
Didalam ruangan osis, Alvin sedang memikirkan untuk menambah anggota osis yang baru.
"Hadeuh..." Alvin mulai kelelahan.
Tomoe menatap Alvin.
"Ada apa?" Ucap Tomoe.
"Cape banget dah... Mikirin anggota tambahan." Alvin berdiri dan menghampiri sofa.
Alvin langsung tiduran di atas sofa dan mengejamkan matanya.
Tomoe berdiri dan menghampiri Alvin.
"Mau aku belikan minuman apa?" Tomoe tersenyum dan duduk di sebelah Alvin.
Tomoe mengusap rambut Alvin.
"Yang seger udah cukup..." Ucap Alvin.
"Baiklah." Tomoe berdiri dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
"Ahh... Capenya..." Alvin tidur sebentar.
Beberapa menit kemudian...
Tomoe membuka pintu tersebut dan melihat Alvin sedang mengerjakan dokumen-dokumen yang harus dia kerjakan.
Tomoe tersenyum dengan senang bisa melihat Alvin selalu sibuk dan beraktifitas.
Tomoe menghampiri Alvin dan menaruh kaleng minuman segar di mejanya.
"Makasih, Tomoe." Ucap Alvin yang sedang sibuk.
"Iya." Jawab Tomoe sambil mencium pipi Alvin.
---
06:00 AM
"Kak Alvin~~~" 3 gadis lari menuju Alvin.
"A-Apa?!" Tomoe terkejut.
"Aku ingin sekali..." Ucap Agatha.
"...Menjadi..." Ucap Yuka.
"...wakil ketua osis!" Ucap Reina.
"Huh?!" Tomoe mulai khawatir dan terkejut.
"Hehehe." Alvin tertawa dan mencap pipi mereka.
"Kalian semua diterima!!!" Alvin tersenyum dengan sangat jahat.
Tomoe melihat mereka dan mulai sangat cemburu.
"Tunggu!" Tomoe menunjuk mereka.
3 gadis itu duduk disebelah Alvin sambil memeluk dia.
"Sekarang ini yang elu sebut wawancara tekanan." Ucap Alvin sambil tersenyum.
"tiga tekanan wawancara!" Alvin tersenyum dengan sangat jahat.
Tomoe mulai sangat marah dan sangat cemburu kepada 3 gadis itu.
3 gadis itu tertawa karena kata-kata Alvin yang sangat lucu.
"Sudahlah! Sudahlah!" Ucap Tomoe yang sangat cemburu.
"Hmm?" Alvin menatap Tomoe.
"Oh, Tomoe. Kenapa kamu masih disini?
Tomoe terkejut.
"Aku gak butuh kamu lagi!" Alvin mengusir Tomoe dengan muka yang serius.
"Ahh!? TUNGGU!!!" Tomoe mengeluarkan stiknya.
Tiba-tiba Tomoe terbangun dan melempar bantalnya ke drumnya.
CLAAAAAAAANG!!!
Drum itu bersuara sangat kencang.
"Hah... hah... Hmm?" Tomoe melihat sekitar.
"Cuman mimpi ya...?" Ucap Tomoe dengan sangat lega.
"Kenapa aku mempunyai mimpi aneh seperti itu?" Tomoe berdiri dan menatap cermin.
Beberapa menit kemudian...
08:00
Diluar sekolah, Tomoe sedang berjalan sendirian sambil memikirkan mimpinya.
"Selamat pagi, Tomoe!" Fiah menyapa kepada Tomoe sambil melambai.
Tomoe melihat Fiah dengan muka yang agak sedih.
"Kenapa kamu kelihatan sedih begitu?" Ucap Fiah yang sangat penasaran.
"Aku mengalami mimpi buruk." Jawab Tomoe dengan muka yang sedih.
"Pasti menyedihkan ya." Jawab Fiah.
"Tentu saja! Aku sekarang seharusnya membantu Alvin mengumpulkan anggota baru untuk menjadi osis dan guru, tapi dengan pikiran ini yang di penuhi oleh tikungan pelako---" Tiba-tiba Tomoe keceplosan.
"Ahh?!" Tomoe terkejut dan menutup mulutnya.
"Kamu tadi bilang "pelakor," ya?" Ucap Fiah yang sedang kebingungan.
Tomoe mulai merasa malu dan ingin melarikan diri.
"Umm... Tomoe?" Fiah mulai khawatir.
"Aku permisi dulu." Tomoe bergegas lari menuju ruangan osis.
Beberapa jam kemudian...
Di dalam ruangan rapat, Alvin dan Tomoe sedang mengumpulkan beberapa guru baru.
"Hahahahaha! Saya kalah dalam pemilihan walikota baru-baru ini." Ucap pria itu.
"Jadi saya akan mulai dari sini dan menjadi guru IPA." Ucap pria tersebut sambil tersenyum.
