Takdir Cinta Riana

Takdir Cinta Riana
Bab 14. Kabar Duka


__ADS_3

Malam yang panas baru saja berakhir. Ini adalah yang kesekian kalinya, dan lagi-lagi berhasil membuat Riana kelelahan di atas ranjang mewah di dalam salah satu kamar yang ada di villa itu.


Di sampingnya, Fikri yang baru saja mengakhiri percintaan mereka dengan satu kecupan manis di kening juga ucapan terimakasih, meraih tubuh Riana dengan nafas yang sama tersengal. Laki-laki itu kemudian memeluk tubuh istrinya erat, dan kembali mencium rambut panjang yang sudah acak-acakan karena ulahnya.


"Candu banget.." Bisik nya, membuat wanita yang sedang berada di dalam pelukannya, tersenyum.


"Aku ga tahu kalau nikah senikmat ini." Kekeh Riana dalam pelukan Fikri. "Kita ga usah balik dari sini. Biar nanti kamu ga akan sibuk lagi." Gadis cantik dengan peluh yang bertebaran di dahi itu, menarik kepalanya lalu menatap penuh permohonan pada sang suami yang juga sedang menatapnya hangat penuh cinta.


"Aku bakal di pecat jadi menantu." Jawab Fikri bergurau. Keduanya lalu tertawa geli dengan kalimat singkat itu. "Sepertinya rencana sebulan yang aku buat, akan kita tunda, Na. Ada kabar duka dari Ayah." Sambung Fikri dengan hati-hati.


"Ada apa?" Tanya Riana tidak sabaran.


Fikri menarik nafasnya dalam-dalam. Meskipun tidak ada lagi nama Zahra di dalam hatinya, tetap saja mendengar kabar menyedihkan dari wanita itu, ikut membuatnya sedih.


"Zahra koma pasca operasi Caesar. Dan bayi yang dilahirkannya, di culik sama orang asing." Jawab Fikri pelan.


"Astaghfirullah.. Kita harus pulang besok, Mas. Aku mau lihat Zahra." Ujar Rianti. Ia tahu, gadis itu hanya memiliki Riyan dan keluarganya, dan tidak memiliki siapa-siapa lagi. Kalaupun ada, keluarganya jauh di Palembang sana.

__ADS_1


"Iya, kita harus pulang. Bulan madu yang masih tersisa dua Minggu lagi, akan kita lanjutkan di lain waktu. Ga apa-apa, kan?" Tanya Fikri, dan Riana langsung mengangguk. Beberapa saat kemudian, wajah cantiknya sudah kembali terbenam di dada bidang


Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya terlelap saling berpelukan erat.


***


Pagi yang indah kembali Villa. Udara segar yang berhembus dari pepohonan rimbun yang mengelilingi Vila tersebut, dihirup dalam-dalam oleh Fikri dari atas balkon kamar tidurnya. Laki-laki itu masih mengenakan baju muslim lengkap dengan sarung dan peci kesayangannya. Shalat wajib di waktu subuh baru saja usai.


Kabar yang begitu memprihatinkan dari Zahra, masih saja mengganggu nya. Namun, ia pun tidak bisa berbuat banyak. Bahkan seorang Riyan yang notabene memiliki kekuasaan dan uang yang cukup, tidak bisa menemukan bayi malang itu. Lalu bagaimana dengan dirinya yang tidak memiliki apa-apa ini? Hanya do'a tulus dari dalam hati terdalam yang bisa ia panjatkan pada sang maha kuasa, agar perlindungan akan selalu menjaga bayi itu di manapun berada.


"Kita adalah dua orang yang sama-sama beruntung, Ra. Karena Allah menganugerahi keluarga sebaik ini untuk kita yang tidak memiliki apa-apa." Gumamnya.


Usai menyiapkan teh dan cemilan, Riana kembali melangkah perlahan menuju tangga lalu naik ke lantai atas di mana kamar mereka berada.


Setelah meletakkan nampan yang ada di tangannya ke atas meja kecil yang tersedia di balkon, Riana menatap sebentar punggung kokoh Fikri yang sedang membelakangi dirinya. Laki-laki yang baru dua minggu ini resmi menjadi suaminya itu, sama sekali tidak menyadari keberadaannya.


"Apa yang sedang Mas pikirkan?"

__ADS_1


Tanya Riana. Ia pun ikut berdiri dan berpegangan pada pagar pembatas balkon, sambil menatap jauh pada pepohonan hijau yang mengelilingi villa.


"Mas cuma lagi kepikiran, di mana bayi Zahra sekarang." Jawab Fikri jujur.


"Jangan berlebihan, nanti aku cemburu loh." Ujar Riana tegas, namun senyum manis masih terlihat di bibir tipisnya. Fikri pun ikut tersenyum. Beberapa saat kemudian, tubuh mungil Riana sudah masuk ke dalam pelukannya.


"Kami teman yang baik, Na. Bahkan sudah seperti saudara." Lirih Fikri.


'Aku ngerti. Tapi cemburu itu adalah sahabat baik seorang wanita. Hati-hati aja." Jawab Riana masih terus membenamkan wajahnya di dalam dada bidang Fikri. Bahkan kini tangannya sudah memeluk erat pinggang suaminya itu. Tawa geli pun terdengar dari mulutnya, meskipun kalimat yang baru saja ia ucapkan itu, memang benar sesuai apa yang sedang ia rasakan. "Jadi kapan kita berangkat? Tanyanya lagi. Kali ini pelukan mereka sudah terurai. Keduanya saling bertatapan dengan begitu lekat.


"Kamu maunya kapan?" Tanya Fikri.


"Terserah kamu." Jawab Riana. "Kamu kan yang khawatir banget." Ucapnya lagi bersama tawa kecil meledek.


Fikri ikut tersenyum mendengar kalimat singkat menggelikan dari bibir Riana. Hingga beberapa saat kemudian, bibir tipis istrinya itu sudah kembali menjadi sarapannya pagi itu.


"mas, teh nya di minum dulu." Riana menahan dada Fikri. Nafasnya sudah kembali tersengal. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk mengisi stok oksigen ke dalam paru-parunya.

__ADS_1


"Baiklah." Jawab Fikri sambil tersenyum hangat. Ia mengusap lembut pipi istrinya yang sudah memerah itu, kemudian melangkah menuju meja di mana dua cangkir teh serta sepiring cemilan yang dibuatkan Riana, tersedia.


__ADS_2