
Rumah mewah milik Kenan dan Eliana, nampak begitu hangat. Dua bulan sudah berlalu setelah kejadian penculikan itu. Kini, Zahra benar-benar sudah pulih dan bisa kembali beraktivitas seperti biasanya. Walau terkadang, Riyan masih membatasi ruang gerak istrinya itu.
"Hai, Jingga." Eliana mengecup pipi gembul cucunya berulang kali. Ia lalu mengambil alih bayi mungil itu ke dalam dekapannya, dan meminta Zahra untuk sarapan terlebih dahulu bersama Riyan.
"Terimakasih, Oma." Jawab Zahra. Setelah bayi cantiknya sudah berpindah ke pangkuan Ibu mertua, Zahra lalu melangkah menyusul Riyan yang sudah lebih dulu menuju ruang makan.
"Aku akan bawa ke rumah sakit aja, Ra. Kayaknya waktu tidak memungkinkan aku untuk sarapan di rumah pagi ini, nanti bisa keburu macet." Ujar Riyan ketika Zahra mulai menyiapkan sarapannya di atas piring.
"Baiklah, mas. Tunggu sebentar aku akan siapkan tempat bekal dulu. " Jawab Zahra.
Riyan mengangguk. Laki-laki yang sudah terlihat rapi dengan pakaian kerja itu, duduk di kursi yang ada di ruangan itu, lalu meraih segelas jus buah yang sudah tersedia di atas meja makan dan meneguknya perlahan.
Beberapa saat menunggu, Zahra kembali melangkah mendekati Riyan, lalu memberikan satu buah paper bag yang sudah berisi makanan untuk suaminya itu.
"Terimakasih." Riyan beranjak dari tempat duduk, lalu meraih tubuh Zahra dan memeluknya dengan sangat erat. Menghujani puncak kelapa istrinya yang berbalut hijab itu berulang kali. "Ingat ucapan ku semalam. Kalau merasa lelah, serahkan JIngga pada pengasuh. Kamu harus banyak beristirahat." Sambungnya memperingati setelah melepaskan pelukannya di tubuh Zahra.
Setelah mendapatkan anggukan patuh dari istrinya itu, Riyan akhirnya melangkah keluar dari ruangan bersama Zahra yang mengekor di belakangnya.
"Loh, kok cepat banget, Nak?" Tanya Eliana heran. pasalnya, putra dan menantunya itu baru saja memasuki dapur, dan kini sudah kembali berada di ruangan yang sama dengannya.
"Riyan ga jadi sarapan, Bu. Buru-buru banget takut macet di jalan." Jawab Riyan. Lelaki itu mengecup kepala bayi kecilnya, lalu berpindah pada sang Ibu. "Riyan pamit ya, Bu, Yah." Ucapnya lagi, sambil menyalami punggung tangan Ayah dan Ibunya bergantian.
Setelah selesai berpamitan pada Ibu dan Ayahnya, Riyan kembali melanjutkan langkah menuju pintu utama, bersama Zahra yang terus mengikutinya dari belakang.
"Aku pergi ya. Ingat jangan capek-capek di rumah." Riyan menarik tubuh Zahra masuk ke dalam pelukannya. "Jangan bandel. Biarkan Mbak membantumu mengurus Jingga." Sambungnya lagi dengan nada tegas memperingati.
__ADS_1
Seperti biasanya, Zahra mengangguk patuh. Tubuh mungilnya kembali ditarik masuk ke dalam pelukan hangat. Kecupan pun berulang kali mendarat di puncak kepalanya, membuat Zahra menutup mata untuk menikmati gelenyar kebahagiaan yang terasa di dalam hatinya.
"Hati-hati ya." Ucap Zahra singkat.
Setelah melepaskan tubuh Zahra dari pelukannya, Riyan menengok ke arah kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang lain selain dirinya dan sang istri di sana. Zahra pun melakukan hal yang sama, meskipun ia tidak tahu apa tujuan suaminya itu. Hingga beberapa saat kemudian, kecupan manis kembali mendarat sempurna di atas bibir tipisnya.
