
Ditempat yang sangat sunyi dan isinya itu ada banyak sekali preman dan bahkan geng yang semua warga takuti.
"Bagimana ini?! Bos kita sedang kesusahan dan tidak akan datang!" Jawab teman Alvin yang bernama Hira.
"Pergi kemana bos kalian, hah!? Gue pengen tonjok muka dia sepuas mungkin." Tanya preman itu dengan memukul tangannya sendiri.
"Gue bos mereka!" Alvin menyilang tangannya sambil tersenyum dengan naif.
"Itu dia!!! BOS KITA TELAH DATANG!!!" Ucap geng Alvin yang bernama Geng Harapan.
"Akhirnya elu datang kesini juga." Jawab preman itu yang bernama Virano.
"Gue kira elu bakal lari ketakutan dengan tantangan gue ini." Virano tersenyum dengan sangat mengerikan.
"Ini terlalu mendadak, coy." Alvin mendesah dengan kecapean.
"Bodo amat, bagaimana kalau kita mulai saja?" Virano mengapalkan tangannya.
"Jika elu kalah sama gue, geng elu itu bakalan menjadi milik gue. Dan elu juga bakalan berlutut ama gue!" Virano membuat tantangan kepada Alvin.
"BOS VIRANO PASTI MENANG!!!" Teriakan geng Virano yang bernama Geng Penghancur Tulang.
"Ohh~ Bagaimana jika gue menang?" Ucap Alvin sambil tersenyum.
"Terserah elu aja. Tapi, gue gak akan pernah kalah." Ucap Virano.
"Elu dan gue berantem dengan tangan kosong ya?" Alvin tersenyum.
"Itu terserah elu... Gue paling cuman pake kedua tangan ini." Virano menunjuk Alvin dengan muka yang seram.
Virano mengeluarkan hpnya.
"Tunggu sebentar dulu, gue mau manggil temen gue kesini---"
BAAAAAAAAAAAMMMM!!!
Alvin menendang tangan Virano yang sedang memegang tangannya.
Alvin lari menghampiri Virano dan melompat sambil menendang muka Virano, tapi Virano menahan tendangan itu.
Mereka mulai memukul satu sama lain dengan sangat cepat.
Alvin mencoba untuk memukul muka Vira tapi dia terus menghindar, tiba-tiba Alvin menendang perut Virano dengan sangat keras.
"Ughh!" Virano berbalik dan jongkok
"Kesempatan!!!" Alvin siap untuk menendang kepalanya.
Tiba-tiba...
Virano mengeluarkan gas yang membuat seseorang menghirup itu akan lumpuh.
"Ahh..." Alvin mulai lumpuh.
Semua anggota geng Alvin langsung terkejut.
"APAAA!?" Mereka semua terkejut.
Virano memegang rambut Alvin.
"Berakhir sudah." Virano tersenyum dan menjatuhkan gas tersebut.
"Itu curang, woy! Dasar pengecut!" Jawab Varez.
"Gue tidak ngomong bahwa gue bakal berantem dengan tangan kosong." Jawab Virano yang sedang memegang rambut Alvin.
"Sepertinya bos kalian sudah terkalahkan oleh gue." Virano tersenyum.
Tiba-tiba Alvin mengeluarkan gas yang Virano jatuhkan.
"Urghhhh!" Virano mulai lumpuh dan terjatuh.
Mereka semua terkejut.
"A... Apa yang... elu..." Virano terjatuh dengan sangat lemah.
"Hahahahaha! Dasar tolol! Elu terlalu meremehkan gue." Alvin tertawa.
"Bagaimana... kau... tidak lumpuh...?" Virano mencoba untuk melawan balik.
Virano mengeluarkan pisau nya dan lari menuju Alvin dengan sangat cepat.
"DASAR ANJING!!!" Ucap Virano dengan muka yang sangat kesal.
Alvin tiba-tiba berputar dan memegang tangan nya dengan sangat keras.
Virano terjatuh dan Alvin mengunci tangan kirinya dengan sangat keras.
"ARRRRGGGHHHH!!! SAKIITTT!!!!" Virano mulai terkalahkan.
