Takdir Menolak Cinta-nya

Takdir Menolak Cinta-nya
Ketua Osis


__ADS_3

Di dalam ruangan osis yang hanya ada Alvin di dalamnya.


Alvin mulai memakai jas osisnya.


Alvin melihat kepada cermin dan memasukan kedua tangannya ke dalam sakunya.


"... ..." alvin bergaya dengan keren.


"Astaga..." Alvin mulai memegang cermin itu dan mulai narsis kepada diri sendiri.


"Apa pun pakaian yang kupakai pasti kelihatan keren dan mencolok." Alvin sangat bersyukur dengan muka kerennya.


"Bahkan coklat pun meleleh ketika gue memegang coklat-coklat itu... Apakah aku terlalu keren?" Ucap Alvin sambil menatap cermin.


11:00 AM.


Alvin yang berada di lapangan sedang melihat banyak siswa dan siswi yang sedang membersihkan halaman sekolah.


Setelah itu Alvin menghampiri ruang rapat.


-\=-\=-


Didalam ruangan rapat itu, Alvin mengumpulkan semua guru yang harus datang.


"Sepertinya semua yang gue panggil udah berkumpul." Alvin menyilang tangannya.


"Mari kita mulai rapat ini." Ucap Alvin dengan sangat serius


Alvin berdiri dan menyilang kedua tangannya.


"Gue akan memulai ke intinya langsung." Ucap Alvin.


"Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam agendaku."


"Yang pertama!" Alvin menghantam papan tulis yang berada di belakangnya.


"Perpanjang jam pelajaran sekolah!" Ucap Alvin dengan serius.


Semua guru malah tidak setuju dan melihat Alvin dengan muka yang kesal.


"Gak setuju!" Jawab semua guru.


"Enggak usah ngejek, goblok!!!" Jawab Alvin dengan sangat marah


"Emangnya elu semua bocah?!" Alvin menunjuk mereka


"Jujur saja, yang jadi pertanyaan berapa lama kau mau memperpanjang jam pelajarannya." Jawab guru bahasa indonesia dengan sangat penasaran.


"Sekolah ini tidak di lengkapi fasilitas untuk mengajar murid-murid saat malam, jadi batas maksimal waktunya sampai saat matahari terbenam." Ucap Guru Bahasa Indonesia sambil tersenyum.


"Aku juga menyadarinya, Pak Endang." Alvin mulai berpikir dan mengangguk


"Kita coba dengan mundurkan waktu pelajaran selesai dari jam lima sore ke jam tujuh malam." Alvin menulis jadwal itu di papan tulis.


"Pada saat itu juga, kita pasang lampu yang tepat, dan begitu selesai, elu semua harus tetap mengajar dari jam 9 malam." Jawab Alvin dengan muka yang serius.


"Itulah rencananya." Ucap Alvin sambil menatap mereka semua.


"Kedengarannya masuk akal." Jawab guru bahasa inggris yang bernama Pak Yudi sambil mengangguk.


"Kedua!" Alvin menghantam papan tulis itu lagi.


"Tidak ada libur mingguan!" Jawab Alvin dengan muka yang sangat serius.


"APAAA!?" Semua guru langsung sangat terkejut dan tidak setuju dengan tidak ada libur.


"Lagi!? Jangan diterusin, anjay!" Alvin terkejut sambil merasa muak.


Alvin mengeluarkan surat libur yang ada di sakunya kepada mereka semua.


"Lagian apa ini, hari jumat libur?!" Jawab Alvin dengan sangat marah.


"Kalian guru atau pengangguran sih!? Gak berguna sama sekali!" Tanya Alvin.


"Tapi kita guru juga perlu istirahat, ketua osis." Tanya Guru IPS yang bernama Bu Sintia.


"Iya kan?" Jawab Guru IPA yang bernama Bu Hesti dengan tersenyum.


"JANGAN BEGITU LAH!!!" Alvin menghantam meja dengan sangat keras.


"Justru itu yang harus elu semua ubah! Jamkos malah makin banyak, dan semua murid tidak akan membaik jika ada banyak sekali jamkos!" Ucap Alvin dengan sangat marah.


"Dengar baik-baik!" Alvin menyilang tangannya.


"Mulai esok sampai tanggal 30 September tidak ada yang namanya hari libur untuk para guru!!!" Jawab Alvin dengan sangat serius dan ingin sekali agar guru-guru mengajar murid-murid dengan benar.


"Mengerti?!" Ucap Alvin dengan sangat keras.


"Iyaaa..." Jawaban guru-guru dengan sangat malas.


