Takdir Cinta Riana

Takdir Cinta Riana
Bab 6. Meisya


__ADS_3

Sama halnya yang terjadi di kediaman keluarga Kean. Di rumah milik Gerald dan Adelia, lima orang penghuni rumah sedang menikmati sarapan pagi dengan begitu hangat.


Tidak, ruangan itu lebih dari hangat. Wajah Meisya sudah memerah karena usapan menggoda yang terus di lakukan Gio di atas pahanya yang sedang tertutup dress selutut.


Adegan panas semalam, kembali melintas di pelupuk mata, membuat wanita cantik itu tiba-tiba tersedak dengan makanannya sendiri.


"Ya ampun kamu nih, istri lagi makan malah di godain terus." Pukul Adelia di punggung Gio yang sedang duduk di tepat di sampingnya.


Mendengar kalimat ibu mertuanya, Meisya semakin terbatuk-batuk. Gia langsung mengulurkan segelas air putih ke arah kakak iparnya itu, sedangkan Gio hanya bisa menatap istrinya itu, khawatir bercampur tidak percaya.


Sampai pagi ini, ia belum bisa mempercayai jika wanita yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu, masih sepolos ini tentang urusan ranjang. Bahkan hanya dengan godaan kecil seperti yang ia lakukan pagi ini, mampu membuat Meisya bersemu merah.


"Terimakasih, Ibu." Ucap Meisya saat melihat Ibu mertuanya rela meninggalkan tempat duduk dan memilih mengusap-usap lembut punggungnya.


"Hati-hati, Mei." Ujar Adelia memperingati. "Kalau di godain kamu, pukul aja kepalanya." Ujarnya lagi sambil menatap tajam ke arah putranya.


Setelah memastikan Meisya sudah jauh lebih baik, wanita cantik yang mulai berumur itu, kembali melangkah menuju tempat duduknya, dan menghabiskan sarapan.


Tidak membutuhkan waktu lama, sarapan hangat itu pun berakhir. Keluarga yang tadinya sedang menikmati sarapan di ruang makan, kini sudah duduk bersama di sofa mewah yang ada di ruang keluarga.


"Apa kalian akan kembali ke Singapura?" Tanya Gerald pada putranya.. Dan tanpa pikir panjang, Gio langsung mengangguk.


"Gio dan Mei sudah nyaman dengan keadaan di sana, Ayah. Hanya Gio mau meminta izin menempati rumah Oma agar lebih nayaman lagi." Jawab nya.

__ADS_1


"Iya, jangan tinggal di apartemen lagi. Apartemen tidak ramah untuk anak-anak." Adelia menimpali.


"Waktu kamu mau berangkat ke sana kan Papa sudah menawarkan rumah itu untuk kamu tinggali. Tapi kamu sendiri yang tidak mau." Ujar Gerald.


"Iya kan waktu itu Gio hanya sendiri, Pa. Mana mungkin tinggal di rumah seperti itu seorang diri." Jawab Gio.


"Mama dengar Mei seorang dokter ya." Tanya Adelia mengalihkan topik perdebatan antara suami dan putranya.


"Iya, Ma. Dulu sebelum kecelakaan." Jawab Meisya seadanya.


"Di Singapura kerja juga?" Tanya Adelia lagi.


"Mama ini sudah seperti wartawan saja." Gia yang sejak tadi sibuk dengan buku yang ada di tangannya, akhirnya ikut menimpali pembicaraan. "Masa lalu biarkan tetap tinggal di sana. Kalau Kak Mei lebih suka jadi seorang istri dan Ibu, itu malah jauh lebih baik. Aku aja cita-citanya mau jadi istri dan Ibu aja, tapi sayang ga ada yang datang melamar." Sambung gia, membuat Gio tidak tahan untuk tidak tertawa dan meledek adiknya itu.


"Ada sesuatu yang ingin Mei sampaikan pada Mama dan Papa." Ucapnya takut-takut.


Gio yang sudah tahu apa yang ingin di sampaikan oleh Meisya pada kedua orang tuanya, segera menggenggam tangan istrinya itu dengan erat. Meskipun ia tahu, kedua orang tuanya tidak akan keberatan, ia tetap memberikan kekuatan pada istrinya itu agar bisa berbicara terbuka.


