
"Ayah...." Suara cempreng memekik, membuat Riana menutup telinganya. Gadis kecil yang sedang ia kuncir rambutnya, berlari menuju ambang pintu kamar di mana sang Ayah tengah berdiri sambil merentangkan tangan.
"Dih, dasar!" Gumam Riana kesal. Bagaimana tidak, putri kecilnya itu bahkan tidak merasakan sakit ketika rambut panjangnya tertarik, hanya karena ingin segera memeluk Ayah nya.
Beberapa saat kemudian, Fikri sudah melangkah masuk ke dalam kamar di mana Riana berada, sambil memeluk tubuh kecil putrinya..
Tiba di sisi ranjang, lelaki yang sudah terlihat tampan dan segar usai membersihkan diri itu, mengecup pipi istrinya dengan mesra, membuat tangan kecil menggemaskan, segera meraih kepalanya agar menjauh dari wajah sang Ibu.
"Ayah belum mencium Fira." Rengek nya membuat Riana mendengus kesal.
"Ambil aja, Ibu ga butuh." Jawab Riana tidak mau kalah, membuat Fikri tertawa geli.
Suasana seperti inilah yang paling ia rindukan di rumah. Melihat tingkah istrinya yang selalu bersikap kekanakan, selalu membuatnya ingin segera pulang.
Safira, nama gadis kecil yang ia lahiran kurang lebih lima tahun yang lalu, hanya mengabaikan kalimat merajuk sang Ibu, dan terus menarik kepala sang Ayah agar mendekati pipinya.
Fikri tidak tahan lagi dengan suasana menggemaskan itu. Ia membawa dua perempuan yang ia cintai itu, dan lalu menciumnya dengan gemas secara bergantian.
***
Sore yang indah di kota Bogor, jauh lebih indah di Ibu Kota yang begitu padat dengan penduduknya. Banyak gedung pencakar langit yang mulai gemerlap di sore hari, namun, banyak pula bangunan-bangunan kumuh yang masih mengisi kota metropolitan itu.
Setelah sekian tahun, Zahra kembali menginjakkan kaki di kota yang di juluki kota hujan ini. Wanita yang masih nampak terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda, menatap jauh pada rintik hujan yang berjatuhan dari dahan pohon. Dedaunan yang sudah menguning, terbawa angin dan mulai berjatuhan di atas rumput hijau yang terawat.
Seorang gadis kecil begitu antusias bermain dengan sang suami di atas rerumputan hijau itu. Pakaian keduanya sudah basah dengan air hujan, namun, kedua orang itu seakan enggan masuk ke dalam rumah dan hanya terus menikmati rintik demi rintik yang jatuh membasahi kepala dan tubuh mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, wanita yang begitu mirip dengannya, datang menghampiri dan berdiri tepat di sampingnya. Ikut melemparkan pandangan pada dua orang berbeda kelamin dan umur yang begitu antusias menikmati rahmat yang Allah turunkan di sore hari itu.
"Ara berencana untuk memberitahu siapa dirinya sebenarnya. Bagaimana menurut Ibu?" Tanya Zahra sambil menoleh pada wanita yang masih terus menatap keluar jendela ruangan.
__ADS_1
"Itu harus, tapi jangan sekarang. Tunggulah Jingga benar-benar sudah paham akan keadaan di sekitarnya. Tunggu waktunya dia mengerti, jika yang kalian lakukan saat itu, adalah untuk kebaikannya. Akan tetapi sebelum itu, Ibu ingin kamu memperbaiki niat terlebih dahulu. Apa tujuan mu memberitahu kebenaran itu pada nya." Jawab Umi Zainah tenang, sambil menatap cucu dan menantunya yang begitu antusias bermain air hujan.
"Ara rindu anak itu. Entah bagaimana keadaannya sekarang." Gumam Zahra lirih, membuat wanita yang ada di sampingnya segera menoleh. Mengangkat sebelah tangannya, lalu mengusap lembut punggung rapuh putrinya itu.
"Allah punya rencana yang indah. Yakinlah atas hal itu. Tidak ada suatu keburukan tanpa hikmah di dalamnya." Ucap Umi Zainah, lagi.
Zahra mengangguk paham. Yah, sekian tahun telah berlalu, dan itulah satu-satunya yang ia yakini hingga bisa bertahan sampai sejauh ini. Ia menyayangi Jingga, tentu saja. Akan tetapi, ia pun merindukan darah dagingnya yang entah masih hidup ataukah sudah tidak. Dan itu normal dialami oleh seorang Ibu..
"Sayang, dingin..." Ucap Riyan dari teras rumah.
Zahra yang sedang berdiri tepat di depan jendela, tersenyum geli melihat dua orang yang ia sayangi sedang berdiri di teras dengan baju yang sudah basah kuyup.
"Siapa yang suruh kalian main hujan?" Omelnya sambil melangkah menuju belakang untuk membuka pintu agar suami dan putrinya bisa masuk lewat sana.
