Takdir Menolak Cinta-nya

Takdir Menolak Cinta-nya
Kencan Pertama


__ADS_3

Diluar markas geng harapan, Alvin sedang menunggu kedatangan Virano mulai merasa kesal menunggu, karena ia sedang buru buru dan ingin mengambil uang miliknya untuk dipakai berkencan.


Virano membuka pintu markas tersebut dan menoleh kepada Alvin.


"Oh, bos." Virano tersenyum.


Alvin menoleh kepadanya dan ia langsung berbicara ke intinya, dia tidak ingin lagi menghabiskan waktu.


"No, gimana hasil jualan indomie itu?" Tanya Alvin.


Virano mengeluarkan uang yang Alvin butuhkan.


"Sukses besar bos! Kita dapat lebih dari 5 juta karena jualan indomie yang sangat murah, para pembeli merasa terlayani oleh kita semua!" Virano tersenyum dan memberi uang tersebut kepada Alvin.


Alvin tersenyum dan mengambil uang tersebut dan memasukan uangnya ke saku celananya. Alvin merasa bersyukur karena barang dagangannya laku dan para anggota dari geng harapan bisa melayani mereka dengan sangat baik.


Ide Alvin tentang mengadakan jual beli di belakang markas gengnya memang setimpal.


"Usaha kita makin lama makin sukses nih, kita bisa mempunyai toko yang besar di markas ini." Virano tersenyum.


"Itu bagus sekali. Gue berharap itu semua terjadi, jadi semua anggota bisa bekerja dan menghasilkan uang yang banyak." Alvin mengangguk.


Virano tersenyum dan merasa bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Alvin.


"Bos memang sudah berubah ya? Gue merasa ada yang berbeda dari bos." Tanya Virano.


Alvin tiba-tiba menoleh kepadanya dengan muka yang sangat serius, ia tidak mau mendengarnya dari seseorang yang pernah berkelahi dengannya.


"Hahaha. Gue tinggal dah." Alvin terkekeh dan ia menghampiri motornya.


"Semoga beruntung, bos! Kencan pasti berjalan lancar!" Virano tersenyum.


Alvin menaiki motornya dan ia menoleh kepada Virano


"Terserah, dan terima kasih."


Alvin menyalakan motornya dan mengendarainya menuju rumah Tomoe.


***


Di dalam kamar Tomoe.


Tomoe sedang melihat cermin dan ia juga sedang menggunakan lipstik yang sangat cocok untuknya. Tomoe menggunakan baju yang berwarna pirus (biru dan hijau), dan ia juga menggunakan celana jeans warna biru tua.


Tomoe berhenti menggunakan lipstik tersebut dan mengaca.


Tomoe tersenyum dengan sangat canggung.


"A-Apakah hari ini aku bisa mencium, Alvin...?" Ucap Tomoe dengan sangat malu.


"Dasar bodoh! Kita masih belum menikah!" Tomoe mulai tersipu malu.


"Tapi aku ingin banget sih merasakan bibirnya itu..." Tomoe mulai berpikir yang tidak-tidak.


DING DONG!!!


"Wahh!? Dia sudah sampai?!" Tomoe terkejut dan bergegas kebawah.


Tomoe melihat ke arah pintu dan ia mendekatinya.


"Alvin?" Tanya Tomoe.


"Apa?" Jawab Alvin dengan penasaran.


"Tunggu sebentar ya!" Ucap Tomoe dan ia bergegas ke dalam kamarnya lagi.


"I-Iya."


Beberapa menit kemudian...


Alvin yang sedang bosan menunggu dan ia tiba-tiba melihat sebuah jendela yang menunjukan dirinya sendiri yang sangat tampan dan keren.


Alvin mulai melihat jendela rumah tersebut dan bergaya, Alvin tersenyum dengan sangat keren, ia memegang kaca tersebut.