"Ketiga!!!" Alvin menghantam papan tulisnya lagi.


"Dan ini adalah initinya..." Ucap Alvin dengan sangat serius.


"Sampai tanggal 30 September, murid yang terlambat atau perlengkapan mereka tidak lengkap, tidak perlu di hukum!" Ucap Alvin.


Semua guru mulai sangat terkejut dari sebelumnya dan mereka pasti tidak menyetujui ide itu.


"Kau yakin, ketua osis?" Tanya Pak Endang.


"Tentu saja." Jawab Alvin sambil mengangguk.


Guru PKN yang bernama Bu Siti berdiri.


"Kalau dilihat dari sudut pandang keuangan, ibu tidak bisa menerimanya." Jawab Bu Siti.


"Dengan keadaan kita yang sulit saat ini, kalau begitu caranya sekolah ini tidak akan bisa bertahan lama." Tanya Bu Siti.


"Air dan listrik tidak bisa tumbuh di pohon, tahu." Jawab Bu Hesti.


"Hmmm..." Alvin mulai berpikir lebih dalam dan melihat sekitar.


"Baiklah, gue punya ide lain..." Jawab Alvin yang mempunyai ide lain.


"Hmm..." Alvin mulai berpikir lebih dalam dan dalam.


"Bagaimana kalau ada murid yang melanggar pelaturan di denda lima ribu?" Jawab Alvin sambil melihat mereka semua.


Semua guru mulai sedikit setuju dengan ucapan Alvin.


"Kenapa lima ribu?" Jawab Pak Endang.


"Itu harga denda yang cukup!" Jawab Alvin.


"Saat ini jumlah murid yang akan masuk tahun depan lebih penting di bandingkan memperoleh keuntungan!" Jawab Alvin dengan sangat serius.


"Kalau kita tidak membuat sekolah ini menjadi sekolah terpopular di seluruh jakarta, kita semua akan berakhir." Jawab Alvin.


Semua guru mengangguk.

__ADS_1


"Sip. Dengan ini upacara gue akhiri!"


"Kembali ke habitat elu semua masing-masing! Bubar!" Alvin meninggalkan ruang rapat itu dan bergegas ke ruang osis.


-\=-\=-\=-


Di dalam ruangan osis, Alvin sedang berdiskusi dengan bawahan dia yang bernama Varez.


"Sekarang kita harus bagaimana, ketua?" Tanya Varez sambil melihat ke arah Alvin.


"Ada video lain yang harus elu edit, tolong ya." Tanya Alvin dengan muka serius.


Tiba-tiba 3 orang siswi mengetuk pintu ruangan itu dengan sangat keras.


"Buka, woi! Enggak di kunci!" Jawab Alvin sambil menatap pintu tersebut.


Pintu itu terbuka dan 3 siswi itu menatap Alvin dengan senyuman naif.


"Ohh... Elu bertiga si trio bejat itu ya?" Jawab Alvin sambil melihat dokumen-dokumennya.


"Hello, everyone!" Jawab gadis yang bernama Agatha dengan muka yang tersenyum.


Agatha menghampiri Alvin dan menunjukan sebuah video di dalam hpnya.


"Liat neh!" Agatha tersenyum sambil melihatkan sebuah video kepada Alvin.


Alvin melihat video itu, video yang Alvin lihat itu adalah video promosi untuk sekolah.


Video itu dilihat oleh banyak orang dan bahkan ada Agatha dan 2 temannya sebagai cheerleader.


"Gimana ya~?" Agatha tertawa dengan sombong.


"Kita bertiga selalu terkenal di mana-mana, dengan karisma yang mampu membuat orang terpikat kepadanya." Tanya teman Agatha yang bernama Nanda.


"Bakat kita sendiri membuat gue sangat ngeri..." Jawab teman Agatha satunya lagi yang bernama Alana.


"Berapa banyak orang yang sudah melihat video promosi elu, ketua osis?" Agatha tertawa dengan sangat sombong.


"Baru sampai 12.000, ya?" Jawab Nanda sambil tertawa.


Trio itu langsung melakukan tos bareng dan tertawa terbahak-bahak kepada Alvin.


"Kalau video kita ini?" Jawab Alana yang sedang tertawa terbahak-bahak.


"Jreng-jreng!!!" Agatha melihatkan berapa banyak penonton di videonya itu.


"Lebih dari 500.000!" Agatha tersenyum dengan sangat sombong dan naif.


"Kelihatannya videomu banyak yang lihat karena tautannya dihubungkan dengan video kita." Agatha terus mengolok-ngolok Alvin.


