
Hari kamis, sebelum festival budaya dimulai, masih tersisa 5 hari lagi sebelum festival budaya dimulai. Jam dua belas pada siang hari, Alvin dan Tomoe berjalan menghampiri ruangan klub seni
Tomoe menatap Alvin dan eksperesi Alvin sedang sangat serius dan tegas, dia harus membantu klub seni agar klub seni bisa dikenal lebih oleh semua murid dari SMA ini.
Tomoe memulai percakapan dengan senyuman "Apakah festival budaya ini akan berjalan lancar?"
"Kita tidak akan pernah mengetahuinya jika kita melihat hasilnya, 'kan?"
Alvin dan Tomoe sudah melihat formulir tentang klub Seni, dan ternyata tidak ada anggota yang tegas dan fokus dalam membuat sesuatu di festival budaya. Alvin bisa melihat ada satu anggota yang niat untuk membuat sesuatu untuk festival budaya sekarang, namanya adalah Marina.
Bahkan Alvin merasa putus asa melihat ketua klub Seni yang sangat tidak berguna.
Alvin memasuki kedua tangannya ke sakunya "Dilihat dari sudut pandang klub seni ini. Jika mereka tidak di bimbing oleh kita hari ini, mereka pasti tidak akan membuat sesuatu untuk festival budaya."
"Emang klub seni membuat apaan tahun lalu?" Tanya Tomoe dengan penasaran.
"Enggak ada. Mereka termasuk klub yang termalas di SMA ini" Alvin mulai mengeluh dan putus asa dengan klub Seni.
Tomoe terkejut. "Hah!? Apa!?"
Alvin menoleh kepada Tomoe dan tersenyum "Klub seni hanya lebih mengutamakan kompetisi."
Tomoe mengangkat alis matanya dan mulai putus asa juga dengan klub Seni. "Yang penting mereka harus berubah mulai sekarang!"
Beberapa menit kemudian...
Di dalam ruangan klub seni tersebut, Alvin dan Tomoe sudah berada di dalamnya dan mereka sedang mendiskusikan sesuatu sedangkan semua anggota klub seni sedang mengerjakan gambar mereka.
"Aku pikir mungkin kita bisa membuat sesuatu untuk festival budaya." Pak Hasan memulai percakapan dan ia mempunyai ide yang besar.
"Oh, saya mengerti." Ucap Ruma dengan muka yang serius dan ia mengancungkan tangannya.
"Kita akan membuat sesuatu dari kaleng bekas."
"Dan kita hanya akan pakai kaleng dari sekolah, dan temanya adalah "dibuat di Sekolah." Pak Hasan tersenyum.
"Itu boleh juga! Terdengar menyenangkan!" Marina tersenyum.
"Benarkah? Itu berarti usaha bapak mengumpulkan kaleng tidak sia-sia!" Ucap Pak Hasan.
Marina menoleh ke arah Ruma. "Bagaimana, Ruma?"
"Tapi aku sibuk menggambar bini ku, jadi aku tak ada waktu untuk hal itu." Ucap Ruma sambil menggambar.
"Tentu saja..." Pak Hasan mulai hilang harapan karena jawaban Ruma yang malas melakukannya.
"Sudah sedikit terlambat untuk itu, ya?"
Alvin mengeluh dan menarik nafasnya, ia menghampiri Ruma dengan muka yang sangat serius.
"Woy, pak Hasan udah berusaha untuk ide ini." Alvin menghantam meja dengan sangat keras.
"PAk Hasan akan sedih kalau elu tidak menurutinya."
"Eh..." Jawab Ruma dengan sangat malas.
Alvin hampir marah dan hilang kesabaran kepada Ruma yang menolak dengan muka yang malas, itu hampir membuat Alvin menghantam mukanya.
"Festival budaya itu penting untuk klub seni!" Tomoe baru datang dan memegang bahu Alvin agar Alvin tidak melakukan sesuatu yang sembrono.