"Dan ini berakhir sudah..." Alvin tersenyum dengan sangat keren.
"Elu mau menyerah atau gue siksa...?" Tanya Alvin dengan muka yang keren.
"GUE MENYERAH!!! GUE MENYERAH!!! AMPUN!!!" Virano kesakitan.
Semua anggota dari geng Virano langsung terkejut.
"Bos kita terkalahkan oleh bocah SMA?" Tanya anggota itu dengan terkejut.
"Keren banget!" Tomoe terkejut dan tersipu malu.
-\=-\=-
Virano menatap Alvin dan Alvin menatap Virano dengan muka marahnya.
"Elu ini berani-beraninya memasuki kandang gue." Ucap Alvin dengan menunjuk tangannya kepada Virano.
"Maafkan gue, Alvin." Virano merasa bersalah dan terkalahkan oleh Alvin.
"Yang penting..." Alvin memperlihatkan tangan kanannya kepada Virano.
"Tantangan adalah tantangan, elu dan anggota-anggota lu harus masuk ke geng gue..." Alvin tersenyum.
Virano memegang tangan Alvin dan Virano berdiri.
"Mohon kerja samanya." Alvin tersenyum.
"Baiklah, bos Alvin!" Virano tersenyum.
Alvin menatap Varez.
"Rez, jelasin mereka semua tentang geng ini." Alvin menggambil kembali jas osisnya.
"Baik, ketua!" Varez hormat kepada Alvin.
"Sampai jumpa lagi, gue nanti butuh bantuan dari kalian semua." Alvin mulai meninggalkan markasnya.
"Sampai jumpa lagi, bos!" Mereka semua tersenyum.
"Ahh!" Tomoe terkejut dan mulai lari keluar markas itu.
Keesokan harinya...
Di dalam kelas 2-B.
"Nama ku adalah Tomoe Kisaki, aku berharap aku dapat banyak pelajaran yang bermanfaat disini." Tomoe tersenyum.
"Senang bertemu dengan kalian! Mohon bantuannya!" Ucap Tomoe yang merasa malu.
Tomoe melihat Alvin dan terkejut.
"Sekelas dengan pacar aku?!" Tomoe terkejut dan merasa sangat senang.
"Baiklah, gimana kalau kita ajak Tomoe berkeliling---"
"Tidak usah! Langsung ke pelajaran aja!" Jawab Tomoe yang memotong pembicaraan guru tersebut.
"B-Baiklah, kamu duduk di sebelah sana aja!" Guru itu menunjuk tempat duduk kosong di belakang Alvin.
"Baiklah." Tomoe tersenyum dan menghampiri mejanya.
Alvin menatap Tomoe dan tersenyum.
"Salam kenal, Tomoe." Ucap Alvin dengan muka yang mempersona
Tomoe mulai tersipu malu.
Tomoe duduk di belakang Alvin dan Alvin tiba-tiba memegang tangan Tomoe dengan erat.
"Ayo, kita pergi dan bergegas!" Alvin tersenyum dan lari menghapiri ruang osis.
"Ehh?" Tomeo terkejut dan mengikuti Alvin.
"Kalian berdua!?" Guru itu mulai terkejut.
"Maaf, bu! Kita harus mengerjakan sesuatu yang lebih penting!" Alvin tersenyum.
"Dasar..." Guru itu tersenyum.
-\=-\=-\=-
"Ehh!? A-Aku?!" Tomoe menunjuk diri nya sendiri.
"Iya, aku butuh kamu sebagai wakil ketua osis, Tomoe!" Alvin memegang tangannya.
"K-Kamu serius?" Tomoe tersipu dan merasa gugup.
"Tentu saja! Pacar gue pasti bisa menjadi wakil ketua osis yang bertanggung jawab." Alvin tersenyum.
Tomoe tersenyum.
"Baiklah, mari kita mulai mengubah sekolah ini bersama. Itu tujuan mu, bukan?" Tomoe tersenyum.
"Tentu saja." Alvin tersenyum dan mengambil jas osis untuk Tomoe.
