Takdir Menolak Cinta-nya

Takdir Menolak Cinta-nya
Pacar yang Lupa Ingatan


__ADS_3

Di dalam kelas 2-C, yaitu kelas dimana Aura berada. Aura sedang menatap jendela dengan tidak memikirkan apa yang ada di sekitarnya, Aura ini orang susah sekali di ajak bersosialisasi.


Aura juga tidak mempunyai eksperesi tidak terlalu banyak, wajahnya selalu tenang dan kalem di beberapa situasi yang ada.


Tiba-tiba seorang murid menghampiri Aura.


"Aura, gimana kalau kamu masuk kelompok kita saja?" Ucap pria tersebut sambil tersenyum.


Aura menghela nafasnya. "Kagak mau, gue cuman pengen individu doang, males banget berkelompok sama orang lain." Ucap Aura sambil menatap jendela.


"B-Baiklah..." Pria itu berjalan pergi dan merasa kecewa.


Tiba-tiba Aura melihat mantannya yang sedang bermain bola basket di lapangan basket tersebut, ia mulai merasa sangat marah dan muak kepadanya.


"Laki-laki brengsek itu... Enaknya saja selingkuh dari hadapan gue..." Aura mulai sangat marah.


"Dia juga tiba-tiba menghilang dari hadapan gue, memang sangat brengsek dan kurang hajar!!!" Aura mengambil pensilnya dan mulai membelahnya menjadi dua.


"Semua laki-laki emang ga bisa di percaya ya... Mereka makhluk yang sangat gak berguna dan tidak dapat dipercaya sama sekali..." Aura mulai merasa sangat kesal melihat mantan nya.


Beberapa menit kemudian...


Aura yang sedang mendengarkan lagunya di headsetnya sambil berjalan di lorong yang sangat sepi, tiba-tiba Alvin melihat Aura dan ia langsung menghampirinya.


"Woy, Aura." Alvin memanggil Aura.


Aura tidak mendengar Alvin karena lagu yang ia dengarkan terlalu besar hingga tidak bisa mendengar suara Alvin yang sangat besar, Alvin mulai merasa kesal.


Alvin memegang bahu kanan Aura. "Woy, Aura---"


PLAK!


Aura tiba-tiba menepuk tangan kanan Alvin dengan sangat keras, Alvin mulai mundar.


"Jangan sentuh gue!" Ucap Aura sambil melepaskan headsetnya, ia langsung menatap wajah Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Lah, gue manggil lo malah kagak denger, budeg atau apa sih?" Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Elu nggak liat gue lagi ngapain apa, ketua osis?" Tanya Aura dengan sangat marah.


Alvin menghela nafasnya dan ia mulai bersabar. "Udah dah. Ikut gue sebentar." Alvin berjalan pergi dan ia menghampiri ruang osis.


"Kenapa nih?" Aura mengikuti Alvin.


"Ada masalah..."


***


Di dalam ruangan osis, tempat itu sangat sepi karena para osis yang lain sedang melakukan kerjaan mereka masing-masing yang Alvin suruhkan, Alvin menghampiri mejanya dan membuka laci tersebut untuk mencari dokumen-dokumen didalam laci mejanya.


"Lu nyari apaan?" Tanya Aura.


"Dokumen dan formulir tentang eskul basket, elu harus menyelesaikan masalah yang ada di eskul basket ini." Jawab Alvin


"Gue denger mereka tidak mau ikut kompetisi basket lagi karena ada satu anggota yang tidak bisa bermain basket lagi."


"Gue menolak tentang itu! Gue kagak mau mengunjungi tempat eskul basket dalam seumur hidup gue. Titik." Ucap Aura dengan muka yang sangat kesal.


Alvin menoleh kepada Aura dengan kebingungan. "Kenapa emang?" Tanya Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Elu ga punya kewajiban untuk mengetahuinya, ketua osis..." Ucap Aura dengan muka yang sangat kesal.


Alvin mulai curiga dan mencium aroma masalah.


Kenapa nih? Apa ada sesuatu hambatan di eskul basket hingga ia tidak mau mengunjungi tempat eskul basket?


"Sepertinya gue mencium aroma masalah yang harus dipecahkan nih..." Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Masalah? Jangan sok tau lah, ketua osis!" Aura mulai marah.


Alvin bangkit dari lantai dan ia menyilangkan kedua tangannya.


"Muka dan eksperesi lo itu beda sekali dengan yang permata kali gue melihat lo ini, pasti ini berhubungan dengan seseorang di eskul basket, kan?" Tanya Alvin dengan muka yang sangat serius.