---
Marina dan anggota lainnya sedang mendiskusikan cara membuat sesuatu yang baru dari kaleng bekas. Marina menghantam papan tulis.
"Jadi, pertama, kita harus buat bentuknya." Ucap Marina kepada mereka semua.
"Itu akan dipajang di tengah ruang olahraga, jadi kita harus membuat sesuatu yang mencolok dan belum pernah di lihat sebelumnya."
"Sesuatu yang sangat cocok dengan klub seni, dan sesuatu yang tidak rumit." Marina mulai berpikir dan membutuhkan saran.
"Aku!" Ruma mengacungkan tangannya dan tersenyum.
"Ruma?" Ucap Marina.
"Gadi---"
"Ditolak!" Marina dengan tidak segan menolak ide Ruma yang sangat tidak berguna.
Tomoe menaikan alisnya dan mulai kebingungan. "Ide apaan tuh membuat gadis dari kaleng? Ribet amat."
"Hahahahaha! Kau tak mengerti, ya, Ruma?" Tina tersenyum dengan sangat naif.
"Apa kau mendengarkan yang Marina katakan?" Ucap Tina sambil tersenyum.
Marina menoleh ke arah Tina dan menunjuknya. "Baiklah, Tina, apa kamu punya ide yang bagus?"
"Pahlawan!"
"Ditolak!" Ucap Marina dengan sangat cepat dan mulai putus asa.
"Njir?! Pahlawan?! Buat nya mau gimana tuh?!" Alvin terkejut dan mengeluh.
"Ayolah! Kita tak ada banyak waktu!" Marina mulai kehilangan harapan.
Tomoe mempunya ide yang praktis dan mudah. Ia berdiri dan menghampiri Marina.
"Aku punya ide yang sangat sederhana nih. Aku ambil alih tempat mu." Ucap Tomoe sambil tersenyum dan mempunya ide yang sangat bagus.
"Kak Tomoe mempunyai ide yang sangat sederhana?" Tanya Marina sambil tersenyum.
"Mungkin."
Marina menghampiri teman duduknya dan ia duduk disitu dan melihat Tomoe yang sedang mengambil spidol dan menulis sesuatu di papan tulis tersebut.
"Klub seni akan membuat seni kaleng yang berbentuk cat kaleng!" Ucap Tomoe dengan menghantam papan tulis.
"Itu praktis banget!" Marina terkejut dan tersenyum.
"Dan juga!"
"Kita tambahkan sesuatu yang lebih indah ke seni tersebut dengan menambahkan cat tumpah dari cat tersebut." Tomoe menambahkan sesuatu di cat kaleng tersebut dengan menumpahkan cat.
"Itu akan membuatnya lebih dinamis." Tomoe tersenyum.
"Aku rasa ini akan berhasil. Ide kak Tomoe bagus juga!" Ucap Marina dengan sangat senang, dan ia bergegas membuat desainnya.
Ruma dan Tina setuju dengan ide Tomoe dan mereka langsung tersenyum.
"Baiklah, kita tak ada banyak waktu, tapi mari lakukan ini!" Ucap Marina dengan semangat.
"Ayo!!!" Ucap mereka semua.
Alvin melihat mereka dan ia langsung mempunyai harapan yang sangat besar untuk klub seni.
---
Rencana mereka semua harus mengumpulkan sebanyak mungkin kaleng kosong agar amunisi mereka cukup untuk membuat cat dari kaleng.
Alvin menaruh sebuah kardus penuh dengan kaleng di atas meja.
"Ini kelompok kaleng pertama." Ucap Alvin dengan menoleh ke arah Marina.
"Terima kasih." Ucap Marina dengan tersenyum.
Alvin menghitung semua kardus tersebut. "Gue rasa ini sekitar 300 kaleng kosong."
"Tak kusangka banyak sekali kaleng kosong di sekolah ini." Marina terkekeh.
"Aku sudah selesai dengan desainnya!" Ucap Tomoe sambil memperlihatkan desain tersebut.