"Hari ini gue begitu tampan menggunakan baju ini." Alvin mulai narsis kepada dirinya sendiri dan bahkan membanggakan ketampannya.


"Mungkin gue sendiri bisa pingsan karena melihat diriku ini." Alvin tersenyum.


"Dianugerahi penampilan menarik dan doi yang sangat cantik di sekolah gue, gue bisa paham kenapa Tomoe gadis artis drum solo yang sangat cantik bisa jadian sama gue."


Tiba-tiba Tomoe berada di belakang Alvin.


"K-Kamu enggak bosen ngalakuin itu terus?" Tanya Tomoe.


"Wanjer?!" Alvin terkejut dan menoleh kepada Tomoe.


Alvin tiba-tiba terpesona oleh Tomoe karena dia sangat cantik dan juga sangat menarik.


"Wanjer... Cantik banget dah......" Alvin tergoda oleh Tomoe.


Tomoe tersipu malu dan tergoda oleh Alvin.


"Bajunya dan ketampanannya memang cocok sekali... Wahhh... Aku beruntung bisa dapet doi kaya gini~" Ucap Tomoe sambil tersipu malu.


"A-Ayo..." Tomoe mulai gugup.


"Baiklah."


Alvin menggenggam tangan Tomoe dan mereka menghampiri motor milik Alvin.


Beberapa menit kemudian...


Alvin sedang mengendarai motornya dan Tomoe sedang merasa gugup.


"Kamu terlihat cantik banget ya sekarang." Alvin tersenyum.


"M-Makasih... Kamu juga, Alvin... Lebih tampan dan rapih." Tomoe tersenyum.


"Apakah ini kesempatan untuk memeluk dia...?" Tomoe mulai gugup.


Tomoe memeluk Alvin dari belakang.


Alvin tersenyum dan Tomoe tersenyum balik.


***


Alvin yang sedang mengendarai motor tiba-tiba melihat sebuah bangunan yang sangat besar dan Alvin menghampirinya.


"Itu tempat kencan kita?" Jawab Alvin dengan menunjuk gedung tersebut.


Tomoe terkejut.


"H-Hei... Kamu memang udah siap?" Tomoe mulai tersipu malu dan mukanya mulai memerah.


"Hmm? Apaan?" Tanya Alvin dengan kebingungan.


"M...Mem... Membuat anak!" Jawab Tomoe dengan muka yang sangat merah.


Alvin tiba-tiba sangat terkejut dan ia hampir kehilangan fokus untuk mengendarai.


"Tomoe!!! Kamu bercandanya jangan sampe sejauh gitu dong! Nanti aku malah kehilangan konsentrasiku mengendarai!" Ucap Alvin dengan sangat terkejut.


"Tiba-tiba menanyakan yang tidak-tidak."


"Lah, tapi kamu malah mengajakku ke hotel cinta?" Tanya Tomoe.


"HAH!? HOTEL CINTA!?" Alvin terkejut.


"Hotel cinta..." Ucap Tomoe dengan muka yang sangat serius.


"DIA MENGATAKANNYA DUA KALI!?" Alvin terkejut.


"Hotel... cinta..." Tomoe.


"WANJER!? TOMOE BERTINGKAH GAK NORMAL LAGI NEH!!!" Alvin mulai panik.


Alvin membalik arah dan tiba-tiba menemukan mall besar.


"Ohh, jadi i-itu, ya?" Alvin tersenyum dengan canggung.


"Iya itu..." Tomoe tersenyum.


Beberapa menit kemudian...


Tomoe mulai merasa canggung karena percakapannya tadi.


"Aku tadi ngomong apaan!?" Tomoe mulai merasa sangat canggung.


"Ehem..." Alvin mulai memperbaiki suasana.


"Mau kemana sekarang?" Tanya Alvin sambil tersenyum.


Tomoe melihat Alvin dan tersenyum.


"Berbelanja sebentar yuk." Tomoe tersenyum.


"Baiklah, aku traktir, mau?" Alvin tersenyum.