"... ..." Aura mulai terdiam, ia tidak ingin mengunjungi tempat itu karena mantannya berada di eskul basket, Aura berjanji untuk tidak bertemu dengannya lagi, tapi jika mantannya minta maaf kepadanya, mungkin Aura bisa mengunjungi tempat itu.


Aura sudah lama sekali menunggu jawaban maaf dari mantannya tapi sepertinya mantannya tidak ingin bertemu dengan Aura lagi.


"Gue udah janji kepada gue sendiri untuk membantu orang yang mempunyai masalah yang harus di pecahkan secepat mungkin. Jadi biarkan gue membantu masalah lo itu, Aura." Alvin mulai bergaya.


"Bicaralah, Aura!" Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


Aura mulai tidak punya pilihan lain selain memberitahunya, jika ia tidak memberitahunya Alvin pasti akan menyebarkan tentang ini kepada semua orang.


"Baiklah, asalkan elu tidak memberi tahu soal ini kepada siapa-siapa! Siapa-siapa! Bahkan pacarmu itu." Ucap Aura dengan muka yang serius.


"Ini cuman masalah gue, dan lu."


Alvin mengangguk. "Baiklah."


Aura menghampiri jendela dan membukanya, Alvin mengikuti Aura.


"Apa masalahnya?" Tanya Alvin dengan sangat serius.


Alvin menatap jendela tersebut dan ia melihat anggota-anggota eskul basket sedang bermain basket di lapangan mereka.


"Elu liat laki-laki itu..." Aura menunjuk laki-laki berbaju biru dan berambut coklat yang sedang bermain basket.


"Ohh... Anggota eskul basket, ya?"


"Bajingan itu membuat gue sangat kesal dan tidak mempercayai makhluk laki-laki yang gak berguna!"


"Biar gue tebak, itu mantan lu, bukan?" Tanya Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Iye." Jawab Aura yang sedang kesal dan marah.


"Jadi ini masalah seperti apaan? Elu mau jadian lagi sama laki-laki itu?" Tanya Alvin sambil menyilang kedua tangannya.


Aura tiba-tiba memegang dasi Alvin dengan sangat keras, ia menatap wajah Alvin dengan tatapan yang sangat marah dan kesal, seperti ia ingin membunuh seseorang.


"Dasar bajingan ampas!!! Gue cuman ingin denger permintaan maaf pria bangsat itu!" Ucap Aura dengan sangat kesal.


"Iya, kalem-kalem..." Ucap Alvin dengan tertawa sangat canggung.


Aura melepaskan dasi milik Alvin dan ia langsung membenarkannya kembali.


"Baiklah, gue mau ke lapangan basket itu, lo mau ikut?" Ucap Alvin sambil mengambil dokumen pentingnya.


"Gue cuman mau liat doang disini." Ucap Aura dengan muka yang sangat serius.


"Terserah dah." Alvin berjalan pergi dari ruangan osis.


Beberapa menit kemudian...


Alvin yang sedang memegang sebuah dokumen telah tiba di depan lapangan basket tersebut, ia melihat ketua eskul tersebut. Ketua eskul basket tersebut melihat Alvin dania langsung terkejut.


"Ahh, semua bersiap, ketua osis telah tiba!" Ucap ketua eskul tersebut dengan sangat serius.


Semua anggota menghadap Alvin dengan muka yang sangat serius.


"... ..." Alvin yang bermuka serius menghampiri mereka dengan sangat keren dan gagah.


Alvin berhenti didepan ketua eskul tersebut, ia langsung melihat-lihat sekitar.


"Ketua osis, apa yang membawa anda kemari?" Ucap ketua eskul tersebut dengan senyuman.


"Radiya, bagaimana dengan lapangan barunya?" Alvin menghampiri lapangan tersebut dan ia tersenyum dan terkesan melihat lapangan baru milik eskul basket.


"Ternyata ide anda memang bagus dan praktis juga, ketua osis." Radiya tersenyum.


Alvin melihat lapangan tersebut dan tersenyum. "Iya, bagus juga nih. Tapi sentuhan terkahirnya sama lo 'kan? Jadi jangan berterima kasih ama gue."


"Baiklah, umm..." Alvin melihat dokumen tersebut yang ia pegang.


"Tahun kemarin, kalian kalah dalam kompetisi basket ya?" Tanya Alvin dengan menoleh kepada mereka semua.


"Ohh, soal itu... Kita tidak bersemangat untuk melakukannya." Radiya mulai bersedih.


