Takdir Cinta Riana

Takdir Cinta Riana
Bab 9. Malam Pernikahan


__ADS_3

Resepsi yang begitu melelahkan telah usai. Suara riuh ramai di gedung ballroom di lantai bawah hotel, sudah mulai ditinggalkan oleh para tamu undangan. Tersisa beberapa petugas WO dan karyawan hotel yang sedang membersihkan ruangan itu.


Di dalam kamar yang sudah didekorasi dengan begitu indah, seorang laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi, hanya bisa menatap nanar seorang wanita yang kini sudah terlelap dengan tenang di atas ranjang pengantin.


Apa dia yang terlalu lama membersihkan diri di dalam kamar mandi, ataukah memang istrinya ini yang keterlaluan karena meninggalkan dirinya sendirian di malam pengantin mereka.


"Lihatlah, bahkan rambutnya masih basah, bagaimana bisa dia tidur dengan nyenyak seperti itu." Gumam Fikri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan kebiasaan Riana.


Benar-benar gadis yang unik. Begitulah yang ada di pikirannya saat ini. Dengan hati-hati, Fikri merangkak naik ke atas ranjang, bersama satu lembar handuk kecil di tangannya, lalu mulai mengusap lembut rambut Riana.


"Cantik." Gumamnya lagi sambil terus mengusap lembut rambut panjang Nana dengan hati-hati, agar tidak sampai mengganggu tidur nyenyak istrinya itu.


"Apa begitu melelahkan?" Tanyanya lagi entah pada siapa. Pasalnya wanita yang sedang ia ajak bercerita tengah tertidur pulas.


Setelah memastikan rambut Riana sudah sedikit lebih kering, Fikri beranjak dari atas ranjang. Ia lalu menarik selimut putih tebal yang ada di atas ranjang, kemudian menyelimuti tubuh Riana yang hanya berbalut piyama itu.


Sebelum melangkah menjauh dari sisi ranjang, Fikri kembali menunduk lalu mengecup lembut rambut yang baru saja ia keringkan beberapa saat yang lalu.


"Besok tidak boleh meninggalkan kewajiban mu lagi. Malam ini aku biarkan karena kamu lelah." Ujarnya sambil tersenyum.


Ia lalu melangkah meninggalkan Riana yang sudah terlelap di atas ranjang, menuju koper kecil yang ia bawa dari apartemennya hari ini. Mengambil sajadah dan satu buah sarung dari koper tersebut kemudian menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Banyak hal yang ingin ia syukuri hari ini pada pemilik kehidupan. Dan salah satu mensyukuri nikmat yang luar biasa itu adalah, dengan cara untuk jangan sampai melupakan kewajiban.

__ADS_1


Kebanyakan kita hanya akan mengingat pada sang pemilik kehidupan, saat kita merasa sedang berada dalam masa-masa sulit, lalu akan lupa jika nikmat sudah kembali di limpahkan oleh Nya.


Yang tidak kita sadari adalah, semua yang Allah berikan hanyalah sebagai ujian. Entah itu dalam bentuk kesulitan atau pun kenikmatan, semua hanya sebatas ujian, sampai mana kah keimanan kita bertahan. Selalu percaya dan berpasrah pada Nya saat mendapat masalah, juga akan selalu mengingat dan mensyukuri jika kita di beri nikmat oleh Nya.


Cukup lama Fikri menghabiskan waktunya di atas Sajadah. Memanjatkan do'a untuk kehidupan rumah tangganya nanti. Minta di beri kekuatan untuk menjaga amanah yang dititipkan oleh seorang Ayah terhadap dirinya.


Menikah bukanlah hanya sebatas kita mampu memenuhi kebutuhan finansial saja. Bukan pula sekedar terpuaskan atas kebutuhan biologis. Namun, lebih besar dari itu. Sebagai seorang suami, ada banyak tanggung jawab yang harus di penuhi setelah selesai mengucapkan kobul dengan sangat lantang.


Setelah Ijab dan Kobul berhasil terucap, maka dengan itu sebuah tanggung jawab besar mulai berpindah. Memastikan seorang istri dan anak-anak kelak terus berada di jalan yang benar, adalah tanggung jawab seorang suami dan Ayah.


Setelah menghabiskan banyak waktu di atas sajadah, Fikri kembali membereskan barang-barang itu ke dalam koper. Tubuhnya juga sangat lelah setelah seharian harus berdiri menyambut begitu banyak tamu undangan yang datang memberi doa dan restu pada pernikahannya.


Dengan hati-hati, Fikri pun kembali melangkah menuju ranjang setelah memadamkan lampu utama di dalam kamar mewah itu.


Tangannya terulur, lalu mengusap lembut pipi Riana. Merapikan sedikit rambut yang menyembul di pipi istrinya itu. Hingga beberapa saat ia pun ikut terlelap dengan tangan sudah berpindah merangkul punggung Riana.


****


Alarm dari ponsel pintar yang tergeletak di atas nakas, membuat sepasang suami istri menggeliat. Jelang beberapa saat, suara deringan alarm itu semakin kencang dan langsung membuat Fikri terjaga dari tidurnya.


Benar-benar malam yang indah. Terlelap sambil memeluk wanita cantik, membuatnya lupa diri.


"Aduh, kenapa suara ponsel mu besar sekali.." Keluh Riana sambil mengusap matanya.

__ADS_1


Fikri yang baru saja mematikan ponselnya, tersenyum geli melihat istrinya yang masih terlihat begitu mengantuk.


"Ayo kita shalat." Ajaknya. Namun, Riana kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang mewah itu.


"Subuh masih lama, Mas. Nanti aja lah kita subuhan sekalian." Jawab Riana sambil menarik kembali selimut dan menutupi tubuhnya dari hawa dingin yang keluar dari pendingin ruangan.


Fikri melipat tangannya di dada.


"Apa kamu mau melaksanakan kewajiban mu padaku dulu, atau pada pencipta." Tanyanya dengan suara mengancam.


"Mas, shalat di sepertiga malam itu kan hukumnya sunah. Itu bukan wajib." Ujar Riana masih terus merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kalau begitu lakukan saja kewajiban mu pada ku, bagaimana?" Tanya Fikri sambil merangkak naik ke atas ranjang, membuat Riana segera keluar dari dalam selimut dan menjauh dari ranjang itu.


Tanpa sepatah kata pun ia langsung melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Di atas ranjang, Fikri tertawa geli dengan kelakuan istrinya itu. Meskipun samar, rona merah di wajah cantik itu begitu terlihat jelas.


Setelah beberapa saat menunggu, wanita cantik yang kini resmi menjadi istrinya keluar dari dalam kamar mandi, lalu melangkah menuju seperangkat alat shalat yang masih tertata dengan begitu indah di atas meja sofa, lalu mengenakannya dengan cepat.


'padahal kewajiban padaku nikmat dan pahalanya banyak loh." Goda Fikri. Laki-laki itu bahkan berani mendaratkan kecupan manis di kepala Riana.


"Udah sana, wudhu.. Ngaco aja. Salah sendiri ngga bangunin aku semalam." jawab Riana dengan wajah yang semakin memerah karena ulah suaminya itu.

__ADS_1


Fikri terkekeh. Ia lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap kembali melaksanakan kewajiban pada sang maha kuasa.


__ADS_2