
Alvin dan Tomoe sedang berbicara dengan kepala sekolah.
"Festival budaya, ya?" Ucap Tomoe sambil berpikir.
"Iya, semua klub pasti akan sangat sibuk di festival club ini..." Ucap Pak Rando.
"Jadi mulai sekarang, kalian harus membantu mereka semua agak festival budaya ini berjalan dengan lancar!" Pak Rando tersenyum.
Alvin dan Tomoe mengangguk.
Beberapa menit kemudian...
"Kayanya besok kita bakal sibuk banget dah..." Ucap Alvin dengan sangat serius.
"Bukannya itu bagus? Daripada mengerjakan dokumen-dokumen itu." Tomoe tersenyum.
"Iya juga sih, mari kita bagi-bagi tugas kepada anggota lain agar festival budaya ini menjadi lebih bagus." Ucap Alvin sambil berpikir.
Tiba-tiba mereka meliaht Varez.
"Rez, kesini sebentar!" Ucap Alvin dengan muka yang serius.
Varez melihat Alvin dan langsung menghampirinya.
"Rez, gue punya perintah buat lo." Ucap Alvin dengan tersenyum.
"Siap, bos!" Varez langsung hormat dan tersenyum.
"Beri tau semua anggota osis untuk membantu semua klub atau eskul dalam festival budaya." Ucap Alvin dengan muka yang serius.
"Siap!!! Ehh, kalau kalian berdua gimana?" Ucap Varez dengan penasaran.
"Kita punya tujuan sendiri." Tomoe tersenyum.
"Udah, lakukan saja sanah!" Ucap Alvin.
"Siap!!!" Varez lari menuju ruangan osis.
---
Alvin dan Tomoe sedang berjalan menghampiri ruang klub Seni, Tomoe mulai penasaran.
"Kita mau kemana nih?" Tomoe melihat Alvin dan tersenyum.
"Klub Seni." Alvin tersenyum.
"Kita bakal membantu mereka?" Tanya Tomoe.
"Iya lah, memang nya mau ngapain?" Jawab Alvin.
Alvin dan Tomoe tiba di depan ruangan klub seni.
"Permisi." Tomoe mengetuk pintu tersebut pelan-pelan.
Ketua club tersebut membuka pintu dan melihat mereka.
"Ketua osis dan wakilnya!" Ucap ketua club tersebut sambil terkejut.
"Sepertinya kamu telah beruntung. Kita akan membantu mu dengan festival budaya nanti." Alvin tersenyum sambil menyilangkan tangannya.
"Ya, aku sangat bersyukur sekali bisa dapet bantuan dari osis." Ketua club itu mengangguk.
Beberapa menit kemudian...
Alvin dan Tomoe masuk ke ruangan tersebut dan melihat sekitar. Semua anggota sedang mengambar model yang sangat bagus, Alvin mulai tersenyum.
"Ruangan yang kecil seperti ini, boleh juga sih." Alvin mengangguk.
"Saya lupa memperkenalkan diri." Ucap ketua klub tersebut.
Alvin dan Tomoe menatap ketua tersebut.
"Namaku adalah Kevin Michael! Mohon kerja samanya." Ucap Kevil sambil menunduk.
"Mohon kerja samanya." Ketiga anggota klub seni tersebut menunduk kepada Alvin dan Tomoe juga.
"Dan, itu yang di belakang elu anggota juga?" Ucap Alvin.
"Iya, benar sekali." Ucap Kevin.
"Ayolah, kalian harus memperkenalkan diri kalian sendiri kepada ketua osis dan wakilnya." Ucap Kevin dengan muka yang serius.
"Nama ku adalah Ruma Subadrun. Salam kenal" Ucap Ruma.
"Umm, nama ku adalah Marina Riona" Ucap Marina sambil tersenyum.
"Hallo~~~! Nama ku adalah Tina Hanah!" Ucap Tina sambil bersemangat.
"Begitu juga dengan kita. Salam kenal. " Alvin dan Tomoe tersenyum.
"Jadi klub seni mau mengadakan apaan di festival budaya?" Ucap Tomoe sambil menatap mereka.
"Itu sih bukan urusan ku. Saya tinggal dulu sebentar." Kevil pergi dari ruangan itu.