"Sayang banget~." Jawab Nanda dan Alana dengan tertawa.


"Hahaha..." Alvin mulai tertawa pelan.


"Ada apa?" Jawab Nanda yang penasaran kenapa Alvin tertawa.


Alvin berdiri dan mulai tertawa terbahak-bahak.


"HAHAHAHAHAHA!!!" Alvin tertawa dengan sangat kencang.


"Apa yang elu tertawakan?!" Jawab Alana yang sangat penasaran.


"Liat baik-baik nama pengunggahnya!" Alvin menunjuk HP milik Agatha.


Trio itu langsung melihat siapa pengunggah video tersebut. Dan pengunggah tersebut bernama "NIVLA."


"Nivla?" Jawab Agatha yang sangat kebingungan.


"Coba lah dengan membacanya dari belakang!" Alvin tertawa.


"Nivla." dibaca dari belakang menjadi "Alvin."


"ALVIN!?" Agatha, Nanda, dan Alana langsung terkejut dan tidak percaya itu.


"Jangan-jangan!" Jawab Varez dengan sangat terkejut.


"Benar, bawahan ku!" Alvin tersenyum dan mulai bergaya.


"Pengunggah nya adalah gue! ALVIN GHIFARI!!!" Alvin tersenyum dengan naif sekali.


"Fernando!" Alvin memanggil Fernando.


Fernando memasuki ruangan itu dan hormat kepada Alvin.


"Video itu diam-diam direkam oleh gadis bernama Aura dan diedit oleh kita semua." Jawab Fernando.


"Dengerin tuh!" Jawab Alvin dengan tersenyum.


"Terkenal?" Alvin mulai mengolok-ngolok trio itu sambil tertawa.


"Kalau kita tidak mengunggahnya, tidak ada seorangpun yang akan menyadarinya." Jawab Alvin dengan muka serius.


"Karisma? Kalau kita tidak mengeditnya, elu semua pasti akan merasa malu dengan rekaman tersebut.


"Lihat bagaimana mudahnya mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang menguntungkan untuk menarik para murid baru!" Alvin tersenyum.


"Bakatku sendiri memang membuatku ngeri!" Alvin bergaya dengan sangat menakjubkan.


"Tapi tidak begitu banyak orang yang melihat video promosi pertama elu, bosque..." Jawab Varez.


"Apa video itu benar-benar bisa menarik murid baru yang banyak?" Tanya Varez dengan sangat khawatir.


"Gue rasa tidak" Alvin mulai khawatir.


"Hah...?" Mereka semua terkejut dan langsung bengong.


"Dilihat dari banyaknya yang melihat video itu, gue rasa cuma sekitar satu persen yang akan masuk ke SMA ini." Alvin menghampiri jendela dan berpikir sambil melihat pemandangan.


"Lalu, kenapa elu membuat video yang gak berguna itu?!" Jawab Agatha


"Karena seribu satu murid lebih baik dari pada seribu murid!" Alvin menatap mereka dengan wajah yang sangat serius dan keren.


Mereka terkejut dengan perkataaan Alvin.


Alvin menghantam meja kerjanya.


"Gue akan melakukan apa pun untuk mendapatkan satu murid tambahan." Jawab Alvin dengan muka yang sangat serius dan keren.


Tiba-tiba Agatha merasa terpersona oleh kata-kata Alvin dan dia mulai tersipu malu olehnya.


Agatha mulai tersenyum.


"Gue pergi dulu. Para penggemar sedang menungguku." Agatha berjalan pergi dari ruang osis.


Nanda dan Alana mengikuti Agatha dan menutup pintu dengan pelan-pelan.


16:00 PM


Alvin menghampiri ruangan satpam dan melihat-lihat sekitar. Alvin tidak melihat satupun sampah berserakan.

__ADS_1


Alvin mulai tersenyum dan merasa lega.


Alvin melihat satpam tersebut yang sedang tersenyum melihat pemandangan sekolah.


Alvin membuka pintu tersebut dan satpam tersebut melihat ke arah Alvin.


"Oh, ketua osis." Satpam tersebut melihat Alvin dan tersenyum.


"Apakah masih banyak murid yang kesiangan?" Tanya Alvin.


"Enggak terlalu banyak, jumlahnya mulai menurun" Satpam itu tersenyum.


"Yang kesiangan paling cuman 10 murid, dan mereka juga membuat alasan yang jujur." Jawab Satpam tersebut.


"Bagus. Perlahan-lahan meningkat." Alvin merasa lega.


"Ya. Selain itu..." Satpam itu melihat ke jendela dan melihat sekitar sekolah.