Alvin mulai curiga dan ia mulai penasaran juga tentang mereka tidak bersemangat untuk melakukan kompetisi selanjutnya.


"Pasti ada sesuatu yang menghambat kalian, ya?" Ucap Alvin sambil menyilang kedua tangannya.


Mereka semua mulai diam dan tidak mau berkata satu katupun.


"Baiklah, gue bubarin dah ini eskul. Enggak guna kalau lu semua cuman diem dan menyerah begitu saja" Ucap Alvin dengan sangat marah, ia hampir menyobek dokumen eskul basket.


"Tunggu dulu, ketua osis!!!" Ucap pria itu sambil menghampiri Alvin.


"Apa? Ini mantannya Aura, ya?" Ucap dalam hati Alvin dengan sangat serius.


"Elu siapa ya?" Tanya Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Dia adalah pemain terbaik kita di eskul basket, ketua osis." Ucap Radiya.


"Hmmm, perkenalkan dirimu ini..." Alvin menyilang kedua tangannya.


"Namaku adalah Adira Fairuz. Aku adalah kunci anggota pemain basket dari SMA ini." Ucap Adira dengan muka yang sangat serius.


Alvin tersenyum dan mengangguk. "Jadi gitu ya?"


Alvin mulai mempunyai ide yang sangat bagus agar pikiran mereka bisa tenang dan mereka bisa ikut kompetisi selanjutnya.


"Kalian semua butuh refreshing kayanya dan menjelaskan semuanya kepada gue." Alvin mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya dan menghubungkan ibu kantin.


"Halo, bu ini saya..." Ucap Alvin.


"Bawakan makan siang yang enak dan banyak untuk klub eskul basket ya..." Ucap Alvin dengan sangat serius.


"Baiklah, ketua osis." Ibu kantin itu menjawab.


Alvin mematikan ponselnya dan ia menaruh ponsel itu kembali ke dalam sakunya, ia langsung menoleh kepada mereka semua.


"Kita akan makan-makan di ruang eskul basket." Ucap Alvin sambil tersenyum.


"Ehh!?" Mereka semua terkejut.


"Ketua osis ini lagi ngerencanain apaan dah..." Ucap Aura dari ruangan osis.


***


Di dalam ruangan eskul basket, mereka semua sedang menikmati makanan siang mereka dengan sangat lahap. Alvin terus menatap Adira dengan sangat serius.


Dia tidak begitu brengsek menurut gue... Apa Aura salah paham terhadapnya?


Alvin mulai mencari detail lebih dalam tentang Adira.


"Ehem... Baiklah." Alvin memulai percakapan.


"Sepertinya eskul basket ini memiliki 40 anggota ya." Tanya Alvin dengan sangat serius.


"Iya, 20 anak perempuan dan 20 anak laki-laki." Jawab Radiya.


"Kalau yang mengikuti lomba itu siapa saja?" Tanya Alvin dengan sangat serius.


"Itu saya, Adira, Hafiz, Panji, dan juga Zidan." Ucap Radiya dengan serius sambil menunjuk keempat pemain tersebut.


"Jadi kelima itu pemain yang sangat bagus ya... Tapi kenapa kalian kalah di finals, huh?!" Alvin mulai marah.


"Itu semua kesalahan ku, ketua osis." Adira mengacungkan tangannya.


"Jangan menyalahkan diri, Adira!" Ucap Radiya sambil menatapnya.

__ADS_1


"Itu semua jelas salah gue! Gue lupa cara memainkan basket dengan cara gue sendiri... Gue malah menjadi beban dan hambatan buat kalian semua!" Ucap Adira dengan sangat serius.


"Lupa?" Alvin menyadari sesuatu dari kata-kata tersebut.


"Sepertinya kita akan kalah lagi di perlombaan tahun sekarang, gue melupakan tentang semuanya!" Ucap Adira dengan putus asa.


Alvin tiba-tiba menghantam meja dengan sangat keras dan ia bereksperesi dengan sangat marah dan kesal.


"ITU TERLALU CEPAT UNTUK MENYERAH!!!"


Mereka semua melihat ke arah Alvin. Alvin bangkit dari kursinya dan ia akan mengatakan kalimat motivasi kepada mereka.


"Kalian ini adalah harapan juga untuk membuat SMA ini menjadi lebih baik dan untuk mengalahkan semua sma yang ada. Tapi kalian hanya menyerah karena kalian tidak latihan banyak dan tahun kemarin kalah di final?!" Ucap Alvin dengan sangat serius.


