
Alvin dan teman-temannya sedang membersihkan atap sekolah.
Alvin menatap Tomoe yang sedang mengelap lantai.
"Tomoe." Tanya Alvin yang menghampiri Tomoe.
"Hmm?" menatap Alvin dan berhenti mengelap lantai.
"Gimana kalau kita pergi ke ruang seni dan memainkan satu lagu?" Alvin tersenyum.
"Ayo!" Tomoe tersenyum dan bersemangat.
"Tidak boleh! " Aura mencentang jidat Tomoe.
"Aw..." Tomoe memegang jidatnya.
"Kamu harus membantu kami mengelap lantainya, Tomoe." Ucap Aura.
"Kamu jangan pergi sendirian dengan si mesum ini. Itu berbahaya!" Jawab Lily sambil menunjuk Alvin.
"Gue gak akan melakukan hal yang macam-macam pada Tomoe kok. " Jawab Alvin dengan muka yang serius dan sambil tertawa.
"Lagi pula gue dan Tomoe udah berpacaran." Alvin memegang bahu Tomoe dan tersenyum.
Tomoe tersipu malu dan terkagumi perkataan Alvin.
Mereka sangat terkejut dan tidak percaya bahwa mereka berpacaran.
"Tomoe, kamu berpacaran dengan pria nakal dan mesum ini?!" Tanya Lily dengan sangat terkejut.
"Iya, Aku sangat mencintainya kok walaupun sikapnya seperti itu." Tomoe tersenyum.
"Gue tidak percaya kalau Tomoe menyukai pria seperti ini... " Aura berpikir.
"Wah, elu udah jadian ya?" Fernando tersenyum.
"D-Diam lah!" Alvin mulai merasa malu.
"Yah... Lo berdua boleh pergi deh tapi kalau kita sudah mengelap lantainya dengan bersih." Ucap Aura.
Alvin dan Tomoe mengangguk.
"Jangan lupa pajak jadiannya ya~" Aura tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
"Elu ini..." Alvin tertawa.
---
Alvin dan Tomoe sedang duduk di kursi dan menatap banyak bintang di langit.
"Alvin." Tomoe tersenyum.
"Hmm? Ada apa?" Jawab Alvin dab tersenyum.
"Ketika kamu udah besar, kamu mau jadi apa?" Tomoe tersenyum.
"Aku akan menjadi pengusaha yang berbeda dari orang lain. Kamu sendiri apa?" Alvin tersenyum dan berdiri sambil menatap Tomoe.
"Istri!" Tomoe tersenyum.
Alvin tersipu malu dan tersenyum.
"Istri, ya? Berarti kamu merencanakan untuk menikahi se-seorang ya?" Alvin tertawa dengan canggung sambil melihat bintang.
"Cieeeeeee~ Kalian berdua selalu bermesraan ya~" Ucap Yuka yang berada di belakang mereka.
"Ahh?!" Alvin dan Tomoe terkejut.
"Gue ga mau ngebayangin apa yang bakalan terjadi kalau mereka sendirian di ruang seni." Ucap Aura yang sedang melihat meraka dari jauh.
"Pasti mereka melakukan hal-hal yang mesum, kan?" Ucap Fernando sambil tertawa.
"Woy, enggalah! Gue masih belum siap bertanggung jawab soal itu!" Ucap Alvin yang bermuka merah dan sangat marah kepada mereka.
"Lagian gue belum siap buat punya anak!" Alvin menyilang kedua tanganya sambil menoleh ke langit.
"A-Anak?!" Muka Tomoe berubah menjadi sangat merah dan ia terkejut sambil menutup mulutnya.
"Alvin, aku ga tau kalau kamu ingin anak-anak..." Tomoe mulai merasa malu dan tidak mau menatap muka Alvin.
"Jangan berpikir telalu jauh, T-Tomoe!!! " Alvin mulai sangat panik dan terkejut.
"Dasar mesum..." Ucap Lily dengan sangat tidak suka dengan orang yang mesum.
"D-Diamlah!!!" Muka Alvin berubah menjadi merah.
Mereka tertawa pada Alvin karena Alvin mukanya terlalu merah.
Alvin tersenyum dan merasa lega.
"Jadi ini rasanya mempunyai teman ya?" Alvin tersenyum.
"Ini tidak buruk kok..."
__ADS_1
1 hari kemudian...
Di dalam kelas 2-B, Alvin sedang melamun dan berpikir hal yang lain-lain.
"Pengumuman! Pengumuman! Kepada Alvin Ghifari dari kelas 2-B, harap untuk mendatangi ruang kepala sekolah sekarang juga! Saya ulangi kepada Alvin Ghifari dari kelas 2-B harap untuk mendatangi ruang kepala sekolah!" Speaker mulai bersuara.
Semua siswa melihat ke arah Alvin dan tersenyum.