"Ehh, kamu enggak usah repot-repot kok! Aku cuman ingin liat-liat." Tomoe tersenyum.


"Enggak apa-apa kok. Aku punya uang ini." Alvin tersenyum.


"Pokoknya enggak mau!" Jawab Tomoe dengan muka yang serius.


Alvin terkejut dan merasa bahagia kalau Tomoe ini bukan gadis matre.


"Baguslah... Tomoe bukan gadis matre..." Alvin merasa lega.


Tomoe memegang tangan kanan Alvin dan tersenyum ke arahnya.


"Ayo pergi." Tomoe tersenyum.


"Baiklah." Alvin tersenyum.


***


Alvin dan Tomoe berada di dalam mall dan mereka sedang melihat-lihat sekitar.


Tomoe tiba-tiba melihat toko musik.


"Alvin, Alvin, ayo kesana!" Tomoe menunjuk toko musik tersebut.

__ADS_1


"Ohh, kamu mau liat alat-alat musik ya?" Ucap Alvin.


"Tentu saja! Aku ingin sekali melihat drum-drum di situ." Tomoe tersenyum dan bersemangat.


Tomoe dan Alvin menghampiri toko musik tersebut, mereka mulai melihat-lihat.


"Alvin, liat!" Tomoe menunjuk gitar yang sangat keren dan sangat mahal.


"Wow... Bagus tuh!" Alvin terkejut.


"Gitar itu adalah gitar legendaris yang dipakai oleh artis kesukaan aku loh!" Tomoe tersenyum dan bersemangat.


"Kamu memang suka dengan semua lagu ya? Tidak ada satupun lagu yang gak mau kamu dengarkan." Alvin tertawa.


"Tentu saja! Lagu itu adalah harapan untuk aku." Tomoe tersenyum.


Alvin melihat harga gitar tersebut dan langsung terkejut.


"Buset! Harganya mahal banget dah..." Alvin terkejut.


"Ya iyalah, namanya juga gitar legendaris yang hanya di pakai oleh artis." Tomoe tersenyum.


"Padahal ini bagus banget loh..." Alvin melihat kembali kepada harga tersebut.


Tomoe tiba-tiba melihat piano yang sangat bagus.


"Alvin! Alvin! Lihat ada piano yang lebih menarik di klub musik!" Tomoe memegang tangan Alvin dan menghampiri piano tersebut.


"Doi gue ini suka sekali sama musik ya...?" Alvin tersenyum.


Alvin dan Tomoe menghampiri piano tersebut dan Tomoe melihat tulisan "Boleh dicoba."


"Wahhh~ Ternyata mereka baik banget ya~" Tomoe duduk di kursi dan menatap Alvin.


"Alvin, kamu lagi pengen mendengarkan lagu apa?" Tomoe tersenyum dan menanyakan sebuah lagu kepada Alvin.


"Hmmm, musik yang enak di denger aja, itu cukup." Alvin duduk di sebelah Tomoe dan tersenyum.


"Baiklah. Dengar ya~" Tomoe mulai bermain di piano tersebut.


Tomoe memainkan piano tersebut dengan sangat merdu dan Alvin langsung tersipu malu.


"Enak banget nih... Tomoe berbakat banget dah sama semua alat musik..." Alvin terpesona oleh Tomoe yang sedang memainkan piano tersebut.


Tomoe berhenti memainkan lagu tersebut dan mulai tersenyum kepada Alvin.


Alvin menepuk kedua tangannya dan tersenyum.


"Enak banget, Tomoe...! Mendengar lagu tersebut membuat ku sangat tenang dan senang."


"Makasih." Tomoe mecium pipi Alvin dan tersenyum.


Alvin terkejut dan terkekeh.


"Serangan diam-diam... Dasar bodoh!" Alvin tersenyum dan tertawa.