"Menyerah itu bukan jalan yang benar... Jika kalian kalah itu berarti pertanda yang sangat baik untuk berevolusi lebih baik!!!" Alvin mulai bergaya.


"Kekalahan bisa membuat kalian menjadi lebih baik dan bisa berevolusi dari sebelumnya..."


"PELAJARILAH DARI KESALAHAN KALIAN INI!!!" Ucap Alvin dengan sangat serius dan sangat marah.


"Karena... Sebuah kekalahan memang sangat menyakitkan, tetapi akan jauh lebih menyedihkan jika kekalahan tersebut membuat sebuah tim tercerai-berai." Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Elu tidak menyerah, Elu menemukan jalan." Alvin mulai bergaya.


Semua anggota eskul basket langsung termotivasi oleh kata-kata Alvin dan bahkan semua gadis langsung terkesan oleh perkataan Alvin.


"Kata yang menyentuh... Itu sangat tajam dan bagus sekali..." Zidan mulai menangis tangisan pria.


Alvin melihat ke arah Radiya dengan muka yang sangat serius.


"Ketua osis... Kenapa anda ingin membantu kita dalam hal seperti ini? Biasanya anda ini selalu males dan tidak memperdulikan orang lain." Ucap Radiya sambil bersedih.


"Karena gue udah janji di depan kalian semua, gue bakal mengubah sekolah ini menjadi suasana yang lebih baik dan membantu semua orang yang mempunyai masalah masing-masing!" Ucap Alvin sambil tersenyum.


"Kata-kata itu memang sangat bagus, ketua osis. Aku malah menjadi lebih bersemangat untuk memenangkan kompetisi ini!" Ucap Adira.


"Tentu saja! Jika kalian menang, SMA ini bakal menjadi lebih bagus karena eskul basketnya itu terisi oleh anggota-anggota yang sangat kuat!" Ucap Alvin sambil tersenyum.


"YAAAAAAA!!!" Mereka semua mengacungkan tangan mereka.


"Nah, itu adalah semangat yang gue cari!" Ucap Alvin sambil tersenyum.


Radiya bangkit dari kursinya dan ia langsung melihat mereka semua.


"Ayo, kita semua harus latihan! KITA HARUS MEMENANGKAN KOMPETISI INI!!!" Ucap Radiya sambil mengacungkan tangannya.


"DEMI SMA INI MENJADI LEBIH BAIK!!!"


"BAIKLAH!!!" Mereka semua mulai bersemangat.


Alvin tersenyum.


Beberapa menit kemudian...


Alvin yang sedang menyilang kedua tangannya melihat cara bermain Adira sebagai anggota terbaik dari eskul tersebut.


"... ..." Alvin mulai menganalisis lebih lanjut.


"Ini juga masih belum cukup." Ucap Alvin dengan sangat serius.


"Nah..."


"Bagaimana caranya untuk gue mengetahui pemain Adira ini adalah pemain terkuat di eskul basket ini." Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


Alvin mengeluarkan ponselnya yang berada di sakunya.


"Rez, gue butuh elu sekarang juga, datang ke lapangan basket sekarang juga." Ucap Alvin dengan sangat serius.


***


Alvin dan Varez sedang berteduh dibawah pohon yang sangat besar, Varez yang sedang mencari video tentang kompetisi tahun kemarin tiba-tiba menemukan video tersebut.


Mereka harus mencari tahu kenapa eskul basket SMA ini bisa kalah dalam final.


"Ini dia!" Varez tersenyum.


"Bagus!" Alvin mempunyai harapan lain.


Varez memulai video tersebut dan Alvin melihat pertandingan tersebut dan mereka melihat ada sesuatu yang sangat mencurigakan.


Di dalam pertandingan itu, Alvin dan Varez melihat Adira sedang diam dan ia seperti ketakutan dan juga tidak tahu apa yang telah terjadi di sekitarnya.


"Si Adira ini kenapa diam aja?" TanyaAlvin dengan sangat serius.


"Bisa dilihat dari eksperesinya bahwa dia itu seperti kebingungan ya?" Ucap Varez dengan sangat serius


"Jadi SMA kita kalah karena hal ini...?" Alvin mulai kebingungan dan ia mulai berpikir lagi.


"Percepat videonya! Percepat sampai Adira bergerak."


"Baiklah." Varez mempercepat video tersebut hingga Adira bermain, tiba-tiba video tersebut menunjukan Adira bermain basket dengan sangat buruk dan amatir


"Stop!" Ucap Alvin dengan sangat serius.


