Takdir Menolak Cinta-nya

Takdir Menolak Cinta-nya
Kemunduran Diriku dan Dirimu


__ADS_3

Di luar sekolah, cuacanya sedang tidak sangat mendukung karena hujan yang sangat besar.


Alvin yang sedang berjalan di lorong sambil melamun memikirkan kejadian yang kemarin..


Tiba-tiba Tomoe lewat Alvin dan Alvin melihat nya.


"Yo." Sapa Alvin sambil melihat Tomoe.


Tomoe melihat Alvin dengan muka yang kesal.


"Hmph." Tomoe mulai kesal dan tidak mau melihat muka Alvin dan ia tiba-tiba pergi dari hadapan Alvin.


Alvin terkejut.


"Hmph." Alvin langsung pergi dari hadapan Tomoe juga.


Beberapa menit kemudian... di dalam ruangan osis


Alvin dan Tomoe tidak saling menatap dan bahkan berbicara satu katapun.


"... ..." Alvin yang sedang membaca dokumen-dokumen itu sambil tidak memperdulikan Tomoe.


"... ..." Tomoe juga yang sedang berkerja di komputernya tidak memperdulikan Alvin.


-\=-\=-


"Diluar hujannya hebat sekali ya." Ucap Firana.


"Jarang-jarang terjadi seperti ini" Jawab Firana sambil melihat hujan yang sangat besar.


"Berkat ini, kita tidak bisa olahraga." Ucap Aura yang sedang duduk di kursi sambil melihat hujan.


Tiba-tiba satpam yang sedang menjaga pompa air menghampiri mereka.


"GAWAT!!!" Jawab satpam itu yang sedang panik.


"Hah... hah... hah...." Satpam itu kecapean.


"Ada apa?" Ucap Lily.


"Jangan hujan-hujanan nanti sakit loh!" Ucap Fiah.


"Peralatan drainasenya..." Ucap Satpam itu dengan panik.


Beberapa menit kemudian...


Di tempat pembuangan air, ada satu pipa yang terhambat.


"Barang rongsokan ini makin memperparah keadaan saat hujan deras ini." Ucap Satpam itu sambil menatap Alvin.


"Kalau terus begini, fasilitas bawah tanah bisa-bisa kebanjiran." Ucap Satpam itu dengan muka yang khawatir.


"Apa?!" Alvin terkejut.


"Itu masalah besar, bos!" Jawab Varez.


"Bisa-bisa kita malah akan libur sebulan penuh!" Jawab Varez yang sedang panik.


"Kenapa malah rusak di saat begini?" Ucap Alvin yang sedang berpikir cara lain.


"Duh, ketua osis. Kita kemarin membahas hal ini, 'kan?" Jawab Satpam itu.


"Kamu menyuruhku mematikan yang satu ini." Jawab Satpam itu dengan serius.


"Ahh!" Alvin terkejut.


"Tapi bagaimana jika saat itu ada kondisi darurat?" Jawab Tomoe.


"Apa kapasitas airnya terlalu banyak untuk mesin lainnya?" Tanya Alvin.


"Ya, kira-kira begitu." Jawab Satpam tersebut.


"Kita harus bagaimana, bos? Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu!" Tanya Varez sambil menatap Alvin.


Alvin mulai berpikir dan panik sedikit.


"Bagaimana ya... Pertama, pindahkan barang koperasi. Tidak, lalu bagaimana keselamatan para pegawai dan murid-murid?" Jawab Alvin sambil berpikir.


"Tapi, kalau kita tidak menghentikan banjir ini, bisa-bisa sebelum kita masuk sekolah ini, segalanya malah berakhir!" Alvin mulai merasa bingung.


Tiba-tiba Tomoe membuka pintu tersebut.


"Datanglah ke ruang rapat. Aku sudah siapkan segalanya." Jawab Tomoe yang berada di belakang mereka.


Alvin menatap Tomoe dengan sangat terkejut.


"Tomoe?!" Alvin terkejut.


---


Tomoe sedang berbicara di ponselnya.


"Kumpulkan pompa pemadam api dan tempatkan di sepuluh titik penting." Ucap Tomoe.


"Di sini regu club musik. Pompa yang diperlukan sudah di dapatkan." Ucap ketua club musik yang sedang berbicara di ponselnya.


"Setiap regu drainase memakai ember untuk mengeluarkan air hingga pompa tiba." Ucap Tomoe dengan sangat serius.


"Di waktu yang sama, gunakan kantung pasir untuk mencegah luapan." Ucap Tomoe yang berbicara dengan sangat serius.


"Regu koperasi melapor! Pencegahan luapan sudah di pasang di tempat keempat!" Ucap pemilik koperasi.


"Setelah itu menuju sisi timur di tempat kelima." Ucap Tomoe.


"Siap laksanakan!" Ucap pemilik koperasi dan menutup telepon nya.


"Pompa sudah terpasang." Ucap Bu Siti kepada Tomoe.


"Aku mengerti." Tomoe mengangguk.


Tomoe berdiri.


"Seluruh regu: jalankan misi pengeringan!" Tomoe menunjuk pintu kepada semua guru dengan sangat serius.


