
Beberapa tahun kemudian...
Alvin sedang menatap kepada cermin dan melakukan pose yang keren.
Alvin tersenyum dan memegang cermin itu.
"Hari ini aku begitu tampan dan keren seperti biasa" Bicara sendiri.
"Mungkin aku sendiri bisa pingsan karenanya" Alvin tersenyum dengan sangat bangga.
"Dianugerahi penampilan menarik dan kebodohan di sekolah, aku bisa paham kenapa semua cewe selalu menjadi kan aku sebagai bahan gosip"
Beberapa menit kemudian...
Alvin menutup pintu dan mengunci nya, Alvin menaiki sepeda nya untuk pergi ke sekolah nya yang jauh dari jarak rumah nya...
Di Jalan.
"Apakah, cewe aneh itu bakal ada di sekolah ya?"
"Sikap nya itu sih sedikit imut tapi... Ya gimana ya...?"
Alvin melihat sekolahnya dan dia bersepeda cepet menghampiri sekolahnya.
Alvin memasuki gerbang dan melambai kepada satpam yang sedang bertugas.
\=-\=-\=
Alvin berjalan menuju pintu masuk sekolah, sambil berpikir hal-hal yang tidak penting
"Kak Alvin?"
"Huh?!" Alvin menatap wajah adik kelas perempuan itu.
"Selamat pagi, kak! Aku kira kak Alvin bakalan terlambat seperti biasa."
"Selamat pagi, Reina. Hmm! Bagaimanapun apakah kamu melihat sesuatu yang beda di dalam diriku yang keren ini?" ucapnya sambil bergaya.
"Saya tidak yakin bagaimana menanggapi hal itu..." ucapnya sambil kebingungan.
"Ahh! Kakak sepertinya berada dalam suasana hati yang baik, saya kira."
"Benarkah?"
"Benar" Ucapnya sambil berangguk.
"Biasanya Kakak selalu mengabaikan aku, jadi, uhh..." Ucapnya sambil berpikir .
"Saya sangat senang bisa berbicara dengan kakak" Pipi Reina mulai memerah.
Reina berjalan menuju pintu masuk sekolah dan melawati Alvin yang sedang tersenyum.
"Kenapa sih dia selalu ngomong topik itu saja ke gua..." Ucapnya dengan berjalan menuju pintu masuk sekolah.
\=-\=-\=-\=
Alvin membuka loker nya, dan dia melihat sebuah amplop yang bergambar hati. Alvin menggambilnya dan melihat sekitarnya. Alvin membuka amplop itu
"Aku telah jatuh cinta padamu sejak kelas sepuluh. Tidak peduli apa kata orang, aku tau kamu ini laki-laki yang baik dan gentleman. Jika kamu tidak keberatan, bisa kah kita bertemu di halaman sekolah hari ini?" Berbicara di dalam hati.
"Tolong biarkan aku memberitahumu tentang perasaanku ini..." Alvin tersenyum
"Yah... Sebagai laki-laki yang tampan dan keren, ini sih sudah sangat wajar kalau gua dapet banyak surat cinta dari para wanita." Ucapnya sambil membenarkan poninya dengan sangat arogan.
Semua wanita melihat Alvin dan mulai menggosipkan tentang diri nya yang sangat aneh itu
-\=-\=-
Alvin sedang berdiri dan berbicara dengan gadis yang menyukai nya. Alvin sudah sangat tidak sabar mendengar perasaannya, tapi gadis itu malah...
"Apa? Kamu salah orang?" Ucapnya dengan kebingungan.
"Iya" Ucapnya selagi menunduk.
"Saya bermaksud untuk meninggalkan surat cinta itu kepada Fernando dari kelas 2-C"
Gadis itu yang berwajah sedih melihat Alvin. Alvin sangat kebingungan karena apakah itu sebuah prank atau lelucon.
"Tapi saya malah menaruhnya di lokermu karena kesalahan."
"Jadi..." Ucapnya sambil melihat ke langit.
"Kamu tidak jatuh cinta denganku atau apapun, kan?"
"Ya. Pasti kau marah, ya?"
"Aku benar-benar meminta maaf!" Menunduk kepada Alvin.
"Yah, jangan di pikirkan" Tersenyum dan melihat ke gadis itu dengan pandangan mencolok nya itu.
"Apa?" Melihat Alvin dengan kebingungan.