Marina melihatnya.
Marina mengambilnya dan melihatnya, ia langsung merasa sangat senang. "Terima kasih!!!"
"Masih kasar, tapi itu bentuknya." Tomoe terkekeh.
"Kita akan membuatnya menjadi beberapa bagian dan menggabungkannya." Tomoe mulai mendiskusikannya.
Beberapa menit kemudian...
Mereka mulai mengerjakan perlahan-lahan.
"Pertama, kita lepas pembukanya." Tomoe melepaskan kaleng pembukanya.
"Ini akan jadi perkerjaan yang banyak." Alvin melepaskang kaleng pembukanya.
"Kita baru mulai." Jawab Tomoe yang sedang melepaskan kaleng pembukanya.
---
Selanjutnya mereka harus mencuci kaleng agar kaleng tersebut tidak mengandung kuman
"Selanjutnya, cuci kalengnya." Tomoe mencuci kaleng tersebut.
"Dingin, ya?" Tomoe menatap Alvin.
"Lumayan..." Alvin membersihkan kalengnya.
"Tanganku..." Ucap Tina yang tangannya sedang kedinginan.
---
Selanjutnya, kaleng yang sudah dicuci harus di keringkan dengan cara dibalik agar kaleng tersebut cepat kering.
"Dibalik untuk mengeringkannya." Tomoe membalikan kaleng tersebut.
Alvin tersenyum dengan sangat naif. "Proses nya gampang juga."
"Sementara itu, kita lepas pembuka kaleng-kaleng yang lain." Tomoe tersenyum dan menghampiri sekolahnya.
"Ohh." Alvin tiba-tiba mulai malas.
Mereka melakukan proses itu berulang kali sampai kaleng tersebut habis dan siap.
"Lepas pembukanya."
"Cuci kalengnya."
"Keringkan kalengnya."
Mereka semua melakukan proses dan mengulangnya sampai selesai. Alvin mulai merasa malas dan muak, ia bahkan tidak mengerjakannya lagi.
"Lepas pembukanya."
"Cuci kalengnya."
"Keringkan kalengnya."
Mereka semua mulai lebih semangat, kecuali Alvin yang kelelahan dan bahkan ia tidak niat untuk melanjutkannya lagi.
Beberapa menit kemudian...
Alvin mulai menanya kepada "Tomoe..."
"Ya?" Jawab Tomoe yang sedang melepaskan pembuka kaleng.
"Berapa kali kita harus melakukan ini?" Alvin mulai merasa muak dan kelelahan.
__ADS_1
"30 kali." Jawab Tomoe sambil melepaskan pembuka kaleng tersebut.
Kata-kata tersebut mulai menganggu pikir Alvin, dan ia tiba-tiba berdiri.
"Gue cabut dulu ya." Alvin meninggalkan ruangan klub seni.
"JANGAN BERMALAS-MALASAN!!!" Tomoe mulai marah kepada Alvin.
***
Tomoe sedang melihat kertas desain tersebut.
"Sekarang kita akan sambungkan seperti di rancangannya." Tomoe menunjukan kertas tersebut kepada mereka.
"Aku hanya perlu memasukkannya melewati kaleng ini, kan?" Ucap Tina yang sedang kebingungan.
"Ya. Pastikan kau mengurutkannya dengan benar." Tomoe menoleh ke arah Tina dan tersenyum.
Mereka mulai melanjutkan proses berikutnya yaitu memasukan tali ke dalam kaleng tersebut.
"Dan seminggu telah berlalu... Aku rasa kami bisa membuatnya tepat waktu." Ucap Tomoe sambil tersenyum
Alvin melihat kardus tersebut dan kaleng-kaleng tersebut hampir habis.
"Cadangannya hampir habis." Alvin mengambil kardus tersebut.
"Kita masih punya kok." Tomoe menoleh ke arah Alvin.
"Pak Hasan mengumpulkannya untuk kita."