"Siap!" Jawab semua guru.

__ADS_1


Alvin terkejut dengan sikap Tomoe yang bekerja keras.


Semua guru bergegas keluar.


Ponsel Tomoe berdering dan Tomoe menjawabnya.


"Ini dengan regu eskul renang. Kami sampai sekarang masih memakai ember." Ucap Fiah.


"Tolong segera kirimkan pompa kemari!" Ucap Fiah dengan sangat kecapean.


"Kita perlu pompa di tempat yang paling terkena dampaknya, tapi aku akan mengirim satpam untuk membantu kalian." Ucap Tomoe.


Tomoe menatap satpam tersebut.


"Pak Okudi, kamu dengar sendiri." Ucap Tomoe.


"Saya mengerti." Pak Okudi bergegas menuju tempat Fiah berada.


"Bertahanlah dua puluh menit lagi." Ucap Tomoe yang kembali berbicara dengan Fiah.


"Aduuh..." Ucap Fiah.


Tiba-tiba regu eskul sepak bola menelpon balik.


"Bantuan! Kami tidak bisa bergerak!" Ucap ketua eskul sepak bola.


"Tolong pertahankan posisi kalian." Ucap Tomoe.


Alvin tersenyum dan menatap Bu Siti.


"Bu, ambil alih. Tolong sediakan makanan dan tempat beristirahat bagi para ketua club dan eskul." Ucap Alvin dengan muka yang serius.


"Saya mengerti." Bu siti mengangguk.


Alvin berjalan pergi dari ruangan.


Beberapa menit kemudian...


Hujan mulai mengecil dan berhenti.


"Regu Koperasi pada Markas." Ucap pemilik koperasi.


"Pompa drainase kembali berfungsi." Ucap pemilik koperasi yang merasa sangat senang.


"Dengan Markas. Dimengerti." Ucap Tomoe yang tersenyum.


"Aduh..." Tomoe duduk di kursinya dan merasa kecapean.


"Terima kasih kerja kerasnya." Ucap Tomoe yang kelelahan


"Tidak, ini semua berkatmu." Ucap pemilik koperasi.


"Kau berusaha dengan baik, nona wakil ketua osis." Ucap pemilik koperasi itu sambil tersenyum.


Tomoe terkejut dan menatap Alvin.


Alvin tersenyum.


"Kalau begitu, aku akan bekerja lagi saat ini juga. Sudah dulu." Ucap pemilik koperasi dan mematikan ponselnya.


Alvin menatap Tomoe dengan muka yang bingung.


Tomoe mulai merasa malu dan tidak ingin melihat kepada Alvin.


---


Di ruang bawah tanah.


Alvin dan Tomoe sedang mengerikan kabel yang basah agar kabeh tersebut tidak konslet.


"Di sini sepertinya juga sudah tidak apa-apa, tidak ada kabel yang basah." Ucap Alvin sambil melihat kabel-kabel tersebut.


"Aku mengerti." Ucap Tomoe.


"Disini yang terakhir?" Tanya Alvin sambil melihat-lihat.


"Ya." Jawab Tomoe.


Mereka berdua langsung tidak mengeluarkan satu kata apapun. Tiba-tiba Tomoe langsung merasa sedih.


"Alvin." Tomoe memulai percakapan.


"Kenapa?" Jawab Alvin sambil melihat kabel.


"Bukannya aku ada masalah denganmu." Ucap Tomoe.


"Lantas?" Jawab Alvin.


"Masalahnya ada pada diriku." Ucap Tomoe dengan sangat sedih.


"Sebelum aku bergabung kembali menjadi osis, aku pernah menjadi ketua osis." Ucap Tomoe.


"Hanya seorang ketua osis sok pengatur yang bisanya mengatur osis lain seenaknya." Ucap Tomoe.


"Sebenarnya, selama ini aku sudah tahu kalau diriku ini tidak pantas dalam misi ini."


"Tapi aku ingin hidup sesuai harapan mereka." Ucap Tomoe dengan muka yang sangat sedih.


"Aku berusaha sebaik mungkin untuk bersosial dengan semua orang. Tapi aku gagal." Ucap Tomoe.


"Hmph. Kegagalan pertama bagi seorang putri dari keluarga militer, ya?" Ucap Alvin.


"Bisa dibilang... memang begitu." Ucap Tomoe.


"Kau bisa saja tinggal menghiraukan reputasi keluargamu lalu kabur." Alvin berhenti melihat-lihat kabel tersebut.


Tiba-tiba Tomoe tidak berkata apapun.


"Tomoe?" Alvin menatap ke arah Tomoe.


Muka Tomoe terkejut.


"Jadi begitu." Jawab Tomoe dengan terkejut.


"Aku belum kepikiran sampai segitunya." Ucap Tomoe.

__ADS_1


"Oi." Alvin mengeluh.


"Pokoknya, aku udah gagal." Tomoe kecewa.


"Dan aku tidak tahu bagaimana cara menghadapi kenyataan itu." Ucap Tomoe.


"Lalu akhirnya seluruh teman-teman ku membenciku." Ucap Tomoe dengan muka yang sedih.