"Tunggu, ketua!" Ucap Ruma sambil terkejut.
"Hadeuh, ketua yang tidak berguna!" Ucap Ruma dengan muka yang kesal.
"Ngomong-ngomong, elu semua diskusikan saja ide-ide yang akan kalian masukan di festival budaya." Ucap Alvin.
"Ohh, apakah ada tempat yang bisa kami kunjungi untuk mengatahui lebih lanjut tentang klub seni ini?" Ucap Tomoe dengan muka yang serius.
"Ohh, kak Tomoe mencari formulir tentang klub ini ya?" Ucap Marina dengan tersenyum.
"Iya."
"Itu ada di gudang hampir dekat dengan klub seni." Ucap Marina.
"Tapi sih... Tempat itu di kunci." Ucap Marina.
"Apakah ada guru yang memegang kunci tersebut?" Ucap Alvin dengan menyilang tangannya.
"Guru seni budaya. Pak Hasan." Ucap Ruma.
"Terima kasih banyak. Kita tinggal sebentar, kalian pikirkan saja ide lain untuk festival budaya." Alvin dan Tomoe berjalan pergi dari ruangan tersebut dan bergegas ke ruang guru.
Beberapa menit kemudian di ruang guru...
"Nih, silakan." Pak Hasan memberi kunci tersebut kepada Alvin.
"Terima kasih." Ucap Alvin.
---
Di luar gudang tersebut, Alvin membuka kunci pintu itu.
Alvin membuka pintu itu tapi pintu itu tidak mau terbuka.
"Nih pintu keras amat sih..." Ucap Alvin dengan muka yang kesal.
Alvin membuka itu dengan sekuat tenaga dan pintu itu langsung terbuka, tapi Alvin malah kecapean.
"Ahh... Yah, aku sudah ngeluarin semua tenagaku." Alvin duduk di depan pintu.
"Kamu benar-benar kehabisan nafas tuh." Ucap Tomoe sambil memasuki gudang tersebut.
"Payah banget deh." Ucap Tomoe.
Tomoe melihat sekitar.
"Ukurannya setengah dari ruang klub seni, ya?" Ucap Tomoe sambil melihat-lihat.
Alvin berdiri dan menghalang hidungnya.
"Berdebu banget." Ucap Alvin dengan kesal.
"Iyalah" Jawab Tomoe.
Tomoe menatap jendela yang terhalang oleh kardus.
"Duh, aku enggak bisa buka jendelanya nih." Ucap Tomoe.
Alvin menyalakan lampu tapi lampu tersebut tidak mau nyala.
"Lo? Lampunya putus, ya? "Ucap Alvin.
"Yuk kita cepet-cepet nyarinya." Tomoe tersenyum.
Alvin dan Tomoe mulai mencari formulir tersebut di dalam kardus.
Tiba-tiba Tomoe menemukan stik drum yang sangat bagus dan tua.
"Wahhh~ Bagus banget~" Tomoe terkejut sambil tersenyum.
"Tomoe, yang bener lah carinya. Aku ga mau kelamaan disini. " Ucap Alvin dengan muka yang serius.
"Hahaha. Maaf deh." Tomoe tersenyum dan terkekeh.
"Duh..." Alvin tiba-tiba melihat sebuah komik.
"Wanjer~ Nih komik ngangenin banget~" Alvin tersenyum.
"Kalau enggak salah terakhir baca bareng sama kakakku." Alvin tersenyum.
"Kamu juga sama aja..." Ucap Tomoe dengan muka yang kesal.
Beberapa menit kemudian...
"Gimana? Dah ketemu?" Ucap Kevin sambil melihat isi gudang.
"Istirahat sebentar." Tomoe tersenyum.
"Ya terserah lah. Aku mau pulang sekarang. Terus jangan lupa dikunci lagi ya." Ucap Kevin sambil menutup pintu tersebut.
Tapi pintu itu tidak mau tertutup.
"Lah kenapa nih?" Kevin menutup pintu dengan sekuat tenaga.
"Nah loh..." Alvin menatap Tomoe dengan muka naifnya.
"Apaan coba mukanya begitu?" Ucap Tomoe dengan tersipu malu.
Pintu itu tertutup dan Kevin kecapean dan langsung bergegas pergi.
