Takdir Menolak Cinta-nya

Takdir Menolak Cinta-nya
Berurusan dengan Osis


__ADS_3

"Bisakah elu dan gue bicara sebentar, Alvin Ghifari?" Tanya seorang ketua osis kepada Alvin dengan muka yang sangat serius.


"Enggak bisa! Gue sibuk dengan hal-hal yang lain" Jawab Alvin dengan muka seriusnya.


"Ini langka sekali melihat elu berbicara dengan orang seperti gue, ketua osis yang sangat terhormat." Alvin tersenyum.


"Elu harus ikut gue, jika elu menolak, lo bisa jadi di DO!"


"Terserah lu aja lah, ******" Alvin mulai merasa muak.


-\=-\=-


Alvin memasuki ruangan osis tersebut dan dia duduk di kursi sambil menatap jendela.


"Perkataan yang lu ucapkan di panggung kantin itu membuat kita para osis muak dengan mu, Alvin..."


"Jadi? Emang itu urusan gua ya?" Alvin menyilang tangannya.


Ketua osis itu menghantam meja dengan sangat keras dan mulai sangat muak dengan Alvin.


"Dasar ******** sampah! Dengerin gue dulu, dasar monyet!" Ucapnya dengan sangat marah.


"Elu ini adalah siswa yang sangat dibenci bagi osis! Lu harus menarik ucapan sampah itu di panggung kantin itu lagi!" Jawab Ketua osis tersebut dengan sangat marah.


"Hey, Reza, lu mau gua siksa habis-habisan ya?" Alvin berdiri.


"Coba saja melakukan kekerasan... Lu akan tau akibatnya!" Reza tersenyum dengan gila.


Alvin berjalan pergi dari ruangan osis itu dan menutup pintu dengan sangat keras.


"Dasar brengsek... Gua hampir ingin memukul muka *** nya itu dengan keras!"


-\=--\=-


Dibelakang sekolah, Reina sedang di ceramahi oleh Reza.


"Elu punya bukti tentang Alvin merokok atau melakukan hal-hal yang tidak patas, 'kan?" Tanya Reza.


"E-Ehh... Ga tau..." Jawab Reina.


"Lu pasti berbohong ya...? Ini pertanyaan serius dari ketua osis, Reina..." Reza memegang tangan kanan Reina dengan sangat kencang dan kasar.


"Sakit! Itu sakit!" Ucap Reina yang kesakitan.


"Jika lu tidak mau memberitahuku... Gue bisa memukul elu loh..." Reza tersenyum.


Reza menunjukan kepalan tangannya.


"A-Ahh..." Reina ketakutan.


Reza hampir menghantam Reina. tapi tiba tiba Alvin memegang tangan Reza dengan sangat kencang.


"Elu... Lu mau ngapain ke junior gua, hah?!" Ucap Alvin dengan sangat marah.


"Kak Alvin..." Reina terselamatkan.


"Pergi dari sini, Reina" Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.


"B-Baiklah" Reina lari menuju sekolah dengan sangat cepat.


"Ngapain lu ada di sini, dasar ********!" Ucap Reza yang sangat marah.


"Yang ******** itu elo... ELU HAMPIR AJA MELUKAI JUNIOR GUE!!!" Alvin menendang perut Reza dengan sangat keras.


"UGGHHHH!!!" Reza memegang perutnya dan jatuh.


Alvin menginjak kepalanya dengan sangat keras.


"Elu mau mati ya, ketua osis? Elu itu ketua osis dan lo mencoba melukai junior gue!" Alvin sangat marah dan ingin sekali membunuh Reza.


"Gue bisa membunuhmu di sini!!!" Alvin mulai merasa kesal kepada Reza.


"DASAR ******** ******!!!" Reza berdiri dan mencoba untuk memukul Alvin.


Alvin menghidari pukulannya dan tiba tiba mencekik leher Reza dan menghantam kepalanya kepada tiang.


"ARRRGGHHHHHH!!!" Reza meluarkan banyak darah di mulutnya.


"Lu benar-benar ingin mati ya?" Alvin mengeluarkan pisau di dalam sakunya dan menunjukan itu kepada Reza.


"Ahh?! Siapa saja---" Mulut Reza di tutup oleh tangan kiri Alvin.


"Gue tusuk ya?" Alvin tersenyum gila.


Alvin tiba tiba menusuk paha Reza dengan pisau itu.


"Ugh...!!!!" Reza mulai kesakitan dan tidak bisa apa-apa


"Dengar ini ya... Lu harus keluar dari sekolah ini. Jika elu menolak, leher mu itu akan terlumuri darah..." Tanya Alvin yang sedang mengancam Reza.