Tomoe tertawa balik. "Hehehe~"


Tomoe tiba-tiba melihat sesuatu yang sangat dia inginkan.


"Itu dia!!!" Tomoe terkejut dan menggenggam tangan Alvin.


"Apa?"


Tomoe menghampiri drum yang sangat bagus dan cantik dengan sangat cepat.


"Ini dia~~~!!! Drum legendaris yang aku ingin kan." Tomoe tersenyum dan sangat bahagia bisa melihatnya.


"Hahaha. Kamu suka banget ya sama alat musik."


"Iyalah~ Ayahku selalu mengajak aku ke setiap konser waktu aku masih kecil! Lama-lama aku malah menjadi menyukai semua tipe lagu." Tomoe tersenyum.


"Ahh, ngomong-ngomong aku pernah ikut juga kan?" Ucap Alvin.


"Iya~" Tomoe tersenyum dengan sangat bahagia.


"Kamu malah tertidur dan minta diantar ke toilet sama aku." Tomoe tertawa.


"Yah, masalahnya tempatnya sangat gelap dan lagunya membuat ku ngantuk..." Alvin tersenyum.


"Dan bahkan... Aku terlalu banyak minum air putih."


Tomoe tertawa dan menoleh kepada drum tersebut.


"Aku cuman bisa berharap untuk memainkan drum legendaris ini di depan para penonton." Tomoe tersenyum dan melihat drum tersebut.


"... ..." Alvin menatap Tomoe dan dia terlihat sangat senang.


Alvin diam-diam melihat harga drum tersebut dan harga drum tersebut adalah "10 juta."


"Mahal amat..." Alvin terkejut dan mulai hilang harapan.


Tomoe bangkit dari tempat duduk tersebut dan menoleh kepada Alvin dengan senyuman manis.


"Ayo kita pergi ke tempat lain." Tomoe melihatkan tangannya.


"Ehh, kamu udah lelah melihat-lihat alat musik nya?" Tanya Alvin.


"Iya."


***


Tiba-tiba Tomoe berhenti berjalan didepan toko cincin.


Alvin melihat Tomoe yang sedang melihat toko cincin tersebut.


Tomoe melihat sebuah cincin yang sangat indah, ada sebuah berlian yang berkilau di cincin tersebut, cincin tersebut seperti ini...


... ...


"Cantik banget ya?" Tomoe tersenyum dan menunjuk cincin tersebut.


Alvin menoleh kepada cincin tersebut dan tersenyum.


"Iya. Cantik..." Alvin terpesona oleh wajah cantik Tomoe.


"Menikah pasti momen yang sangat menyenangkan ya? Aku ingin cepat-cepat menjadi istri kamu, Alvin..." Tomoe tersenyum dengan sangat bahagia.


"Tomoe, aku pasti akan memasukan jari manis mu itu cincin yang lebih cantik dari cincin yang kau lihat." Ucap Alvin sambil bergaya.


"Hehe, Alvin, aku mencintai mu." Tomoe tersenyum dan memegang tangan Alvin dengan erat.


"Aku juga." Alvin mencium pipi Tomoe dan tersenyum.


Tomoe tersipu malu.


"Ayo, kita pergi ke tempat lain. " Tomoe tersenyum.


Alvin mengangguk.


Beberapa menit kemudian...


Alvin dan Tomoe berjalan-jalan lagi dan melihat sebuah bayi menangis dengan sangat imut.


Tomoe melihat terus ke arah bayi tersebut dengan senyuman.


"Tomoe ini, memang sangat siap untuk di jadiin istri ama gue ya?" Alvin menyilangkan kedua tangannya.


"Bayi itu menangis dengan sangat imut ya?" Tomoe tersenyum.


"Aku malah jadi gak sabar menjadi seorang ibu dan mempunyai anak yang sangat imut dan unyu-unyu." Tomoe tersenyum dan ia sangat menantikan hari dimana ia menjadi seorang ibu.


"Oh iya..." Tomoe menatap Alvin.