"Yang bener saja..." Alvin berdiri dan menghampiri ruang kepala sekolah.
"Semoga beruntung, Alvin Ghifari..." Tanya guru yang sedang tertawa.
"Terserah." Alvin menutup pintu dengan sangat kencang.
-\=-\=-\=-
Alvin duduk di kursi dan ada banyak guru yang sedang melihat Alvin dengan muka yang sangat muak bahkan Guru BK juga tidak suka dengan sikap Alvin.
Guru Kepala Sekolah hanya tersenyum kepada Alvin.
"Kamu tahu kenapa kamu disinikan?" Tanya guru kepala sekolah itu dengan tersenyum sambil meminum kopinya.
"Sekolah ini enggak tahan dengan sikap busuk gue ini ya? Itu pasti sih sudah fakta." Alvin mengangkat kaki nya ke atas meja dan menyilang kedua tangannya.
Semua guru terkejut karena Alvin beraninya mengangkat kakinya ke atas meja, guru bapak kepala sekolah masih tetap tersenyum.
"Kamu mempunyai hati yang sangat berani untuk menantang guru ya? Bahkan guru kepala sekolah." Guru kepala sekolah itu tersenyum.
Semua guru melihat Alvin dengan wajah yang kesal sangat kesal.
"Alvin, dengar permintaan guru kepala sekolahmu ini! Serius lah sedikit!" Tanya guru bk kepada Alvin.
"Permintaan apaan? Jika itu tidak penting, aku akan menolaknya!" Jawab Alvin sambil menatap guru BK.
"Jadilah ketua osis sekolah ini." Tanya guru kepala sekolah dengan muka yang serius.
Alvin tersenyum dan menatap kembali kepada guru kepala sekolah.
"Gimana kalau gue menolak? Gue menolak!" Jawab Alvin yang tidak segan-segan mengatakannya.
"Kami tau kalau kamu akan menolak itu, Alvin." Guru kepala sekolah tersenyum.
"Alvin, kamu mau di DO? Perilaku busuk mu itu masih belum kita beri tahu kepada keluargamu itu." Guru kepala sekolah yang sedang menggoda Alvin untuk menjadi osis sambil tersenyum.
"Bodo amat lah! Gue sama sekali enggak peduli tentang itu, Pak Rando." Alvin menyilang tangannya.
"Gimana kalau ini." Tanya pak Rando dan menaruh gelas nya di atas meja.
"Jika kamu menjadi ketua osis sekolah ini, sekolah ini akan membantu kamu dengan ujian nasional dan juga memasuki kamu ke kuliahan yang kamu mau..." Ucap Pak Rando.
"Apakah kamu serius, Pak Rando!?" Tanya Guru BK yang tidak menerima tawaran itu.
"Diam! Biarkan aku berbicara dengan anak ini." Jawab guru kepala sekolah.
Guru kepala sekolah itu menatap Alvin lagi dan tersenyum.
"Kamu juga bisa menjadi ranking satu di kelas kamu itu..." Ucap Pak rando dengan muka yang serius.
Alvin mulai lengah dan hampir tergoda oleh tawaran itu.
"Kenapa bapak ingin sekali memilih gue sebagai ketua osis?" Jawab Alvin dengan muka yang serius dan kedua kakinya kembali ke lantai.
"Pidatomu itu boleh juga untuk sekolah yang hampir bangkrut ini. Dan juga jika ketua osis itu adalah orang yang seperti kamu, itu tidak akan masalah untuk bapak." Pak Rando tersenyum.
Alvin tersenyum dan mulai tertawa.
"Hahaha... Gue mulai suka denger perkataan elu." Alvin tertawa.
"Tapi..." Ucap Pak Rando dengan muka yang marah.
Alvin menatap Pak Rando dengan muka yang serius.
"Kami akan memberi mu waktu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin siswa dan siswi baru untuk memasuki sekolah ini... Jika kamu gagal." Tanya Pak Rando.
"Sekolah ini akan mengeluarkan kamu dan kamu tidak akan bisa masuk SMA apapun, mengerti?" Ucap Pak Rando dengan sangat serius.
"Baiklah, gue akan menjadi ketua osis di sekolah ini!" Jawab Alvin dengan muka serius.
"Kamu jadi ingin membantu sekolah ini, ya?" Pak Rando tersenyum.
Semua guru mulai tersenyum dan tertawa kecuali Guru Bk.
"5 bulan lagi akan ada ujian kenaikan kelas, ya?" Tanya Alvin
Mereka mengangguk.
"Gue akan menjadi ketua osis hanya dalam 5 bulan!" Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.
"Setelah itu, tugas gue di sini selesai!" Ucap Alvin dengan muka yang serius.
"Elu semua harus menepati janji kalian..." Tanya Alvin dengan muka yang serius.
"Untuk apa kita menepati janji kepada kamu, Alvin?" Pak Rando tersenyum.