"Kalau begitu aku akan ambil yang baru." Marina mengacungkan tangannya dan tersenyum.
***
Marina keluar dari gudang dan ia mengangkat 2 kardus yang berisi kaleng dan tiba-tiba guru melihat Marina yang sedang mengangkat 2 kardus yang sangat berat.
"Itu banyak sekali." Pak Endang terkejut.
"Apa yang kamu bawa?"
Pak Endang melihat isi kardus tersebut dan isinya hanya kaleng yang kosong.
"Kaleng kosong?" Pak Endang terkejut.
Marina berjalan pergi meninggalkan Pak Endang, Pak Endang melihat gudang itu dan melihat banyak sekali kardus yang berisi kaleng kosong.
"Semua sampah ini akan dibakar? Bagaimana ini!?" Pak Endang terkejut dan mulai marah.
Keesokan harinya...
Di dalam rumah Tomoe, Tomoe sedang memasang sepatunya.
"Aku berangkat!" Tomoe berdiri dan menoleh ke arah ibunya.
Ibu Tomoe menghampiri Tomoe dan tersenyum.
"Oh, kamu udah mau berangkat?" Tanya Ibu Tomoe.
"Iya." Tomoe mengangguk.
"Pagi sekali. Apa ada kegiatan penting?" Ibu Tomoe mulai penasaran.
"Ya. Seni kaleng klub seni hampir jadi. Sebagai wakil ketua osis, aku gak boleh terlambat!" Tomoe tersenyum.
"Oh ya? Akhirnya mau jadi, ya?" Ibu Tomoe tersenyum dan membenarkan dasi Tomoe.
"Semangat! Ibu akan tunggu hasilnya." Ibu Tomoe tersenyum dengan sangat gembira.
"Ya. Terima kasih, bu." Tomoe tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan rumahnya.
"Sampai jumpa."
***
Didalam ruangan klub seni. Tina sedang berdrama menjadi pahlawan daur ulang.
"Sayang sekali! Sayang sekali!" Tina menyilang tangannya dan tertawa.
"Siapa kau?" Ucap Ruma dengan muka yang serius dan ia langsung bergaya.
"Hehehe! Aku akan ambil dan mendaur ulang!!!" Tina mulai menyerang.
"Hei, itu dipakai. Jangan dirusak!" Tomoe menoleh ke arah mereka.
"Rasakan ini! Serangan DAUR ULANG!!!" Tina lari menuju Ruma tapi dia malah tersandung oleh kaleng yang berada di lantai.
Tina terjatuh dan kaleng tersebut rusak.
"Waduh?! Kamu tak apa-apa, Tina?" Tomoe lari menuju Tina dan membantunya.
"Aduh..." Tina mulai kesakitan.
Tina menatap Tomoe dan tersenyum.
"Aku tersandung dan jatuh." Tina terkekeh.
Ruma tiba-tiba melihat kaleng itu bengkok dan rusak.
"Waduh! Tina, bagian belakangnya bengkok dan rusak!" Ucap Ruma yang sangat terkejut.
"Huh?" Tina melapaskan topi kaleng tersebut dan melihatnya.
"Wanjeeerrr!?" Tina terkejut dan mulai ketakutan.
"Kau benar!" Tina menoleh ke arah Ruma.
Tina menoleh ke arah Tomoe. "Wahhh! Maaf!" Tina menunduk kepada Tomoe.
Tina mengambil kaleng yang membuat dia terjatuh.
"Tapi kaleng ini lebih bersalah karena membuatku jatuh!" Tina mulai panik.
Pak Hasan memasuki ruangan tersebut dan Tina mulai terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Maaf semua!" Ucap Pak Hasan yang sedang bersedih dan ia menunduk kepada mereka semua.
"Ehh?" Mereka mulai bingung.
"Sebenarnya..." Ucap Pak Hasan.
---
Pak Hasan memberi tahu mereka bahwa persedian kaleng-kaleng kosong yang berada di gudang telah di buang.