"Tomoe, kamu akan aku pilih menjadi wakil ketua osis!" Alvin memberi jas tersebut kepada Tomoe.
Tomoe mengambilnya dan memakai jas itu.
"Baiklah!" Tomoe tersenyum.
"Baiklah!!! MARI KITA MENGUBAH SEKOLAH BEJAT INI!!!" Alvin tersenyum dan mengangkat tangannya.
"Iyaa!" Tomoe mengangkat tangannya juga.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
"Pertama, kita harus mengunjungi bagian lapangan basket untuk melihat desain baru lapangan tersebut." Tomoe membaca dan melihat buku tersebut.
"Aku sudah tahu. Memangnya kau kira kita ini sedang ke mana?" Jawab Alvin.
"Oh." Ucap Tomoe.
---
"Terima kasih telah datang." Jawab ketua eskul basket.
"Saya ingin mendiskusikan tentang gawang dan lapangan yang harus di ubah." Jawab Ketua eskul tersebut.
"Kau sudah selesaikan desain untuk lapangan baru itu?" Tanya Alvin.
"Sudah." Jawab Ketua eskul basket tersebut sambil memegang laptop.
"Saya menggambar lima contoh desain yang sangat bagus." Jawab ketua eskul tersebut sambil tersenyum dan membenarkan kacamatanya.
Alvin dan Tomoe melihat desain tersebut.
Alvin mulai berpikir dan Tomoe menatap wajah Alvin dengan muka yang kebingungan.
"Buang semuanya." Jawab Alvin dengan muka yang serius.
"Bu---" Ketua eskul tersebut langsung terkejut.
"Tapi, perlu waktu seminggu untuk memikirkan ini semua." Tanya Tomoe kepada Alvin.
"Biar gue lihat." Alvin mengambil alih laptop tersebut dan membuat desain yang lebih mudah dan praktis.
"Untuk lapangan sebesar ini... begini, lalu begini, terus begini!" Alvin hanya merubah warna lapangan tersebut dan memperbagus sedikit.
"Tuh! Lebih mendingan dan tidak mengeluarkan banyak dana." Alvin tersenyum dan menyilangkan tangannya.
"Wah! Hebat" Ketua eskul tersebut terkejut dan merasa sangat senang.
"Setelah ini saya pasti akan pikirkan ulang!" Ketua eskul tersebut menunduk kepada Alvin dan tersenyum.
"Lu urus aja bagian penyempurnaannya." Alvin berjalan menuju tempat selanjutnya.
"Ayo Tomoe, kita harus bergegas ke tempat berikutnya." Jawab Alvin sambil berjalan.
Tomoe mengikuti Alvin.
-\=-\=-
"Kau terlambat, ketua osis!" Jawab ibu kantin.
"Maaf." Jawab Alvin.
"Lalu bagaimana persediaan untuk makan siang kedepan?" Tanya Alvin dengan muka yang serius.
Ibu kantin membuka kulkas yang sangat besar tapi tidak ada apa-apa di dalamnya.
"Hanya ini yang kita punya." Jawab bu kantin tersebut dengan muka yang sedih.
"Kalau terus begini, minggu depan kita akan kehabisan stok!" Ibu kantin tersebut mulai panik.
"Pemasok kita saat ini tidak sanggup mengatasi permintaan tambahan." Jawab Ibu kantin.
Tomoe melihat buku tersebut dan Alvin mengeluarkan hpnya.
"Kalau begitu kita tinggal cari pemasok baru." Jawab Tomoe sambil berpikir.
"Pokoknya kita harus bisa memenuhi in---"
"Terima kasih atas bantuannya tempo hari." Jawab Alvin yang sedang berbicara kepada hpnya
Tomoe dan Ibu kantin melihat ke arah Alvin yang sedang berbicara.
"Ini dengan Alvin dari SMA Pramanegara. Tampaknya kami memang butuh bantuan dari perusahaan anda."
"Mohon terima lah permintaan dari rekan saya."
"Ehh?" Ibu kantin tersebut mulai bingung.
Alvin memberi hpnya kepada ibu kantin tersebut.