"Aku mau cari udara sebentar deh..." Tomoe berdiri dan membuka pintu tersebut.
"Eh, lah?" Pintu itu tidak mau terbuka.
"Ini..." Tomoe membuka nya dengan sekuat tenaga.
"Hmmmmmmm!!!" Tomoe membuka pintu tersebut dengan sekuat tenaga
__ADS_1
Tomoe mulai kecapean.
"Percuma dah. Aku enggak tahu kalau sekeras ini." Ucap Tomoe.
"Ahh!" Tomoe menatap Alvin.
"Gue dah bilang, 'kan?" Alvin menatap Tomoe dengan muka yang kesal dan marah.
"Ya, ya kamu bener! Aku minta maaf!" Tomoe mulai merasa bersalah.
"Ya pokoknya minta maaf deh udah ngatain kamu apalah tadi." Ucap Tomoe yang merasa malu dan canggung.
"Lah? Aku sih enggak sampe segitunya kok." Ucap Alvin dengan muka yang kesal.
"Tapi, kalau kamu benar-benar ingin minta maaf, pake hati lah." Ucap Alvin dengan muka yang serius.
"Ugghh..." Tomoe tersipu malu.
"A-Aku minta ma---" Ucap Tomoe.
"Oh, di kotak ini tertulis 'formulir klub seni'." Alvin menemuka formulir tersebut dan tidak mendengarkan ucapan maaf dari Tomoe.
Tomoe menghantam muka Alvin dengan stik drumnya.
"ANJEEEERRR!!!" Alvin terjatuh.
Beberapa detik kemudian...
Alvin memegang pipi nya yang kena hantaman stik Tomoe.
"Ayo cepat, Alvin buka pintunya." Tomoe mengambil kotak tersebut.
"Terserah." Alvin menghampiri pintu tersebut dan membukanya.
"Urgghh! Grrrr!!!" Alvin membuka pintu tersebut sekuat tenaga.
Alvin tiba-tiba tersandung dan jatuh. Ia mulai putus asa.
"Kamu ngapain?" Ucap Tomoe.
"Ini lebih susah dari yang sebelumnya." Ucap Alvin dengan muka yang kecapean.
---
Alvin dan Tomoe memegang pintu bersamaan dan mereka berencana untuk membukanya bersama.
"Siap?" Ucap Tomoe sambil memegang pintu tersebut.
"Yok." Jawab Alvin.
Alvin dan Tomoe membuka pintu tersebut sekuat tenaga.
"Ughhhhhh!!!" Alvin dan Tomoe mulai tidak kuat.
Mereka tersandung dan terjatuh bersamaan.
"Hah... hah... hah..." Alvin dan Tomoe merasa sangat kecapean.
"Kenapa coba?" Ucap Tomoe sambil kecapean.
"Mana aku tahu, itu gara-gara kamu yang membuat pintu itu jadi susah di buka." Ucap Alvin.
"Loh, jadi ini salahku? Dasar ga tahu diri! "Ucap Tomoe sambil menatap Alvin.
"Lah..." Jawab Alvin dan menatap Tomoe juga.
Tomoe terkejut dan tersipu malu.
"Apa ada sesuatu dimukaku ini?" Ucap Alvin dengan penasaran.
Tomoe terkejut.
"De... Deket banget." Ucap Tomoe dengan tersipu sangat malu.
"Na... Nafasnya... sampai ke mukaku." Tomoe tersipu malu dan tergoda.
"Lo. Kekunci gini." Ucap Lily sambil membuka pintu tersebut.
Alvin dan Tomoe terkejut.
"Itu suaranya Lily." Alvin terkejut dan berdiri.
"Apa si mesum dan Tomoe sudah pada pulang ,ya..." Ucap Lily dengan penasaran.
"Syukurlah. Ayo kita suruh dia panggil guru." Ucap Alvin dengan semangat.
"I-Iyaa!" Tomoe tersipu.
"Lily, bisa denger enggak?" Alvin memanggil Lily sekeras mungkin.
"Sebenarnya pintu ini enggak bisa kebuka. Jangan anggap kita lagi ngelakuin hal-hal yang tidak pantas!" Ucap Alvin sambil melihat pintu tersebut.
Lily tidak mendengar suara Alvin karena ia sedang mendengarkan lagu di headsetnya.
