Takdir Cinta Riana

Takdir Cinta Riana
Bab 23. Jakarta, Kenyataan Menyedihkan


__ADS_3

Taman indah yang ada di belakang rumah, menjadi salah satu tempat favorit Jingga jika libur sekolah tiba. Namun, kini, taman indah yang dirawat dengan telaten oleh sang Ibu itu, akan menjadi tempat ia mengingat jika dirinya bukanlah darah daging dari sepasang suami istri yang begitu menyayanginya selama belasan tahun.


Di sampingnya, seorang laki-laki yang mulai bertambah usia, masih duduk dengan wajah penuh rasa bersalah setelah menceritakan kejadian yang menimpa keluarga belasan tahun yang lalu.


"Ibu tidak ingin memberitahu hal ini padamu. Namun, Ayah berpikir kamu akan mulai beranjak dewasa, dan perlahan akan menemukan jati dirimu sendiri. Sebaik apapun kami menutup kebenaran, semua pasti akan terungkap pada waktunya. Ayah hanya tidak ingin kamu lebih terluka saat mendapati kenyataan itu dari orang lain." Ujar Riyan sambil tertunduk dalam. "Ayah harap, kamu tidak akan terluka terlalu lama karena mendengar hal ini. Kamu harus tahu, apapun yang terjadi di masa lalu, tidak akan ada yang berubah dalam keluarga kita. Kamu tetap menjadi putri berharga kami." Imbuhnya.


Jingga masih terdiam.. Meskipun ada rasa sedih yang kini hinggap di hati kecilnya karena kenyataan itu, namun, ia tidak memiliki alasan untuk membenci siapapun di dalam keluarga ini. Selama delapan belas tahun, ia selalu diperlakukan dengan begitu baik bak anak kandung. Karena hal itu pula, nyaris tak pernah terlintas di benaknya jika dia hanyalah anak yang ditukar dan bukan darah daging dari keluarga yang begitu luar biasa ini.


"Yah, apa penculik ku masih hidup? Aku penasaran seperti apa keluarga itu." Tanya Jingga.

__ADS_1


Riyan yang sejak tadi tertunduk dalam, kini mengangkat wajahnya, lalu ikut menatap lekat ke arah putrinya itu.


"Ayah tidak tahu. Setelah dua tahun pencarian tanpa hasil, Ibu mu meminta untuk tidak melanjutkannya lagi. Laporan pada pihak berwajib pun, sudah dicabut olehnya." Jawab Riyan. "Dia tidak ingin membuat mu terluka." Sambungnya jujur.


Yah, setelah sekian tahun berlalu, Zahra memang tidak lagi berniat mengungkapkan fakta tentang penculikan yang terjadi delapan belas tahun yang lalu. Bukan karena sudah melupakan darah daging yang tidak pernah ia lihat itu, namun, ia meyakini jika Allah sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar dalam hidupnya.


"Lalu, apa Ibu mengetahui soal ini? Apa Ibu tahu jika Ayah menceriakan hall ini padaku?" Tanya Jingga lagi.


"Dan mungkin malam ini Ayah akan tidur di kamar tamu." Jawabnya tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana agar putrinya tidak akan berlarut dalam kesedihan karena kebenaran yang baru saja ia ceritakan.

__ADS_1


Dan benar saja, Jingga ikut tertawa geli dengan kalimat itu. Karena tidak hanya sekali ia melihat, Ayahnya melangkah menuju kamar tamu sambil membawa selimut karena kemarahan Ibunya.


"Aku juga ingin mendapatkan suami seperti Ayah nanti. Aku ingin, anak-anakku nanti memliki seorang Ayah yang bijaksana sepertimu, Yah." Ujar Jingga.


Gadis berhijab itu, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu kokoh ternyaman itu.


"Yah, aku ingin tetap di sini, bolehkan? Aku ingin tetap bersama Ibu dan Ayah." Ujarnya.


"Tentu saja. Kamu tetap menjadi putri terbaik kami. Tidak ada yang berubah dengan hal itu." Jawab Riyan.

__ADS_1


Kekhawatiran berlebihan yang sejak tadi mengganggunya, menghilang begitu saja. Ia pikir, gadis yang ia besarkan ini, akan mengambil keputusan yang akan membuat istrinya semakin marah.


"Sepertinya Ayah batal tidur di kamar tamu malam ini." Ucapnya lagi, membuat gadis yang masih menyandarkan kepala di bahunya, ikut tertawa kecil.


__ADS_2