"Katakan yang kau butuhkan." Alvin berjalan pergi dan menghampiri tempat selanjutnya.
"Oh, terima kasih." Ibu kantin tersebut tersenyum dan terbantu oleh Alvin.
"Ayo cepat Tomoe, kita harus bergegas." Ucap Alvin.
Tomoe sangat terkejut dan tidak percaya bahwa Alvin bersungguh-sungguh untuk membantu semua orang yang kesusahan.
---
"Ketua osis, ada beberapa beban yang tercantum dalam pencatatan tempo hari." Tanya Pak Endang.
"Pencatatan?" Ucap Alvin dengan bingung.
Tomoe mengeluarkan kertas tersebut.
"Pencatatan untuk pembenahan buku Bahasa Indonesia. Kalau tidak salah di---"
Alvin mengambil kertas tersebut dari Tomoe dan melihatnya.
"Y-Ya" Jawab Pak Endang.
"Semua itu hal yang diperlukan. Tetap lanjutkan sesuai rencana." Alvin memberi kertas itu kembali kepada Pak Endang.
"Bapak mengerti." Pak Endang kembali bekerja.
"Sip, lanjut." Alvin menghapiri tempat selanjutnya.
Tomoe melihat Alvin dengan terkejut lagi.
\=\=\=
"Pompa ini sebelumnya bisa bekerja dengan baik." Jawab satpam yang sedang membenarkan pompa air tersebut.
"Kalau begitu kita hubungi meka---" Ucap Tomoe.
"Kita tidak punya biaya." Alvin memegang bahu Tomoe.
"Matikan yang ini dan pakai yang lainnya." Alvin menunjuk pompa tersebut.
"Kau yakin?" Jawab satpam itu dengan muka yang serius.
"Tapi bagaiman jika saat itu ada keadaan darurat?" Tanya Tomoe dengan muka yang serius.
"Saat itu ya saat itu." Jawab Alvin.
"Siap dilaksanakan, ketua osis." Satpam itu kembali bekerja.
"Lanjut." Alvin dan Tomoe menghampiri tempat selanjutnya.
---
"Kita sudah tidak punya ruang untuk menyimpan semua alat-alat koperasi." Tanya Tomoe.
Alvin memberikan kertas kepada kedua satpam tersebut.
"Tempat yang di sini kosong. Pindahkan semuanya di sana." Ucap Alvin dengan sangat serius.
"Lanjut!" Alvin menghampiri tempat selanjutnya lagi.
---
"Perlengkapan keamanan sudah tidak berfungsi." Tanya Tomoe sambil menatap Alvin.
Alvin memukul TV tersebut dan itu kembali berfungsi.
"Tuh, udah bener lagi." Jawab Alvin.
---
"Tidak ada yang menyukai tumis hati---"
"Begini cara memasaknya!!!" Ucap Alvin yang sedang memasak tumis hati.
---
"Banyak majalah dan poster tentang kepopularan seorang murid." Tanya Tomoe.
"Buang majalah konyol semacam itu jauh-jauh." Jawab Alvin dengan muka yang kesal
Beberapa menit kemudian...
Alvin duduk di kursinya dan beristirahat sebentar.
"Hadeuh. Lalu selanjutnya apa?" Menatap Tomoe.
"Mengelola dokumen ini, dan rapat untuk mendiskusikan hari ulang tahun sekolah ini." Tomoe menaruh semua dokumen itu di atas meja Alvin.
"Rapat? Dengan siapa saja?" Tanya Alvin.
"Semua ketua klub dan eskul." Jawab Tomoe.
"Kau saja yang urus soal itu."
"Kamu yakin?" Tanya Tomoe.
"Hari ini aku sudah lelah." Jawab Alvin sambil meminum jus jeruknya.
"Aku tidak punya energi untuk mendengar pengeluhan dari mereka." Alvin mengejamkan matanya.
"Dokumen-dokumen ini sepertinya lebih menarik." Jawab Alvin.
"Baiklah." Tomoe mulai pergi.
"Oh, Tomoe." Ucap Alvin sambil melihat Tomoe.
Tomoe melihat Alvin.