Varez menghentikan percepatan video tersebut.


Alvin melihat video itu dengan saat teliti dan serius. "Ini seperti orang yang kelupaan cara bermain basket..."


Gue liat tadi Adira belatih dengan sangat baik... Dan setelah gue melihat video ini... Kok dia malah menjadi cacat begini?


"Tapi apa yang membuat Adira tiba-tiba menjadi buruk dalam permainan basket ini?" Alvin mulai kebingungan dan memikir lebih dalam.


Tiba-tiba Radiya menghampiri Alvin dengan muka yang sedih dan serius. Alvin menoleh kepada Radiya dan ia langsung bangkit dari tanah dan menghampirinya dengan muka yang sangat serius.


"Ada apa, Radiya?" Tanya Alvin.


"Ketua osis pasti bertanya-tanya kenapa bisa Adira menjadi buruk karena kompetisi tahun lalu?" Ucap Radiya.


"Jelaskan!" Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Tapi saat itu... Ada masalah yang sangat besar dan kita tidak mengetahui apa itu dan kenapa itu bisa terjadi..." Ucap Radiya sambil mengepalkan kepalan tangannya.


"Apa itu?" Tanya Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Dia pernah izin 2 minggu karena sakit gue denger... Setelah berapa lama kemudian gue memutuskan untuk menjenguknya, dan tiba-tiba..." Ucap Radiya dengan sangat sedih.


"Hilang ingatan, ya?" Jawab Alvin dengan muka yang sangat serius.


Radiya mulai terkejut dan tidak mempercayainya bahwa Alvin mengetahui tentang itu.


"K-Kok? Anda bisa tau, ketua osis?" Ucap Radiya dengan sangat terkejut.


"Karena dilihat dari wajahnya dan pergerakannya, Yang lu perbicarakan sepertinya masuk akal juga..." Alvin mulai mengerti.


"Gue tau kenapa sekarang Adira bisa jadi begini... Dia berubah menjadi pria yang berbeda dari sebelumnya." Ucap Alvin dengan sangat serius.


Aura pasti tidak akan mempercayai tentang masalah ini.


"Waktu elu menjenguknya, Lo liat ada luka kagak di badan Adira?" Tanya Alvin dengan sangat serius.


"Ada... Sekarang luka itu masih ada, itu seperti tanda lahir saja." Jawab Radiya.


"Gitu ya?" Alvin menghampiri Adira dengan muka yang sangat serius. "Adira, kesini sebentar!" Ucap Alvin dengan sangat serius.


Radiya mulai mengikuti Alvin.


Adira menoleh kepada Alvin dan ia menghampirinya. "Ada apa, ketua osis?" Ucap Adira dengantersenyum.


Alvin menoleh kepada Radiya.


"Jadi?" Tanya Alvin.


"Adira, Tunjukan lukamu itu kepada ketua osis." Tanya Radiya dengan muka yang serius.


"Ohh, yang kau maksud ini." Adira menunjuka luka tersebut yang berada di dahinya.


Alvin melihatnya dan ia langsung terkejut.


Luka ini...?! Gue mengetahuinya?!


Luka yang melambangkan 'S'...


Markasnya pasti masih di tempat itu.


Alvin tiba-tiba lari menghampiri tujuan selanjutnya yaitu mencari pelaku yang melukai Adira, ia lari dengan sangat cepat agar ia tidak di sangka bolos.


Radiya melihat Alvin keluar dari gerbang. "Ketua osis?" Radiya mulai kebingungan.


"Bos lagi kenapa nih?" Varez mulai kebingungan dan penasaran.


Ternyata geng bangsat itu masih melakukan semau mereka ya?


Lambang S itu... Geng Sabit dan ketua mereka itu adalah Louis Hareda.


Beberapa menit kemudian, Alvin berhenti didepan markas Geng Sabit.


Alvin mulai melihat-lihat. "Pasti Adira disiksa disini ya?" Ucap Alvin dengan sangat serius.


Tiba-tiba Alvin mendengar suara pintu yang terbuka dan ia tiba-tiba langsung menaiki gedung tersebut dan sembunyi.


Ternyata yang membuka pintu tersebut itu Louis dan ia berjalan menuju tempat yang harus dia kunjungi.


"Itu dia..." Ucap Alvin dengan sangat serius dan kesal.


Alvin diam-diam mendarat di tanah dan ia siap untuk menyerangnya dari belakang.


"Shhhhhh...."