"Itu tidak akan terjadi!" Jawab Varez yang sedang menyilang tangannya.
"Dia terlihat terpercaya." Ucap Tomoe.
"Baiklah. Diterima." Ucap Alvin dengan muka yang serius.
"Kamu serius, ketua?!" Ucap Varez dengan terkejut.
"Sikap yang tangguh nya itu akan membuatnya terus berjalan."
Alvin mencap data pria itu.
---
"Uwaaahhhhhhh!!! Jika aku mencoba untuk menjadi pria yang peka, aku bisa mendapat gadis cantik itu...!!!" Ucap pria yang sedang menangis.
"Bagaimana alasan seperti itu bisa menerima kamu menjadi guru?" Ucap Varez.
"Air mata seorang pria sejati bisa membuatmu menjadi tangguh." Ucap Tomoe dengan muka yang sangat serius.
"Baiklah. Diterima." Alvin mencap data pria tersebut.
"Apa!?" Varez terkejut.
"Guru ini pasti bakal mengajar dengan baik dan akan melawak semua murid." Ucap Alvin.
---
"Aku dipecat dalam pekerjaan gulat ku..." Ucap pria macho tersebut.
"Aku selalu takut untuk bergulat, jadi aku tidak bisa melawan musuhku." Ucap pria macho itu.
"Kenapa bapak ingin jadi pegulat, kalau bapak takut melawan musuhmu!" Ucap Varez sambil menghantam dahinya.
"Sepertinya pantas dijadikan satpam." Ucap Tomoe.
"Benar juga." Ucap Alvin.
__ADS_1
"Rez, panggil Pak Okuni kesini." Melihat Varez.
"Siap, bos!" Varez langsung bergegas ke ruang satpam.
Beberapa menit kemudian...
Pak Okuni dan pria tersebut langsung melakukan gulat di depan mereka.
"Gue kira pria macho itu tidak bisa bergulat." Ucap Alvin yang sedang menyilang tangannya.
"Diterima!" Ucap Alvin sambil mencap data pria macho itu.
---
Alvin telah menerima cukup banyak guru dan satpam untuk sekolahnya.
Dan tiba-tiba...
Agatha membuka pintu dan memasuki ruangan itu.
"Ohh, elu ya?" Ucap Alvin dengan muka yang serius.
Tomoe mulai terkejut.
Agatha duduk di kursi dan tersenyum.
"Aku Agatha Rihasi. Senang bertemu denganmu." Agatha tersenyum.
"Gadis biasa" Varez tersenyum.
"Walaupun elu menyebalkan... Bodo amat lah. Mari kita mengadakan wawancara ini dengan benar." Ucap Alvin sambil menatap Agatha.
"Gue bakal jaga omongan gue ini." Ucap Alvin.
Muka Tomoe sangat terkejut dan cemburu.
"Ahh..." Tomoe mulai khawatir.
"Apakah itu tanda-tanda?!" Ucap Tomoe yang sangat khawatir.
Agatha tersenyum.
"Baiklah..." Alvin melihat data Agatha.
"Agatha Rihasi..." Ucap Alvin.
"Oh, kamu pernah juara lomba renang ya? Dan pernah membuat film yang sangat popular." Alvin tersenyum.
"Film apa yang aku sedang bicarakan?" Alvin menatap Agatha dan tersenyum.
"Oh, film AVs" Agatha tersenyum.
AVs singkatan dari Adult Videos... Jadi itu dasarnya video untuk orang dewasa.
"Ohh." Alvin tersenyum.
Tiba-tiba Alvin menyadarinya.
Alvin dan Varez terkejut.
"Tunggu, apa?!"
"AVs" Agatha tersenyum kepada Alvin.
"AHH!?" Alvin dan Varez terkejut.
Tomoe mulai merasa muak dan jijik dengan video orang dewasa.
"Umm, kamu pernah melakukan itu berapa lama?" Ucap Alvin yang sangat gugup dan mulai lengah.
"Cukup lama sih, waktu aku masih 10 tahun." Agatha tersenyum.
"Sepuluh tahun!?" Alvin mulai sangat terkejut.
"Iya." Agatha tertawa.
Varez mulai memegang baju Alvin dan muka ia sangat merah. Ia ingin sekali melihatnya.
"Tanya dia nama website nya, ketua. Gue harus tau!" Ucap Varez sambil tersenyum.
"Itu tidak sopan, goblok!" Ucap Alvin kepada Varez dengan muka yang serius.
"Ada apa?" Ucap Agatha.
"Ahh! T-Tidak apa-apa, maaf." Alvin menoleh kembali kepada Agatha dan tersenyum.
"Saya mengerti tentang itu." Agatha tersenyum.
"Terima kasih banyak." Alvin tersenyum sambil tersipu malu.