"Lakukan dengan halus, ya? Yang halus, ya?" Ucap Alvin.
"Kamu tidak perlu bilang begitu padaku." Tomoe mulai marah dan berjalan pergi dari ruang osis.
"Hmm? Oi, ada apa Tomoe?" Alvin mulai penasaran dan bisa membaca eksperesi Tomoe.
Tomoe menutup pintu tersebut.
__ADS_1
"Dia itu kenapa?" Alvin mulai bingung.
Beberapa menit kemudian...
"Permisi!" Aura mengutuk pintu tersebut.
"Pintunya enggak di kunci. Masuklah." Ucap Alvin melihat semua dokumen tersebut.
Tiba-tiba gadis bernama Firana membuka pintu tersebut dan memasuki ruangan osis.
Aura, Lily, dan gadis yang bernama Fiah memasuki ruangan osis juga.
"Ada perlu apa?" Tanya Alvin.
"Tidak, eng. sebenarnya agak rumit." Jawab Firana.
"Kalau bisa, kami mau kamu mendengarkan kami." Tanya Firana yang sedang gugup.
"Hadeuh... Saat ini aku sedang sibuk mengerjakan dokumen-dokumen ini." Jawab Alvin sambil melihat dokumen tersebut.
"Bisa tidak kalian bilang saja ke Tomoe?" Ucap Alvin yang sedang sibuk.
"Tidak bisa. Makanya kami kemari." Jawab Aura.
Alvin melihat mereka dengan muka yang penasaran.
"Tidak, bukannya begitu!" Jawab Fiah.
"Hanya saja kami mau kamu dengar langsung dari kami." Jawab Fiah sambil tersenyum.
"Makanya, cepet bilang!" Alvin mulai tidak sabar.
"E-Eng, eng..." Fiah mulai ketakutan dengan eksperesi Alvin.
"Hadeuh..." Alvin menarik nafas nya.
"Ya sudah, gue paham. Cepat katakan." Tanya Alvin dengan sabar.
"Aku harus mulai dari mana, ya" Fiah mulai berpikir.
"Gimana kalau langsung perlihatkan padanya?" Jawab Firana.
"Oh, itu boleh juga!" Fiah tersenyum.
"Bisa kamu luangkan waktu kamu untuk kami sebentar saja?" Fiah tersenyum.
Alvin mulai merasa sangat malas dan terpaksa.
-\=--\=-
"Lihat ini." Jawab ketua club musik yang sedang memperlihatkan gitar yang rusak.
"Nyaris tidak ada bentuknya." Ucap ketua club tersebut.
"Kenapa tidak setujui saja aku beli yang baru?!" Ketua club tersebut mulai marah.
"Tidak bisa." Jawab Tomoe.
"Tahu sendiri kan sekolah ini sedang krisis dana." Jawab Tomoe.
"Tapi, dengan gitar kaya begini, yang ada anggota club ini malah tidak senang." Jawab ketua club tersebut.
"Dan sudah tugasmu mengatasi hal itu." Jawab Tomoe dengan muka yang serius.
"Kembalikan uang kas milik club ini---"
Tomoe tiba-tiba memperlihatkan stik drumnya yang sangat bagus dan tajam.
"Asal kamu tahu, aku punya stik drum yang bisa menghantam orang dengan rasa yang sangat sakit." Jawab Tomoe dengan muka yang kesal.
Ketua club itu mulai takut.
Alvin dan gadis-gadis itu diam-diam melihat Tomoe dari belakang.
"Hadeuh..." Alvin menggaruk-garuk kepalanya.
-\=-\=-
"Lihat lah!" Ucap ketua club seni yang sedang memperlihatkan cat yang habis.
"Semua nya habis dan kosong!" Jawab ketua club tersebut.
"Belikan club ini yang baru!" Jawab ketua club itu dengan sangat marah.
"Tidak. Tolong gunakan saja cat yang lain." Jawab Tomoe dengan muka yang serius.
"Astaga. Kalau begini kita dari club seni mau mewarnai pake apa?!" Ucap ketua club tersebut dengan sangat marah.
"Gunakan saja spidol." Ucap Tomoe.