Riyan sudah mengerti, lelaki itu mengakar tubuh kecil putrinya, lalu membawanya menuju halaman belakang.
"Ayah, kita tinggal di sini aja, boleh ga?" Tanya gadis kecil yang berusia enam tahun itu.
Gadis kecil yang sedang duduk di atas bahu Ayahnya itu terdiam sesaat, kemudian mengangguk paham.
"Jadi kita akan kembali segera ya, Yah?" Tanyanya lagi.
"Mungkin empat hari lagi. Jangan khawatir kita masih punya banyak waktu di sini." Jawab Riyan.
Di ambang pintu, Zahra sudah menunggu dengan wajah horor sambil memegang dua buah handuk untuk putri dan suaminya itu. Segera ia merentangkan tangan, meraih tubuh putrinya yang sedang duduk di bahu sang suami.
"Kalian ini. Cuci baju itu capek tahu." Ujarnya.
"Maaf Ibu. Nanti Jingga bantuin." Jawab gadis kecil itu, membuat Riyan gemas.
__ADS_1
"Nanti Ayah bantuin juga." Kecup Riyan di pipi Zahra, membuat gadis kecil yang sedang di bungkus ajak Zahra menuju kamar mandi, ikut tersenyum dengan pemandangan itu.
"Riyan sudah melangkah menuju kamar tidur dan membersihkan diri di sana. Sedangkan Zahra, membantu putrinya untuk bersiap karena sebentar lagi waktu shalat akan tiba.
"Ibu jangan sedih. Nanti jika sudah besar, Jingga akan bantuin Ibu menemukan dia." Ucap Jingga, membuat tangan Zahra yang sedang mengusap tubuh kecil putrinya itu, terhenti.
"Ayah yang bilang." Sambung gadis kecil itu, membuat Zahra semakin terkejut. "Kata Ayah, anak Ibu ada dua. Dan satunya lagi di culik. Jadi jika nanti sudah besar, Jingga harus bantu Ayah untuk menemukannya." Jelas gadis kecil itu lagi, membuat Zahra semakin terpaku.
"Terimakasih yaa... Tapi Jingga ga usah repot-repot kayak gitu. Udah jadi anak baik dan pintar, Ibu sudah sangat bahagia kok. Ga usah dengarin Ayah." Jawab Zahra. Namun, gadis kecil itu menggeleng.
"Ibu selalu sedih, dan Ayah ikut sedih." Ucapnya lirih.
"Maafkan Ibu ya, Nak. Maaf sudah membuat Jingga dan Ayah sedih." Jawab Zahra merasa bersalah. Seharusnya, ia tidak perlu berlarut dalam kesedihan. Lagi pula, Allah menggantinya dengan gadis kecil sebaik dan secantik Jingga. "Maafkan Ibu mu yang serakah ini." Sambungnya lagi. Ia menarik tubuh kecil putrinya yang terbungkus handuk putih itu, lalu memeluknya dengan sangat erat. Meminta maaf atas sikapnya yang selama ini membuat gadis sekecil Jingga ikut sedih.
"Mau dipeluk juga dong." Suara dari ambang pintu, membuat Zahra dan putri kecilnya menoleh bersamaan. Di sana, seorang laki-laki yang sudah rapi dengan pakaian shalat, berdiri sambil memamerkan senyum hangat di bibirnya. "Sayang aku lapar. Putri mu ini terlalu antusias bermain air, sampai perut ku keroncongan begini." Adu Riyan pada sang istri.
"Kamu yang ngajarin. Lagian siapa yang ngajak dia bermain di luar pas hujan tadi." Omel Zahra. Wanita cantik itu beranjak dari atas ranjang putrinya, lalu melangkah menuju lemari pakaian yang berisi pakaian putrinya. Mereka memang menyediakan pakaian dan perlengkapan lain di sini, agar jika berlibur tidak perlu repot-repot membawa perlengkapan ke rumah ini.
Gadis kecil yang selalu saja menyayangi Ibunya itu, menjulurkan lidahnya meledek sang Ayah.. Sedangkan Riyan hanya bisa memasang wajah cemberut dari ambang pintu kamar tidur.
Beberapa saat kemudian, Jingga pun sudah selesai bersiap. Ketiga orang itu melangkah menuju ruang makan untuk mengisi perut Ayah dan anak yang sudah kelaparan karena habis bermain air hujan.
****
*NoteAuthor
Kisah Safira, Jingga, Samudra dan Eldar akan ada di nupel selanjutnya yaa... Oh Iya aku mau kasih tahu, kisah Azka, Aidan dan Rangga di minta Editor untuk dijadikan satu aja. Karena memang alur dari ketiga cerita di atas sama. Cinta Datang Terlambat.
Pasti akan aku lanjutin kok. Hanya memang masih membutuhkan sedikit waktu untuk menyesuaikan urutan bab nya aja.
__ADS_1
Maafkan aku yang ga bisa crazy up. Kerjaan real life cukup menyita waktu dan pikiran juga.. 🙏🙏