"Huh!? Semuanya dibuang?!" Ucap mereka semua kecuali Alvin yang sedang sibuk mengerjakan dokumen.
"Semuanya? Semua kaleng kosong yang kita kumpulkan?" Ruma terkejut dan mulai putus asa.
"Ya..." Ucap Pak Hasan yang sedang kehilangan harapan.
"Masih ada yang tersisa di ruang penyimpanan lain, tapi kita masih butuh 200 lagi." Ruma menoleh ke arah Marina.
"Dan sisa waktu kita tinggal 3 hari." Marina mulai berpikir.
"Kita mungkin tidak bisa mencari 200 kaleng lagi di sekolah." Ucap Tomoe yang sedang berpikir cara lain.
"Bagaimana ini?" Marina mulai kehilangan harapan.
"Maaf. Ini semua salahku." Ucap Pak Hasan yang menundukan kepala kepada mereka.
"Kalau saja aku menjelaskannya..." Ucak Pak Hasan.
"Tidak apa-apa. Jangan bersedih." Jawab Tomoe dengan muka semangatnya.
"Tapi kita harus melakukan sesuatu, 'kan?" Ruma menoleh ke arah Tomoe.
"Hmmm... Jadi tema "dibuat di Sekolah" harus di batalkan, dan kita harus mencari kaleng kosong dari rumah-rumah terdekat." Ucap Tomoe dengan ide barunya.
Alvin mematikan laptopnya dan mengacungkan tangannya.
Mereka semua menatap Alvin dan kebingungan.
"Kamu punya ide lain, Alvin?" Tomoe mulai tersenyum.
"Masih terlalu awal untuk menyerah." Alvin berdiri.
"Cuaca mulai dingin, tapi semua eskul olahraga masih butuh minuman dingan yang banyak." Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.
"Tapi tak mungkin sekolah menjual 200 kaleng berisi minuman." Ucap Ruma.
"Ya, itu takkan cukup. Jadi kita akan beli di supermarket."
"Tapi kalau begitu, itu namanya bukan "dibuat di sekolah." Ucap Ruma dengan muka yang serius.
"Tidak, tidak." Alvin mempunyai ide yang sangat bagus.
"Apa maksudmu, ketua osis?" Ucap Pak Hasan yang sangat penasaran.
"Kita beli murah di supermarket, lalu kita jual di sekolah." Ucap Alvin.
"Menjualnya? Kita?" Ruma terkejut.
Tomoe tiba-tiba mengerti yang di percakapkan Alvin.
"Ahhh!!!" Tomoe terkejut.
"Hee... Mengerti?" Alvin mulai tersenyum dan bergaya.
"Dimanapun kau membelinya, kalau kau meminumnya di sekolah, itu adalah sampah sekolah." Alvin menyilang tangannya dan ia tersenyum.
Mereka mulai terkejut dan setuju dengan ide Alvin.
"Mari kita lakukan!" Mereka mulai bersemangat dan mengacungkan tangan mereka.
"Sekarang sudah diputuskan. Aku akan cari uang, meski itu artinya aku harus kehabisan uang!" Ucap Pak Hasan dengan bersemangat.
"Aku akan minum lumpur kalau perlu!" Pak Hasan tertawa.
Alvin terkejut dan menahan tawanya.
"Tidak apa-apa, pak. Jangan paksakan dirimu." Tomoe tersenyum.
Beberapa menit kemudian...
Di lapangan, semua murid yang berolahraga kelelahan dan kepanasan.
"Panas sekali, anjay." Ucap murid yang kepanasan.
"Silahkan! Silahkan!" Tina melemparkan banyak sekali poster kepada mereka semua.
"Apa ini?" Murid itu melihat poster tersebut.
***
Marina dan anggota lainnya sedang menjual kaleng berisis minuman segar dengan harga yang murah, dan banyak sekali yang mengantri.