__ADS_1
"Ketika kamu menyelesaikan permintaan kita semua, kamu bisa sesuka hati untuk melakukan apapun di sekolah ini ketika kamu sudah kelas 9." Pak Rando tersenyum.
"Itu bagus juga..." Alvin mengangguk.
"Gue akan mengumpulkan murid-murid baru yang banyak dan juga, gue pengen banget merubah sekolah ini sesuai gue." Tanya Alvin dengan muka yang tersenyum.
"Gue gak akan bikin sekolah ini makin jelek dan bejat kok." Alvin tersenyum.
Semua guru tersenyum dan merasa lega.
"Kami berterima kasih dari lubuk hati terdalam." Mereka merasa lega.
"Itu boleh sekali." Jawab Pak Rando yang tersenyum.
Alvin mendesah dengan kecewa dan kemalasan.
"Kamu harus melalukan apapun untuk sekolah ini, kau mengerti?" Tanya pak Rando.
"Terserah..." Jawab Alvin yang sedang berpikir.
"Gue akan melakukan nya semampuku, tapi misi ini amat mustahil." Jawab Alvin dengan muka yang serius.
"Lebih baik lo semua siap-siap dengan hasil yang terburuk." Jawab Alvin yang masih belum tentu akan berhasil.
Mereka mulai terkejut kecuali Guru BK yang sedang tersenyum.
"Lalu, soal yang kamu katakan di pidato itu?" Tanya guru bk dengan senyuman licik nya.
"Tidak ada cara lain selain bilang begitu." Jawab Alvin dengan muka serius.
"Jika kita benar-benar melakukan yang terbaik, mereka harus percaya kita masih punya harapan yang akan berhasil." Jawab Alvin sambil berpikir cara untuk mengubah sekolah ini.
Pak Rando tersenyum.
"Bapak juga tidak mau putus asa." Pak Rando tersenyum.
"Karena bapak pikir gue akan berhasil?" Alvin menatap wajah Pak Rando.
"Mungkin. Senakal-nakal nya kamu ini, kamu masih mempunya hati yang murni dan peduli juga, ya?" Pak Rando tersenyum.
"... ..." Alvin mulai diam dan tidak ingin berkata apapun.
"Walaupun kamu jahat dan nakal, hatimu itu masih baik ya, Alvin?" Tomoe tersenyum.
"Jadi, kata Tomoe itu benar...?" Alvin mulai tersenyum.
"Aku mempunyai harapan besar dari kamu, sekolah ini akan berubah oleh kamu, Alvin..." Pak Rando tersenyum.
"Hadeuh..." Jawab Alvin dengan kecapean berbicara lagi.
"Jadi gue bisa melakukan apapun demi mengubah sekolah ini?" Tanya Alvin.
"Tentu saja, asalkan itu bagus dan baik." Jawab Pak Rando.
"Gue tidak butuh dampingan, biarkan gue aja yang menjadi satu-satunya osis di sekolah ini. Atau gue bakal cari bantuan sendiri."
"Baiklah, Alvin, aku punya ide lebih bagus." Pak Rando tersenyum.
"Bagaimana kalau kamu itu bawahan bapak saja?" Pak Rando menawarkan Alvin.
Guru bk mulai sangat terkejut dan tidak menerima itu.
"Pak Rando, kita tidak bisa melakukan itu! Lagian dia ini brengsek dan menyebalkan, bukan?!" Jawab Guru BK.
"Dia bisa memerintah kita seenak nya!" Jawab Guru BK.
"Jangan khawatir, Pak Tirto!" Jawab Pak Rando sambil tersenyu,/
"Iya~ Jangan khawatir ya, pak Tirto~ Gue gak akan melakukan hal-hal yang tidak sopan." Alvin tersenyum sambil mengolok-ngolok pak Tirto.
"Gue setuju sama ide itu, Pak Rando." Alvin tersenyum.
"Baiklah! Mulai sekarang kamu akan mengurusi semuanya! Ulangan, festival, dan lain-lain!" Pak Rando tersenyum.
Alvin tersenyum dan mengangguk.
Pak Tirto mulai sangat kesal dan ingin sekali mengusir Alvin dari sekolah.
\=\=\=
Alvin masuk ke tempat itu dan melihat sekitar.
"Baiklah..." Alvin mulai serius dan menghampiri meja osisnya.
Alvin duduk di kursi itu dan mulai berkerja.
"Demi sekolah menjadi lebih baik, huh?" Alvin tersenyum.
Alvin mengerjakan dokumen-dokumen yang berada di mejanya.
"Gue tidak bisa mengerjakan semua ini sendirian, gue butuh teman-temam gue." Jawab Alvin dengan serius.
"Gue harus mencoba untuk membuat Tomoe masuk sekolah lagi." Ucap Alvin dengan muka yang serius.
__ADS_1
...+-+-+...
...Terima kasih udah membaca part 6, ya~...