaki paruh baya itu.
SEtelah beberapa saat lelaki itu keluar dari dalam Villa, helikopter yang membawanya kemari, sudah kembali terdengar dan bersiap untuk meninggalkan pulau.
Dia memang menyewa pula ini selama sebulan tanpa penghuni. Para penjaga villa akan datang membawakan kebutuhan mereka seminggu sekali, atau seusai dengan permintaan Fikri.
"Mas, mereka akan pergi? Lalu kita bagaimana?" Suara disertai nafas terengah-engah karena berlari, membuat Fikri menoleh. Laki-laki itu lalu mengangguk mengiyakan.
"Gila ih. Kalau terjadi sesuatu dengan kita bagaimana?" Tanya Riana khawatir.
"Percaya Allah akan selalu menjaga kita." Jawab Fikri lalu meraih dua buah koper dan menariknya menuju tangga.
"Mas, aku serius. Ini pulau terpencil, bagaimana kalau hal-hal buruk terjadi. Ya seperti yang di film-film horor itu." Riana bergidik ngeri membayangkan film horor barat yang pernah ia tonton.
Fikri menggeleng-gelengkan kepalannya. Riana benar-benar seperti seorang gadis kecil yang terjebak di dalam tubuh wanita dewasa.
"Kamar pengantin?" Riana balik bertanya, dan langsung di angguki oleh Fikri. SEtelah meletakkan dua buah koper di sudut kamar mewah itu, Fikri segera mendekati Riana membuat gadis itu melangkah mundur.
"Kamar pengantin di Jakarta kan tidak di gunakan sebagaimana mestinya. Nah, di sini kita harus benar-benar menggunakannya. Kalau nanti kita kembali ke Jakarta tanpa hasil, Ibu dan Ayah akan kecewa loh." Ucap Fikri berbisik, membuat wajah Riana semakin memerah.
"Apa sih. Minggir ah." Riana berusaha mendorong tubuh yang kini memenjarakan tubuh kecilnya di dinding kamar.
Setelah terbebas dari kukungan suami jadi--jadiannya, Riana segera melangkah cepat menuju balkon yang ia gunakan untuk melihat lautan tadi. Fikri pun ikut melangkah menuju balkon itu masih dengan senyum yang terus terlihat di sdt bibir tipisnya.
"Indah banget ya, Mas." cap Riana saat Fikri sudah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Untuk mu yang tercinta." Ucap Fikri membuat Riana menoleh.
"Kamu mencintai ku? Kenapa baru bilang sekarang?" Tanya Riana dengan bibir yang mengerucut.
Fikri tertawa. Tatapannya masih terus tertuju pada lautan yang membentang luas di ujung sana.
"Na, di sana sunset nya sangat indah." Fikri menunjuk jauh di ujung lautan.
"Mas sudah pernah ke sini?" Tanya Riana mengikuti arah telunjuk suaminya.
"Hm.. Aku datang memeriksanya sendiri. Memastikan kamu tidak akan kecewa dengan sesuatu yang aku siapkan." Jawab Fikri.
"Aku bahkan tidak tahu ada tempat seindah ini di negara ku. Entah kemana saja aku selama ini." RIana tertawa kecil.
"Entah kebaikan apa yang aku lakukan di masa lalu, hingga Allah begitu baik menghadirkan orang-orang sebaik keluargamu." Ujar Fikri membuat Riana kembali menatap suaminya itu dengan lekat.
"Lelaki baik akan dipertemukan dengan wanita baik. Dan wanita baik akan dipertemukan dengan laki-laki baik pula." Jawab Riana mengutip arti ari salah satu ayat yang selalu ia percayai.
Fikri mengangguk membenarkan.
"Aku tidak tahu, takdir kita nanti, Na. Namun, keadaan bagaimana pun yang akaan menemui kita nanti, percayalah aku akan selalu berusaha sekuat tenaga untuk selalu memberikan mu kebahagiaan." Ujar nya.
Riana mengangguk mengiyakan.
"Kata Ayah, bahkan seorang nabi yang merupakan manusia terpilih pun, tak akan luput dari ujian. Bagaimana dengan kita yang masih begitu banyak kekurangan. Aku ingat kata Zahra, baginya pernikahan adalah pembelajaran. Jika nanti kita tidak sengaja melakukan kesalahan, maka tugas kita hanya perlu kembali belajar memperbaiki kesalahan itu. Jangan khawatir, kita punya waktu seumur hidup untuk selalu berusaha memperbaiki diri. Kita berdua akan memiliki banyak sekali waktu untuk bisa saling memahami." Jawab Riana.
__ADS_1
Fikri menghembuskan nafas lega. Yah, pernikahan tidak hanya melulu tentang rasa cinta. Ibarat sebuah perjalanan, pernikahan adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang. Jika hanya bermodalkan rasa cinta yang semu, maka tidak akan kuat untuk sampai ke tempat tujuan. Ada banyak hal yang dibutuhkan dalam pernikahan agar bisa sampai ke jannah-Nya.