"Ada apa?" Alvin mulai penasaran.


"Tidak ada satupun sampah yang berserakan ya? Sekolah ini lama-lama akan menjadi sangat bersih." Satpam itu tersenyum.


"Ini semua tidak akan terjadi jika kamu tidak ada, Alvin si ketua osis." Satpam itu tertawa.


"Hmph! Gue udah bilang kalau sekolah ini bakal gue jadiin tempat yang lebih bagus!" Alvin tersenyum dengan sangat naif.


17:00 PM.


Alvin sedang berjalan pulang dan tiba-tiba ia bertemu dengan Tomoe yang sedang menatap sungai sendirian.


"Tomoe?" Alvin memulai percakapan.


Tomoe menatap Alvin dan terkejut.


"Ahh! Aku akhirnya menemukan mu!" Tomoe terkejut.


Tomoe menatap jas osis Alvin.


"Hmmm~ Aku melihat rasa yang berbeda, ya?" Tomoe tertawa.


"Ohh, jas ini ya?" Alvin tertawa.


"Kamu hebat... Nakal-nakal dan menyebalkan tapi jadi ketua osis." Tomoe tersenyum.


Alvin mulai merasa berani untuk mencium Tomoe di mulut karena dia tidak melihat siapa-siapa di sekitarnya.


Alvin menghampiri Tomoe dengan muka yang serius.


"E-Ehh? Alvin, kenapa?" Tomoe mulai tersipu malu.


Alvin memegang dagunya dan Tomoe terkejut.


"Alvin?" Tomoe menatap Alvin.


Alvin mulai mendekat dan tiba-tiba Tomoe menampar tangan Alvin dan mundur.


"K-K-Kamu ngapain!?" Muka Tomoe mulai memerah.


"Hadeuh, padahal tadi udah nikmat..." Alvin mulai kecewa.


Alvin tiba-tiba memegang kedua bahu Tomoe dam menatap matanya.


"A-Ahh!" Ucap Tomoe yang gugup dan tersipu merah.


"Tomoe, aku membutuhkan kamu di sekolah..." Alvin memulai percakapan.


"Aku tidak bisa mengubah sekolah sendirian tanpa ada kamu di sisi aku, Tomoe!"


"Aku bisa merasakan bahwa hatimu terasa dekat denganku..."


Tomoe mulai merasa sedih.


"Harapanku bisa hilang begitu saja jika kamu tidak ada di sisi ku, Tomoe. Di sekolah." Alvin tersenyum.


"Tomoe, aku hanya akan memiliki mata untuk kamu." Alvin tersenyum.


Tomoe mulai menangis.


"Alvin!!!" Tomoe mulai memeluk Alvin dengan sangat erat.


Alvin memeluk Tomoe kembali dan tersenyum.


"Alvin! Alvin! Alvin!" Tomoe menangis di bahu Alvin.


"Dan ini agak terlalu cepat, tapi aku berpikir untuk menikahimu ketika kita sudah besar..." Alvin tersenyum.


"Kita bisa hidup dengan senang di rumah yang mewah dan indah dengan 2 bayi..." Alvin tersenyum.


"Iya..." Tomoe sangat senang mendengar perkataan itu.


Alvin dan Tomoe menatap satu sama lain dan tersenyum.


Tomoe mencium pipi kanan Alvin dan Alvin tersipu merah.


Alvin mulai tersenyum dengan sangat senang.


Alvin menyerang balik dengan mencium pipi kiri Tomoe.


Tomoe tersenyum dan menutup kedua matanya.


Alvin mulai gugup dan menutup matanya juga.


Alvin mulai mendekat dan mendekat...


RIIIINNNGGG!!!


"Ahh!?" Alvin dan Tomoe terkejut dengan suara HP Alvin.


Alvin mengeluarkan hpnya dan menjawabnya.


"Ada apa?!" Alvin menjawabnya dengan sangat marah.


"Ketua, kita membutuhkan anda secepat mungkin!!!" Jawab teman Alvin.


"Sialan!" Alvin menutup telpon tersebut.


Alvin menatap Tomoe.


"Ada apa?" Tanya Tomoe.


"Besok, kamu harus udah ada di sekolah ya!" Alvin lari menuju tempat yang harus di kunjungi.


"Sampai jumpa besok, Tomoe!" Alvin melambai kepada Tomoe.


Tomoe melambai kembali.


"Aku mencium bau mencurigakan..." Tomoe mulai curiga.


...-------...

__ADS_1


...Sampai jumpa lagi di chapter 8! Jangan lupa comment dan votenya ya~...


...See you later~...


__ADS_2