"Ada yang mau minuman dingin? Ada yang mau minuman dingin?" Marina tersenyum.
__ADS_1
"Hanya 1000 rupiah!" Marina tersenyum.
"Aku mau satu." Ucap murid tersebut.
"Aku juga." Ucap murid satunya lagi.
"Siap!" Ucap Marina.
"Tolong buang kaleng kosong di sini." Ucap Ruma yang sedang memegang kardus kosong.
Alvin dan Tomoe melihat mereka dan mulai tersenyum.
"Setiap kita kesusahan, pasti kamu datang selalu mempunyai ide harapan." Tomoe tersenyum.
"Itulah bakat ku. Keterpaksaanku ini terlalu memaksa. " Alvin tersenyum dengan sangat keren.
"Sepertinya seni kaleng ini akan berjalan lancar." Tomoe tersenyum.
"Baiklah, aku akan membantu mereka." Tomoe menghampiri mereka.
"Semoga beruntung."Alvin tersenyum.
Beberapa menit kemudian...
Tiba-tiba murid pria menghampiri Tomoe dengan muka yang tersipu malu.
"U-Umm... Permisi..." Ucap pria itu.
Tomoe menatap pria itu dan tersenyum.
"Ya?"
"Bisa aku pesan satu?" Ucap pria itu sambil malu.
"Terima kasih!" Tomoe tersenyum.
Tiba-tiba Tomoe seperti mengenal pria itu.
"Ehh?"
"Bukankah kau..."
"Ya, aku kelas dua---" Pria itu mulai tersipu malu.
Alvin tiba-tiba menghampiri Tomoe sambil memegang kardus berisi kaleng kosong.
"Tomoe."
Tomoe menatap Alvin dan tersenyum. Pria itu mulai sangat marah melihat Alvin.
"Aku akan bawa kalengnya ke ruang klub."
"Baiklah. Terima kasih." Tomoe tersenyum.
"Tunggu dulu, Alvin Ghifari!!!" Pria itu menunjuk Alvin.
Alvin menatap pria itu dengan muka yang kesal.
"Aku menantangmu sekarang!" Ucap pria tersebut dengan muka yang sangat keren.
"Elu siapa ya?"
"ELU GAK KENAL GUE!?" Pria itu terkejut.
"Lah! Bodo amat!!!" Ucap pria itu.
Pria itu tiba-tiba menaruh dua kaleng di atas meja.
"Aturannya mudah." Pria itu tersenyum.
"Siapapun yang habis duluan menang. Kalau ada yang tumpah, kalah." Pria tersebut tersenyum.
"Terserah." Ucap Alvin dan mengambil kaleng tersebut.
"Kalau begitu, kita mulai." Tomoe mengacungkan tangannya.
Semua murid mulai melihat mereka dan mulai penasaran.
"Mulai!" Ucap Tomoe.
Mereka langsung meminum kaleng tersebut dengan sangat cepat.
"Maaf!" Pak Hasan datang dengan kostum gorilanya.
Pria itu melihat kostum tersebut dan tiba-tiba terkejut.
"ANJER!!!" Pria itu mengeluarkan jus tersebut kepada muka Alvin dengan sangat banyak.
"Bagaimana dengan kostum ini? Mencolok 'kan?" Ucap Pak Hasan yang sedang melambai.
"Terlalu..." Ucap Pria itu.
"Goblok....!!!" Alvin mulai sangat marah karena muka dia kebasahan.
"Dasar.... ANJING BAJINGAN---" Alvin melempar kalengnya.
"Hadeuh..." Tomoe mengeluarkan sapu tangannya dan mengelap muka Alvin
Alvin mulai tenang.
"Tenang... Tarik nafas dalam-dalam." Ucap Tomoe sambil tersenyum dan ia mengusap pipi Alvin.
"Geli." Alvin mulai tersenyum.
"Jangan bergerak." Ucap Tomoe sambil tersenyum.
Pria itu mulai cemburu.