"Alvinku, tergoda oleh pelakor bajingan ini..." Ucap Tomoe dengan sangat marah.
"Cepatlah, ketua! Tanya websitenya kepada dia!" Ucap Varez yang tidak sabar untuk melihatnya.
"Diam, goblok!" Alvin mendorong Varez dari hadapannya.
Varez langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari film itu.
Alvin menatap Agatha dan Agatha tersenyum.
Alvin mulai berbisik kepada Tomoe.
"Tomoe, kamu punya ide gak?" Ucap Alvin.
Tiba-tiba Tomoe memegang dasi Alvin dengan sangat kencang dan melihatnya dengan muka yang sangat cemburu.
"Dengar, Alvin." Ucap Tomoe dengan muka yang cemburu.
"Jangan berani-berani menyerahkan uang itu padaku!" Ucap Tomoe dengan muka yang cemburu.
"Aku kehilangan pikiran ku di sini."
Alvin mulai merasa takut dengan ucapan Tomoe.
"Dia terlihat sama seperti di mimpi burukku, dan riwayat kerjanya benar-benar mengguncangmu." Ucap Tomoe dengan sangat cemburu
"Tipe gadis demplon yang berpengalaman "itunya" lebih hebat, tak sama sepertiku!" Ucap Tomoe yang sangat cemburu.
"Jangan bilang kau ingin membuatnya menjadi wakil ketua osis dan meme---" Tomoe mulai keceplosan.
"Hmmm!!!" Tomoe menutup mulutnya.
"T-Tomoe?" Alvin mulai merasa bingung dengan sikap Tomoe.
"Tanya alasannya kenapa ingin menjadi osis." Ucap Tomoe.
"Ah, benar juga." Jawab Alvin.
"Apa alasan kamu untuk menjadi osis?" Ucap Alvin.
"Saya rasa saya ingin sekali mempunyai tanggung jawab yang sangat besar."
"Diterima!" Alvin mencap data Agatha.
"Terima kasih banyak!" Agatha tersenyum.
---
Alvin minum kaleng yang berisi jus.
"Maaf terlambat!" Ucap Yuka sambil menutup pintu tersebut.
"Ohh, Yuka." Alvin tersenyum.
Yuka duduk di kursi yang di sediakan.
"Aku Yuka Firtia. Salam kenal!" Yuka tersenyum.
"Lagi?! Pertanda..." Tomoe terkejut.
Alvin tiba-tiba melihat darah di bajunya.
"Ehh? Itu darah?!" Alvin menunjuk baju Yuka.
"Ohh, bukan apa-apa, ini hanya luka goresan." Yuka menggerakan tangannya dan tiba-tiba darah itu mengenai meja Alvin.
"Wanjer! Ternyata darah beneran!" Alvin terkejut.
"Sepertinya dia kehilangan 1 liter darah." Ucap Tomoe dengan muka yang serius.
"Panggil ambulan!" Ucap Alvin.
"Tidak! Itu tidak apa-apa!" Ucap Yuka dengan kesakitan.
"Aku mempertaruhkan semuanya dalam wawancara ini!" Ucap Yuka yang menahan kesakitan.
"Jangan mempertaruhkan hidup mu, Yuka!" Alvin berdiri.
__ADS_1
"Aku belum bisa pergi..." Ucap Yuka dan mulut di berdarah.
"Kau diterima!!!" Alvin berteriak.
"Kau diterima, jadi kumohon masuklah ke ruang UKS." Ucap Alvin.
Tiba-tiba ada pria gila memasuki ruangan tersebut.
Mereka menatap pria tersebut.
"Siapa dia?" Ucap Alvin.
"Kakak!" Ucap Yuka dengan sangat terkejut.
"KAKAK!?" Alvin mulai terkejut juga.
"Dia tidak setuju aku menjadi osis di sekolah ini." Ucap Yuka.
"Jadi dia mencoba untuk menghambat aku untuk ikut." Ucap Yuka.
"YUKAAAA!!!" Kakak Yuka mulai lari menuju Yuka.
Alvin berdiri dan lompat menuju kakak Yuka.
"DASAR ORANG GILAAA!!!" Alvin menendang muka Kakak Yuka dengan sangat keras.
"URRRGGHHHH!!!" Kakak Yuka terjatuh.
Alvin menatap Kakak Yuka.
"Pria gila ini kenapa sih? Cuman pake kolor doang kesini." Alvin menyilang tangannya dan menatap Yuka.
"Kakak ku ini emang gila, hahaha!" Yuka tertawa.
"Njer! Ternyata bener!?" Alvin terkejut.
"Rez, lakukan sesuatu kepada pria gila ini!" Ucap Alvin dengan muka yang serius."
"Siap, ketua!" Varez menghampiri Kakak Yuka dan menggusur dia keluar.
