Takdir Cinta Riana

Takdir Cinta Riana
Bab 8. Hari Pernikahan


__ADS_3

Takdir, satu kata ini memang tidak pernah bisa ditebak akan berakhir di mana. Tidak ada yang tahu, pada siapa takdir akan membawa cinta kita berlabuh.


Kadang, kita mengelilingi dunia hanya untuk mencari seseorang terbaik untuk mendampingi hidup kita. Padahal, orang yang kita cari hanya ada di sekitar kita. Boleh jadi kita mati-matian mengejar seseorang, namun, ternyata jodoh yang Allah siapkan, sama sekali tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.


Suasana di salah satu hotel berbintang, nampak begitu ramai. Beberapa mobil mewah sudah terparkir di pelataran hotel milik Rianti. Tidak hanya mobi mewah, karangan bunga sebagai bentuk suka cita dari rekan bisnis, sudah berjejer indah di sana.


Para tamu undangan mulai berdatangan, tak terkecuali Meisya dan Gio, juga Riyan dan Zahra serta ayah dan Ibu mereka.


Saat melihat Meisya dan Gio memasuki ballroom hotel, dan sedang melangkah menuju ke arah mereka, Riyan langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut kedua orang itu.


Zahra pun melakukan hal yang sama. Meskipun selalu saja terbesit rasa bersalah di relung hati terdalamnya kala mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu, ia tetap berusaha untuk tersenyum pada wanita yang kini sedang berjalan ke arahnya.


Gio menjabat tangan Riyan, sedangkan Meisya melangkah mendekati Zahra. Menyalami wanita yang pernah menjadi bagian dari luka masa lalunya itu, alu mengusap lembut perut yang sudah membuncit.


"Kalian harus datang ke resepsi pernikahan kami juga." Ucap Meisya sambil memamerkan senyum terbaiknya.


"Tentu, Mbak." Jawab Zahra. "Maaf ga bisa datang ke Singapura." Sambungnya.


"Ga apa-apa. Untuk itulah kami mengadakan resepsi pernikahan di Indo, karena memang di Singapura hanya sekedar akad nikah aja." Jawan Meisya.


"Akan kami usahakan. Kondisi kesehatan Zahra kurang baik." Ujar Riyan sendu.


Meisya menatap Zahra lekat.


"Ini hal biasa di rasakan oleh Ibu hamil. Jangan terlalu khawatir." Ujar nya.

__ADS_1


"Tante sama Om mana?" Tanya Gio mengalihkan pembicaraan.


Riyan menunjuk Ayahnya yang sedang berada di meja paling depan karena menjadi saksi pernikahan kakak sepupunya.


"Ibu ada di atas, di kamar Kak Nana." Ujar Riyan lagi


Gio mengangguk paham.


Beberapa saat kemudian, Fikri yang sudah terlihat mengenakan stelan jas pengantin, dibawa menuju meja akad nikah, dan perbincangan di antara mereka akhirnya terputus. Riyan dan Gio beranjak dari atas tempat duduk yang mereka duduki, lalu melangkah mendekati meja akad nikah sebagai bagian dari keluarga dekat.


****


Di dalam sebuah kamar yang ada di lantai atas, terlihat Eliana dan Rianti sedang menunggu Riana yang tengah di siapkan oleh penata rias.


Dua wanita cantik itu, sesekali mengambil gambar Riana untuk dijadikan sebagai kenangan.


Rianti menatap adik iparnya sendu.


"Aku jadi rindu Kak Riana, El." Ujar Rianti.


Eliana segera mengalihkan tatapannya dari ponsel yang ada di dalam genggamannya, kemudian meraih tubuh Rianti dan memeluk nya dengan erat.


"Riana pasti sangat bahagia, karena hari ini kamu sudah menjadi Ibu yang hebat buat Nana." Ujar Eliana sambil mengusap lembut punggung kaka ipar sekaligus sahabatnya itu.