"Tidak ada satupun manusia yang sempurna jadi kadang kadang mereka membuat kesalahan" Berbicara sambil menggerakan tangannya
"Karena salah, kau bisa saja nggak ke sini." Menggerakan tangannya.
"Tapi karena kau sudah datang dan meminta maaf."
"Malah. aku kagum padamu." Tersenyum.
"Keputusan yang benar-benar terhormat." Ucapnya sambil tersenyum dan mengangguk.
"Jadi, kamu mau memaafkanku?" Melihat Alvin.
"Tentu saja, Yuka Firtia." Melihat ke wajah nya dengan tersenyum.
"Kau benar-benar gadis yang tulus."
"Terima kasih bayak." Ucapnya sambil tersipu dan menggerakan rambut pendek nya itu.
"Aku takut, pikirku tadi bakalan dimarahi habis-habisan." tersenyum dan merasa lega.
"sudah cukup." tersenyum.
"Aku akan mendoakanmu, semoga cintamu terwujud."
"Iya, aku sangat senang... salah menyisihkan suratku." Ucak Yuka yang tersenyum dan tersipu oleh perkataan Alvin.
Alvin mulai bingung dan penasaran
"Ehh? Apa?" Ucap Alvin dengan sangat penasaran
"Permisi, sampai ketemu lagi"
Yuka menundukan kepalanya dan lari menuju pintu masuk sekolah dengan perasaan nya terhadap Alvin
Alvin menggaruk-garuk kepalanya sambil berpikir
"Lagi" Ucapnya dengan kebingunan
-\=-\=-
Keesokan harinya, di dalam kelas 2-B, Alvin belajar di kelas 2-B, sikapnya itu selalu tidak sopan kepada semua orang di kelas itu bahkan guru-guru, Alvin selalu membaca komiknya sambil malas-malasan.
Alvin sedang duduk dengan tidak sopan dan kedua kakinya berada di atas meja, dan dia membaca komik sambil meminum coffee hangat nya itu.
Semua murid melihat ke wajah Alvin dengan kaget bahwa dia itu berani bersikap buruk seperti itu ketika ada guru yang sedang mengajar.
Guru yang sedang mengajar melihat Alvin dengan wajah yang kebingungan.
"Um, Alvin, kita sedang tengah dalam proses belajar mengajar."
"Sudah, sono kerjakan saja pekerjaan lo, botak."
"A-Apa katamu barusan?" Ucap guru itu sambil menghantam papan tulis dengan penggaris.
"Ahh, ya ampun, membosankan banget sih ******." Ia berdiri dan berjalan menghampiri guru itu tersebut.
"A-Apa-apaan kamu?" guru itu terkejut dengan sikap nya Alvin itu.
"Kekerasan---" Guru itu ketakutan dan Alvin berada di depannya dengan melihatkan wajah seramnya kepada guru itu.
"Maaf, gua lagi nggak enak badan." Muka Alvin sangat dekat dengan guru itu.
"Jadi gua pengen izin ke UKS sebentar?"
---
"Sampai nanti" Melambaikan tangannya dan meninggalkan kelasnya dengan menutup pintu dengan sangat keras.
Beberapa menit kemudian...
Alvin tertidur di bawah pohon terbesar di sekolahnya, Alvin sudah berjam-jam tertidur di bawah pohon itu.
"Um, kak Alvin, ya?"
Alvin terbangun dan menoleh kepada Reina.
"Ah, Reina."
Alvin menoleh kepada jam tangannya.
__ADS_1
"Ah, ini sudah jam istirahat makan siang."
"Ya ampun, ****** banget nih." Menoleh kepada Reina.
"Aku tidak bisa ngerokok, pelajarannya juga sangat membosankan."
"Hampir saja tadi aku mengamuk." Bernafas .
"Mengamuk?" Ucap Reina dengan wajah kebingungan.
"Bagaimana kalau kita bolos bersama." Ucapnya dengan memberikan tangan kanannya dan tersenyum.
Reina lalu berpikir dan merasa tidak mau selalu bolos dengan Alvin.
"Rencanaku sih, mau pergi ke club dan bermain bilyar sore ini." Ucapnya dengan sangat semangat.
"Clu---? Tidak terima kasih." Ucapnya dengan merasa tidak mau menjadi gadis yang nakal.