Louis menoleh kepada Alvin dan Alvin langsung lari menuju Louis dengan sangat cepat dan iamemukul kepala dengan sangat keras.


BAG!!!


"HMM!!!" Louis terpukul dan tiba tiba Alvin menendang kakinya dengan sangat keras hingga Louis terjatuh.


Louis ternyata mengenali Alvin, ia tidak asing dengan wajah yang sangat dingin dan jahat.


"E-Elu 'kan!?" Louis terkejut.


Alvin menghalang mulutnya dengan sebuah kain dan melihatnya dengan tatapan mematikan. "Kaisar Dingin dari Geng Harapan..."


"Lu harus menjelaskan semuanya sama gue." Ucap Alvin dengan sangat serius.


Beberapa menit kemudian...


Alvin dan Louis sedang berada di tempat yang sangat tersembunyi, tidak ada seorang pun yang berani memasuki tempat itu.


Kedua tangan Louis terikat oleh sebuah tali agar ia tidak bisa melarikan diri dari Alvin, Alvin sedang menatap wajahnya dengan tatapan yang sangat tajam.


"Lu kenal sama Adira anggota eskul basket dari SMA gue kan?" TanyaAlvin dengan sangat serius.


"S-Siapa tuh?! Gue g-gak kenal!" Ucap Louis dengan ketakutan dan mulai panik/.


"Kalau elu bohong ama gue, gue bunuh lo sekarang juga..." Ucap Alvin dengan sangat serius, ia mengambil sebuah paku yang berada di sebelahnya.


"Gue melihat lambang Geng Sabit di dahi milik Adira! Itu pasti berkaitan dengan Geng Sabit." Ucap Alvin dengan sangat marah.


Louis mulai ketakutan, dan Alvin tiba-tiba mengambil kalung milik Louis.


... ...


Ternyata memang benar, kalung ini mirip sekali seperti luka yang terdapat di dahi milik Adira, Alvin menoleh kepada Louis dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Kayanya elu ga mau menjawab ya..." Alvin menghampirinya.


Alvin tiba-tiba memegang rambutnya dengan sangat kasar dan ia menunjukkan paku tersebut kepada mata kiri milik Louis.


"Gue boleh merusak satu matu milik lo, ya?" Ucap Alvin dengan tersenyum sangat jahat.


"Dan setelah itu lo bakal mempunyai nama samaran seperti "Louis si satu mata bangsat," keren 'kan?" Alvin tertawa dengan sangat jahat.


Louis mulai berkeringat dengan sangat banyak, ia tau sekali tentang sikap Alvin yang galak dan dingin, ia akan menyerang tanpa peringatan.


"Kok elu panik gitu? "Si matu satu," itu kan nama samaran yang sangat keren untuk sebuah geng yang tolol ini."


"SIAP YAAAAAAAAAAAA?" Alvin tersenyum dengan sangat jahat dan siap menancapkan paku tersebut kepada mata kirinya.


Louis menangis dan ia mulai sangat ketakutan.


"BAIKLAH!!! AMPUNI SAYA TUAN ALVIN!!!" Louis mulai menyerah dan tidak ingin kehilangan mata kirinya.


"Iya benar! Gue kenal Adira dan gue yang membuat dia lupa ingatan dengan menghabisi dan menyiksa bajingan itu habis-habisan!" Ucap Louis dengan sangat serius.


"Tapi kenapa? Kenapa lu siksa pria itu walaupun dia tidak punya salah kepada lo ini?" Ucap Alvin dengan muka yang sangat kesal.


"DIA ITU... MEMBUAT HATI GUE HANCUR BERKEPING-KEPING!!!" Ucap Louis dengan sangat marah dan ia mulai menangis.


"DIA MENCURI GADIS KESAYANGAN KU!!!"


"Gadis seperti apa yang lu perbicarakan ini?" Tanya Alvin.


"Aura Hanah!" Ucap Louis dengan sangat serius.


Alvin terkejut dan ia mulai menahan tawanya karena bagaimana bisa orang sejelek Louis bisa mengambil hati milik Aura yang dingin ini.


"Adira mencuri gadis yang kucintai... DAN ITU MEMBUAT GUE SAKIT HATI!!!" Ucap Louis dengan sangat marah.


"Lu membuat Adira lupa ingatan, hanya karena sebuah cinta ya?" Tanya Alvin.


"Iya, Dia merebut Aura ku..." Louis menangis.


Alvin tertawa dengan terbahak-bahak. "Hahaha... HAHAHAHAHA!!!"