Reza menangis dan merasakan sakit.


"Elu harus tau kemarahan dari sang kaisar ini..." Mencabut pisau itu dan menyimpannya di saku dia.


Keesokan harinya...


Dilapangan sekolah, upacara hampir selesai dan kepala sekolah memberikan kabar buruh kepada semua murid.


"Reza Lii, dia sudah tidak bersekolah disini dan bapak dengar dia terancam oleh seseorang jadi dia keluar dari sekolah ini..."


Alvin tersenyum jahat.


"Jadi, sekarang sekolah ini mempunya masalah besar... Kita tidak punya lagi ketua osis, dan tidak ada satupun yang ingin menjadi ketua osis."


-\=-\=-


Alvin berbaring di bawah pohon dan tertidur.


"Alvin Ghifari" Ucap seorang gadis.


Alvin membuka matanya dan melihat gadis itu.


"Ada perlu apa lo kesini, Sasa?" Ucap Alvin dengan muka yang serius.


"Aku kesini hanya ingin menawarkan mu untuk menjadi ketua osis." Ucap Sasa dengan muka yang serius.


"Yang benar saja." Alvin berdiri


"Lo udah mencuri waktu luang dan liburanku, menghukum gue dengan cara yang tidak wajar, dan sekarang seenaknya mintaku untuk menolong lo?" Alvin mulai terasa marah.


"Elu ingin gue melakukan hal bodoh ini?!"


"Aku meminta maaf karena menghukum dengan tidak wajar." Merasa bersalah.


"Kamu bahkan bilang ingin mengubah suasan sekolh ini, kan?!" Tanya Sasa.


"Gue tau, tapi gue ingin mengubah nya tanpa mengikuti osis."


"Sudah cukup." Alvin berjalan menuju sekolah.


"Alvin!" Sasa menoleh kepada Alvin


"Kamu adalah harapan kita bagi osis!" Ucap Sasa.


"Gue ga mau! Gue tidak tertarik sama sekali." Ucap Alvin.


"Lagian... Emang ada yang mau kalau gue menjadi ketua osis?!" Ucap Alvin dengan sangat marah.


10 menit kemudian...


Alvin sedang berada di atas sekolah dan sedang memandang langit-langit.

__ADS_1


"Sekarang Tomoe lagi ngapain ya...?" Ucap Alvin yang sedang galau.


Tiba-tiba teman-temannya Reza yang semua nya itu osis datang menghampiri Alvin.


"Elu ini... Lebih kejam yang kukira!" Tanya osis itu.


Alvin berdiri dan menatap mereka.


"Lo semua butuh apa kesini?" Jawab Alvin dengan muka yang serius.


"Kita semua teman Reza... Dan kita semua akan menghabisi mu Alvin." jawab Osis itu sambil mengancam dia.


"Ohh~ Elu semua jadi ingin tau rasanya sakit ya?" Alvin tersenyum dan tidak takut sama sekali.


"Baiklah, Ridho, Herman, dan juga Surya..." Alvin tersenyum.


Ridho tiba tiba lari menghampiri Alvin dengan sangat kencang.


"Dasaran sialan!!!" Ridho menghantam Alvin


Alvin tiba tiba memegang tangannya dan membantingnya dengan keras ke lantai.


"Ugh..." Ridho terasa kesakitan.


Muka Alvin tiba-tiba terkena pukulan Herman dan Surya tiba tiba menendang perut Alvin dengan sangat kencang.


"Aghh... Hehehe, tidak buruk..." Alvin tersenyum


Tiba-tiba Alvin berputar dan menendang muka Surya dengan sangat kencang sampai dia terjatuh.


"Sialan!" Ucap Surya.


Alvin menatap Herman dan tiba-tiba menendang dadanya dengan sangat keras.


"Ugh..." Herman terjatuh.


"Baiklah... Gue mulai dari mana ya? Gue akan siksa kalian semua!" Alvin tersenyum.


Alvin berjalan menuju Herman dan siap untuk menginjak kepalanya dengan sangat keras.


Tiba-tiba...


Guru BK memegang tangan Alvin dengan erat.


Alvin menatap guru itu dan terkejut.


"Pak Sudarmo?!" Alvin terkejut.


"Alvin, kamu siap untuk menjelaskan semua ini kepada kepala sekolah?" Ucap guru itu dengan muka yang kesal.


"Sesuai rencana..." Ridho tersenyum.


Alvin terkejut dan melihat mereka.


"Elu semua ngejebak gue!?" Alvin sangat terkejut.


"Dasar ******...!!!" Ucap Alvin dengan muka yang kesal.


\=-\=


"Alvin Ghifari..." Ucap Guru kepala sekolah.