"Kamu ingin anak laki-laki atau perempuan?" Tanya Tomoe dengan senyuman manis.


"Yah dipikir-pikir, kalau anak laki-laki nanti malah lebih bego sama bandel lebih dari aku ini. Aku lebih memilih anak perempuan dari pada anak laki-laki." Alvin terkekeh.


"Ehh~? Pasti anak laki-laki itu bakal mirip denganku lah~ Dia gak akan seperti ayahnya yang selalu males-malesan." Tomoe tertawa.


"Kamu ini..." Alvin tmenghela nafasnya.


Perut Alvin tiba-tiba berbunyi, Tomoe bisa mendengarnya.


"Kamu udah lapar ya?" Tanya Tomoe.


"Lumayan sih. Kalau kamu udah lapar belum?" Tanya Alvin.


"Belum kok, ada tempat terakhir yang masih harus kita kunjungi bersama." Tomoe tersenyum.


"Ayo." Alvin megenggam tangan kanan milik Tomoe dan mereka berjalan pergi menghampiri toko kalung.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di toko kalung tersebut, Tomoe langsung melihat-lihat kalung-kalung yang sangat indah dan juga mahal dengan tersenyum.


Alvin menetap wajah Tomoe yang sedang tersenyum dengan sangat bahagia, Alvin tersenyum.


"Tomoe, kamu bebas beli yang mana aja, uang nya ada dari aku ini." Ucap Alvin sambil menggaruk-garuk rambutnya.


Tomoe menatap Alvin dengan muka yang khawatir.


"Tapi aku gak mau repot-repot..."


"Gak apa-apa! Aku punya banyak uang ini. Ayolah, pilih salah satu." Alvin memegang kedua bahunya dan ia langsung tersenyum.


Tomoe tersipu malu dan merasa sangat senang.


"Baiklah. Tapi kamu juga beli ya? Dan belinya harus yang samas seperti aku agar kita bisa matching gitu." Tomoe terkekeh.


"Tentu saja, kita harus memakai kalung yang sangat serasi." Alvin tersenyum.


Tomoe tersenyum dan mereka menghampiri kalung yang sangat indah.


Tomoe mengambilnya dan melihatnya.


"Hmmm..." Tomoe memakai kalung tersebut dan melihat ke arah Alvin dengan senyuman.


"Kalung ini cocok ga menurut kamu?" Tanya Tomoe.


Alvin melihat kalung tersebut yang berbentuk hati, itu terlihat seperti ini...


... ...

__ADS_1


Alvin langsung terkesan dengan kalung tersebut, karena kalung itu sangat matching sekali untuk kekasih serasi seperti mereka berdua.


"Semua kalung itu cocok untuk kamu. Tidak ada yang tidak cocok untuk gadis yang aku cintai." Alvin tersenyum dengan bergaya.


Tomoe tersipu malu. "Yah... Yang ini sih terlalu mahal..." Tomoe melepaskan kalung tersebut.


"Berapa emang?" Tanya Alvin.


"Lima ratus ribu itu 2 kalung yang serasi."


"Yaudah, beli aja yang itu Tomoe." Alvin menggambil kalung satunya lagi.


"Kita akan memakai kalung serasi ini, kan?" Alvin tersenyum.


"Lima ratus ribu itu mahal loh." Tomoe mulai khawatir.


"Aku bilang gak apa-apa. Jangan mengkhawatirkan tentang harganya." Alvin terkekeh.


Tomoe tersenyum dan tersipu malu. "I-Iya..."


Beberapa menit kemudian...


Alvin dan Tomoe berjalan menghampiri tempat duduk dan mereka duduk disitu dengan sangat senang dan tenang.


Tomoe melihat kalung yang Alvin beli sambil tersenyum dengan sangat bahagia.


"Indah banget..." Tomoe merasa sangat bahagia.


Alvin memakai kalung tersebut dan ia tersenyum.