Sejak dulu, keluarga besarnya selalu menanamkan untuk saling terbuka dalam hal apapun. Karena serumit-rumitnya masalah, pasti akan terurai jika mau membicarakan dan saling terbuka.


"Sebelum menikah dengan Gio, Mei pernah menikah. Namun, pernikahan kami tidak sah di mata negara dan mungkin juga di mata agama." Ucap Meisya.


Adelia yang sebenarnya sudah mendengar banyak hal dari Eliana, sudah tahu apa yang sedang ingin di bicarakan oleh menantunya ini.

__ADS_1


"Sebenarnya, Mei ingin menjelaskan tentang ini pada Mama dan Papa. Namun, pernikahan kami begitu terburu-buru, hingga Mei lupa menceritakan semua ini." Ujar Meisya lagi.


"Bukankah semua orang pernah memiliki kisah kelam di masa lalu sebagi pembelajaran di masa depan? Itu bukan sesuatu yang harus di permasalahkan. Toh, yang akan menjalani ini kalian berdua. Jika Gio merasa baik-baik saja dengan semua itu, mengapa Mama dan Papa harus mempermasalahkannya?" Jawab Adelia panjang lebar.


"Tidak hanya itu, Bu. Setelah kecelakaan beberapa bulan yang lalu, Mei di vonis tidak bisa lagi mengandung karena kerusakan parah pada bagian rahim akibar benturan keras dalam kecelakaan mobil itu." Ucap Meisya. "Dan karena keadaan ini pula membuat Mei memutuskan untuk tidak lagi menjadi dokter. Bagaimana bisa seorang dokter kandungan tdak bisa mengandung?" Sambung Meisya lirih.


Adelia terdiam tanpa kata. Sungguh, ia begitu merasa bersalah atas kalimat yang ia ucapkan beberapa saat yang lalu mengenai anak kecil.


"Itu bukan hal yang harus di permasalahkan, Kak. Anak tidak selamanya harus berasal dari rahim kita. Kak Mei tahu, bahkan di luar sana ada sepasang suami istri yang memilih untuk tidak melahirkan darah daging mereka, agar bisa menggunakan kelebihan harta yang mereka miliki untuk menyelamatkan banyak anak yang kurang beruntung. Mungkin Kak Mei di berikan kesempatan oleh Allah untuk memetik pahala di sana. Iya kan, Papa?" Gia meminta dukungan dari laki-laki paruh baya yang sedang duduk di sampingnya.


Dan tanpa berpikir panjang, Gerald langsung mengangguk membenarkan kalimat panjang lebar yang baru saja terucap dari bibir putrinya.


"Tentu saja. Jangan merisaukan sesuatu yang sudah di tetapkan oleh sang pemilik. Cukup persiapkan dirimu untuk menanti banyak hal baik di masa depan." Gerald menimpali.


Beberapa saat Adelia terdiam, namun, beberapa saat kemudian ia beranjak dari sofa yang ia duduki, lalu pindah ke samping Meisya. Tanpa berkata apapun lagi, ia segera meraih tubuh menantunya itu dan memeluknya dengan sangat erat.


"Kita semua akan mendapat ujian dan cobaan dalam hidup. Dan itu pasti. Entah cepat atau lambat semua pasti akan merasakannya. Dan hari ini, Mama berharap kedepannya hanya akan ada bahagia untuk mu." Ujar Adelia tulus.


Meisya mengangguk. Bibirnya tersenyum namun mata indahnya berkaca sambil menatap adik iparnya yang juga sedang tersenyum ke arahnya.


"Terimakasih untuk pengertiannya, Ma. Mei ngga tahu lagi harus bagaimana mensyukuri kebahagian hari ini." Jawab Meisya setelah melepaskan pelukan di tubuh ibu mertuanya.


Di sampingnya, Gio tersenyum lega. Meskipun ia tahu kedua orang tuanya akan memaklumi kekurangan apapun yang di miliki istrinya, tetap saja mendapati keadaan seperti ini, membuat hatinya ikut lega.

__ADS_1


"Benar kata Papa. Jangan khawatirkan apapun yang sudah menjadi garis tangan TUhan. Cukup persiapkan diri untuk kembali melangkah di masa depan. Karena, apapun yang akan kita jalani di kemudian hari, masih lah menjadi rahasia sang pemilik takdir.


__ADS_2