"Ah, sudah kesorean. Aku juga mau pulang ah." Lily berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Lah? Woy!!!" Ucap Alvin dengan sangat panik.
"Woy! WOY!!!" Alvin teriak.
"Lahhh..." Ucap Alvin dan Tomoe.
"Oh iya! Kamu bawa ponsel 'kan?" Alvin menatap Tomoe dengan muka yang punya banyak harapan.
"Ancur dah, njay." Ucap Alvin yang hampir hilang harapan.
"Sepertinya sebentar lagi sekolah akan dikunci deh." Ucap Tomoe.
"Iye..." Ucap Alvin dan duduk disebelah Tomoe.
"Alvin, m-misalkan... kalau gak ada yang sadar kalau kita ke kunci di sini? Gimana dong?" Tomoe mulai ketakutan.
"Ya kita akan terjebak di sini sampai ada yang bukain." Ucap Alvin.
"Yang parahnya lagi, kita harus di sini semalaman." Ucap Alvin dengan muka yang serius.
"Njirt?! Berduaan disini!?" Ucap Tomoe dengan muka yang sangat terkejut.
18:00 PM.
Tomoe mulai meniup tangannya karena ia kedinginan.
"Jadi semakin dingin.. ." Ucap Tomoe yang kedinginan.
"Gimana nih, kalau begini terus jadi semakin dingin." Ucap Tomoe dengan sangat khawatir.
Alvin menghampiri Tomoe.
"Tenang saja, sayang." Alvin memeluk Tomoe dari belakang.
"Ap... Hei..." Tomoe mulai tersipu malu dan muka dia berubah menjadi merah.
"Jangan tiba-tiba gini dong... Dan jangan panggil sayang gitu... Kita belum menikah." Ucap Tomoe dengan tersipu malu.
"Gak bisa, sayang." Alvin tersenyum dengan sangat keren.
"Ya, 'kan? Jadi lebih hangat?" Ucap Alvin sambil tersenyum.
"I-Itu sih..." Ucap Tomoe.
"Ya, 'kan?" Alvin tersenyum.
Tomoe mengejamkan matanya dan tersenyum.
"Iya... Ini hangat banget, pah... " Ucap Tomoe sambil menikmati pelukan Alvin.
Tiba-tiba itu hanya pikirin Tomoe yang ngawur.
"Iya... Ini hangat banget, Alvin... " Tomoe tersenyum.
Alvin memegang hidung Tomoe dengan muka yang serius.
"Woy. Kenapa kamu dari tadi senyum-senyum enggak jelas gitu?" Ucap Alvin.
Beberapa menit kemudian...
Alvin sedang mencari cara lain untuk keluar dari gudang itu, Tomoe yang sedang memikirkan hal yang tadi langsung menjadi diam dengan tersipu malu.
"Gelap banget dah." Ucap Alvin.
Alvin menatap Tomoe.
"Kenapa kamu malah dipojok gitu?" Ucap Alvin dengan penasaran.
"G-Gak apa-apa kok." Ucap Tomoe yang sedang kecanggungan.
"Percuma, aku enggak bisa mikir apa-apa lagi!" Ucap Tomoe dengan gugup.
"Dag dig duh parah ini!!! HABISNYA, KITA BERDUAAN DI SINI." Ucap Tomoe dengan sangat gugup.
"Di tempat yang gelap... sampai p-pagi?" Ucap Tomoe.
Tomoe mulai memikirkan tentang ciuman.
"AHHHHH!!!" Tomoe teriak dan langsung menendang debu-debu dilantai.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Ucap Tomoe yang merasa sangat malu.
"Woy berhenti dong, kamu tendangin debu nih." Alvin menutup hidungnya.
"Kamu kenapa lagi sih, Tomoe? Kamu mulai aneh lagi." Ucap Alvin dengan penasaran.
"Ya enggak mungkin enggak apa-apa lah!!!" Tomoe menatap Alvin dengan muka yang serius.
"Soalnya kita kejebak di sini berduaan sampai malam gini!" Ucap Tomoe.
"Ngawur lagi dah." Ucap Tomoe.
Alvin menghampiri Tomoe dan memegang kedua bahunya.
Tomoe menatap Alvin.
"Tenang lah." Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.