"... ..." Alvin tidak ingin mengeluarkan satu kata apa pun.


"Kayanya kamu hari ini harus diberi hukuman yang berat karena membuat kerusuhan dengan osis... Dan itu juga bisa jadi bahwa kamu lah yang telah membuat Reza keluar sekolah." Ucap guru kepala sekolah.


"Bapak kepala sekolah, emang punya bukti bahwa saya yang membuat Reza keluar?" jawab Alvin.


"Sudah cukup! Mulai hari ini kamu harus tinggal di sekolah ini dan membersihkan seluruh ruangan dan bahkan halaman sampai besok siang jam dua belas siang!" Ucap guru kepala sekolah itu dengan sangat marah.


2 menit kemudian...


"Hancur banget dah..." Ucap Alvin dengan sangat kesal kepada osis itu.


"Ehh? Alvin!" Sapa Fernando.


Alvin melihat ke arah Fernando dan melambaikan tangannya.


Fernando menghampiri dia.


"Lu punya masalah apa lagi?" Fernando duduk di sebelah Alvin.


"Yah seperti biasa... Di hukum, tapi hukumannya lebih berat sekarang." Alvin mendesah dengan sangat kecewa.


"Dan itu?"


"Gue harus menginap di sekolah ini dan membersihkan semuanya..." Alvin berdiri dan menghampiri kelasnya.


"Sampai nanti." Alvin melambaikan tangannya.


"... ..." Fernando mempunyai rasa kasian kepada Alvin.


10 menit kemudian...


Alvin sedang bengong dan tidak peduli dengan pelajaran, dia terus melihat ke hp nya itu.


"Aku dengar kamu di hukum lagi, Alvin" Alvin mendapatkan pesan dari Tomoe.


Alvin terkejut dan langsung membalas.


"Iya nih..." Alvin menjawabnya.


"Setelah pulang sekolah aku datang ke rumah kamu ya?' Alvin mengirim pesan lagi


"Baiklah" Tomoe mengirim emotikon hati kepada Alvin


Setelah pulang sekolah...


Alvin menyimpan sepedanya di depan rumah Tomoe.


Alvin berjalan menuju pintu rumah Tomoe dan menekan bellnya.


Tomoe membuka pintunya dan tersenyum.


"Hey, maaf aku agak terlambat" Ucap Alvin sambil menghampiri Tomoe.


"Gak apa-apa kok. Lagian aku senang kamu datang" Tomoe tersenyum


"Hahaha, ini." Alvin memberikan oleh-oleh kepada Tomoe.


"Ini apa?" Tomoe mengambilnya.


"B-Buah-buahan." Alvin tersipu.


"Wahhh~ Terima kasih, Alvin" Tomoe tersenyum.


---


Tomoe duduk di sebelah Alvin.


"Aku dengar kamu dapat masalah besar di sekolah." Tomoe memulai percakapan.


"Iya, aku hampir saja kena DO dan bahkan malam ini aku harus membersihkan seluruh sekolah..." Jawab Alvin.


Tomoe menatap Alvin dan ia melihat ada luka kecil di pipi Alvin.


"Kamu berkelahi ya?" Tomoe menggambil tisu dan mengelap luka Alvin.


"Ouch... Sakit."


"Kamu ini masih tetap berkelahi ya... Aku jadi khawatir dengan kamu di sekolah." Ucap Tomoe.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kok. Jangan terlalu mengkhawatir kan aku, Tomoe."


"Tapi..." Tomoe memegang tangan Alvin.


Alvin dan Tomoe menatap satu sama lain.


Tomoe menutup matanya dan mulai menghampiri mulutnya. Alvin menutup matanya juga.


Tiba-tiba suara telepon masuk.


"Ahh!?" Alvin dan Tomoe terkejut.


Alvin mengeluarkan HP nya dan menjawabnya.


"Padahal kita hampir saja berciuman... " Tomoe merasa kecewa.


19:00 AM


Alvin melihat ke arah jam dinding. Tomoe tertidur di bahu Alvin.


Alvin menatapnya dan tidak tega untuk membangunkannya.


"T-Tomoe... Bangun, Tomoe." Alvin pelan-pelan membangunkan Tomoe.


Tomoe membuka matanya dan melihat Alvin.


"Kenapa...?" Ucap Tomoe sambil mengusap matanya.


"Aku harus pergi ke sekolah sekarang juga agar perkerjaan ku selesai dengan cepat." Jawab Alvin.


Tomoe terkejut dan menatap Alvin.


"Aku mau ikut dengan mu, Alvin!" Ucap Tomoe yang sangat sekali ingin membantu Alvin.