"Mas..." Zahra menyentuh bibir yang baru saja di kecup, menggunakan jemari lentik miliknya. Wajahnya bersemu merah karena perlakuan laki-laki yang kini sudah masuk ke dalam mobil.
"Aku pergi, Ra. Ingat jangan sampai lelah." Kalimat yang entah ke berapa kalinya, kembali terdengar. Dengan tangan yang masih menyentuh bibir, Zahra kembali menganggukkan kepalanya.
"Senang banget sih. Ayah ga romantis kayak gitu loh, Ra." Setelah mobil Riyan berlalu dari pelataran rumah, suara yang tidak lagi asing, tiba-tiba terdengar membuat tubuh Zahra terkejut.
"Ibu..." Ucap Zahra dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.
"Ibu baru nyampe kok, mau ajak kamu sarapan. Kata Mbok kamu belum sarapan." Jawab Eliana sambil menatap geli pada menantunya.
"Jingga Ibu kasih sama pengasuhnya. Ingat kamu belum boleh terlalu lelah. Kalaupun nanti ingin merawat Jingga, pastikan kamu benar-benar sembuh dulu." Ujar Eliana sambil terus melangkah menuju ruang makan.
Di belakang tubuhnya, Zahra mengangguk patuh.
"Terimakasih, Ibu." Jawab wanita itu.
Beberapa saat kemudian, dua wanita berjilbab itu, tiba di dalam ruang makan. Di sana, Kenan sudah menunggu kedatangan mereka sambil membolak-balik lembaran koran yang ada di tangannya.
Melihat istri dan menantunya sudah tiba di dalam ruangan yang sama, Kenan segera melipat koran yang sedang ia baca itu, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, ruang makan itu kembali hening. Tidak ada lagi percakapan, hanya dentingan sendok beradu dengan piring terdengar di dalam ruangan itu.
***
Fikri terus mengetuk pintu kamar mandi di mana Riana berada. Entah sudah berapa lama istrinya itu menghabiskan waktu di dalam bilik itu. Padahal sebentar lagi ia harus berangkat ke hotel.
Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Seorang wanita cantik yang sudah rapi dengan terusan panjang lengkap dengan hijab andalannya, sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi tersebut, sambil memperhatikan benda yang ada di tangannya.
"Setelah menikah, aku udah ga datang bulan, Mas." Ujarnya masih sambil memperhatikan benda yang ada di tangannya sembari berdo'a garis yang ada di sana semakin terlihat jelas.
Mendengar kalimat itu, Fikri segera meraih benda kecil berbentuk panjang dari tangan istrinya. Memperhatikan satu garis yang jelas, dan satunya lagi terlihat samar itu dengan lekat.
"Aku tanya ibu dulu." Ujar Fikri membuat Riana terbelalak.
"Gila ya, Mas. Buat aku malu aja. Ga usah, kita tunggu aja sampai membuncit." Jawab wanita itu. Ia lalu meraih benda yang ada ringan suaminya, laku melempar benda itu ke dalam tempat sampah.
"Kok di buang? Kamu ga suka hamil ya?" Tuduh Fikri membuat Riana terbelalak.
"Ya Allah, Mas. Itu kan sampah, ada najisnya juga. Lagian hasilnya belum jelas kayak gitu. Aku berencana mau ke rumah sakit aja, biar lebih jelas." Jawab Riana.
"Aku antar ke rumah sakit." Putus Fikri.
"Nah, ini yang aku mau." Riana langsung masuk ke dalam pelukan suaminya itu. "Terimakasih." Ucapnya lagi sambil mendongak menatap wajah tampan Fikri yang selalu saja begitu menenangkan jiwanya.
Fikri tersenyum hangat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari dalam kamar itu sambil berpegangan erat. Wajah bahagia dari keduanya, terlihat begitu jelas.
Seberat apapun ujian yang datang, yakinlah bahwa kebahagiaan pasti akan datang juga. Yakin bahwa Allah selalu tepat waktu untuk memberikan kebahagiaan bagi seluruh umat-Nya.