"A-Alvin..." Tomoe tersipu malu.
"Semuanya akan baik-baik saja kok. Santai aja." Ucap Alvin.
"T-Tapi..." Ucap Tomoe dengan ketakutan.
Alvin tiba-tiba mengambil sesuatu didalam sakunya.
__ADS_1
"Soalnya kita enggak berdua." Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.
Alvin mengeluarkan sebuah robot kecil buatannya.
"Huh?" Tomoe menatap robot tersebut.
Alvin menaruh robot tersebut di lantai.
"Kita bertiga." Ucap Alvin.
Tomoe mulai tertawa dan ketakutan nya hilang karena Alvin.
"Hahahahahahahaa!!!!"
"Lah kok? Aku enggak bercanda ini lo." Ucap Alvin.
"Maaf deh." Ucap Tomoe sambil tertawa terbahak-bahak.
"Dasar..." Ucap Alvin dengan muka yang hilang harapan.
Alvin tersenyum.
"Baiklah, aku akan menunjukan seberapa hebat robot buatanku ini!" Alvin mengambil robot tersebut.
"Heh? Coba-coba~" Tomoe mulai merasa terhibur oleh Alvin.
"Mode Senter!" Ucap Alvin ke robot tersebut.
Robot tersebut menyalakan sebuah cahaya di matanya.
"Oh, leh ugha!" Tomoe tersenyum.
"Hehe~" Alvin tersenyum dan merasa bangga kepada dirinya sendiri.
"Ini pertama kalinya aku terkesan dengan beginian." Tomoe tersenyum.
"Pertama kali? Kamu ngejek?" Alvin terkejut.
"Oh, iya." Tomoe tersenyum.
Tomoe mengambil robot tersebut dan menyalakan senter itu terus menerus ke jendela pintu tersebut.
"Kalau kita arahkan sinarnya itu menembus kaca, mungkin ada guru yang akan melihatnya." Tomoe tersenyum.
"Wah iya benar juga. Doiku memang calon istri dah!" Alvin tersenyum.
"Ehh!?" Tomoe tersipu malu dan ia mulai memerah.
---
Ada guru yang sedang berpatroli.
"B-Bagaimana ini... G-Gelap banget..." Ucap Pak Endang yang ketakutan berjalan di lorong yang gelap.
Pak Endang tiba-tiba melihat sinar dari sebuah pintu.
"Cahaya apaan tuh?!" Pak Endang mulai penasaran dan ia menghampirinya.
"Kalau tidak salah di ruangan ini." Pak Endang mengintip melalui jendela pintu.
Tiba-tiba ia melihat sebuah robot yang sangat seram.
Pak Endang sangat terkejut dan ia jatuh di lantai dan pingsan.
BRAGGG!!!
"Huh? Apa kamu tadi mendengar sesuatu?" Ucap Alvin sambil menatap Tomoe.
"Kamu juga?" Jawab Tomoe.
Tomoe mengetuk pintu.
"Apa ada seseorang di luar?" Tanya Tomoe.
"Halo? Halo?" Tomoe berteriak.
Tidak ada satupun yang mendengar suara Tomoe bahkan Pak Endang karena dia pingsan.
"Gak ada jawaban." Ucap Tomoe.
"Bener juga. Mungkin aja hantu." Alvin mulai menakuti Tomoe sambil berjalan pergi.
"JANGAN NAPA!!!" Tomoe mulai panik dan ketakutan.
"Maaf, hahaha!" Alvin tertawa.
"Beneran deh. Aku gak mau dengar kata itu!" Ucap Tomoe yang sangat khawatir.
Alvin tiba-tiba melihat kardus yang isinya itu sebuah foto.
Alvin mengambil foto tersebut dan melihatnya.
"Foto kenangan anggota klub seni yang sebelumnya?" Ucap Alvin.
Alvin mulai tersenyum jahat sekali dan ia menghampiri Tomoe.
"Tomoe, liat nih." Alvin tersenyum sangat jahat.
"Apa, foto?" Jawab Tomoe dan melihat foto tersebut.
"Lihat, yang deket jendela." Alvin menunjuk foto tersebut.
"Hmmm?" Tomoe melihatnya.
"Apa kamu lihat mukanya?" Ucap Alvin sambil menakuti Tomoe.