"Gimana?" Alvin melihat ke arah Tomoe.


Tomoe tertawa.


"Kamu terlihat ganteng seperti biasanya." Tomoe tersenyum.


Alvin tersenyum.


"Biarkan aku memakaikan kalung itu kepada mu, Tomoe." Ucap Alvin dengan muka yang sangat ganteng.


"G-Ganteng banget!!!" Tomoe tersipu sangat malu.


"Baiklah..." Tomoe memberi kalung tersebut kepada Alvin dan ia mengambilnya.


Tomoe menundukkan kepalanya dan Alvin memakaikan kalung tersebut kepada Tomoe. Tomoe melihat kalung tersebut dan tersipu malu.


"Ini momen yang tidak akan pernah kita lupakan..." Tomoe tersipu malu dan ia tersenyum.


"Tentu saja..." Alvin tersipu malu dan merasa canggung.


Alvin dan Tomoe menatap satu sama lain dan mereka mulai menggenggam tangan satu sama lain.


"Aku sangat mencintai kamu..." Tomoe tiba-tiba menangis.


"T-Tomoe?!" Alvin terkejut.


"Kenapa kamu menangis?" Alvin memegang kedua bahunya.


"Ini tangisan bahagia kok... Aku sangat bersyukur karena bisa jadian dan berpacaran sama kamu, Alvin." Tomoe mengusap air matanya dan tersenyum.


"Temen masa kecil ku yang selalu ada untukku... Dari sahabat menjadi pacar, itu momen yang sangat menyenangkan ya?" Tomoe tersenyum dengan sangat bahagia.


Alvin tiba-tiba merasa bersalah melihat muka bahagia Tomoe.


"Aku berharap di masa depan kita bisa bersama selamanya..." Tomoe tersenyum.


"Tomoe, aku pasti akan melindungimu walaupun itu sulit." Ucap Alvin dengan muka yang serius.


Alvin akan mengatakan kalimat motivasi nya kepada Tomoe lagi, ia berdiri dan menunjuk kepada Tomoe dengan muka yang sangat serius.


"Apapun yang terjadi, nikmati kesinaran hidup mu ini yang sekarang, karena kamu sangat beruntung bisa mendapatkan pacar yang bisa menyayangi mu apa adanya!" Alvin mulai bergaya.


"Tidak peduli secantik atau setampan apa diri mu dan diri ku ini, tapi jika pribadi kita sendiri itu buruk berarti itu hanya sia-sia! BENAR-BENAR SIA-SIA!!!" Alvin tersenyum dengan sangat keren dan bahagia.


Alvin mencoba untuk menghiburnya.


Tomoe mulai sangat terpesona dan terkesan oleh motivasi yang Alvin berikan dan ia mulai sangat menyayangi Alvin lebih.


"Bagaimana perasaan kamu, Tomoe?" Tanya Alvin dengan senyuman.


Tomoe tiba-tiba berbisik kepada Alvin. "Aku ingin sekali mencium kamu di bibir indah mu itu..." Tomoe tersipu malu.


Alvin mulai terkejut dan jantungnya langsung dag-dig-dug seperti suara alarm di pagi hari.


"Ahh...! Kita makan yuk!" Ucap Alvin sambil mengganti topik pembicaraan tentang ciuman itu, ia masih belum siap untuk mencium Tomoe dibibir.


"Baiklah." Tomoe mengangguk dan terkekeh.


***


Mereka menghampiri restauran yang sangat mahal.


"Selamat datang." Ucap Pelayan tersebut.


"Kursi romantis untuk dua orang ya." Ucap Alvin dengan sangat keren.


"Baiklah, ikuti saya." Pelayan itu menghampiri kursi hanya untuk pasangan yang kosong.


Beberapa detik kemudian, pelayan tersebut melayani mereka berdua dengan 1 meja dan 2 kursi yang sangat romantis dan indah, dan ternyata pemandangannya juga bagus sekali.