Reina berlari menghampiri pintu masuk sekolah dengan sangat jijik
"Permisi!" Reina berteriak cukup besar
Alvin berfikir sedikit dan duduk di rumput-rumput
"Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?" Ucap Alvin dengan kebingungan
"Maksudmu cuma salah paham itu apa?" Suara laki-laki terdengar di belakang pohon satunya lagi
Alvin menggampiri suara itu dan memulai menguping di belakang pohon itu, Alvin melihat Yuka dan satu laki-laki yang sedang berbicara dengannya
Dari perkiraan ia bisa melihat bahwa laki-laki itu cemburu karena Yuka tidak menembaknya
"Aku dengar dari Linda. Kalau kau ingin memberikan aku surat."
"Benar, tapi..." Yuka tersipu dan melihat kebawah
"Aku sendiri jadi tidak yakin."
"Aku sempat berpikir, apa ini jalan yang terbaik." Tidak menoleh kepada laki itu.
"Masa bisa jadi gitu, sih?" Ucap laki itu dengan sangat kecewa.
"Kalau kau menembakku, padahal mau kuterima langsung.
Alvin menyilangkan lengannya dan tersenyum di balik pohon itu.
"Aku rasa di sini giliran yang lebih tua dalam hidup bertindak." Ucap Alvin dengan senyuman sombongnya itu.
Alvin menghampiri mereka dan berkata "Hei, nak, kamu tenang dulu." Ucap Alvin dengan tersenyum
Yuka dan laki laki itu menoleh kepada Alvin
"Alvin!" Yuka terkejut
Alvin menghampiri meraka dengan sangat dekat
"Kau mendengar pembicaraan kami, ya?" Ucap laki itu dan dia berjalan mundur
"Ayolah, santai, santai! Jangan marah begitu."
"Huh?"
"Ah, bukan apa-apa..." Alvin tersenyum
Alvin menghampirinya dan memegang bahu laki itu dan berkata "Hei, nak" Ucap Alvin dengan sangat keren
"Gadis itu semakin lo kejar dia akan semakin menjauh."
"Yang paling penting itu ketenangan." Ucapnya sambil melihat tangannya.
"Menyerah saja di sini sementara, dan menunggu sampai dia tenang itu baru bener." Ucap Alvin dengan tersenyum.
"Mengerti?" Menoleh ke laki itu.
"Nggak, gua nggak ngerti!" Ucap laki itu dengan sangat marah.
"Lagi pula, bukannya dia salah memberi surat itu pada lo, 'kan?"
"Dia juga tertarik padamu. Makanya situasinya jadi tambah sulit."
"Malahan kenapa elo yang menceramahi gua?" Ucapnya dengan sangat marah.
"Um, dia yang memberikan surat cinta kepada gua?" Ucap Alvin yang lupa dengan kejadian kemarin.
"Um, iya. Aku bukannya ingin membuat kalian salah paham." Ucap Yuka yang wajah nya sedikit merah.
"Tapi saat itu kau bersikap baik padaku. Jadi aku bingung sekarang suka sama siapa." Ucapnya dengan sangat malu.
"Apa yang kaukatakan daritadi?" Ucap laki yang sedang marah itu.
"Mau ngajak berantem, ya anak *******?" Melihatkan tangan tinju nya.
"Tidak, bukannya begitu maksud gua" Menggerakan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
"Cara bicara lo itu mengejekku!"
"Semua kesedihan ini, amarah ini!" Ucap laki itu dengan bergaya.
"Terima ini!!!" Laki itu mendaratkan pukulan yang sangat kencang mengarah pipi Alvin.
BAMMM!!! Laki itu memukul pipi Alvin dengan sangat keras.
Laki-laki itu membuka matanya dan melihat Alvin dengan ketakutan.
"Hm, pukulanmu lumayan juga, bocah" Alvin tersenyum.
"SAKIT!!! SAKIT BANGET *******!!! BOCAH INI MINTA DI PUKUL HABIS-HABISAN AJA!!!" Ucapan Alvin di dalam hati dan menahan rasa sakitnya.
"AKU INGIN TERIAK, tapi ada Yuka di belakangku." Menahan rasa sakit.
"Pukulanmu itu sangat lemah dan lembut." Alvin tersenyum.
Yuka kaget dan terkagum bahwa Alvin bisa menahan pukulan laki itu.
"Kalau cuma s-segitu sih, anak sd juga tidak bakal menangis kena pukulan lo."
"A-Alvin?" Laki itu menunjuk darah di mulutnya.
"Itu berdarah..."
"Waduh..." Alvin menggelap darah nya dengan jarinya.