"Aku pasti juga akan gagal, jika aku putus asa sepertimu." Alvin berjalan pergi.


"Huh?" Tomoe mulai bingung dan lalu ia mengikuti Alvin.


"Ahhh... Ehem!" Alvin membenarkan suaranya karena dia akan memberi tahu Tomoe rahasianya.


"Aku ini takut sama kecelakaan dan bahkan aku sampai ga mau pergi ke luar kota atau negara pake pesawat dan kereta." Alvin memulai percakapan.


"Ahh!" Tomoe langsung terkejut dan menatap Alvin.


"Saat aku masih kecil, aku selalu di ajak jalan-jalan sama kakakku." Ucap Alvin.


"Yah, gimana ya..."


"Aku tiba-tiba tumbuh besar dan tinggi dengan takut kecelakaan atau berpergian dengan kereta dan pesawat." Ucap Alvin sambil tersenyum.


"Pada dasarnya aku sama dengan dirimu." Ucap Alvin.


"Mungkin aku takut orang tuaku kecewa, atau kehilangan kakakku..." Ucap Alvin.


"Belum lagi aku masih belum tahu di mana kakakku berada sekarang."


"Itu bukan unsur kesengajaan atau apa pun, tapi saat itu aku berhenti berpergian dan merencanakan hanya diam di rumah saja." Ucap Alvin sambil tersenyum.


"Tapi ide itu malah aku dimarahi, mengecewakan orang-orang, dan menyebabkan tumpukan masalah untuk semua orang."


"Benar-benar saat yang mengerikan." Alvin tersenyum.


"Sepertinya memang begitu." Jawab Tomoe.


"Begini ya..." Alvin mulai ingin memberi Tomoe percakapan motivasi.


Alvin berhenti berjalan dan menghadap Tomoe dengan muka yang sangat serius.


"Intinya." Alvin mulai bergaya.


Tomoe melihat Alvin.


"Kemunduran diriku dan milikmu hanyalah masalah sepele yang tidak ada bedanya dengan kejadian dalam kehidupan sehari-hari!" Alvin berbicara sambil bergaya.


"Cuma gara-gara masalah sepele membuatmu tertekan yang artinya kau manusia tidak berguna!" Alvin tersenyum.


"Benar-benar AMPAS!!!" Ucap Alvin dengan tersenyum lebar kepada Tomoe.


Tomoe terkejut dan terpesona oleh kata-kata tersebut.


"Gimana? Perasaanmu mulai terdorong?" Alvin tersenyum.


Alvin mulai tertawa.


"Hahahahahaha!!!" Alvin tertawa dengan sangat keren.


"Benar juga. Kamu mungkin ada benarnya." Ucap Tomoe dan ia mulai tersenyum.


"Kalau paham baguslah." Alvin tersenyum.


"Tapi, tidak kusangka kamu mau menceritakan semua itu padaku."


"Ahh! Oh iya. Bener juga." Alvin mulai menyadarinya.


"Kenapa ya? Aku sendiri tidak tahu." Jawab Alvin dengan senyuman.


---


Alvin dan Tomoe pergi dari ruangan gudang tersebut dan melihat banyak orang.


"Ahh! itu dia!" Ucap ketua eskul basket sambil menunjuk mereka.


"Kamu hebat banget, Tomoe!" Ucap ketua eskul voli sambil tersenyum.


"Ehh?" Tomoe mulai bingung.


"Kami berterima kasih padamu!" Ucap mereka sambil bertepuk tangan.


"Barusan, kamu bilang sendiri mereka membencimu." Ucap Alvin.


"Setelah melihat ini, kamu masih berpikir begitu?" Alvin tersenyum sambil melihat muka Tomoe.


Tomoe tersenyum dan merasa sangat bahagia.


Alvin tersenyum dan merasa lega melihat muka bahagia Tomoe.


"Ohh, kalau tidak salah, kudengar kamu tawuran lagi sama geng yang lain ya?" Tomoe melihat Alvin.


"Ahh! Kau tahu soal itu, ya?" Alvin tertangkap basah.


"Fernando bercerita padaku dan kamu pergi keluar naik kereta ya?" Ucap Tomoe dan menatap Alvin.


"Lalu, soal takut berpergian dengan kereta itu, kamu baik-baik saja saat menaikinya?" Tomoe tersenyum dan mengolok-ngolok Alvin.


Alvin terkejut.


"Cerewet banget sih! Ahhh!" Alvin mulai tidak menatap muka Tomoe dan merasa malu.


"Apa kamu sudah mengatasinya?" Tomoe tersenyum.


"Memangnya masalah buat lo?" Alvin mulai berjalan pergi dari Tomoe.


Tomoe malah mengikuti Alvin sambil tertawa.


"Aku benar-benar ingin tau!" Tomoe tersenyum.


"Yang benar saja." Alvin menepuk dahi nya dengan sangat keras.


...***...


...Sampai jumpa lagi di chapter 10, ya~?...

__ADS_1


...Jangan lupa vote dan comment nya ya~...


...Dadah~ :3...


__ADS_2