Alvin tiba-tiba mulai merasa muak dengan Louis.


"DASAR SAMPAH GAK BERGUNA!!!" Alvin tiba-tiba menancapkan paku tersebut kepada paha kanan milik Louis dengan sangat dalam.


"AHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Louis teriak kesakitan, ia mulai menangis kesakitan.


"AURA INI GAK MENCINTAI LO KARENA DIA MEMILIH PRIA YANG BENAR... BUKAN SEPERTI ELU YANG HANYA MENGANDALKAN DUIT DAN DUIT, SIKAP BUSUKMU ITU ADALAH HAMBATAN LO UNTUK TIDAK MENDAPAT GADIS YANG LO INGINKAN!!!" Ucap Alvin dengan sangat marah.


"Perbuatan elu ke Adira itu tidak dapat di maafkan... Elu bakal gue urus nanti." Ucap Alvin dan ia bangkit dari lantai


Alvin mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Varino.


Varino menjawabnya. "Halo?"


"No, panggil semua geng ke tempat Geng Sabit dan laporkan bosnya kepada polisi karena telah membuat seseorang pria lupa ingatannya. Pasti ada bukti dari markasnya." Ucap Alvin dengan sangat serius.


"Siap, bos!" Ucap Virano.


Alvin mematikan ponselnya dan ia menoleh kepada Louis dengan muka yang sangat kesal.


"Sialan... Bagaimana ada orang yang bisa mengetahui soal itu..." Ucap Louis sambil menangis.


"Jangan meremahkan gue. Gue bakal memecahkan semua masalah yang ada di dunia ini, itu adalah mimpi dan janji gue." Alvin berjalan pergi.


"Selamat menjalankan hidup lo di penjara." Alvin lari menuju sekolahnya dan ia selesai berurusan dengan sebuah sampah.


"SIALAN!!!" Louis mulai putusa aa


***


Alvin telah tiba kembali disekolahnya dan ia melihat para anggota eskul basket sedang beristirahat karena kelelahan berlatih.


Alvin menghampiri Radiya.


"Kerja yang bagus." Alvin tersenyum.


Radiya menoleh kepada Alvin. "Terima kasih, kamu tidak kemana, ketua osis?" Ucap Radiya.


"Ke Toilet doang." Alvin tertawa.


"Lo semua harus memenangi lomba ini... Demi sekolah ini!" Ucap Alvin dengan sangat serius.


Radiya tersenyum. "Tentu saja!" Ucap Radiya yang sedang bersemangat.


"Baguslah..." Alvin tersenyum dan ia menghampiri Adira.


Alvin menoleh kepada Adira dan Adira menoleh balik kepada Alvin.


"Adira, elu punya barang yang gak berguna ga?" Tanya Alvin dengan muka yang serius.


"Tidak berguna?" Ucap Adira dengan kebingungan.


Adira melepaskan kalungnya yang berada di lehernya.


"Kalung ini aku ga tau dapet darimana dah. Tapi ini seperti barang yang sangat penting untuk ku..." Adira tersenyum.


"Dan ini juga bisa mendatangi kemenangan dan keajaiban." Adira tersenyum.


"Ohh... Gue pinjam bentar, boleh ga?" Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Silahkan." Adira memberi kalung itu kepada Alvin.


Alvin mengambil kalung tersebut.


"Permisi." Alvin jalan pergi dan menghampiri ruangan osis.


"Iya." Adira dan Radiya mengangguk.


Mereka berdua langsung menunduk kepada Alvin. "Terima kasih telah menolong."


Beberapa menit kemudian...


Alvin membuka pintu tersebut dan di dalam ruangan osis hanya ada Aura, Tomoe, dan temen baik Aura yang bernama Vanya.


"Nah, bagaimana? Elu udah memecahkan semuanya kan?" Ucap Aura dengan sangat penasaran.


"Udah... Semua berjalan dengan sangat lancar dan bahkan itu berakhir dengan kesedihan." Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Apa yang lo maksud, ketua osis?" Ucap Vanya dengan muka yang serius.


"Lo udah menyadarkan mantannya Aura?" Ucap Vanya sambil menyilang tangannya.


"Tidak ada harapan lagi untuk menyadarkannya." Ucap Alvin dan ia mengeluarkan kalung tersebut di dalam sakunya.


Aura tiba-tiba mulai terkejut. "E-Elu?! Elu dapet darimana itu?!"


"Ini pasti kalung pemberian lo ke Adira ya?" Tanya Alvin.


"I-Iya. Elu kok bisa mendapatkan kalung itu?!" Aura mulai sangat khawatir.