"UDAH AKU BILANG UDAHAN 'KAN?! JAHAT BANGET IHH!!! " Tomoe mulai ketakutan lagi.
"Hahahahahaha!!!" Alvin tertawa terbahak-bahak sambil melihat eksperesi Tomoe yang ketakutan.
"DASAH PACAR BAJINGAN GOBLOK....!!!" Tomoe mengeluarkan stik drumnya dengan muka yang sangat marah dan muak.
"WANJER!? AMPUN!!! " Alvin terkejut dan mulai menunduk kepada Tomoe.
"SELANJUT MUKA TAMPAN ELU ITU GUE BELAH DUA YA...!!!" Ucap Tomoe yang sangat marah.
"Maafkan hamba... Hamba menyesal. " Alvin mulai ketakutan.
"Dasar." Tomoe berjalan pergi dan melihat-lihat kotak tersebut.
"Dia takut sama hantu toh. Bahkan dia lebih menyeramkan dari pada kuntil anak." Ucap Alvin dengan muka yang ketakutan.
Alvin melihat foto itu kembali dan tiba-tiba menemukan sesuatu.
"Ahh! Tomoe, liat!" Ucap Alvin dengan muka yang sangat serius.
"KAN DAH GUE BILANG!!! DASAR!!!" Ucap Tomoe dengan sangat marah.
"Enggak woy! Kalem dikit! Ini lihat!" Alvin menunjuk foto tersebut.
"Huh?" Tomoe menghampiri Alvin dan melihat foto tersebut.
"Aku pikir foto ini berada di ruangan ini." Ucap Alvin.
"Bagian ini." Alvin menunjuk sebuah pintu di dalam foto tersebut.
"Ini pintu, 'kan? "Ucap Alvin sambil menatap Tomoe.
"Huh?" Tomoe terkejut dan menyalakan sinar tersebut kepada pintu rahasia.
Dan ternyata emang ada pintu disitu.
"Ahh! Beneran pintu!" Tomoe terkejut
"Ini nyambung ama ruangan sebelah ya..." Alvin mulai berpikir.
Alvin dan Tomoe menghampiri pintu tersebut dan menggambil kanvas yang menghalangi pintu tersebut dan melemparnya ke atas lemari.
Beberapa menit kemudian...
Alvin dan Tomoe akhirnya bebas dari ruangan gudang tersebut dan mereka sekarang berada di ruangan klub seni.
Tomoe menyalakan lampu tersebut.
"Ternyata beneran terhubung." Ucap Tomoe.
Alvin menghampiri pintu keluar dan membukanya.
"Syukurlah." Alvin tersenyum.
"Pintu ini tidak terkunci." Ucap Alvin.
"Kita tertolong" Tomoe tersenyum.
"Aku akan khilaf kalau berada lama-lama ditempat itu sepanjang malam." Tomoe tersenyum.
"Huh? Emangnya khilaf karena apaan?" Ucap Alvin dengan muka yang penasaran.
Tomoe tersipu malu.
"Ummm... Oh iya! Aku lupa ambil formulirnya!" Tomoe menghampiri ruangan gudang tersebut.
---
Tomoe mulai galau di ruangan tersebut sambil tersenyum.
"Yah, benar juga sih." Ucap Tomoe.
Alvin memasuki ruangan tersebut.
"Tomoe?" Ucap Alvin.
Tomoe terkejut dan menatap Alvin.
"A-Ada apa?" Ucap Tomoe yang tersipu malu.
"Biarkan laki-laki yang membawakan barang-barang tersebut." Ucap Alvin dengan muka yang serius dan bergaya.
Tomoe mulai tersenyum dan terpersona oleh Alvin.
Tomoe menghampiri Alvin dan membiri formulir itu.
Tiba-tiba Tomoe mencium pipi Alvin dan tersenyum ke arah nya.
"Yaudah, tolong ya~" Tomoe tersenyum.
Alvin tersipu malu.
"Kamu selalu saja menyerang secara tiba-tiba..." Ucap Alvin sambil tersenyum dan memegang pipinya.
"Terserah aku lah!" Tomoe tersenyum.
__ADS_1
...***...
...Sampai jumpa lagi di chapter 12! Jangan lupa vote sama commentnya ya~...