---
Alvin dan Tomoe sudah mengumpulkan semua anggota-anggota baru.
"Kita akhirnya malah menerima gadis-gadis itu." Ucap Varez sambil minum.
"Yah, Fiah, Lily, Aura, dan Firana. Mereka cukup bertanggung jawab dan dapat dipercaya." Ucap Alvin yang sedang menyilangkan tangannya.
"Kita butuh satu anggota lagi." Ucap Alvin.
"Ummm..." Reina berada di belakang Varez tapi mereka tadi menyadarinya.
"Itu tidak masalah. Mereka ini memang selalu harus dipercaya karena mereka mempunyai tanggung jawab yang cukup besar." Ucap Tomoe.
"Hmm... Emang benar." Ucap Alvin.
Alvin tiba-tiba melihat Reina.
"Ohh, juniorku?" Ucap Alvin sambil melihat Reina.
"U-Uh... Aku..." Ucap Reina yang sangat gugup.
Tomoe langsung terkejut kembali.
"Hah!?" Tomoe terkejut.
"Satu lagi di mimpiku..." Tomoe mulai cemburu.
"Mimpi? Kamu ini kenapa sih, Tomoe?" Ucap Alvin yang penasaran.
"Ahh! Gak apa-apa." Jawab Tomoe sambil tersenyum.
"Mungkin dia anggota terakhir kita." Ucap Tomoe.
"I-Itu benar! Aku Reina Monika!" Ucap Reina,
"A-Aku ingin menjadi osis karena..." Reina mulai gugup.
"Reina, tenanglah!" Ucap Alvin sambil tersenyum.
"M-Maaf!" Ucap Reina dengan malu.
Alvin menatap Tomoe.
"Bagaimana?" Ucap Alvin.
"Dia boleh juga. Lagian kita tidak punya murid kelas satu yang menjadi osis. Selain itu juga, dia pasti bisa merayu mu---" Tomoe keceplosa lagi.
"Ahh!!!" Tomoe terkejut dan menutup mulutnya.
"Dia boleh juga, ketua. Lagian tidak ada murid adik kelas yang menjadi osis." Ucap Varez.
"Benar juga." Alvin mengangguk.
Alvin menatap Reina.
"Reina, kamu diterima." Alvin tersenyum.
"Terima kasih banyak!" Ucap Reina sambil tersenyum.
"Uhh..." Tomoe mulai sangat cemburu.
Beberapa menit kemudian...
Alvin merapihkan data-data tersebut.
"Ini yang terakhir." Alvin memberikan semua data tersebut kepada Tomoe.
Tomoe mengambilnya dan menghampiri pintu keluar.
"Uwahhh~ Capenya..." Alvin meregangkan kedua tangannya
Tomoe memegang pintu tersebut dan mulai cemburu.
Tomoe menatap Alvin dan Alvin sedang meregangkan otot-ototnya.
Alvin melihat ke arah Tomoe.
"Ada apa?" Ucap Alvin.
"Berhentilah bertingkah bodoh dan aneh, Tomoe!" Ucap Alvin dengan muka yang serius.
Tomoe terkejut.
"Apakah kamu mencoba untuk menghibur aku?" Ucap Tomoe dengan muka yang sedih.
"Menghibur kamu? Siapa, aku?" Ucap Alvin.
"Hadeuh..." Tomoe kecewa.
"Aku sangat iri kepada kamu." Ucap Tomoe sambil melihat pintu tersebut.
"Yah, sudah pasti kamu iri dengan bakat ku yang sangat hebat ini." Alvin menyilang tangannya.
"Jangan membiarkan itu menghambat kamu, Tomoe." Ucap Alvin.
"Alvin, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu terhadap harga diri yang merendahkan orang itu?" Ucap Tomoe.
"Tapi aku memang di atas. Apa boleh buat." Ucap Alvin.
"Ya tuhanku, mohon bawakan bencana kepada lelaki ini." Ucap Tomoe dengan muka yang kesal.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Ucap Alvin dengan penasaran.
"Tidak. Kalau begitu, aku permisi dulu." Tomoe membuka pintu tersebut dan keluar dari ruangan tersebut.
Tomoe menutup pintu kembali dan tersenyum.
---
19:00 PM
Di dalam kamar Tomoe.
Tomoe sedang mengerjakan tugas nya sebagai wakil ketua osis.
Tiba-tiba Tomoe mencari website Agatha.
Tomoe mulai gugup dan penasaran.
Tomoe langsung terkejut.
"Jadi bukan video orang dewasa ya? Ternyata maksudnya itu "Animal Videos"?" Tomoe salah paham.
...***...
...Sampai jumpa lagi di chapter 11~ Jangan lupa vote dan commentnya ya~...
__ADS_1
...Bye-bye~~~...