"Spidol?"
Tiba-tiba Tomoe mengeluarkan stik drumnya dan mulai mengancam ketua club tersebut.
"Jika perlu... Cat aja pakai darah kamu sendiri." Jawab Tomoe dengan muka yang kesal.
Ketua club seni tersebut langsung ketakutan.
Alvin dan gadis-gadis itu masih diam-diam melihat Tomoe.
"Ini parah..." Jawab Alvin dengan muka yang kecewa.
"Begitulah sikap Tomoe kalau dia menjadi pemimpin." Firana mulai percakapan.
"Sulit sekali meminta keperluan kepadanya." Jawab Fiah.
"Ada apa ini?" Tomoe melihat meraka sambil memutarkan stik drumnya.
Fiah dan Firana terkejut dan mereka langsung sembunyi di belakang Alvin.
"Kebetulan, cuman kebutalan kok!" Jawab Firana yang ketakutan.
"Kami kebetulan lewat sini!" Fiah tersenyum.
"Kalau kalian ingin protes, aku akan dengarkan." Jawab Tomoe dengan muka yang kesal.
"Tapi, jangan usik pacarku."
"Bukan begitu." Tanya Firana yang sedang ketakutan dan merinding.
"Tomoe." Alvin menatap Tomoe dengan muka yang marah.
"Ikut aku sebentar." Alvin menghampiri ruangan osis.
-\=-\=-
"Bukannya aku sudah bilang urus dengan halus." Tanya Alvin.
"Sesuai keinginanmu, aku mengurus ini sehalus mungkin kok." Jawab Tomoe.
"Apanya? Kau malah mengancam mereka dengan stik kamu itu." Tanya Alvin dengan muka yang serius.
"Berhentilah mengancam mereka. Berusahalah berkompromi." Alvin mulai memarahi Tomoe.
"Jangan sampai dirimu memerintah mereka seenaknya." Jawab Alvin.
"Kamu saja memerintah mereka seenaknya!" Jawab Tomoe.
"Memang. Tapi aku berhasil mengatur mereka." Ucap Alvin dengan muka yang serius.
Tomoe mulai merasa bersedih.
"Jangan-jangan begini caramu mengelola kelas kamu waktu SMP." Ucap Alvin dengan muka yang marah.
"Lalu apa hubungannya dengan kamu?" Tomoe mulai marah.
"Ada!" Alvin jawab balik.
Tomoe terkejut.
"Saat ini kau adalah wakil ketua osis. Aku tidak mau kau menghambatku seperti ini." Ucap Alvin dengan muka yang sangat marah.
"Maksudmu... Aku hanya menjadi beban?" Jawab Tomoe dengan muka yang sedih dan kecewa.
"Memang, dengan tingkahmu yang semacam itu." Jawab Alvin dengan muka yang serius.
Tiba-tiba Tomoe menghantam dinding di sebelah Alvin.
"... ..." Alvin melihatnya dengan muka yang serius.
"Kalau begitu..." Ucap Tomoe dengan muka yang kecewa.
"Apa yang harus aku lakukan?!" Jawab Tomoe.
"Tomoe." Alvin mulai merasa kasihan memarahi Tomoe.
"Ahh..." Tomoe mulai merasa sedih dan air matanya hampir keluar.
Tomoe berjalan pergi dari ruangan osis.
"Oi, Tomoe!" Alvin melihat Tomoe.
Tomoe menutup pintu dengan sangat kencang
"Tomoe!!!" Alvin mulai marah.
"Apa-apaan dia ini? Ya ampun." Alvin merasa bersalah.
18:00 PM
Di dalam kamar mandi Tomoe.
Tomoe sedang galau memikirkan Alvin.
"Kenapa Alvin sekejam itu melupakan janji nya..." Tomoe menangis.
Tomoe membasuh kepalanya.
"Jika kecelakaan itu tidak terjadi... Pasti Alvin sudah berubah menjadi orang yang berbeda..."
...-----...
...Sampai jumpa lagi di chapter 9! Jangan lupa dan comment nya ya~...
...Bye~...
__ADS_1