... ...


"Silahkan, tuan." Pelayan tersebut menunduk kepada Alvin dan ia berjalan pergi.


Tomoe melihat tempat tersebut dan ia mulai merasa malu karena itu terlalu mencolok dan bisa menarik perhatian semua orang.


Alvin menarik kursi itu keluar dan ia melihat ke arah Tomoe dengan senyuman manisnya.


"Silahkan, nona." Alvin tersenyum.


"I-Iya." Tomoe tersipu malu dan tersenyum, ia langsung duduk di kursi tersebut.


Alvin duduk di kursi yang berada di depan Tomo, ia langsung mengambil menu makanan dan ia melihatnya.


"Tomoe, kamu mau makan apa?" Alvin melihat menu-menu tersebut.


"Alvin, kamu yakin kita bakal makan di restauran mahal ini?" Tanya Tomoe.


"Tentu saja. Pesan lah yang kamu mau, Tomoe." Alvin tersenyum.


"Baiklah." Tomoe tersenyum


18:00 PM


Perut Alvin dan Tomoe telah terisi penuh karena makanan lezat di restauran mahal tersebut dan mereka langsung berjalan pergi keluar restauran tersebut, dan sudah waktunya untuk mengakhiri kencan mereka.


Mereka sekang berjalan keluar mall.


"Hari ini cukup menyenangkan juga ya?" Tanya Alvin sambil mengeluarkan kunci motornya.


"Iya, kencan pertama kita memang sukses besar." Tomoe tersenyum.


Beberapa menit kemudian...


Alvin sedang mengendarai motornya dan Tomoe sedang memeluk Alvin dari belakang.


"Aku meresa sangat gugup..." Tomoe mulai canggung.


Beberapa menit kemudian...


Tomoe turun dari motor Alvin dan ia mulai merasa sangat gugup dan muka ia terlihat sangat merah seperti rambutnya..


"Aduh, capenya..." Alvin tersenyum dan ia menghela nafasnya.


Alvin menatap Tomoe dan wajahTomoe mulai terlihat sangat terpesona dan cantik.


Alvin tiba-tiba tersipu sangat malu.


"... ..." Alvin mulai terasa sangat canggung.


Tomoe tersenyum dan melihat ke arah Alvin.


"Hehe..." Tomoe tersenyum.


Alvin tidak ingin melihat ke arah Tomoe karena dia sedang merasa sangat kecanggungan.


"Alvin, sini deh..." Tomoe tersenyum.


Alvin menoleh ke arah Tomoe "Hmm---"


Tiba-tiba Tomoe menyerang Alvin secara tiba-tiba dengan mencium bibir Alvin.


Alvin mulai sangat terkejut dan wajahnya benar-benar berubah menjadi sangat merah seperti tomot atau lebih dari tomat.


Tomoe berhenti dan ia langsung menatap Alvin dengan muka yang tersipu sangat malu.


"Ahh... T-Tomoe...!?" Alvin terkejut.


Tomoe tersenyum "Aku sangat menyayangimu."


"Yah... A-Aku juga.." Alvin menoleh ke arah lain karena dia masih merasa canggung.


"... ..."


Tomoe tertawa.


"Hehe... Kamu malu ya?" Tomoe tersenyum.


"Ya iyalah! Kamu malah menyerang dengan tiba-tiba!" Ucap Alvin dengan sangat malu dan sedikit marah.


"Kamu mau lagi ya?" Tomoe tersenyum.


"G-Gak usah... L-Lain kali aja..." Ucap Alvin dengan merasa sangat canggung.


"Hehehe!" Tomoe tertawa.


Alvin melihat Tomoe dan tersenyum.


"Kamu ini..."


...***...

__ADS_1


...Apakah kamu menikmati chap 14 yang baper ini? Wkwkwkwk... Jangan lupa vote dan commentnya ya~...


...Dadah~ :3...


__ADS_2