Takdir Cinta Riana

Takdir Cinta Riana
Bab 22. Cinta Pertama Eldar


__ADS_3

Waktu delapan belas tahun berlalu begitu saja. Perasaan pada lawan jenis semasa remaja, mulai dirasakan oleh seorang Eldar. Putra dari pemilik perusahaan terbesar di Malaysia itu, tengah mengemban pendidikan di salah satu Sekolah Menengah Atas yang merupakan salah satu sekolah yang berada di bawah naungan yayasan milik keluarganya di Kuala Lumpur, Malaysia. Tidak hanya satu-satunya pewaris, tetapi Eldar merupakan keturunan keluarga Bangsawan di negeri itu.


Benar kata orang, perasaan itu benar-benar buta. Bahkan ketika ia menggunakan logika untuk berpikir, masih saja tidak bisa membendung rasa yang tumbuh di dalam hatinya untuk salah satu siswa dari sekian banyak siswa yang beruntung karena mendapatkan bantuan sosial dari keluarganya.


Perpustakaan sudah menjadi tempat favorit Eldar di kala jam istirahat tiba. Gadis yang mulai mengusik hatinya itu, akan betah berlama-lama di dalam perpustakaan, dan itu membuat Eldar ikut-ikutan menghabiskan waktu di sana.


"Maaf." Ujar Eldar saat tangannya menyentuh tangan Via, dan gadis pemalu itu segera menarik kembali tangannya.


Tanpa sekata pun, Navia melangkah menjauh dari siswa yang paling dihormati di sekolah itu. Menjaga jarak dari laki-laki yang memang tidak bisa ia ajak berteman di sekolah ini.


"Kamu Nevia, kan?" Eldar masih berusaha membangun komunikasi dengan gadis yang terlihat dingin itu.


Navia terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan sebagai tanda menghargai. Ia hampir saja lupa jika dirinya sedang menjadi Nevia sekarang.


"Aku bisa berteman dengan mu?" Tanya Eldar lagi, namun, gadis yang akrab di sapa Via itu menggeleng sebagai tanda jika ia tidak ingin berteman dengan sang pewaris itu.

__ADS_1


Setelah Navia keluar dari ruang perpustakaan, Eldar tidak lagi melanjutkan langkahnya menyusul gadis itu,. Ia tidak ingin semakin membuat gadis yang ia sukai itu merasa tidak nyaman. Laki-laki tampan dengan sweater rajut itu, hanya bisa menatap punggung gadis yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri.


Tarikan nafas berat terdengar dari bibir tipis Eldar. Ia tertunduk dalam, lalu membalik tubuhnya kembali masuk ke dalam perpustakaan.


"Ada apa? Cinta mu tak terbalas?" Tanaya seorang gadis yang sejak tadi menonton usaha sahabatnya di dalam ruangan itu.


Eldar menghempaskan tubuhnya pada salah satu kursi yang tersedia di sana. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran yang ia duduki.


"Ada apa dengannya? Apa aku kurang menarik, Mia?" Tanya Eldar. Ia masih menutup matanya sambil membayangkan wajah polos tanpa riasan milik Nevia.


"Cih.." Eldar berdecih, ia lalu beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkah menuju pintu keluar perpustakaan. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan di sana. Satu-satunya gadis yang membuatnya datang ke tempat itu, sudah berlalu dari sana.


"Apa kamu tidak ingin membaca dulu?" Tanya Mia meledek. Gadis cantik putri dari ti kuasa hukum keluarga Eldar itu, ikut melangkah keluar dari Perpustakaan, mengikuti sahabatnya dari belakang.


Eldar masih terus melanjutkan langkahnya, tanpa memperdulikan gadis yang memang terkenal jail itu, terus menggodanya.

__ADS_1


Keduanya lalu menuju kantin sekolah, dan berharap bisa melihat Nevia di sana, meskipun itu hal yang mustahil. Pasalnya, harga makanan yang tersedia di kantin sekolah, bisa di pakai makan selama sebulan di kantin yang lain di sekolah itu.


"Aku heran, kenapa kamu baru sekarang tertarik dengan gadis itu. Padahal kita sudah berada di sekolah yang sama selama dua tahun." Ujar Mia.


""Entahlah, aku pun tidak tahu. Rasa aneh itu tiba-tiba datang begitu saja." Jawab Eldar. "Jangan beritahu Ayah mu, aku ngga ingin di interogasi di rumah." Sambungnya memperingati.


Mia tertawa kecil.


"Tugas aku di sini, ya itu, El. Aku harus melaporkan apapun tentang kamu di sekolah. Namun, selagi belum ada hubungan serius di antara kalian, selama itu pula aku akan tutup mulut." Jawab Mia. Kali ini wajahnya sudah terlihat serius.


"Apa kamu juga akan menjadi penasehat hukum ku nanti?" Tanya Eldar dengan mata memicing.


Mia kembali tertawa.


"Bisa jadi. Aku masih sedang berusaha. Kata Ayah, menjadi bagian dari keluarga mu tidak semudah membalik telapak tangan. Untuk itu, saat ini aku ingin menjadi bawahan yang loyal untuk pimpinan tim kuasa hukum keluarga mu." Jawab Mia.

__ADS_1


Eldar kembali berdecak kesal. Ia sudah tahu seperti apa dan bagaimana sulitnya masuk dan bergabung dalam perusahan keluarganya. Namun, sepertinya, satu-satunya gadis yang menjadi temannya di sekolah maupun di rumah itu, benar-benar serius menjadi bagian darii perusahaan.


__ADS_2