"Ehh? Kamu serius, Tomoe?!" Jawab Alvin dengan sangat terkejut.


"Lagian, aku khawatir kalau kamu sendirian di sekolah dan membersihkan semua itu sendirian." Tomoe mulai sangat khawatir.


"Emang ibumu mengizinkan itu---"


"Kalian pergi aja" Ibu Tomoe tersenyum dan memotong pembicaraan Alvin.


"Ehh? Ibu serius?" Alvin terkejut.


"Iya, soalnya Tomoe jarang keluar rumah." Ibu Tomoe tersenyum.


"Terima kasih, ibu." Tomoe tersenyum dan mengeluarkan jempolnya.


"Tapi jangan melakukan hal yang macam-macam ya~" Ibu Tomoe tersenyum.


Muka Alvin dan Tomoe berubah menjadi merah.


-+-


"Tomoe, tau ga?" Alvin memulai percakapan.


"Apa?" Jawab Tomoe.


"Waktu kamur tertidur di atas bahuku... Ibu kamu malah mengambil foto kamu dan aku..." Alvin tersipu malu.


"Ehh?! Ibuku memang memalukan dan bodoh! Maaf ya..." Tomoe tersipu juga dan mulai panik.


"Gak apa-apa, tapi kayanya Ibumu percaya terhadap aku." Alvin tersenyum.


"Percaya?"


"Dia percaya bahwa aku memang pria yang tepat buat kamu, Tomoe..." Alvin tersenyum.


Alvin dan Tomoe tiba di sekolah dan Alvin menepatkan sepeda nya dekat ruang satpam.


"Jadi kamu ingat tentang janji itu kan...?" Tomoe mulai khawatir dan sedih.


"Janji?" Alvin menatap Tomoe dengan muka yang kelupaan.


"Iya! Janji yang selalu kita bicarakan ketika kita masih kecil!" Jawab Tomoe.


"Maaf, Tomoe... Aku tidak ingat soal itu..." Alvin menjawab nya dengan eksperesi lupa.


"Kamu lupa ya..." Tomoe mulai menangis.


"Kamu jahat, Alvin..." Tomoe menangis.


"Tomoe, kenapa kamu menangis?!" Alvin terkejut dan memegang bahunya.


"Aku takut kalau perasaan kita ini akan hilang..." Tomoe sangat khawatir karena ia tidak mau kehilangan Alvin.


"Tidak akan! Aku tidak pernah membuat itu terjadi!" Jawab Alvin dengan muka yang sangat serius


"Lagian juga... Aku... Aku...!!!" Alvin siap untuk menembak Tomoe.


"Aku menyukai mu, Tomoe! Jadilah pacar ku!" Ucap Alvin dengan sangat kencang


Tomoe terkejut dan tersenyum.


"Alvin... Iya... Iya... Aku ingin sekali menjadi pacarmu!" Tomoe tersenyum.


"Alvin!!!" Tomoe memeluk Alvin dengan sangat erat.


Alvin memegang dagunya


"Aku mencintaimu." Alvin menutup kedua matanya.


"Aku juga..." Tomoe tersenyum dan menutup kedua matanya.


"Ehem!" Suara Aura mengganggu mereka.


"Ahh?!" Alvin dan Tomoe terkejut.


Alvin dan Tomoe mulai menjauh dan melihat mereka semua.


"Maaf mengganggu, kita akan bergegas atau bermesraan?" Tanya Aura dengan muka yang serius.


"Aura, kamu mengganggu si mesum dan Tomoe bermesraan!" Jawab Lily yang tertawa.


"Ohh, maaf, lanjutkan." Aura berjalan menuju sekolah dan mengabaikan mereka berdua.


"Kenapa mereka ada disini?!" Alvin terkejut.


"Sebenarnya, aku meminta bantuan mereka untuk membantumu, Alvin." Tomoe tersenyum.


"Kamu kenal meraka?!" Alvin terkejut.


"Iya, karena mereka adalah teman SD ku." Jawab Tomoe dengan tersenyum.


"Yo, vin!" Fernando melambai ke arah Alvin.


"Maaf, kita agak terlambat." Ucap Yuka.


"Lu semua..." Alvin terkejut.


1 menit kemudian...


"Teman-teman, terima kasih telah datang dan ingin membantu gue!" Alvin tersenyum.


"Sekarang... Mari kita kerjakan semua ini secepat mungkin!" Alvin mengangkat tangannya.


"BAIKLAH!!!" Mereka mengangkat tangannya juga.


-+-+-


Sampai jumpa lagi di chapter 5 ya~

__ADS_1


Jangan lupa vote dan bintang kecilnya~


__ADS_2