"Semua udah gue pecahkan, dan ini berakhir dengan sangat sia-sia, Aura." Alvin menghela nafasnya karena ia tidak punya harapan lain untuk membantu Aura.


"Adira tidak akan pernah mengingat mu lagi dan mencintaimu lagi seperti biasanya." Ucap Alvin dengan muka yang serius.


Aura terkejut dan terjatuh.


"T-Tahu darimana...? Elu...?" Tanya Aura dengan sangat terkejut dan ia mulai merasa sedih.


"Adira mengalami kecelakan dan itu membuatnya lupa ingatan kepada semua orang bahkan dirimu itu, Aura." Ucap Alvin dengan serius.


"Waktu berjalan dengan cepat, lo harus lupakan semua itu, Aura." Ucap Alvin dengan sangat serius.


"Diamlah!" Ucap Aura yang sedang kesedihan.


"Elu ingin hidup lo itu hancur karena mantan lo yang melupakan dirimu ini?" Tanya Alvin dengan sangat serius.


"Padahal ini adalah hari ulang tahun jadian gue dengan Adira." Ucap Aura dengan sangat sedih.


"Kamu bisa merayakannya dengan mengingat waktumu dengan Adira." Ucap Alvin dengan wajah yang sangat serius.


"Percuma saja kalau kamu mencoba untuk mengubah Adira menjadi orang yang dulu, itu tidak akan pernah berhasil kepada seseorang yang lupa ingatan." Alvin mengejamkan kedua matanya.


Aura menatap Alvin dengan tatapan yang sangat marah dan kesal, ia langsung berjalan menuju Alvin dengan penuh kemarahan.


Alvin menoleh kepada Aura dengan muka yang sangat serius, Aura tiba-tiba menampar muka Alvin dengan sangat keras.


PLAK!!!


Aura menamparnya sekali lagi dengan sangat keras dan Alvin terjatuh.


PLAK!!!


Vanya dan Tomoe langsung terkejut.


"Alvin! Hei, jangan menyakitinya---" Tomoe bangkit dari kursinya dan terkejut.


"Jangan mendekat dan ikut campur, Tomoe!" Ucap Alvin dengan sangat serius.


Alvin melihat kalung tersebut dengan sangat teliti. "Kalung ini adalah pesan terakhir yang dimiliki Adira untukmu Aura."


Alvin bangkit dari lantai dan ia menatap Aura dengan muka yang sangat serius.


"Tidak peduli apa pun yang terjadi, elu harus bergerak maju tanpa berdiam diri." Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Adira mau lo untuk tidak bersedih karena ia melupakan lo ini."


Alvin memberi kalung tersebut kepada Aura dan Aura mengambilnya, ia melihat kalung tersebut dengan menahan tangisannya.


"Dan ini adalah langkah pertama untukmu." Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


Aura tiba-tiba melihat tulisan di kalung tersebut.


"Ahh..." Aura mengambil kalung tersebut dan melihatnya.


"Kata-kata berkah untukmu dari mantan pacarmu." Alvin tersenyum.


Tulisan di kalung tersebut adalah "Jangan pernah menyerah di masa depan!"


"Adira..." Aura mulai merasa sangat sedih, ia langsung menangis dengan sangat terharu.


Aura jongkok dan menangis dengan sangat keras karena ia sangat merindukan Adira, tapi sekarang sudah terlambat karena Adira tidak mengingat tentang Aura ini.


"Gue minta maaf, sejauh ini lah bantuan gue ke elu, Aura." Ucap Alvin sambil berjalan menuju mejanya.


Vanya menghampiri Aura dan mencoba untuk menenangkannya dan menghiburnya.


Alvin mulai merasa bersalah dan buruk melihat Aura menangis.


Jadi gadis dingin juga bisa menangis seperti ini ya?


20:00 PM


Di dalam rumah Aura, Aura sedang belajar di meja belajarnya.


Aura menatap jendelanya.


"Walaupun laki-laki itu tidak selalu diandalkan dan dipercaya tapi ketua osis yang bernama Alvin Ghifari ini memang harus selalu diandalkan dan dipercaya, ya?" Aura akhirnya tersenyum.


"Aku iri sama Tomoe yang mempunyai pria seperti itu." Aura tertawa.


...***...

__ADS_1


...Apakah kamu menikmati chap panjang ini? Kalau ya, jangan lupa untuk vote dan commentnya ya~...


...Sampai jumpai lagi di chapter 16~...


__ADS_2