"Jadi, mari kita lanjutkan---" Alvin tersenyum .
Laki-laki itu ketakutan.
"WAHHHHHHHHHHH~!!!!" Laki itu berlari dengan kencang dan berteriak ketakutan.
"Sudah pasti" Alvin tersenyum
"Um, kamu baik-baik saja?" Menoleh kepada Alvin
Alvin menoleh balik kepada nya dan berkata "Ya, jangan khawatir. Itu tidak sakit, kok" Ucapnya sambil tertawa
"Aku cuma punya tubuh yang kuat untuk menahan rasa sakit itu" Menggaruk-garuk kepalanya.
"Begitu, ya? Syukurlah..." Yuka merasa lega.
Alvin masih menahan rasa sakit nya itu dan dia ingin sekali berteriak sangat kencang.
"Maafkan aku, Alvin. Padahal Alvin tidak salah." Yuka merasa bersalah.
"Jangan di pikirkan. Kan aku sudah bilang bahwa tidak ada manusia yang sempurna, semua orang pasti bisa berbuat kesalahan." Alvin tersenyum
"Tapi..."
"Kalau berhadapan dengan orang yang bersangkutan terus bisa bikin tambah emosional. Dan pembicaraannya nanti jadi lari ke mana-mana"
"Jadi lebih baik kau mencari teman yang bisa di harapkan, dan membahasnya di suatu tempat seperti kafe" Alvin tersenyum.
"Bersama orang asing di tempat yang tidak kau ketahui bisa lebih menenangkan."
Alvin berjalan pergi menuju kantin
"Sampai nanti" Alvin menepatkan kedua tangan nya di sakunya
"Um, Alvin"
Alvin berhenti berjalan dan menatap mata indah Reina
"Ada apa?"
"Banyak hal yang mengejutkan, tapi terima kasih mau menolongku."
"Terima kasih banyak." Yuka menunduk ke pada Alvin.
"Sudah deh. Wanita cantik ga boleh tunduk semudah itu." Alvin tersenyum.
Yuka terkejut dan mukanya berubah berwarna merah.
-\=-\=-
__ADS_1
Alvin sedang mencuci pipi nya yang kesakitan karena terlah terpukul oleh laki laki yang tidak bertemu.
"Laki-laki sialan... Ngapain gua so jago, harusnya gua menahan pukulan tadi itu..." Ucap Alvin dengan sangat marah.
Keesokan hari nya...
Alvin sedang duduk di kursi dan melihat banyak sekali siswi yang sedang makan siang di halaman sekolah.
"Um, Alvin." Suara Yuka terdengar di sebelah Alvin.
Alvin menatap Yuka.
"Ohh, kamu lagi ya?" Alvin tersenyum.
"Anu... Aku pikir bisa berbicara sebentar denganmu..." Ucap Yuka dengan sangat malu.
"Apa boleh?" Menatap Alvin.
"Silahkan." Alvin tersenyum .
Reina duduk di sebelah Alvin dan dia terasa malu dan canggung.
"Kayanya dia udah mulai suka ama gua nih... Hahaha! Kesempatan surga neh!" Alvin tersenyum dengan sangat naif..
"Dan kamu..." Alvin memulai percakapan.
"Ya?" Menatap Alvin dengan semangat.
Alvin menatap balik dengan wajah tampannya itu.
"Namamu siapa ya?" Alvin mulai bercanda.
"Yuka Firtia." Yuka tersipu.
"Kamu sudah lupa, ya?" Yuka melihat kebawah dan merasa sedih.
"Mana bisa aku melupakanmu." Alvin tersenyum.
Yuka menoleh ke Alvin dan Alvin sedang menatapnya dengan muka yang sangat tampan.
"Aku sangat suka suaramu ketika menyebut namamu itu!"
"Hei, coba katakan sekali lagi. Nama mu yang indah itu"
Muka Yuka mulai memerah
"Yuka Firtia."
"Benar-benar indah didengar." Alvin tersenyum
Yuka mendekat dengan Alvin
"Aku jadi ingin mendengarnya terus."
"Tolong jangan goda aku." Tidak menatap Alvin lagi karena Yuka sangat malu dan tersipu
"Mustahil tuh." Alvin tertawa
"Ketika ada gadis manis sepertimu... Tentu saja mana bisa aku tidak menggodamu." Alvin duduk sangat dekat dengan Yuka dan tangan dia memegang bahu Yuka.