"KAU AKAN MENYESAL!!!" Pria itu kabur dengan ******** dan ia menangis.
Alvin dan Tomoe melihatnya.
"Bocah brengsek itu siapa seh?" Alvin mulai marah.
"Bos!" Jawab Varez yang sedang memegang kardus berisi kaleng kosong.
Alvin melihat Varez dan tersenyum.
"Gue dapat 70 nih, bos!" Ucap Varez sambil tersenyum.
"Sip, kamu memang sangat berguna, rez" Alvin mengeluarkan jempolnya.
"Terima kasih, bos!" Ucap Varez dengan sangat bangga.
Para osis datang menghampiri Tomoe.
"Bagaimana dengan klub seni?" Ucap Aura.
"Kita masih membutuhkan kaleng kosong." Ucap Tomoe.
"Kalau begitu... Biarkan kita membantu!" Ucap Fiah sambil tersenyum.
"Bakal sangat membantu jika kalian membeli kaleng berisi minuman." Tomoe tersenyum.
"Baiklah, ayo kita membeli minuman bersama semua!" Alvin tiba-tiba mengacungkan tangannya.
"Ayo!" Semua osis mulai semangat.
Beberapa menit kemudian...
"Jadi, bagaimana dengan misi kalian? Sudah dilaksanakan?" Ucap Tomoe sambil tersenyum.
"Tentu saja!" Ucap Lily.
"Semua nya berjalan lancar, ya? Baguslah." Alvin tersenyum.
Keesokan harinya...
di dalam ruangan klub seni.
Mereka semua sedang merakit kaleng-kaleng tersebut menjadi cat yang tumpah dan sebentar lagi seni tersebut hampir beres dan jadi.
Alvin yang sedang mengerjakan dokumen-dokumen di laptop nya tersenyum melihat mereka.
"Aku memang sudah berubah banyak ya?" Alvin tersenyum dan melihat ke arah jendela.
"SELESAI!!!" Mereka semua mulai tersenyum dan merasa sangat bahagia.
Alvin berdiri dan melihatnya.
"Whoa..." Alvin tersenyum dan terkesan.
"Kita berhasil, Tina!" Ucap Marina sambil tersenyum.
"Kita berhasil, Marina!" Tina memeluk Marina.
"Sekarang kita hanya perlu bawa ke ruang olahraga." Tomoe tersenyum.
"Ya!" Pak Hasan tersenyum.
Alvin mulai sangat terkejut dan ia berpikir bagaimana cara seni besar tersebut keluar dari ruangan seni, cara mengangkatnya gimana?
"Tunggu dulu." Tanya Alvin.
Mereka melihat Alvin.
"Kita akan memajangnya di tengah ruang olahraga, kan?" Ucap Alvin.
"Ya." Tomoe mengangguk.
"Bagaimana cara membawanya keluar dari sini coba?" Tanya Alvin dengan muka yang serius.
"HAAH!?" Mereka semua terkejut.
"Baiklah! Kita bongkar!!!" Ucap Alvin sambil tersenyum.
"YA!!!" Mereka mulai semangat lagi.
***
Dan festival budayapun telah berlalu, dan seni cat tumbah dari kaleng kosong itupun berjalan dengan lancar dan sukses, semua orang terkesan oleh klub seni.
Di dalam rumah Tomoe.
Ibu Tomoe sedang melihat foto-foto festival budaya tersebut dengan tersenyum.
"Aku berangkat!" Tomoe meninggalkan rumah nya dan bergegas ke sekolah.
"Hati-hati" Ibu Tomoe tersenyum.
Ibu Tomoe tiba-tiba melihat foto Alvin dan Tomoe bersama.
Ibu Tomoe mulai merasa senang dan tersenyum.
"Jadi ini foto calon suami-istri, ya?" Ibu Tomoe tertawa.
...***...
__ADS_1
...Sampai jumpa lagi di chap 13! Jangan lupa vote dan commentnya ya~...