"Aku juga." Jawabnya. "Memang, jika menemui hari penting seperti ini, hal yang paling pertama diingat adalah orang terdekat kita. Terlebih orang itu sudah tidak lagi berada di dunia yang sama dengan kita." Sambung Eliana.

__ADS_1


"Nana juga rindu, Aunty." Seorang pengantin yang nampak begitu cantik dengan balutan kebaya, ikut menimpali pembicaraan kedua orang penting dalam hidupnya. "Tapi kan, sekarang ada Ibu dan Aunty di sini."Sambungnya, membuat kedua orang yang baru saja berpelukan, tersenyum hangat.


Beberapa saat kemudian, tiga orang yang ada di ruangan itu terdiam, kala suara pembawa acara yang berada di lantai bawah rumah, sudah mulai terdengar hingga ke lantai atas rumah di mana mereka berada.


"Akad nikahnya akan segera dimulai, Sayang." Ujar Rianti pada putrinya. "Sudah siap, kan?" Tanyanya pada Nana.


"Tentu saja, Ibu. Orang Nana udah cantik begini." Jawab gadis cantik itu, membuat dua wanita paruh baya yang ada di ruangan itu tertawa.


Jelang beberapa saat menunggu, kalimat yang mereka tunggu-tunggu, akhirnya berhasil terucap dari dua laki-laki yang kini memiliki tempat penting di hati Nana.


Gadis cantik sudah bersiap dengan kebaya putih khas pengantin itu, ikut mengucapkan Alhamdulillah kala kalimat kobul berhasil diucapkan Fikri dengan satu tarikan nafas nya.


"Ayok kita temui mereka." Ajak Eliana. Rianti pun ikut beranjak dari atas sofa tempat ia duduk, lalu mendekati putrinya.


"Kok tiba-tiba Nana jadi grogi ya, Bu?" Tanya gadis itu polos, membuat dua wanita yang kini sudah mengapit lengannya, tertawa geli.


"Memangnya dari tadi kamu ngga grogi?" Tanya Eliana gemas. Jika tidak mengingat riasan yang sudah susah paya dibuat oleh penata rias rusak, ingin sekali ia mencubit pipi keponakannya ini.


"Sejak tadi biasa aja, Aunty." Jawab Riana.


"Kamu tahu ngga, Aunty grogi dari dua hari sebelum pernikahan. Nanti pas malam pertama, Aunty buat Om Kenan yang grogi." Eliana tertawa geli. Bayangan saat dulu ia menjaili Kenan, kembali teringat di benaknya. "Kalau Ibu kamu ini, tidak jadi malam pertama soalnya kamu gangguin terus." Kelakar Eliana lagi, membuat Rianti cemberut.


"Jangan dengarin Aunty El, Sayang. Dia sedang membohongi mu. Yang ada, dia tuh kamu gangguin terus sampai bela durennya di tunda dan baru bisa terealisasi saat mereka bulan madu ke Pulau Jeju." Ujar Rianti tidak mau kalah.


Dua wanita paruh baya masih terus saling meledek masalah malam pertama mereka di masa lalu. Yang tidak mereka ketahui wajah Nana mulai memerah karena malu dengan pembahasan mereka. Terlebih, saat ini langkah mereka sudah tiba di lantai bawah. Dan di ujung sana, laki-laki yang baru saja resmi mengikatnya dalam ikatan pernikahan, tengah menatap lekat ke arahnya.

__ADS_1


Riana menarik nafasnya dalam-dalam, saat tatapan Fikri terus tertuju padanya. Bahkan kini, laki-laki yang terus bersikap cuek padanya, sudah menatap nya dengan mata berkaca.


"Ayo sana, temui suami mu." Ujar Rianti saat ia dan Eliana sudah tiba di dekat meja akad. Ia lalu menuntun putrinya menuju satu buah kursi yang sudah tersedia di sana.


__ADS_2