Alvin mendekatkan Yuka dekat dengan dia.
Yuka menatap mata Alvin yang berwarna hitam, Yuka mulai memerah dan memerah.
"Bagaimana kalau kita ganti tempat?" Alvin tersenyum.
-----
Alvin dan Yuka berjalan di tangga, Alvin merencanakan membawa Yuka ke tempat yang sepi, jadi dia gampang untuk menggodai dia sesuka mungkin.
"Um, mau kemana kita?" Yuka merasa bingung.
"Tadi kan sudah kubilang."
"Aku mau ke tempat di mana bisa menggodamu." Alvin tersenyum dan berhenti berjalan
Alvin menatap Yuka dengan wajah tampannya
"Tidak perlu takut"
Alvin memegang belangkang Yuka dan memeluk dia, Alvin menggenggam dan berkata "Aku akan memimpinmu dengan sangat baik" Alvin tersenyum
Yuka tersipu dan tidak mau menatap muka Alvin.
"AHH~~~ JADI INI KESEMPATAN SURGA ITU?!" Alvin merasa sangat bahagia.
"Kak Alvin?" Ucap Reina sedang duduk di tangga sambil menikmati makan siang nya.
Alvin menatap kepada Reina, Eksperesinya Reina sangat kebingungan.
"Walah, Reina." Alvin tersenyum.
Yuka menatap Alvin .
"Di-Di-Dia siapa...?" Reina sangat terkejut.
"Jangan tanya pertanyaan hambar gitu, dong." Alvin tersenyum
"Kami habis ini mau melakukan sesuatu yang menyenangkan."
"A-Alvin" Ucap Yuka
Alvin menatap kembali kepada Yuka
"Jangan khawatir."
Alvin meniup kuping milik Yuka
Muka Yuka berubah menjadi sangat merah dan ia yang sangat tersipu
Alvin menatap Reina lagi dan berkata "Aku akan melakukannya lain kali pada Reina---"
Reina melemparkan makanannya kepada muka Alvin dengan sangat kencang
"Aduh." Alvin terkena saus di mukanya
"Brengsek, ini penghinaan!" Ucap Reina yang sangat marah dan jijik kepada Alvin
"Dasar mesum! Aku akan memberi tahu guru..." Reina meninggalkan mereka dengan sangat jijik
"Awas! Kak Alvin itu sangat MESUM!!!" Reina lari menuju ruang guru.
"Reina kenapa, sih?" Mengelap saus yang ada di mukanya.
"Alvin, apa maksudnya mesum?" Yuka mulai merasa jijik kepada Alvin.
"Jangan dengarkan dia! Dia itu aneh." Alvin tersenyum.
"Pokoknya, di sini hanya tinggal kita berdua."
Alvin mencoba untuk memeluknya lagi tapi Yuka malah menjauh dari Alvin.
"Ada apa?" Menatap Yuka.
"Daritadi kau berkata hal-hal yang tidak jelas dan mesum, aku jadi curiga."
"Jangan khawatir! Aku tidak aku melakukan hal yang aneh-aneh kok." Alvin tersenyum
"Nah, ayo, akan kubuat kau merasakan surga dunia." Alvin mencoba untuk memeluknya lagi
Yuka menjauh lagi
"Aku tidak tahu kalau kau itu mesum, Alvin." Yuka sedang menghindari pelukan Alvin.
"Kukira kamu itu laki-laki yang sangat baik dan tidak mesum."
"Apa itu artinya aku ini orang yang hampir saja tersesati oleh kamu?"
"Tidak, ini semua ada penjelasannya." Alvin tersenyum.
"Belakangan ini kau bertingkah aneh. Terutama hari ini." Yuka kecewa.
"Sepertinya kau sudah biasa bermain perempuan. Aku pikir kamu orangnya tulus."
"Aku tulus, beneran" Alvin mulai panik.
"Akan kujaga kau baik-baik." Alvin tersenyum.
Yuka menatap wajah Alvin dengan wajah yang sangat serius.
"Kalau begitu, sebut namaku?" Ucap Yuka yang sangat serius.
Alvin mulai lupa dengan nama terakhirnya.
"Yuka... Firtata!" Alvin tersenyum.
"Aku pulang, deh" Yuka menjauhi Alvin dan berjalan menuju keluar.
Alvin terjatuh dan kecewa.
"Kenapa bisa jadi begini?" Alvin kecewa.
__ADS_1
*****